Sebuah pesta pernikahan di pedesaan Maine, Amerika Serikat ( AS), berujung maut setelah menjadi superspreader virus corona yang menyebabkan 7 orang tewas dan 177 lainnya terinfeksi.

Pesta Pernikahan jadi Superspreader Virus Corona, 7 Tewas dan 177 Terinfeksi

Sahmitra — Sebuah pesta pernikahan di pedesaan Maine, Amerika Serikat ( AS), berujung maut setelah menjadi superspreader virus corona yang menyebabkan 7 orang tewas dan 177 lainnya terinfeksi.

Pernikahan pada awal Agustus itu dihadiri 65 orang, melanggar batas resmi 50 orang yang diizinkan berkumpul di sebuah pertemuan. Seremoni di gereja dilanjutkan dengan resepsi di Big Moose Inn, keduanya berlokasi di Millinocket kota kecil di AS yang hanya berpopulasi 4.000 penduduk.

Sepuluh hari kemudian 24 orang yang terkait dengan pernikahan itu dinyatakan positif Covid-19, lalu Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Maine membuka penyelidikan.

Direktur lokal CDC Nirav Shah pada Kamis (17/9/2020) mengungkap jumlah korban terbaru di acara tersebut, menambahkan bahwa 7 orang yang meninggal tidak menghadiri pernikahan itu.

Pelacak kontak lalu menghubungkan pernikahan itu dengan beberapa hotspots virus corona di seluruh negara bagian AS, termasuk lebih dari 80 kasus di penjara yang berjarak 370 kilometer, yang salah satu penjaganya datang ke pernikahan.

Dugaan 10 kasus lainnya ditemukan di sebuah gereja Baptis di daerah yang sama, sementara 39 kasus dan 6 kematian ditemukan di panti jompo sejauh 160 km dari Millinocket.

“Ketika kami mendengar tentang wabah… semua orang benar-benar berlindung,” kata Cody McEwen kepala dewan kota.

“Begitu wabah itu menyebar, kami menutup kota lagi,” sambungnya dikutip dari AFP.

Bukan kasus pertama

Beberapa warga geram pada penyelenggara acara, termasuk kedai minum yang lisensinya ditangguhkan sementara.

“Saya rasa mereka tidak harus mengadakan pernikahan. Saya pikir itu seharusnya dibatasi seperti yang diwajibkan,” ucap Nina Obrikis anggota gereja Baptis tempat seremoni diadakan.

“Kita tidak bisa ke mana-mana atau melakukan apa pun,” keluhnya.

Gubernur Maine Janet Mills pada Kamis (17/9/2020) mengeluarkan peringatan kepada 1,3 juta penduduk negara bagian tersebut. Gejolak seperti itu “terancam merusak kemajuan yang kami dapat dengan cepat.”

” Covid-19 tidak berada di sisi lain pagar, itu di halaman kami,” terangnya beranalogi.

 Sejak dimulainya pandemi awal tahun ini, kasus-kasus superspreader banyak dilaporkan di seluruh dunia. Pertama di AS adalah konferensi bioteknologi di Boston pada Februari yang dihadiri sekitat 175 orang, dan pemakaman di Georgia yang membuat lebih dari 100 orang tertular.

Kemudian dalam beberapa pekan terakhir kelompok infeksi seperti itu muncul di kampus-kampus, yang membuat mahasiswa kembali dipulangkan. Universitas Oneonta di utara negara bagian New York misalnya, memiliki lebih dari 670 kasus Covid-19 dalam sebulan.

Ditagih Upah Malah Marah, 2 WNI di Jeddah Dianiaya Majikan

Ditagih Upah Malah Marah, 2 WNI di Jeddah Dianiaya Majikan

Sahmitra — Dua warga negara Indonesia yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di Jeddah, Arab Saudi, dianiaya oleh majikan lantaran masalah upah.

Atas insiden Tayma, provinsi Tabuk ini, Konsulat Jenderal RI (KJRI) Jeddah memperkarakan si majikan ke pihak berwajib.

Dalam keterangan pers yang dirilis oleh KJRI Jeddah, pada Kamis (17/9/2020), Sumarkinah Kasiran Kolsimah dan Sriatun menderita sejumlah luka-luka akibat perbuatan majikan yang diidentifikasi sebagai MSU.

Penganiayaan ini terungkap setelah pihak Pelayanan dan Perlindungan Warga (Yanlin), mengetahui sebuah video yang diunggah oleh keluarga korban di media sosial.

Dari situ, koordinator Yanlin, Safaat Ghofur langsung mengerahkan tim untuk menyambangi rumah tempat dua ART bekerja dan melaporkan kejadian ini ke kantor polisi setempat.

