Sedang Kerjakan PR, Gadis 8 Tahun Tewas Kena Peluru Nyasar

Sedang Kerjakan PR, Gadis 8 Tahun Tewas Kena Peluru Nyasar

Sahmitra — Gadis berusia 8 tahun asal Indiana, Amerika Serikat, tewas tertembak saat mengerjakan tugas sekolahnya di rumah. Menyadur ABC News, pada Jumat (30/10/2020), Timnya Andrews langsung dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan kritis setelah terkena peluru nyasar pada pekan lalu.

Timya yang dirawat di Comer Children’s Hospital, Chicago, dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (28/10/2020) lalu.

Insiden yang terjadi pada 22 Oktober ini bermula ketika orang asing di luar rumah Timya, melepaskan tembakan dengan menggunakan senjata otomatis. Wakil Kepala Polisi Chicago Timur, Jose Rivera, mengatakan penyerang menembak hingga 16 kali.

Salah satu peluru lantas menembus dinding rumah dan mengenai kepala gadis malang yang sedang mengerjakan PR di lantai ruang tamu.

Rivera menyebut hingga kini polisi belum mengetahui siapa dalang dibalik aksi penembakan ini.

“Detektif kami berupaya maksimal dalam kasus ini dan kami akan mengerahkan semua tenaga yang kami miliki untuk menangkap orang-orang yang terlibat dalam penembakan tidak masuk akal ini,” ujar Rivera.

Pemerintah melalui Biro Alkohol, Tembakau, dan Senjata Api (ATF) Indiana menawarkan hadiah uang tunai bagi mereka yang memiliki informasi tentang pelaku.

Wali kota Chicago Timur Anthony Copeland pada Rabu (28/10/2020) menyebut hadiah yang akan diberikan adalah sebesar USD 5.000 atau sekitar Rp 73 juta.

Juru bicara ATF Kimberly Nerheim pada Rabu, mengatakan pihaknya maupun polisi Chicago Timur belum menerima informasi terkait pelaku penembakan tersebut.

“Bantuan publik sangat penting dalam mengidentifikasi mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan keji ini,” kata Kristin de Tineo, agen khusus ATF.

Pria Mabuk Tebar Uang dari Lantai 30, Warga Heboh

Pria Mabuk Tebar Uang dari Lantai 30, Warga Heboh

SAHMITRA — Seorang pria yang berada di bawah pengaruh narkoba, ditangkap kepolisian China setelah membuat situasi heboh dengan menebar uang dari jendela apartemennya.

Menyadur The Guardian, pada Kamis (29/10/2020), pria berusia 29 tahun ini disebutkan tengah mabuk sabu saat membuat hujan uang dari lantai 30.

Insiden hujan uang ini terjadi di kota Chongqing, barat dari China, pada Sabtu (17/10/2020) lalu.

Dalam video yang tersebar di internet menunjukkan situasi kacau di mana orang-orang berupaya menangkap uang kertas yang jatuh dari langit.

Lalu lintas pun terlihat tersendat ketika para pengemudi juga tak mau melewatkan kesempatan mendapatkan uang secara cuma-cuma.

Ilustrasi uang, menghamburkan uang, orang kaya. [Shutterstock]

Saat itu polisi langsung datang dan menahan pelaku yang sebelumnya telah berurusan dengan hukum karena memakai narkoba dan sedang menjalani perawatan.

Sejauh ini tak dirinci lebih jauh berapa jumlah uang yang ditebar oleh pelaku.

Peristiwa serupa juga pernah terjadi di Chongqing, di mana seorang pria, pada 2017, melemparkan 100.000 yuan atau sekitar Rp 218 juta ke udara lantaran mengalami hari yang buruk di tempat kerja.

Polisi kota Shishi, Fujian, mengatakan aksi pria itu menyebabkan kemacetan lalu lintas dan orang-orang saling tubruk saat mencoba mengambil uang yang jatuh.

