Pria yang buang sesajen di Gunung Semeru dikenakan pasal berlapis

Pria yang buang sesajen di Gunung Semeru dikenakan pasal berlapis

SAHMITRA – Belakangan viral di media sosial sebuah video singkat yang menampilkan seorang laki-laki mengenakan sarung membuang dan menendang sesajen yang berada di lokasi bencana erupsi gunung Semeru di Kabupaten Lumanjang beberapa waktu yang lalu.

Tidak lama setelah video yang memancing emosi dan kemarahan netizen itu viral, pelakunya pun segera tertangkap. Pelaku diketahui bernama Hadfana Firdaus berusia 31 tahun yang merupakan penduduk asli NTB yang menetap di Yogyakarta setelah menikah dengan perempuan Bantul. Dia ditangkap di rumahnya di Gang Dorowati, Pringgolayan, Bantul DIY pada Kamis (13/1/2022) pukul 22:40 WIB tanpa perlawanan. Penangkapan pelaku ini atas kerjasama Polres Lumajang, Polda Jatim, Polda Jateng, Polda DIY dan Polda NTB yang melakukan pencarian.

Saat dimintai keterangan, Hadfana mengakui perbuatannya itu berdasarkan pemahaman keyakinan yang dia anut. Lebih lanjut Hadfana menjelaskan bahwa kejiadian tersebut berlangsung ketika dirinya tengah menjadi relawan bencana erupsi gunung Semeru. Dia membuang dan menendang sesajen yang ada disekitar lokasi dikarenakan sesajen-sesajen tersebut tidak sesuai dengan kepercayaan yang dia yakini. Dia lalu meminta teman sesama relawan untuk mengambil video menggunakan telepon gengam miliknya. Yang kemudian, video tersebut disebarkan ke grup WA dan langsung viral di media sosial.

Pihak kepolisian sudah mengamankan barang bukti yakni sesajen yang ada di TKP, rekaman video tersebut dan telepon genggam milik Hadfana. Hadfana pun kini telah resmi dijadikan tersangka dan dikenakan Pasal 156 dan Pasal 158 KUHP tentang penghinaan terhadap golongan tertentu dengan ancaman hukuman penjara 4 tahun. Selain itu, terkait video yang telah tersebar luas, polisi juga dapat menjerat Hadfana dengan UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman hukuman penjara 6 tahun dan denda paling banyak Rp. 1 miliar.

Aksi tidak terpuji Hadfana itu dinilai telah menyinggung dan menuai kecaman dari berbagai pihak lantaran dinilai tidak menghormati keyakinan dan kultur masyarakat setempat. Sesajen yang erat hubungannya dengan kepercayaan Animisme, hingga kini masih dipercaya sebagai bagian dari upacara sakral. Dan oleh karena itu Hadfana telah menyatakan permintaan maaf kepada masyarakat Indonesia.

“Seluruh masyarakat Indonesia yang saya cintai, kiranya apa yang kami lakukan dalam video itu dapat menyinggung perasaan saudara, kami mohon maaf yang sedalam-dalamnya,” kata Hadfana Firdaus dikutip dari Antara pada Jumat (14/1/2022).

Bukan joki, kakek asal India ketagihan vaksin COVID-19 sudah disuntik 11 kali

Bukan joki, kakek asal India ketagihan vaksin COVID-19 sudah disuntik 11 kali

SAHMITRA – Di tanah air belakangan ini marak beredar berita bahwa di beberapa daerah terdapat kasus joki vaksinasi Covid-19 yang dimana pelaku-pelakunya kini harus berurusan dengan pihak kepolisian. Salah satu kasus praktek joki vaksinasi ini terjadi di kota Semarang. Kapolrestabes Semarang, Kombes Irwan Anwar, yang dilansir dari news.detik.com, menyatakan bahwa kasus tersebut terungkap pada 3 Januari 2022.

Aksi tiga orang ibu rumah tangga, CL (37), IO (48) dan DS (41) terungkap dan berhasil digagalkan oleh tenaga medis yang menyadari adanya kejanggalan ketika melakukan screening indentitas dan ciri-ciri fisik yang tidak sesuai sebelum dilakukannya vaksinasi. CL adalah orang yang harusnya divaksin. CL membutuhkan sertifikat vaksin untuk bepergian ke luar kota tapi tidak mau divaksin dengan alasan bahwa dirinya adalah seorang penyitas COVID-19 dan memiliki penyakit komorbid. CL lalu menceritakan kebutuhannya tersebut pada IO yang kemudian mengenalkannya pada DS yang kebetulan sedang membutuhkan uang dan bersedia menjadi joki dengan bayaran Rp. 500ribu.

Kasus lainnya terjadi di provinsi Sulawesi Selatan. Warga asal kabupaten Pinrang bernama Abdul Rahim (49) telah menjalani 17 kali vaksinasi COVID-19 sebagai joki dengan memungut bayaran Rp. 100ribu hingga 800ribu.

Lain halnya dengan Abdul Rahim yang menerima vaksin COVID-19 berkali-kali demi uang. Seorang kakek berusia 85 tahun di India bernama Brahmdeo Mandal, mengaku telah menerima vaksin COVID-19 sebanyak 11 kali. Kakek pensiunan petugas pos ini mengatakan bahwa suntikan-suntikan yang dia terima tersebut membantunya menghilangkan rasa sakit dan nyeri yang telah lama dia derita dan meningkatkan nafsu makannya. Dia menambahkan bahwa dulu untuk berjalan dia membutuhkan tongkat, namun setelah mendapat suntikan vaksin untuk COVID-19 dia tidak lagi membutuhkan tongkat tersebut.

Kakek Mandal bahkan rela melakukan perjalanan ke kamp-kamp tempat vaksinasi di Madhepura, tempat tinggalnya, sampai ke distrik-distrik tetangga yang jaraknya lebih dari 100km untuk mendapatkan vaksinasi. Dan dia menyimpan catatan terperinci dalam tulisan tangan tentang tanggal, waktu dan kamp​​​​ tempat dia menerima 11 dosis yakni antara Februari dan Desember tahun 2021.

Sejak vaksinasi dimulai pada 16 Januari tahun lalu di India, terdapat dua vaksin yang diproduksi secara lokal, yakni Covishield dan Covaxin. Vaksin dua dosis ini memiliki jeda empat hingga enam minggu setelah dosis pertama. Tapi dalam sebuah temuan dari kasus ini, kakek Mandal berhasil menerimal dua suntikan dalam waktu setengah jam pada hari yang sama dan masing-masing suntikan tersebut terdaftar di portal vaksin India yang bernama CoWin.