Ditagih Upah Malah Marah, 2 WNI di Jeddah Dianiaya Majikan. (KJRI Jeddah)

Setelahnya, MSU, Sumarkinah, dan Sriatun dihadirkan ke kantor kepolisian untuk dimintakan keterangan terkait insiden penganiayaan tersebut.

Di hadapan polisi, MSU semula mengelak telah melakukan tindak kekerasan terhadap pembantunya itu. Namun, lebam di beberapa bagian tubuh Sriatun yang diperkuat dengan hasil pemeriksaan medis dari rumah sakit setempat, serta kesaksian Sumarkinah, membuat majikan ini tak berkutik.

Sriatun menyebut sejak lama telah mendapatkan perlakuan kasar dari MSU. Tapi puncaknya terjadi pada akhir Agustus saat dirinya menagih upah sekaligus uangnya senilai 2.300 riyal yang dipinjam istri majikan.

“Dia (istri majikan) malah marah-marah dan mengadu ke suaminya. Waktu saya salat, suaminya (majikan) datang marah-marah dan mengusir saya. Saya berontak tidak mau pergi. Langsung dipukul saya di sini, sini, sini (sambil menunjuk ke bagian tubuh tertentu),” ujar Sriatun

“Saya lari ke rumah bapaknya (orang tua majikan), di sana sudah tidak sadar saya,” sambung perempuan kelahiran Mataram 1975 itu.

Sumarkinah yang bekerja di rumah orang tua majikan, terkejut melihat kondisi Sriatun yang tergeletak tak sadarkan diri. Sontak, ia langsung menelepon suami temannya itu dan merekam insiden tersebut.

Kedapatan menolong Sriatun dan mengambil video, SKK ikut dihajar oleh MSU. “Ambil sendal dia, mukul aku. Tapi ditangkis ibunya dan adiknya. Kurang puas dia mukul lagi. Dia menendang kena di sini (perut) dan pukul di sini (muka),” tutur perempuan asal Pemalang Jawa Tengah itu.

Atas tindakan kejam majikan ini, Sriatun sempat mengalami gangguan penglihatan selama beberapa hari.

Namun, kondisinya berangsur-angsur pulih setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit.

SR dan SKK akhirnya dibawa Tim Yanlin ke KJRI Jeddah. SKK dipulangkan ke Tanah Air, Rabu (16/9) setelah memaafkan majikan dan menerima hak-haknya.

Sementara itu, SR ditampung di shelter KJRI Jeddah sambil menunggu penyelesaian kasusnya dan pemenuhan hak-haknya.

Tidak Prosedural

Baik SR maupun SKK diberangkatkan ke Arab Saudi secara ilegal. Keduanya diberangkatkan dengan visa ziarah pribadi (ziarah syakhsiyah) untuk menetap dan bekerja di Arab Saudi sebagai asisten rumah tangga.

“Berangkat dengan cara ini cukup berisiko dan menyulitkan kami dari sisi pelindungan. Sebab, tidak dilengkapi dengan dokumen semestinya, seperti perjanjian kerja (PK) yang bisa dijadikan dasar penuntutan jika terjadi wanprestasi dari pihak majikan,” ujar Konjen Eko Hartono.

Selain itu, imbuh Konjen Eko, masyarakat seharusnya sudah maklum bahwa pemerintah sejak tahun 2011 telah menghentikan pengiriman PMI untuk bekerja di sektor domestik.

Kebijakan ini diperkuat dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor 260 Tahun 2015, tentang Penghentian dan Pelarangan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia pada Pengguna Perorangan di Negara-negara Kawasan Timur Tengah.

Disuruh Lompat Jongkok 100 Kali sebagai Hukuman, Bocah Ini Sakit dan Meninggal

Disuruh Lompat Jongkok 100 Kali sebagai Hukuman, Bocah Ini Sakit dan Meninggal

Sahmitra — Seorang bocah 13 tahun di Thailand dilaporkan sakit dan meninggal, setelah dia disuruh lompat jongkok hingga 100 kali sebagai hukuman. Potay Suriyawt Jiwakano, pelajar asal Samut Songkhram, awalnya tidak masuk kelas selama tiga hari karena sakit, dan baru kembali di hari keempat.

Meski masih merasa tidak enak badan, Potay memaksakan diri untuk bersekolah. Karena itu, dia membawa surat keterangan dari dokter. Hanya saja, si guru di Sekolah Thawaranukun menghukumnya agar melakoni lompat jongkok. Karena dia ditengara tak mengerjakan tugas. Bocah 13 tahun itu dilaporkan kesusahan untuk menyelesaikan hukuman mengingat dia baru saja sembuh dari sakit, kata keluarga Potay.