Layar Ponsel Hancur, Remaja di India Bunuh Diri

Layar Ponsel Hancur, Remaja di India Bunuh Diri

SAHMITRA — Seorang remaja pria India bunuh diri setelah layar ponselnya hancur sehingga ia tidak bisa ikut belajar online. Kasus ini menyoroti tantangan besar yang dihadapi oleh keluarga yang mencoba mengakses pendidikan selama pandemi virus Corona.

Rohit Varak (16) menjatuhkan satu-satunya smartphone yang digunakan secara bergantian dengan enam saudaranya untuk mengikuti belajar online pada awal bulan ini. Ia kemudian ditemukan tewas empat hari kemudian.

“Biayanya sekitar Rp500 lebih untuk memperbaiki telepon,” kata Neha Varak, saudara perempuan Rohit yang berusia 18 tahun kepada The Independent.

“Ayahku tidak punya uang sebanyak itu,” imbuhnya seperti dikutip dari media Inggris itu, pada Rabu (28/10/2020).

Kisah Rohit jauh dari insiden terisolasi di India, di mana media telah melaporkan beberapa kasus bunuh diri terkait kesenjangan digital yang menganga di negara itu sejak lockdown ketat pada akhir Maret. Banyak sekolah masih belum kembali ke ruang kelas, dengan masalah yang diputuskan berdasarkan negara bagian.

Keluarga Varak bertahan hidup dengan penghasilan tunggal yang dibawa oleh ayah Rohit, yang bekerja sebagai sopir bus – layanan transportasi umum menjadi salah satu industri yang paling terpukul selama lockdown.

Orang tua Rohit terlalu putus asa untuk berbicara dengan media, tetapi pamannya Bhago Varak menjelaskan bahwa pendapatan keluarga sangat rendah sejak pandemi melanda.

“Dengan pelonggaran bertahap dari penguncian, kami sekarang mendapatkan sekitar Rp99 ribu (sehari), tetapi itu tidak cukup untuk memenuhi pengeluaran harian keluarga,” kata Varak.

Hilangnya ponsel pintar – yang dianggap polisi sebagai barang bukti – kini juga mengganggu pendidikan anggota keluarga lainnya.

Adik laki-laki Rohit yang berusia 12 tahun, Gyanu, tidak dapat menghadiri kelas online sejak telepon rusak pada 11 Oktober.

Dan kendala keuangan yang lebih luas pada keluarga membuat saudara perempuan Varak mungkin terpaksa keluar dari perguruan tinggi perawat, di mana dia telah diterima dalam kursus tiga tahun di mana biayanya sekitar Rp99 juta

“Saya ingin menjadi perawat profesional, tetapi bagaimana saya akan membelinya tanpa beasiswa atau dukungan eksternal?” ujarnya.

Dalam sebuah wawancara dengan The Independent, seorang akademisi terkemuka di sistem sekolah India mengatakan krisis Covid-19 sepertinya akan meninggalkan banyak luka permanen pada anak-anak di negara itu.

“Pandemi telah sangat memperkuat ketidakadilan yang ada dalam sistem sekolah yang awalnya sangat tidak setara dan rapuh,” kata Profesor Ankur Sarin, yang mengajar Grup Sistem Publik di Institut Manajemen India di Ahmedabad (IIM-A).

Penelitian yang sebelumnya tidak dipublikasikan yang dilakukan oleh IIM-A dan Unicef menunjukkan bahwa 98 persen rumah tangga di kota Ahmedabad tidak memiliki akses ke laptop atau Wi-Fi di rumah.

Survei, yang dilakukan antara Juli dan September, menemukan 20 persen rumah tangga tidak memiliki smartphone – dan di antara mereka yang memilikinya, hampir sepertiganya tidak memiliki akses ke koneksi 4G.

Studi tersebut mendengar dari orang tua yang mengatakan waktu kelas anak-anak mereka yang berbeda usia bentrok, yang berarti anak-anak sering kali harus melewatkan sekolah online sebagai akibatnya. Keluarga lain menggambarkan bagaimana anak-anak mereka harus bekerja pada jam-jam ganjil, seringkali pada malam hari, begitu orang tua pulang kerja dengan satu-satunya smartphone yang tersedia.