Pakar kesehatan masyarakat Chandrakant Lahariya mengatakan bahwa penyebab hal tersebut bisa terjadi adalah karena data vaksinasi dari kamp tidak diunggah di portal secara realtime atau data-data baru diproses setelah jeda yang lama. Kemungkinan lain adalah karena adanya gangguan sistem atau jaringan pada portal yang disebabkan oleh kelalaian petugas yang menjaga kamp vaksinasi.

Perawat hamili pasien lumpuh hingga lahirkan anak laki-laki

Perawat hamili pasien lumpuh hingga lahirkan anak laki-laki

SAHMITRA – Nathan Sutherland, seorang mantan perawat ditangkap oleh pihak kepolisian Phoenix, Amerika Serikat pada Januari 2019 dengan tuduhan pemerkosaan dan menghamili seorang pasien perempuan dalam kondisi lumpuh vegetatif yang merupakan salah satu pasien yang berada dibawah pengawasannya di sebuah faskes bernama Hacienda HealthCare. Sutherland akhirnya terbukti bersalah di pengadilan yang digelar pada Desember 2021 dan diganjar hukuman 10 tahun penjara.

Hacienda HealthCare adalah fasilitas nirlaba milik swasta yang menampung pasien yang perawatannya dibayar melalui program Medicaid. Program Medicaid sendiri adalah program kolaborasi antara federal dan negara bagian di AS yang menyediakan kesehatan gratis atau murah untuk warga AS yang berpenghasilan rendah, keluarga dan anak-anak, wanita hamil, orang tua, dan orang cacat.

Sutherland mulai bekerja di Hacienda HealthCare sejak Januari 2012. Dalam form isian latar belakang yang dia tulis, dirinya menyakatan bahwa tidak pernah memiliki catatan kriminal dan tidak pernah menerima tindakan disipliner apapun sebelumnya. Dan setelah dilakukan pemeriksaan latar belakang yang ekstensif oleh pejabat di Hacienda HealthCare sendiri, akhirnya Sutherland ditugaskan ke “Fasilitas Perawatan Menengah – Cacat Intelektual sejak 2014.

Bermula ketika pada akhir tahun 2018, seorang staff di faskes Hacienda HealthCare menelepon 911 dan melaporkan bahwa terdapat seorang pasien lumpuh yang melahirkan, dimana selama itu tidak ada satu pun pihak faskes yang mengetahui mengenai kehamilan tersebut.

Korban adalah seorang perempuan berusia 29 tahun. Berada dalam kondisi lumpuh vegetatif selama 14 tahun karena nyaris tenggelam ketika masih berusia 3 tahun. Dia menderita cacat intelektual akibat kejang yang dia alami di masa kanak-kanak. Dia dapat mengerakan bagian tubuh, leher dan kepalanya, tetapi tidak dapat berbicara. Ketika itu korban didapati tengah dalam kondisi proses melahirkan ketika salah satu pegawai faskes ingin mengganti pakaiannya.

Comatose pregnancy atau kehamilan koma yang diakibatkan oleh kekerasan seksual saat korban tidak sadarkan diri untuk sementara atau permanen, atau mati otak, sangat jarang terjadi namun pernah terjadi sebelumnya di tahun 2015 dengan kasus serupa, yakni pasien koma yang diperkosa dan hamil. Namun kasus ini tidak pernah diproses secara hukum karena keputusan keluarga pasien yang bersangkutan. Kehamilan koma secara medis memiliki risiko yang cukup tinggi dan mengakibatkan permasalah etika yang kompleks bagi keluarga korban.

Menanggapi laporan tersebut, kepolisian Phoenix yang sudah mengantongi surat izin, pada 8 Januari 2019 meminta pihak Hacienda HealthCare untuk menyerahkan sampel tes DNA semua pegawai laki-laki yang bekerja disana. Dengan tujuan untuk menemukan pelaku yang bertanggung jawab telah memperkosa dan menghamili pasien yang dalam keadaan lumpuh total dan tidak berdaya sama sekali.

Sampel DNA bayi laki-laki yang telah lahir dari korban lalu digunakan pihak kepolisian untuk dicocokkan dengan sampel DNA para staff laki-laki di Hacienda HealthCare. Hasilnya test sampel DNA Nathan Sutherland lah yang ternyata cocok dengan bayi tersebut. Sutherland pun segera ditangkap.

Meskipun diawal membantah dan pengacaranya sempat berargumen bahwa tidak ada bukti yang dapat ditunjukkan dimana Sutherland tengah memperkosa korban, namun akhirnya Sutherland mengakui bahwa dia telah memperkosa korban berulang kali selama dia bertugas merawat korban tersebut hingga hamil dan akhirnya melahirkan. Akibat perbuatannya, dia tidak hanya harus mendekam di penjara selama 10 tahun, namun juga dilarang bekerja sebagai perawat seumur hidup, namanya terdaftar sebagai pelaku kejahatan seksual dan berada dalam program pengawasan seumur hidup.

Selain menuntut keadilan pada Sutherland, pihak keluarga korban pun menuntut negara bagian Arizona dengan tuduhan “sangat lalai” dalam memantau, mengawasi, dan menilai pengoperasian Hacienda HealthCare. Dimana pada akhirnya pihak keluarga meraih kesepakatan penyelesaian senilai $ 7,5juta.

Keluarga korban juga melayangkan gugatan hukum terhadap dua orang dokter Hacienda HealthCare yang ditugaskan untuk merawat korban, yakni Dr. Phillip Gear Jr. dan Dr. Thanh Nguyen. Keduanya terbukti gagal dalam melaksanakan kewajiban mereka secara memadai sebagai Primary Care Physician (PCP) atau dokter perawat primer, apakah itu disebabkan oleh rasa bosan, kelemahan fisik, kelelahan atau alasan lain.

Dr. Thanh Nguyen telah mencapai perjanjian kesepakatan dengan keluarga korban yang nilai atau bentuknya dirahasiakan. Sementara Dr. Phillip Gear Jr. secara sukarela telah menyerahkan lisensi kedokterannya dan meraih perjanjian kesepakatan senilai $ 15juta dengan pihak keluarga korban

Tak cukup hanya itu saja dampak kasus ini, beberapa anggota senior Hacienda HealthCare menyatakan pengunduran diri mereka tidak lama setelah beritanya menjadi konsumsi dan perbincangan publik. Termasuk diantaranya adalah CEO Hacienda HealthCare, Bill Timmons, Direktur spesialis terapi, Kerri Masengale, Ketua Dewan yang telah menjabat selama 4 dekade, Tom Pomeroy dan beberapa anggota senior lainnya.