Setelah melakoni hukumanya, Potay kembali sakit pada 4 September dan terpaksa merawat dirinya sendiri karena orangtuanya tengah bekerja. Potay disebut ditinggalkan di rumah bersama adiknya, di mana kedua orangtuanya baru pulang dari bekerja pada pagi harinya. Betapa kagetnya orangtua Potay ketika mereka memeriksanya pada 5 September, dan mendapati bahwa dia sudah meninggal dunia.

Dikutip Daily Mirror, pada Jumat (11/09/2020), orangtua Potay segera menelepon paramedis, yang menyatakan anak itu meninggal saat mereka sampai. Dokter menyakini, remaja itu meninggal dalam tidur karena mengalami gagal jantung pada pukul 03.00, satu jam sebelum ayah dan ibunya pulang.

Pihak Sekolah Thawaranukun kemudian menelepon keluarga remaja itu. Mereka meminta maaf dan bertanggung jawab atas insiden tersebut. Sekolah menyatakan, guru yang memberikan hukuman kepada anak itu bakal menjalani pemeriksaan sebelum diputuskan apakah bakal dilaporkan ke polisi.

Pramot Eiamsuksai, paman anak itu menuturkan keluarganya sangat sedih karena si keponakan kehilangan nyawanya hanya karena kesalahan kecil.

“Pihak sekolah sepakat untuk memberikan ganti rugi atas kematian Potay, dan bersedia menanggung biaya yang keluar,” jelas Pramot.

Dia pun berharap kasus ini bisa menjadi pelajaran di Thailand, agar tak ada lagi guru yang sewenang-wenang menghukum muridnya.

Fakta Mengejutkan Kasus Anak Dibunuh Akibat Susah Belajar Online

Fakta Mengejutkan Kasus Anak Dibunuh Akibat Susah Belajar Online

Sahmitra — Sepasang suami-istri, IS (27) dan LH (26), nekat membunuh anak perempuannya yang berusia delapan tahun. Urusan sepele berujung petaka. Kepada polisi, pelaku murka karena anaknya susah belajar online.

Di tengah pandemi Corona, korban yang duduk di kelas 1 SD itu tengah mengikuti pembelajaran jarak jauh. Entah apa yang merasuki suami-istri bengis tersebut, anaknya disiksa yang berujung nyawa melayang. Berikut fakta-fakta kasus tersebut:

1. Korban Dianiaya Saat Belajar Online

Kasat Reskrim Polres Lebak AKP David Adhi Kusuma menjelaskan peristiwa penganiayaan itu terjadi pada 26 Agustus 2020. Lokasinya di sebuah kontrakan yang pelaku dan korban tempati, kawasan Larangan, Kota Tangerang.

“(Dibunuh) lagi belajar daring dengan sekolah. Korban kelas 1 SD,” kata David, pada Senin (14/09/2020).

Pelaku katanya memukul hingga lebih dari lima kali saat hari yang naas tersebut. Pelaku khususnya ibu dari korban, LH, mengaku kesal karena si anak susah diajak belajar.

“Dicubit bagian paha. Selanjutnya sambil mukul bagian paha terus si anak ini dipukul juga menggunakan gagang sapu. Dari kayu sebanyak lebih dari 5 kali. Setelah anak ini terjatuh dia bangunkan kembali. Dia berdirikan setelah dilihat kok kami main-main, kok lemas sekali. Dia dorong sehingga terbentur ke lantai,” ujar David.

“Jadi mereka, khususnya ibunya LH ini kepada almarhum ini anak kandung sendiri dia merasa kesal. Merasa anak susah diajarkan, sudah dikasih tahu diajarkan, dia kesal gelap mata,” kata David menambahkan.

2. Korban Sering Dianiaya

Dari hasil pemeriksaan, polisi juga mengetahui bahwa orang tua tersebut sering melakukan penganiayaan. Penganiayaan khususnya ke korban anak yang meninggal ini. Korban sendiri memiliki adik kembar.

“Betul sering dianiaya. Kami dapati dari dikomen file di hp-nya pelaku. Bahwa memang korban ini ada beberapa foto mengalami lebam di bagian mata dan bibir,” kata David.

Berdasarkan pengakuan LH, kata David, korban masih hidup usai menerima sejumlah penganiayaan. Pelaku juga sempat akan membawa korban ke rumah sakit namun di perjalanan ternyata meninggal dunia.

Usai membunuh dan menguburkan anaknya di Kecamatan Cijaku, Lebak, mereka kemudian pindah kontrakan ke Jakarta Selatan.

3. Ortu Bikin Laporan Palsu

Usai membunuh dan menguburkan anaknya sendiri, IS dan LH sempat membuat laporan palsu ke Polsek Setiabudi, Jakarta Selatan. Dalam laporan itu, pasutri bengis ini mengaku kehilangan anak saat bermain.