Survei tersebut menemukan bahwa secara keseluruhan, hampir 30 persen anak-anak dalam sampel belum menerima kelas formal atau kegiatan belajar sejak lockdown dimulai di India pada 25 Maret lalu.

Sarin mengatakan bunuh diri mencerminkan satu spektrum masalah yang ekstrem.

“Ini termasuk anak-anak putus sekolah sama sekali ke pilihan pilihan (orang tua) yang tidak lagi terjangkau; kehilangan nutrisi karena anak-anak kehilangan akses untuk makan tengah hari dan tekanan mental yang parah pada orang tua dan anak-anak,” jelasnya.

“Selama kunjungan kami, ada beberapa kasus di mana orang tua bertanya tentang biaya dan kerugian putus sekolah, dan bahkan membahas bagaimana mereka hanya akan terus mendidik hanya anak ‘terpintar’ mereka,” ungkapnya.

Sebagian besar guru yang berpartisipasi dalam survei juga menyatakan perlunya kesehatan mental dan kesejahteraan emosional menjadi prioritas, tetapi mereka mengatakan bahwa mereka kekurangan pelatihan yang tepat untuk membantu siswa mereka dalam hal ini.

“Banyak yang mengatakan akan sulit untuk memprioritaskan dukungan kesehatan mental mengingat tekanan untuk menyelesaikan silabus tahun ini,” Profesor Sarin menambahkan.

Seorang guru mengatakan bahwa dengan tinggal di rumah dan melihat semua masalah dalam rumah tangga mereka sebagai akibat dari krisis virus Corona yang telah menyebabkan melonjaknya pengangguran – anak-anak dihadapkan pada peristiwa yang akan memaksa mereka untuk lebih cepat dewasa.

Penumpang Wanita Disuruh Telanjang Saat Diperiksa, Australia Komplain ke Qatar

Penumpang Wanita Disuruh Telanjang Saat Diperiksa, Australia Komplain ke Qatar

SAHMITRA — Australia mengatakan, mereka mengajukan keluhan kepada Qatar atas apa yang mereka sebut laporan “sangat mengganggu” bahwa para penumpang perempuan diminta membuka baju dan digeledah sebelum penerbangan dari Doha ke Sydney.

Para penumpang perempuan diperiksa untuk mengetahui apakah ada tanda-tanda melahirkan setelah ditemukannya bayi di toilet Bandara Internasional Hamad. Bayi yang sampai sejauh ini belum diidentifikasi siapa orang tuanya tengah dirawat setelah ditemukan pada 2 Oktober.

Penggeledahan terungkap setelah para penumpang perempuan Australia angkat bicara. Perempuan dari negara-negara lain juga digeledah.

Semua penumpang perempuan dewasa di penerbangan Qatar Airways itu diminta untuk menjalani penggeledahan, dua di antaranya menceritakan pengalaman mereka kepada Australian Broadcasting Corporation (ABC).

Sebanyak 13 perempuan Australia dibawa ke ambulans di landasan udara dan diminta untuk membuka pakaian dalam sebelum diperiksa, menurut laporan itu.

Salah seorang dia antaranya Kim Mills mengatakan kepada media Inggris, The Guardian, dia termasuk yang diminta untuk turun dari pesawat dan dibawa ke tempat parkir yang gelap, tempat tiga ambulans menunggu untuk pemeriksaan medis. Namun, para petugas tidak memeriksanya – menurut Mills – mungkin karena ia berusia 60-an. Tetapi, pengalamannya menakutkan.

“Kaki saya gemetar. Saya sangat takut karena mereka membawa saya ke satu tempat. Mengapa mereka tidak menerangkan kepada saya, apa yang akan mereka lakukan?” kata Mills dan menambahkan bahwa para awak pesawat kemudian memberitahu mereka bahwa mereka juga tidak tahu apa yang terjadi.

“Sangat mengesalkan. Saya tak bisa bayangkan apa yang dirasakan perempuan-perempuan muda itu.”

Para penumpang telah naik pesawat sebelum para penumpang perempuan diminta turun, menurut para saksi mata kepada media Australia.