Saat ini bayi laki-laki yang dilahirkan oleh korban telah berusia 3 tahun dan tinggal bersama orangtua korban. Korban juga tidak lagi dirawat di Hacienda HealthCare.

5 kasus kriminalitas yang terjadi di hari Natal. Kebanyakan pelakunya berkostum Sinterklas.

5 kasus kriminalitas yang terjadi di hari Natal. Kebanyakan pelakunya berkostum Sinterklas.

SAHMITRA –  St. Nicholas atau yang lebih dikenal dengan Santa Claus atau Sinterklas, jika di Indonesia, digambarkan sebagai seorang bapak-bapak tua baik hati, bertubuh tambun, berambut dan janggut putih, mengenakan setelan merah dengan ikat pinggang dan sepatu bots hitam dan tidak lupa dengan topi merah dengan hiasan bulu-bulu putihnya. Sinterklas mengendarai kereta yang ditarik oleh rusa-rusa ajaib yang bisa terbang, pergi dari rumah satu ke rumah lainnya untuk mengantarkan hadiah kepada anak-anak yang berkelakuan baik di malam Natal.

Namun sayangnya, ada saja orang-orang yang dengan tidak bertanggung jawab ingin merusak citra baik Sinterklas selama ini. Sinterklas adalah seorang yang baik hati dan suka memberi. Tapi yang dilakukan oleh  penjahat-penjahat yang ketika melakukan kejahatan yang mereka perbuat dengan menyamar sebagai Sinterklas ini sungguh jauh dari kata baik atau terpuji.

  1. Perampok bank berkedok Sinterklas

Dua hari sebelum hari Natal di tahun 1927, seorang mantan napi bernama Marshall Ratliff dan beberapa teman sesama mantan napinya, memakai kostum Sinterklas, masuk kedalam sebuah bank dan berhasil menggasak uang tunai sebanyak $ 12,000 dan surat-surat berharga. Aksi perampokan yang melibatkan baku tembak besar-besaran tersebut meninggalkan 200 lubang peluru di Gedung bank tersebut, enam orang tewas, tiga diantaranya adalah pelaku perampokan itu sendiri. Ratliff akhirnya kabur dengan menyandera dua orang gadis muda, pihak kepolisian dan warga yang sukarela membantu mengejar Ratliff hingga tertangkap. Tidak lama setelah dimasukkan ke dalam penjara, warga yang marah lalu menculik Ratliff dan kemudian menggantungnya dibelakang sebuah bioskop yang tengah menayangkan film berjudul The Loose atau tali gantung diri.

  1. Pria aneh berkostum Sinterklas mencampur minuman dengan date-rape drugs

Salah satu tradisi Natal di negara Jerman adalah membagikan minuman beralkohol gratis untuk menghangatkan tubuh ditengah-tengah musim salju. Pada tahun 2011 terdapat setidaknya sepuluh orang melaporkan bahwa mereka menerima minuman dari seorang pria berkostum Sinterklas, lalu mereka mulai muntah dan kehilangan kesadaran. Salah satu korban, seorang gadis berusia 15 tahun melaporkan telah menerima 2 shots schnapps yang telah dicampur dengan obat pemerkosaan yang tidak berbau dan tidak berasa. Namun sayangnya hingga kini Pelaku tidak pernah ditemukan.

  1. Sinterklas bayaran pukuli seorang nenek hingga meninggal

Seorang Sinterklas bayaran di sebuah mall di Amerika Serikat bernama Elkin Clarke dinyatakan bersalah atas pembunuhan seorang nenek berusia 74 tahun, Annie Nelson yang merupakan seorang penginjil Kristen. Clarke menuduh Nelson telah mencuri cokelat darinya dan tidak hanya itu, Clarke lalu memukuli Nelson dengan mengunakan kayu berukuran 2×4 hingga Nelson pingsan. Enam kemudian Nelson meninggal dunia. Dalam pembelaanya, Clarke mengaku telah memperingati Nelson sampai lima belas kali untuk tidak mencuri darinya. Namun sayang pembelaannya tersebut tidak bisa menolongnya dari jeratan hukum.

  1. Pria berkostum Sinterklas bunuh masal mantan istri dan keluarganya lalu bunuh diri.

Pada Malam Natal di tahun 2008, Bruce Jeffrey Pardo mengenakan kostum Sinterklas dan mengetuk pintu sebuah rumah yang tengah menggelar sebuah pesta. Diantara tamu yang hadir, adalah mantan istrinya yang karena perceraian mereka telah membuat Pardo bangkrut secara finansial. Selain mantan istrinya, diperkirakan ada 25 orang lainnya dari keluarga mantan istrinya tersebut.

Untuk menghindari kecurigaan, Pardo membawa pistol serta beberapa peluru buatan sendiri yang dia bungkus menyerupai sebuah hadiah. Setelah diizinkan masuk ke rumah, Pardo langsung melepaskan tembakan dan kemudian juga membakar rumah tersebut. Sembilan orang tewas dalam kekacauan itu, termasuk Pardo yang menembak dirinya sendiri sebelum ditangkap.

  1. Pria curi hadiah natal dari seorang single mother untuk diberikan ke keluarganya sendiri

Kasus ini dijuluki ‘opersi sinterklas jahat’. Pasalnya, Vashni Seleni Ulufale, pemuda berusia 23 tahun ini mencuri barang-barang berharga di rumah seorang orang tua tanggal bernama Angela ketika Angela sedang bekerja dan puteranya, tangah dititipkan di tempat penitipan anak. Barang-barang yang digasak oleh Ulufele dari rumah Angela berupa televisi, iPad, perhiasan, minuman beralkohol, kado-kado yang tersusun rapi dibawah pohon natal, termasuk sepeda baru putra Angela.

Beberapa hari kemudian Angela melapor ke pihak kepolisian bahwa beberapa barang yang dicuri dicoba untuk dijual di online oleh sang pencuri. Berbekal surat penggeledahan, polisi mendatangi rumah Ulufale. Didepan pasangan dan anak Ulufale, polisi membongkar kado-kado dibawah pohon natal dirumah itu untuk memeriksa kecocokan dengan barang-barang yang telah dicuri dari rumah Angela. Sepeda baru untuk putra Angela pun ditemukan didalam rumah tersebut. Ulufale pun akhirnya ditangkap dan diadili karena perbuatannya.