Salah seorang penumpang Wolfgang Babeck mengatakan kepada ABC, perempuan yang diminta keluar dari pesawat, “Banyak… yang marah, dan salah seorang dari mereka menangis – seorang perempuan muda.”

Pemerintah Qatar belum mengeluarkan komentar terkait insiden itu. Tidak jelas apakah penumpang perempuan penerbangan lain juga mengalami insiden serupa.

“Mengganggu, menyinggung, memprihatinkan”

Pemerintah Australia mengatakan, laporan itu menunjukkan bahwa perlakuan terhadap perempuan “di luar kondisi di mana perempuan dapat memberikan persetujuan.”

Saat ditanya oleh para wartawan apakah langkah itu sama saja dengan serangan seksual, Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne mengatakan, “Tidak, saya tidak mengatakan itu karena saya belum melihat rincian laporan kejadian itu.”

Ia mengatakan kata-kata “rentetan kejadian yang sangat mengganggu, menyinggung, memprihatinkan” telah diajukan ke kepolisian federal Australia yang akan “menentukan langkah selanjutnya” setelah pemerintah menerima penjelasan dari pejabat Qatar.

Australia mengatakan mereka diberitahu soal insiden tersebut pada saat kejadian dan saat itu pemerintah “telah secara resmi mengajukan keprihatinan serius.”

Pihak Bandara Internasional Hamad tidak memberikan rincian terkait pemeriksaan ataupun jumlah perempuan serta penerbangan yang terdampak.

Dalam satu pernyataan, bandara mengatakan, “Pihak medis mengungkap keprihatinan kepada para pejabat terkait kondisi kesehatan seorang ibu yang baru melahirkan dan meminta agar ia dicari keberadaannya sebelum (pesawat) berangkat.”

“Orang-orang yang bisa masuk ke lokasi tertentu di bandara, tempat bayi baru lahir ditemukan, diminta untuk membantu penyelidikan.”

Menlu Payne mengatakan, pejabat Australia telah mengontak penumpang perempuan yang terdampak setelah mereka di Sydney dan mulai menjalani karantina 14 hari di hotel, persyaratan yang saat ini diterapkan untuk penumpang dari luar negeri.

“Mereka telah mendapatkan dukungan yang diperlukan terkait protokol kesehatan selama periode (karantina),” kata Payne kepada wartawan di Canberra.

Ia menambahkan bahwa kejadian itu “luar biasa dan saya tidak pernah mendengar insiden serupa seumur hidup saya.” Bandara Hamad telah mengeluarkan seruan kepada ibu bayi yang baru lahir itu untuk melapor dan meminta kepada siapa pun yang mengetahui untuk mengontak petugas. Saat ini, bayi itu diasuh oleh para petugas medis dan petugas sosial.

Gali Lubang untuk Kabur, Napi Gemuk Malah "Nyangkut" di Tembok

Gali Lubang untuk Kabur, Napi Gemuk Malah “Nyangkut” di Tembok

SAHMITRA — Kasus kaburnya tahanan dari penjara sedang ramai diperbincangkan, terutama di Indonesia yang dilakukan oleh Cai Changpan. Akan tetapi tak seperti Cai yang sukses kabur dari Lapas Tangerang – meski akhirnya ditemukan tewas bunuh diri di hutan – yang dialami narapidana satu ini sungguh di luar dugaan.

Bukannya berhasil kabur atau digagalkan petugas, napi bernama Rafael Valadao ini gagal melarikan diri karena nyangkut di tembok yang ia lubangi dari dinding selnya. Kasus ini terjadi pada akhir 2012.

Diberitakan Mirror, postur Valadao gemuk dan lubang itu tak cukup besar untuk bisa dilewatinya. Perutnya tersangkut di lubang itu, dan pria berbobot 101 kilogram tersebut harus dibantu petugas pemadam kebakaran agar lepas dari lubang.

Nasib apes Valadao bahkan menjadi bahan tertawaan para penjaga penjara. Mereka berdiri di sekelilingnya saat proses evakuasi sambil menertawakannya. Namun Valadao bukan satu-satunya napi yang mencoba kabur.

Teman satu selnya yang lebih ramping berhasil kabur lebih dulu, tapi dua napi lain yang mengantre di belakangnya akhirnya tepergok dan tak jadi kabur.

Menurut pemberitaan Mirror, keempatnya menyusun rencana pelarian di sebuah penjara di Ceres, negara bagian Goias, Brasil. Petugas pemadam kebakaran datang ke lokasi kejadian sekitar pukul 2 dini hari.

Saat itu dua napi di belakang Valadao berjuang keras mendorongnya keluar lubang, yang mereka gali dengan logam batangan.  Valadao kemudian dibawa ke rumah sakit dalam kawalan polisi. Ia diduga mengalami patah tulang rusuk.

Seorang juru bicara polisi berkata, “Dia berteriak kesakitan saat bantuan datang.” “Tampaknya dia menyepelekan ukuran perutnya.”

Tampak Kurang Ramah, Putin Tangkis Serangan Trump terhadap Biden

Tampak Kurang Ramah, Putin Tangkis Serangan Trump terhadap Biden

SAHMITRA — Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa dia tidak melihat adanya kejahatan dalam hubungan bisnis masa lalu antara anak calon presiden (capres) Partai Demokrat Joe Biden, Hunter Biden, dengan Ukraina atau Rusia.

Pernyataan itu dikeluarkan Putin pada Minggu (25/10/2020) sebagaimana dilansir dari Reuters. Komentar Putin tersebut menandai ketidaksepakatannya atas serangan capres Petahana Partai Republik Donald Trump terhadap Biden.

Putin menanggapi komentar yang dikeluarkan oleh Trump dalam debat capres terakhir yang digelar pekan lalu menjelang pemilihan umum AS pada 3 November.

Dalam debat tersebut, Trump menuduh bahwa Joe Biden dan Hunter Biden terlibat dalam praktik tidak etis di Ukraina. Sementara itu, tidak ada bukti yang terverifikasi untuk mendukung tuduhan tersebut dan Joe Biden menyebut tuduhan tersebut adalah palsu.

Putin mengatakan Rusia akan bekerja dengan setiap pemimpin AS, sambil mencatat apa yang dia sebut sebagai “retorika tajam anti-Rusia” dari Joe Biden. Pemimpin Rusia tersebut sempat memuji Trump di masa lalu karena Trump menginginkan hubungan yang lebih baik antara Washington dengan Moskwa.

Putin tampak kurang ramah terhadap Trump dalam pernyataan yang disiarkan oleh televisi Pemerintah Rusia pada Minggu tersebut. Para analis berpendapat bahwa langkah Putin tersebut merupakan upaya untuk mencoba menjilat kubu Biden.

Pasalnya, Putin sempat-sempatnya meluangkan waktu untuk menangkis serangan Trump yang ditujukan terhadap Biden, di mana serangan tersebut adalah masalah dalam negeri AS.

“Ya, di Ukraina dia ( Hunter Biden) memiliki atau mungkin masih memiliki bisnis, saya tidak tahu. Itu bukan urusan kami. Ini menyangkut AS dan Ukraina,” kata Putin. 

“Tapi ya dia punya setidaknya satu perusahaan, yang secara praktis dia pimpin, dan menilai dari semua yang dia hasilkan dengan baik. Saya tidak melihat ada yang kriminal tentang ini, setidaknya kita tidak tahu apa-apa tentang ini (menjadi kriminal),” kata Putin.

Putin juga bereaksi dengan kejengkelan ketika ditanya tentang komentar yang dibuat Trump tentang hubungan Putin dengan mantan walikota Moskwa, dan dugaan pembayaran yang dilakukan kepada Hunter Biden oleh janda mantan walikota.

Putin mengatakan dia tidak tahu apa-apa tentang keberadaan hubungan komersial antara Hunter Biden dan wanita itu. Joe Biden mengatakan tuduhan tentang putranya tidak benar.