Waspada! Covid-19 varian OMICRON sudah masuk ke Indonesia

Waspada! Covid-19 varian OMICRON sudah masuk ke Indonesia

SAHMITRA – Pada konfrensi pers yang digelar pada hari Kamis, 16 Desember 2021, mentri kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan bahwa telah ditemukan satu kasus Covid-19 varian terbaru Omricon di Indonesia. pasien tersebut adalah seorang petugas kebersihan di Wisma Atlet.

Mutasi terbaru yang berpotensi lebih menular ini pertama kali ditemukan di Afrika Selatan sekitar awal bulan Desember dan sejak itu mulai terdeteksi di beberapa negara lainnya, seperti Belanda, Inggris dan Portugal.

Ditemukannya kasus pertama varian Omicron di tanah air berawal ketika pada 8 Desember 2021, dilakukan pemeriksaan sampel rutin tim yang bertugas di Wisma Atlet. Dari hasil tes PCR para petugas, tiga orang terkonfirmasi positif Covid-19. Kemudian ketiga sampel tersebut diproses lebih lanjut oleh Kemenkes untuk dilakukan tes Whole Genome Sequencing (WGS).

Dari hasil tes WGS yang keluar pada tanggal 15 Desember, dinyatakan 1 pasien berinisial N terkonfirmasi positif Omicron, sementara dua lainnya bukan Omicron. Ketiga pasien tersebut adalah OTG, tidak mengalami demam ataupun batuk.

Menurut laporan mingguan yang diterbitkan oleh Pusat Pengendalian Pencegahan Penyakit Amerika Seikat (CDC), melaporkan bahwa pada pasien kasus Omicron di Amerika Serikat 89% men geluhkan gejala batuk, 65% mengalami efek samping mudah Lelah, 59% mengalami pilek atau hidung tersumbat.

CDC juga melaporkan golongan umur yang terjangkit oleh Omicron ini 58% usia produktif yakni 18-39 tahun, 23% usia 40-64 tahun, 9% 65 tahun keatas dan 9% 18 tahun kebawah. Dan belum ada catatan pasian Omicron yang meninggal dunia dan persentase yang sampai harus dirawat di rumah sakit juga rendah, yakni 2% saja.

Namun, meskipun varian Omicron ini ‘terkesan’ tidak ganas, namun semua orang diharapkan untuk tetap menjaga protokol kesehatan dan mematuhi peraturan yang berlaku. Segera melakukan vaksinasi, bagi yang belum melakukan.

Berita terbaru kasus Omicron di tanah air per tanggal 18 Desember kemarin bertambah menjadi 3 orang. Setelah ditemukan pada WNI yang baru kembali dari perjalanan luar negeri. Kedua WNI tersebut, berinisial IKWJ, berjenis kelamin laki-laki, berusia  42 tahun yang beru kembali dari Amerika Selatan. Dan pasien lainnya yang berinisial M berusia 50 tahun, baru kembali dari Inggris. Saat ini keduanya tengah menjalani karantina di Wisma Atlet.

Temuan ini menunjukkan bahwa pemerintah sangat serius dalam menangani jalur dan mencegah penularan virus Covid-19 yang berasal dari luar negeri. Semua pihak, baik itu pemerintahan dan masyarakat umum diharapkan untuk sama-sama menjaga dan patuh pada peraturan demi menekan penularan virus ini dan demi kelangsungan hidup bersama.

Semoga kedepannya tidak ditemukan lagi kasus-kasus seperti yang dilakukan selebgram berinisial RV, yang terbukti kabur dari ketentuan menjalani karantina sepulangnya ke tanah air dari luar negeri dengan bantuan petugas. Pemerintah perlu menindak dengan tegas para pelanggar sesuai dengan pelanggaran yang telah diperbuat demi keselamatan masyarakat banyak.

Serigala berbulu domba, ‘ustad’ predator seks santriwati dibawah umur

Serigala berbulu domba, ‘ustad’ predator seks santriwati dibawah umur

SAHMITRA – Dua minggu belakangan, tanah air tengah dihebohkan dengan kasus yang menyita perhatian masyarakat. Pasalnya kejahatan yang terjadi melibatkan oknum yang seharusnya menjadi panutan atau contoh yang baik dan melindungi. Berikut kisahnya lebih lanjut bagaimana oknum tersebut telah melukai atau menciderai tidak hanya korban-korbannya namun juga sistem yang berlaku.

Sila pertama dari Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia berbuyi: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Yang memiliki makna bahwa warga negara Indonesia mempercayai dan bertakwa pada Tuhan. Namun yang diperbuat oleh warga Bandung ini lebih mencerminkan ‘kesetanan yang maha esa’.

Namanya Herry Wirawan, pria berusia 36 tahun yang berprofesi sebagai ‘ustad’ atau ‘guru’ di pondok pesantren Manarul Huda Antapani dan Madani Boarding School Cibiru, kota Bandung ini alih-alih mengajarkan ilmu agama dan membimbing ke jalan yang benar, malahan memperkosa murid-muridnya hingga hamil.

Kejahatan seksual yang dilakukan oleh ‘ustad’ cabul ini dimulai sejak 2016 hingga 2019. Berita terbaru seiring berkembangnya kasus ini menyatakan bahwa korbannya mencapai 21 santriwati yang berasal dari berbagai daerah, antara lain Garut, Cimahi dan Bandung. Rata-rata korban adalah usia dibawah umur, yakni 13 tahun. Korban lainnya usianya berkisar antara 16 – 17 tahun.

Dari ke-11 korban lahirlah delapan anak. Salah satu korban ada yang disetubuhi Herry ketika usianya masih 12 tahun, darinya lahir seorang anak yang kini berusia satu tahun. Bahkan dari salah satu korban lainnya sampai lahir dua orang anak.

Tidak berhenti sampai disana saja kekejaman yang dilakukan oleh penjahat berpeci ini. Herry ternyata dengan sengaja tidak memerintahkan atau membiarkan para santriwati yang dihamilinya untuk menggugurkan kandungan mereka. Anak-anak yang lahir dari perempuan-perempuan dibawah umur itu lalu diakui sebagai anak yatim piatu, yang kemudian dipergunakan Herry untuk mendulang rupiah kepada sejumlah pihak.

Doktrin yang sering diucapkan Herry pada para santriwati, berbunyi: “Guru itu Salwa Zahra Atsilah, jadi harus taat kepada guru.” Selain didoktrin, diperkosa dan dihamili, santriwati-santriwati ini juga dipaksa dan dipekerjakan oleh Herry sebagai kuli bangunan untuk membangun gedung pesantren di daerah Cibiru. Lebih parahnya, menurut penjelasan Diah Kurniasari, Ketua P2TP2A Kabupaten Garut, yang dilansir dari tribunnews.com, Program Indonesia Pintar (PIP) milik para santriwati pun ikut dirampas oleh Herry dan menurut salah satu saksi, dana BOS yang diberikan untuk pondok pesantren juga ikut dipakai untuk keperluan yang tidak jelas. Diah menambahkan, mendengar dari para korban, penderitaan yang dialami oleh para santriwati-santriwati asuhan Herry ini membuat bulu kuduknya merinding dan nelangsa.