Sejumlah badan intelijen AS menyimpulkan bahwa Rusia berusaha ikut campur dalam pemilu AS 2016 untuk mendukung Trump, sebuah tuduhan yang dibantah Moskwa. Rusialga menepis tuduhan badan intelijen AS bahwa Moskwa mencoba ikut campur dalam pemilu tahun ini juga.

Perempuan Australia Jatuh dari Wahana Setinggi 30 Meter, Kondisinya Kritis

Perempuan Australia Jatuh dari Wahana Setinggi 30 Meter, Kondisinya Kritis

SAHMITRA — Seorang perempuan di Australia jatuh dari ketinggian 30 meter saat menaiki wahana di taman hiburan Cairns. Kondisinya hingga kini masih kritis.

Menyadur News.com.au, pada Minggu (25/10/2020), perempuan berusia 20 tahun itu jatuh dari wahana The Hangover yang berada di Cairns Showgrounds, negara bagian Queensland.

Korban yang dalam keadaan tak sadarkan diri langsung dilarikan ke Rumah Sakit Cairns setelah terjatuh sekitar pukul 17.30 sore.

Paramedis Perawatan Kritis, Denis O’Sullivan mengatakan kondisi taman hiburan kacau saat timnya tiba di lokasi.

“Perempuan itu menderita beberapa luka traumatis dan tidak sadarkan diri ketika Layanan Ambulans Queensland tiba dan dibawa ke rumah sakit dalam keadaan pingsan,” ujar Denis.

Detik-detik terjadinya kecelakaan di taman hiburan Cairns Showgrounds. (Tangkapan layar/News.com.au)

Denis menyebut evakuasi saat itu berjalan cukup sulit mengingat korban jatuh di komponen mesin wahana.

Investigasi kesehatan dan keselamatan di tempat kerja dilaporkan akan segera dilakukan.

Berdasarkan Facebook dari tempat hiburan tersebut, The Hangover digambarkan sebagai wahana, “untuk mencari sensasi bagi generasi muda dan tua.”

Wahana ini memungkinkan penumpang melayang di udara dengan lengan pendulum dan berputar 360 derajat penuh.

Bunuh Korban dengan Racun "Napas Iblis" Sepasang Kriminal Ini Dipenjara Seumur Hidup

Bunuh Korban dengan Racun “Napas Iblis” Sepasang Kriminal Ini Dipenjara Seumur Hidup

SAHMITRA — Adrian Murphy (43) seorang penari juara ditemukan tewas di apartemennya yang berlokasi di London pada Juni 2019 setelah menjadi target Joel Osei (25) melalui aplikasi kencan Grindr.

Dilansir dari The Guardian, Murphy diracun dengan obat  skopolamin yang terdapat dalam minuman ringannya. Obat yang dosisnya bisa mematikan itu diberikan Osei kepada Murphy yang kemudian bersama Diana Cristea (18) membeli perhiasan dengan harga lebih dari 60.000 poundsterling (sekitar Rp 1,1 miliar) menggunakan kartu kredit Murphy.

Skopolamin menurut jaksa penuntut Crispin Aylett QC dikenal sebagai Devil’s Breath alias “Napas Iblis” di Kolombia dan populer di kalangan perampok serta pemerkosa untuk melumpuhkan korbannya. Korban sebelumnya, seorang pria berusia 40 tahun dari Walthamstow, London Timur juga ditargetkan oleh pasangan kriminal Osei dan Diana namun selamat dan membantu polisi mengidentifikasi pelaku.

Osei menggunakan apliaksi Grindr untuk ‘memancing’ pria-pria yang ingin kencan dengannya, meracuni mereka dengan obat dan merampok mereka. Osei yakin orang-orang ini akan malu mengakui apa yang menimpa mereka kepada polisi.

Sementara Diana Cristea akan menjual barang-barang korban. Tes patologi mengungkap adanya racun di tubuh Murphy yang ditemukan tewas di apartemennya pada 4 Juni tahun lalu dan setelah dilacak, racun itu berada di kaleng minuman dekat Murphy ditemukan.