Dalam melancarkan aksi kejahatannya, Herry mengiming-imingi korbannya, yang kebanyakan datang dari keluarga tidak mampu dengan seribu satu janji-janji manis yang kosong. Mulai dari janji membiayai masuk ke perguruan tinggi hingga masuk akademi kepolisian wanita. Pihak keluarga korban pun ikut terkeceoh karena berfikir anak-anak mereka berada di tempat yang aman, boleh tinggal dan bersekolah secara gratis di pesantren, diajar dan dibimbing oleh ustad yang paham agama. Namun siapa yang dapat menyangka, orang yang mereka percayai dan mungkin dihormati, malah sampai hati melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak mencerminkan atau sejalan dengan ajaran agama Islam yang mereka yakini.

Selain mendoktrin korbannya dengan kutipan ayat, menurut para korban yang mengalami pemerkosaan, modus yang sering digunakan oleh Herry adalah memanggil santriwati yang pingin dia tiduri ke kamarnya. Disebuah rumah diluar dari gedung pesantren, sering disebut sebagai basecamp, yang juga merupakan rumah dimana para santriwati-santriwati yang hamil tinggal sampai melahirkan dan kondisinya pulih. Dengan alasan ingin diajak berbincang atau minta tolong untuk dipijat. Didalam kamar tersebut, apabila menolak, santriwati bakal dibisiki sesuatu di telinganya dan setelah dibisiki mereka jadi bersedia melayani nafsu bejat Herry. Herry juga tidak kenal ampun, dia tetap menyetubuhi mereka meski mereka menangis dalam ketakutan.

Perbuatan keji Herry akhirnya terbongkar ketika para santriwati pulang ke kampung halaman masing-masing pada libur hari raya Idul Fitri. Oleh keluarga para korban, Herry resmi dilaporkan ke Polda Jawa Barat pada 18 Mei 2021 dengan dengan nomor laporan LBP/480/V/2021/Jawa Barat. Namun demi menjaga privasi dan mental para korban dan keluarganya, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Polda dan Lembaga swadaya masyarakat bersepakat untuk sementara ‘menyimpan’ kasus ini dari konsumsi publik. Tujuannya adalah agar fokus tetap tertuju pada proses hukum, yakni si pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan-perbuatannya.

Ketika persidangan atas kasus yang menjadikan Herry sebagai terdakwa ini mulai digelar sejak November 2021, barulah beritanya mulai tersebar secara meluas dan menggegerkan semua lapisan masyarakat, tidak terkecuali Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang kemudian meminta agar Herry dihukum seberat-beratnya.

AN (34), saudara kandung dari salah satu korban menyatakan bahwa dirinya sebenarnya dari awal berharap kasus tersebut diviralkan saja dan agar terus dikawal. Dirinya mengaku takut dan menganggap apabila kasus tersebut tidak diketahui oleh banyak pihak, hukuman yang akan diterima Herry nantinya akan terlalu ringan. Karena menurutnya hukum di Indonesia ini masih kurang berpihak kepada korban. Selain itu, AN juga berharap agar si ‘ustad’ bejat pemangsa seks ini menerima hukuman mati saja agar kelak tidak akan jatuh lagi korbanya.

Deputi Perlindungan Khusus Anak Kementerian PPPA mengatakan, Herry Wirawan dapat diancam  hukuman tambahan dikebiri seperti tertuang dalam Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2016.

Menurut anda hukuman apa yang paling sepadan untuk Herry? Hukuman mati? Atau penjara seumur hidup ditambah hukuman kebiri?

Kelewat pamer aurat, pedagang kaki lima di Thailand ini sampai ditegur polisi

Kelewat pamer aurat, pedagang kaki lima di Thailand ini sampai ditegur polisi

SAHMITRA – Dikenal dengan nama Olive, adalah seorang pedagang kudapan ringan pinggir jalan yang dikenal oleh penduduk lokal Chiang Mai, Thailand dengan nama khanom Tokyo. Di tanah air kita menyebutnya dengan kue semprong, kudapan yang teksturnya garing, renyah dan rasanya manis.

Kalau di Indonesia biasanya kudapan ini dijual sudah dalam kemasan toples atau plastik. Namun ternyata berbeda cara apabila di negara yang sering dijuluki negara gajah putih ini karena mereka membuatnya ditempat sesuai dengan pesanan alias made by order. Dan di lapak milik Olive khususnya, khanom Tokyo miliknya terasa lebih istimewa, setidaknya bagi pelanggan pria terutama, karena penampakan atau pakaian yang dikenakan Olive selagi menjajakan dagangannya ini bisa dibilang diluar dari kebiasaan atau out of the box.

Perempuan 24 tahun asal Chiang Mai yang memilik nama asli Aranya Apaiso ini punya ide kreatifnya sendiri dalam menghadapi kompetisi berjualan. Yakni dengan memasak hanya mengenakan sehelai kardigan yang menutupi tubuh bagian atasnya.  Dia tidak mengenakan apa-apa lagi dibalik kardigan tersebut yang hanya diamankan oleh sebuah peniti kecil ditengah-tengah yang bahkan tidak bisa menyatukan bagian kiri dengan yang kanan.

Sebelum viral di jalanan dan internet, pedagang kaki lima seksi ini berjualan pakaian secara online. Namun karena bisnisnya itu terkena dampak buruk pandemi COVID-19, dia lalu beralih profesi menjadi penjual khanom Tokyo, yang dia improvisasi dengan mengenakan atasan kontroversial yang pastinya mengundang perhatian.

Dan usahanya tersebut tidak sia-sia. Penjualannya langsung melonjak dari yang sehari hanya beberapa lusin hingga kini dia bisa menjual sampai 200 setiap harinya. Tentunya pelanggan yang datang dan membeli kebanyakan adalah laki-laki, bahkan Olive sendiri mengatakan kepada para media yang berbondong-bondong ingin meliput dan mengangkat kisahnya, bahwa pernah ada laki-laki yang menabrakkan motornya karena konsentrasinya terganggu karena melihat Olive berjualan.