Rekaman CCTV menangkap Osei berjalan ke apartemen Murphy dan 2 jam kemudian meninggalkan apartemen itu dengan beberapa barang. Osei terlihat menghubungi Cristea via telepon dan pesan sebanyak 23 kali selama berada di dalam apartemen dan di sekitar bangunan itu.

Dia kemudian menyerahkan beberapa barang kepada wanita itu seperti laptop, telepon genggam, kartu atm, sebuah tas desainer, dompet dan pakaian. Korban sebelumnya juga dirampok. Polisi menemukan barang-barang korban di tempat Cristea, di Tottenham, London Utara.

Skopolamin merupakan obat yang berasal dari tumbuhan Nightshade dan pernah dieksplorasi oleh CIA sebagai truth serum atau serum yang digunakan untuk membuat seseorang berkata jujur.

Inspektur Kepala Detektif Robert Pack mengatakan bahwa meski skopolamin diketahui umum di belahan dunia lain untuk melancarkan tindak kejahatan, tapi “kami yakin ini adalah pembunuhan dengan skopolamin pertama di Inggris Raya.”

Saudara laki-laki Adrian Murphy, Robert, berkata,

“Adrian membawa cinta dan seni tari kepada ribuan anak muda di seluruh dunia. Dia adalah seorang pria asal Irlandia yang inspiratif, yang merupakan penari dan koreografer berbakat. Keluarga kami sangat merasa berduka.”

Osei dan Cristea, sepasang kriminal itu akhirnya menghadapi hukuman wajib seumur hidup. Mereka dijadwalkan akan mulai menjalani masa hukuman di Old Bailey pada 14 Desember mendatang.

Hilang 2 Tahun, Seorang Wanita Ditemukan Hidup Terapung di Tengah Laut

Hilang 2 Tahun, Seorang Wanita Ditemukan Hidup Terapung di Tengah Laut

Sahmitra — Seorang wanita Kolombia yang hilang dua tahun lalu secara ajaib ditemukan masih hidup di tengah laut. Ia ditemukan oleh nelayan yang sedang berlayar, dan video penyelamatannya viral di media sosial.

“Puji Tuhan saya masih hidup,” kata Angelica Gaitan (46) yang ditemukan pada Sabtu (26/9/2020) oleh nelayan Roland Visbal hampir 2 kilometer jauhnya dari Puerto Colombia.

Dalam rekaman video yang beredar, Visbal dan seorang temannya bernama Gustavo terlihat mengarahkan kapal mereka ke arah wanita tersebut, yang kelihatannya terbujur kaku.

Mereka awalnya mengira Gaitan adalah sepotong kayu yang mengapung, sampai akhirnya dia mengangkat tangannya memberi isyarat minta tolong, menurut laporan The Sun.

Kedua nelayan itu kemudian coba berkomunikasi dengan Gaitan yang basah kuyup dengan bahasa Spanyol dan Inggris, tapi tak ada jawaban.

Laporan selanjutnya mengatakan bahwa Gaitan menderita kelelahan dan hipotermia, karena terombang-ambing selama 8 jam di tengah laut.

Visbal dan Gustavo dengan susah payah akhirnya berhasil mengangkut Gaitan ke kapal mereka, setelah mengikatkan tali pada pelampung yang mereka lempar kepadanya.

The Sun melaporkan, kata-kata pertama korban setelah diselamatkan adalah “Saya dilahirkan kembali. Tuhan tidak ingin saya mati.”

Visbal dan Gustavo terus mencoba bercakap dengan Gaitan dan memberinya air, tapi si wanita justru menangis terisak. Ia tampak diliputi emosi mendalam atas kejadian mengerikan tersebut.

Kedua nelayan itu kemudian membawanya ke pantai. New York Post melaporkan, Gaitan dirawat penduduk setempat sebelum dibawa ke rumah sakit. Setelah Gaitan teridentifikasi, kisahnya yang mengerikan terungkap.

Ternyata dia putus hubungan dengan keluarganya dua tahun lalu dan mereka sama sekali tidak tahu keberadaannya. Gaitan lalu bercerita kepada radio RCN bahwa dia meninggalkan keluarga karena puncak kekesalan selama 20 tahun kekerasan rumah tangga yang diderita dari suaminya.