Akibat banyaknya laki-laki yang mengerubuni lapak Olive, polisi setempat akhirnya turun tangan. Mereka memperingati Olive untuk tetap menjaga salah satu protokol kesehatan, yakni social distancing untuk para pembeli yang datang kelapaknya dan juga perihal pakaian nya yang dianggap tidak pantas dan menimbulkan keramaian. Olive ditegur dan disarankan untuk setidaknya mengenakan bra.

Lanjutan misteri pembunuhan Gabby Petito, tersangka utama Brian Laundrie akhirnya ditemukan

Lanjutan misteri pembunuhan Gabby Petito, tersangka utama Brian Laundrie akhirnya ditemukan

SAHMITRA – Setelah hampir dua bulan lamanya sejak Brian Laundrie dinyatakan menghilang, pengacara keluarga Laundrie akhirnya mengumumkan bahwa jasad Brian telah ditemukan pada 20 Oktober. Brian merupakan tersangka utama atas terbunuhnya Gabby Petito, seorang vlogger perjalanan asal Amerika Serikat yang sekaligus adalah tunangan dari Brian.

Gabby Petito dilaporkan menghilang oleh keluarganya pada 11 September, yang ketika itu tengah melakukan perjalanan melintasi Amerika Serikat dengan menggunakan mobil Van bersama dengan Brian. Laporan tersebut dibuat oleh keluarga Petito karena mereka hilang kontak dengan Gabby sejak akhir Agustus dan setelah mendengar kabar bahwa Brian pulang kerumahnya tanpa Gabby.

Satu hari setelah laporan Gabby menghilang, Brian yang merupakan satu-satunya orang yang memiliki kemungkinan terbesar untuk mengetahui keberadaan Gabby, ikut menghilang. Dan kedua orangtua Brian terkesan menutupi informasi keberadaan putera mereka.  Karena dua hal tersebut, akhirnya FBI mengumumkan dan menyatakan Brian sebagai orang yang dicurigai atas menghilangnya Gabby.

Pada 17 September, orangtua Brian Laundrie melayangkan laporan atas menghilangnya Brian dan menyerahkan senjata api yang mereka miliki dan mengatakan bahwa salah satu dari senjata itu ada yang hilang. Gabby dan Brian, keduanya dinyatakan hilang dan pencarian atas keduanya lalu gencar dilaksanakan oleh pihak kepolisian wilayah setempat dan campur tangan FBI karena kasus ini telah menyita banyak pehatian oleh publik.

Akhirnya pada 19 September, jasad Gabby Petito ditemukan di area Wyoming dan kematiannya dinyatakan sebagai pembunuhan dengan pencekikan. FBI lagi-lagi mengaitkan nama Brian Laundrie sebagai orang yang dicurigai dalam pembunuhan Gabby.

Brian masih belum diketahui keberadaannya ketika itu, sementara pencarian atas dirinya masih berlangsung. Semenjak berita menghilangnya Gabby, kasus ini telah menjadi pusat perhatian karena Gabby adalah seorang influencer yang memiliki cukup banyak followers. Banyak yang mengangkat kasus menghilang dan akhirnya ditetapkan sebagai kasus pembunuhan ini menjadi topik di media sosial.

Bahkan banyak pihak yang muncul dan secara sukarela ikut melakukan pencarian terhadap Brian Laundrie. Salah satunya adalah Dog The Bounty Hunter. Dog the Bounty Hunter adalah sosok bintang televisi Amerika yang terkenal sebagai pemburu hadiah. Pada tahun 2003 dia mendulang ketenaran setelah berhasil menangkap Andrew Luster, pembius dan pemperkosa, di Meksiko. Namun sayangnya Dog The Bounty Hunter tidak berhasil menemukan Brian Laundrie kali ini.

Akhirnya, pada 20 Oktober jenazah Brian Laundrie ditemukan di bawah air di area Carlton Reserve. Brian meninggal karena bunuh diri dengan luka tembak di kepala. Ayah Brian, yang ikut mencari dengan pihak berwenang pada hari jenazah putranya ditemukan, menemukan sebuah buku catatan di dekat tempat mayat Brian ditemukan.

Hingga kini belum ditemukan motif pembunuhan dan bahkan pihak kepolisian belum bisa menetapkan mendiang Brian sebagai pelaku utama karena statusnya hingga jasadnya ditemukan adalah orang yang dicurigai bertanggung jawab atas pencekikan yang berujung kematian yang dialami oleh mendiang Gabby Petito. Para ahli sangat berharap pada buku catatan yang ditemukan di area penemuan jasah Brian itu bisa menjadi kunci dalam mendapatkan informasi lebih lanjut atau mungkin bukti-bukti kuat untuk bisa mendakwa Brian, apabila memang betul Brian lah yang melakukan.

Rumah horor keluarga Turpin. Punya 13 anak semuanya dipenjara dan sisiksa didalam rumah

Rumah horor keluarga Turpin. Punya 13 anak semuanya dipenjara dan sisiksa didalam rumah

SAHMITRA –

911                                         : ”911 gawat darurat, apa yang ingin anda laporkan?”

Anak perempuan             : ”Um, saya baru saja kabur dari rumah.”

911                                         : “Apa kamu tahu alamat rumah kamu?”

Anak perempuan             : “Um, tidak tahu. Saya kabur dari rumah karena, saya tinggal di keluarga yang berisikan 15 orang. Dan kami punya orangtua yang menyiksa kami. Kamu bisa dengar itu?”

911                                         : “Ya, bagaimana mereka menyiksa kamu?

Anak perempuan             : “Mereka memukul kami, melempar kami. Menarik rambut kami, menjambak kami. Saya punya dua adik perempuan yang sedang dirantai sekarang. Kamu dengar saya tidak?”

911                                         : “Kamu umur berapa?”

Anak perempuan             : “Um, saya 17 tahun.”

911                                         : “Siapa nama kamu?”

Anak perempuan             : “Jordan Turpin”

Percakapan diatas adalah potongan dari rekaman panggilan telepon yang dilakukan seorang gadis 17 tahun bernama Jordan Turpin pada tanggal 14 Januari 2018, pukul 5:49 pagi ke unit gawat darurat 911. Panggilan tersebut dilakukan Jordan sesaat setelah berhasil menyelinap keluar lewat jendela rumah orangtuanya yang telah menyekap dirinya dan 12 saudara kandung lainnya.

Beberapa belas menit kemudian setelah Jordan melaporkan penyekapan dan penyiksaan yang dialaminya dan saudara-saudaranya, seorang petugas polisi yang bertugas malam itu berhasil menemukan Jordan yang sudah berdiri menunggu sambil ketakutan di ujung jalan. Polisi yang baru saja tiba itu lalu menayai Jordan lebih lanjut. Jordan memberanikan dirinya untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan polisi berwajah serius itu. Sambil menjelaskan bahwa dirinya gugup karena tidak pernah keluar dari rumah seumur hidupnya dan tidak pernah bertemu atau bicara dengan orang lain.

Andai saja ketika itu Jordan tidak memperlihatkan foto adiknya yang sedang dirantai di tempat tidur sebagai bukti, polisi yang bertugas itu mungkin saja malah membawanya kembali ke rumahnya untuk didamaikan dengan orangtuanya. Foto tersebut yang meyakinkan polisi bahwa ini adalah sebuah kasus yang serius dan bukan permainan atau kenakalan remaja seperti yang sering terjadi. Jordan lalu diminta polisi tadi untuk masuk dan duduk di kursi penumpang mobil patroli. Sebelum berangkat, polisi tersebut menanyakan pada Jordan apakah ada anggota keluarganya yang bakal membutuhkan tim medis atau pengobatan. Jordan malah minta maaf karena dirinya bahkan tidak mengerti arti dari kata medication atau pengobatan.

Satu setengah jam kemudian beberapa polisi mendatangi rumah keluarga Turpin. Butuh beberapa menit sampai akhirnya David dan Louise Turpin muncul dari balik daun pintu dengan wajah was-was. Dan ketika ditanyai apakah mereka tinggal bersama anak-anak dan minta izin untuk mengecek kedalam rumah, pasangan ini terlihat semakin ketakutan. Beberapa orang polisi lalu masuk kedalam dan melakukan penyisiran keseluruh ruangan didalam rumah tersebut. Dan hasil penemuannya sungguh mencengangkan dan benar-benar memprihatinkan.

Polisi menemukan ke-12 saudara Jordan didalam rumah yang gelap dan bau menyengat karena dipenuhi oleh sampah, kotoran manusia, dan lumut. Anak-anak keluarga Turpin, 10 diantaranya adalah perempuan, yang paling tua yakni perempuan berusia 29 tahun dan yang paling muda berumur 2 tahun. Semuanya ditemukan dalam keadaan kurang gizi dan sangat kotor. Dua anak perempuan dan 1 anak laki-laki ditemukan dirantai di tempat tidur menggunakan gembok. Begitu berhasil diselamatkan, mereka langsung meminta makan dan minum karena kelaparan.

Selain fisik yang sangat ringkih, polisi menemukan beberapa dari mereka dalam keadaan ‘tidak sewajarnya’. Tujuh diantara mereka sudah masuk dalam kategori dewasa, namun fisik mereka yang lemah dan kurang gizi menyembunyikan fakta bahwa mereka sudah berusia antara 18-29 tahun. Mereka masih mengenakan piyama dan berbicara seperti anak-anak.

Hari itu juga David dan Louise Turpin ditangkap oleh pihak kepolisian, sementara ke 13 anak-anak mereka langsung dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Selanjutnya fakta-fakta kebiadaban pasangan Turpin ini pun terkuak yang dikisahkan oleh korban yakni anak-anak kandung mereka sendiri.

David dan Louise Turpin memenjarakan anak-anak mereka di sebuah rumah yang tampak rapi dan asri dari luar namun penuh dengan sampah dan bau kotoran manusia didalamnya. Anak-anak itu diwajibkan tidur di siang hari dan bangun di malam hari, dimana para tetangga sudah terlelap untuk menghindari kecurigaan dan masalah. Dilarang berdiri didekat jendela atau tengok-tengok keluar.

Hanya anak pertama mereka yakni Jennifer yang sempat merasakan bangku sekolah dasar, itu pun hanya sampai tahun ke tiga saja. Dan waktu itu tidak ada yang mau berteman dengan Jennifer karena bau menyengat dari tubuh Jennifer membuatnya dijauhi oleh anak-anak lain.

Semenjak itu tidak ada dari anak-anak Turpin lainnya yang pernah bersekolah. Tidak ada satupun yang boleh keluar dari rumah. Sesekali saja dan itu pun jarang terjadi, mereka diajak keluar rumah. Dan ketika berada di luar rumah pun mereka tidak bisa bertindak sesuka mereka. Pakaian mereka harus seragam dan mereka harus berdiri atau berbaris sesuai dengan urutan lahir. Dan tidak diperkenankan bicara dengan siapapun. Pokoknya segala tindak tanduk mereka diawasi dan dikontrol oleh Louise dan David.

Anak-anak Turpin sering dibiarkan kelaparan. Dengan kejamnya Louise dan David hanya sekali sehari memberi makan anak-anak itu pun hanya dengan roti lapis dan selai kacang saja. Sementara mereka makan bisa makan apapun yang mereka mau. Karena sering dibuat kelaparan, tumbuh kembang anak-anak Turpin ini terganggu bahkan ada yang berhenti dan beberapa dari mereka menderita penyusutan otot. Alhasil anak-anak Turpin sering ketahuan mencuri makanan dan lalu dipukuli habis-habisan oleh Loiuse.

Anak-anak Turpin diteror dengan ayat-ayat alkitab yang disalahgunakan oleh David dan Louise untuk mengontrol dan menanamkan ketakutan dalam diri anak-anak. Louise sering sengaja membeli pakaian dan mainan anak-anak namun tidak memperbolehkan satupun mengenakan atau bermain dengannya. Suatu hari Louise sengaja meletakkan sepiring pie buah diatas meja makan, membiarkan anak-anaknya melihat, mencium wangi pie tersebut namun tidak satupun boleh menikmati. Selain menyiksa secara fisik, Loise juga menyiksa anak secara mental dan emosional.

Anak-anak itu bahkan hanya diperbolehkan untuk mandi satu kali dalam setahun dan sering melarang mereka menggunakan kamar mandi. Karena itu mereka terpaksa buang hajat dimana saja seperti binatang. Dan mereka hanya diperbolehkan untuk mencuci tangan saja, jika ketahuan mencuci bagian tubuh diatas pergelangan tangan mereka bakal kena hukum. Dipukuli, didorong dari tangga atau dirantai.

Bertahun-tahun hidup dalam penyiksaan dan kontrol yang diluar nalar pasangan Turpin, mengakibatkan dampak yang mendalam bagi anak-anak Turpin. Sebagai contoh, Jennifer sempat berniat untuk bunuh diri. Karena itulah dia dan Jordan lalu menyusun rencana untuk melarikan diri dua tahun lamanya sebelum akhirnya upaya Jordan berhasil. Rencana di awal Jennifer dan Jordan yang akan menyelinap keluar dimalam itu, namun karena terlampau ketakutan, Jennifer urung dan kembali masuk ke rumah. Namun tidak dengan Jordan yang memutuskan untuk melanjutkan pelariannya sambil memegang erat-erat ponsel usang yang hampir dibuang oleh salah satu saudaranya, dengan ponsel itulah dia menghubungi 911 dan akhirnya menyelamatkan nyawanya dan saudara-saudaranya.