“Penganiayaan dimulai pada kehamilan pertama. Dia memukuli saya, melecehkan saya,” ungkap Gaitan dalam wawancara yang dikutip New York Post.

“Pada kehamilan kedua saya, pelecehan berlanjut dan saya tidak bisa menjauh darinya karena anak-anak itu masih kecil.”

Gaitan telah melaporkan dugaan insiden itu, tapi polisi hanya menahan pelaku selama 24 jam dan Gaitan kembali menderita KDRT, menurut laporan Mirror.

Titik puncaknya terjadi pada September 2018 ketika menurut Gaitan suaminya “melukai wajahku dan mencoba membunuhku.”

Oleh karena tidak tahan lagi dengan situasinya, Gaitan melarikan diri dan tinggal di Barranquilla selama 6 bulan. Ia sempat meminta bantuan di tempat penampungan tunawisma tapi gagal dan menjadi depresi berat.

“Aku tidak mau melanjutkan hidupku,” kata Gaitan mengenang situasinya saat itu, lalu naik bus ke pantai dan memutuskan untuk lompat ke laut.

Dia mengaku tidak mengingat banyak setelah pingsan. Polisi masih menyelidiki seputar hilangnya dan penyelamatan Gaitan. Media lokal melaporkan, putri Gaitan, Alejandra Castiblanco bersama saudara perempuannya berusaha mengumpulkan uang untuk membawa pulang Gaitan ke rumah mereka di Bogota.

Dikejar Monyet saat Angkat Jemuran, Seorang Gadis Jatuh dari Atap Rumah

Dikejar Monyet saat Angkat Jemuran, Seorang Gadis Jatuh dari Atap Rumah

SAHMITRA — Seorang gadis berusia 13 tahun di India bagian utara meninggal setelah terjatuh dari atap karena dikejar monyet saat angkat jemuran.

Menyadur Ndtv, pada Kamis (21/10/2020) remaja tersebut terjatuh ketika sedang mengangkat jemuran di rumahnya di kota Muzaffarnagar, negara bagian Uttar Pradesh.

Saat ia mengumpulkan pakaian, tiba-tiba sekelompok monyet datang dan ingin menyerangnya, karena takut gadis itu pun berlari dan akhirnya terjatuh.

Polisi mengatakan kepada Press Trust of India bahwa gadis itu segera dilarikan ke rumah sakit, namun dokter tidak dapat menolong nyawanya ketika ia sampai.

Dikutip dari The Independent, insiden tersebut bukan pertama kalinya yang melibatkan konflik antara manusia dan monyet di India yang berakibat fatal bahkan kehilangan nyawa.

Pada tahun 2018, juga di negara bagian Uttar Pradesh, seorang bayi laki-laki meninggal setelah direbut dari ibunya dan digigit oleh seekor monyet.

Kemudian di tahun 2019, seorang pria dari Vrindavan diserang oleh tiga ekor monyet ketika dia mencoba memasuki rumahnya.

Pada Maret tahun ini, parlemen India menyisihkan dana senilai 50 juta rupee (Rp 9,9 miliar) untuk mengendalikan konflik yang meningkat antara monyet dan manusia di ibu kota negara.

Delhi mencatat 950 kasus monyet menggigit manusia pada tahun 2018 saja, saat anggota parlemen dan birokrat yang berjuang untuk mengatasi gangguan hewan primata tersebut.

Menurut laporan Indian Express, rencana 5 tahun Pemerintah India untuk mengatasi konflik tersebut diantaranya mengendalikan populasi monyet, memahami perilaku dan pola pergerakan dengan memasangkan kalung radio, mengidentifikasi titik konflik, menggunakan metode ilmiah untuk sterilisasi, dan melatih staf kehutanan dan kota untuk menangani jika terjadi insiden.

Namun program tersebut tidak pernah berjalan karena pandemi Covid-19 menyerang India dan penerapan kebijakan lockdown yang ketat untuk menahan penyebaran virus.