Berbeda dengan Jennifer, Jordan Turpin mendapatkan pengharapan setelah menemukan dan menonton video musik penyanyi Justin Beiber dari ponsel milik salah satu saudara laki-lakinya yang dipercaya untuk memegang ponsel. Setiap kali kedua orangtuanya sedang tidak ada dirumah, Jordan sembunyi-sembunyi menonton video dari penyanyi tembang Baby ini. Dari video-video Justin Beiber, Jordan mendapatkan ‘kesadaran’ bahwa ada kehidupan lain yang jauh berbeda dari kehidupan yang dijalaninya saat itu. Dia mengatakan bahwa dia banyak belajar hal-hal baru dari Justin Beiber yang dia tonton dan semuanya itu memberinya sebuah pengharapan bahwa dia pun bisa mendapatkan kehidupan seperti yang ditampilkan dalam video-video tersebut.

“Mungkin karena kami sudah terbiasa hidup seperti telur diujung tanduk, jadi meskipun takut saya lakukan saja. Setidaknya kalaupun saya bakal mati, setidaknya saya sudah berusaha. Saya khawatir dan melihat adik saya menangis dan takut. Jadi saya harus melakukannya, meminta pertolongan dan menyelamatkan saudara saya.” Jelas Jordan, setelah empat tahun berlalu, disebuah wawancara dengan ABC News.

Baik David ataupun Louise, hingga kini tidak dapat memberikan alasan logis mengapa mereka memperlakukan anak-anak mereka seperti itu. Hingga akhirnya pada Februari 2019, keduanya divonis 25 tahun penjara seumur hidup setelah mengaku bersalah atas 14 tuduhan kejahatan. Pada sidang peradilan, David mengatakan bahwa dia tidak pernah bermaksud untuk menyakiti anak-anaknya dan berharap yang terbaik untuk anak-anaknya di masa depan mereka. Dan Louise sambill terisak mengungkapkan permintaan maaf atas semua yang telah dia lakukan. Dan mengaku bahwa dia mencintai anak-anaknya lebih dari yang mereka bayangkan.

Dokter dan perawat ini dijuluki pasangan pencabut nyawa pasien di Italia

Dokter dan perawat ini dijuluki pasangan pencabut nyawa pasien di Italia

SAHMITRA – Para dokter dan perawat merupakan tenaga ahi atau profesional yang paling terpercaya dan diandalkan dari tenaga ahli lainnya seperti penata rambut atau guru. Dan berdasarkan jejak pendapat yang dilakukan di Inggris awal tahun ini, pekerja bidang kesehatan ini mengalahkan politisi, agen properti dan jurnalis. Mereka bahkan adalah pihak yang dipercaya dan diberikan wewenang, di beberapa negara yang melegalkan, untuk melakukan tindakan euthanasia, yakni praktik pencabutan kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara memberikan suntikan yang mematikan. Yang tentunya atas permintaan dan persetujuan pasien sendiri, keluarga dan pihak berkaitan lainnya.

Namun citra baik dan terpuji para dokter dan perawat tersebut tercoreng oleh kasus yang terjadi di Italia. Dimana seorang dokter ahli anestesi dan seorang perawat, yang juga adalah pasangan berselingkuh ditangkap atas kematian setidaknya delapan pasien dan mungkin puluhan lainnya antara tahun 2011 dan 2014.

Dokter tersebut bernama Leonardo Cazzaniga, berusia 65 tahun adalah mantan dokter di bangsal darurat rumah sakit Soronno yang letaknya tidak jauh dari kota Milan. Sementara sang perawat adalah perempuan berusia 44 tahun bernama Laura Taroni. Pasangan yang diberi sebutan “pasangan setan” oleh pers Italia ini terbukti telah memberikan analgesik dengan dosis mematikan dan anestesi pada pasien yang mereka tangani.

Awalnya Laura yang lebih dulu ditangkap dan pada bulan Februari tahun 2016 dijatuhi hukuman 30 tahun penjara atas pembunuhan Massimo Guerra, suami resminya dan ibunya, Maria Rita Clerici. Massimo Guerra meninggal pada bulan Juni tahun 2013 akibat overdosis insulin yang diberikan Laura dalam jangka waktu yang lama, karena Laura berhasil meyakinkan bahwa suaminya tersebut menderita diabetes.

Dua bulan setelah Laura dijatuhi hukuman 30 tahun penjara, menyusul Leonardo Cazzaniga yang dijatuhi hukuman seumur hidup oleh pengadilan Italia karena telah merenggut 10 nyawa, delapan diantaranya adalah pasiennya. Dan juga pembunuhan terhadap ayah mertua Laura, Luciano Guerra.

Di pengadilan, pengacara yang membela Leonardo berargumen bahwa praktik yang dilakukan kliennya telah sesuai dan konsisten dengan perawatan paliatif standar, yakni perawatan pada seorang pasien dan keluarganya yang memiliki penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan cara memaksimalkan kualitas hidup pasien serta mengurangi gejala yang mengganggu, mengurangi nyeri dengan memperhatikan aspek psikologis dan spiritual.

Namun pengacara penuntut melawan argument tersebut dengan menunjukkan bukti bahwa salah satu korban, seorang wanita muda, meninggal setelah dirawat di Rumah Sakit Saronno hanya karena bahu yang terkilir.

Selama penyelidikan, carabinieri, angkatan bersenjata Italia yang juga ditugaskan sebagai kepolisian sipil juga menemukan catatan sekitar 40 kematian yang terjadi di bangsal darurat antara 2011 dan 2014 saat Leonardo bertugas. “Daftar hitam” ini juga mencantumkan nama ayah kandungnya sendiri, yang meninggal pada Oktober 2013 karena penyakit mematikan.

Dipersidangan juga diputar kutipan rekaman percakapan telepon Leonardo dan Laura yang disadap Polisi yang terdengar begitu mengerikan, dimana Laura memberi tahu Leonardo bahwa dia ingin membunuh putranya dan putrinya yang berusia delapan tahun. Menurut salah satu rekannya, Leonardo sering menyebut dirinya sebagai “malaikat maut”. Leonardo juga diduga menggunakan kokain.