“Mereka pindah kontrakan, anak kembarnya (adik korban) diajak untuk membuat laporan polisi kehilangan,” ucap David.

Laporan itu dibuat pada tanggal 28 Agustus setelah keduanya memakamkan korban anak di TPU Gunung Kendeng. Mereka juga mengajari kembaran korban untuk membuat laporan palsu tersebut.

“Jadi anaknya sempat ditanyakan, anaknya lancar bicara. Pada saat main, terus tiba-tiba kakaknya ini hilang,” kata David.

4. Kuburan Misterius

Untuk diketahui, terungkapnya kasus pembunuhan ini berawal dari kecurigaan warga terhadap kuburan misterius di TPU Gunung Kendeng. Warga yang curiga, kemudian menggali dan menemukan jasad di kedalaman setengah meter. Ternyata di sana ada mayat perempuan tanpa identitas lengkap dengan pakaiannya.

“Kita bongkar sama-sama, kita saksikan, apakah ini makam apa, kita baru setengah sudah kelihatan kakinya,” kata Kapolsek Cijaku AKP Zaenudin, pada Sabtu (12/09/2020).

Jasad bocah itu dievakuasi ke RS Adjidarmo, Rangkasbitung untuk kepentingan autopsi. Polisi menyelidiki kasus tersebut dan menangkap suami-istri bengis itu.

5. Korban Luka Lebam di Kepala

Hasil autopsi korban anak usia 8 tahun yang dianiaya oleh orang tuanya, IS (27) dan LH (26), menunjukkan ada bekas luka lebam di bagian kepala. Luka ini diduga akibat hantaman benda tumpul. Setelah itu, pelaku menguburkan jasad bocah perempuan tersebut secara tak layak di TPU Gunung Kendeng, Lebak, Banten.

“Dari hasil autopsi itu kepala kanan dan pada tulang tengkorak luka lebam akibat hantaman benda tumpul,” kata Kasat Reskrim Polres Lebak AKP David Adhi Kusuma, Selasa (15/09/2020).

Kasus Covid-19 Meningkat, Warga Myanmar 'Lockdown' Mandiri

Kasus Covid-19 Meningkat, Warga Myanmar ‘Lockdown’ Mandiri

Sahmitra — Beberapa penduduk di kota-kota besar Myanmar melakukan ‘lockdown’ mandiri di kawasan tempat tinggal mereka demi menghalau penyebaran pandemi virus Corona yang kasusnya kian melonjak di negara tersebut.

Menyadur Channel News Asia (CNA), Minggu (13/9/2020), para warga Myanmar menggunakan potongan kayu dan besi, serta barang-barang lainnya untuk membuat barikade di sekitar lingkungan mereka pada 11 September lalu. Setidaknya, negara Asia Tenggara itu telah melaporkan total 2.625 kasus virus korona dan 15 kematian.

Jumlah infeksi telah meningkat empat kali lipat sejak pertengahan Agustus, ketika virus muncul kembali di negara bagian Rakhine barat setelah berminggu-minggu tanpa kasus domestik. Banyak dari kasus baru-baru ini terjadi di Yangon, ibu kota komersial dan kota terbesar.

Penduduk mulai membangun penghalang jalan darurat untuk menghentikan orang bebas memasuki dan meninggalkan distrik mereka.

Pekan lalu, otoritas pemerintah mengeluarkan perintah tinggal di rumah untuk penduduk. Layanan maskapai penerbangan serta bus luar kota juga ditangguhkan.

Aung Zaw Min, kepala distrik di kotapraja Kyimyidaing yang menjaga salah satu barikade, mengatakan para penduduk telah ceroboh dalam mencegah virus hingga kasus infeksi meningkat.

“Sekarang kami harus menyadari bahwa kami tidak dapat meremehkan infeksi massal yang disebabkan oleh Sittwe–salah satu kota di Myanmar,” kata Aung Zaw Min.

Barikade itu dibangun warga tanpa izin dari otoritas setempat, yang dengan cepat memerintahkan penutupan jalan itu dicopot, meskipun beberapa masih ada pada Sabtu.

Beberapa pengguna media sosial mengejek barikade, bercanda bahwa penduduk telah mengubah lingkungan kota menjadi “republik mini”.

“Ini seperti gerbang perbatasan antara Korea Selatan dan Utara,” kata Lu Zaw Oo.

“Barikade seharusnya tak diperlukan,” tambahnya.

Setelah 12 Hari, Jenazah Gadis Kecil Ditemukan di Dalam Lemari

Setelah 12 Hari, Jenazah Gadis Kecil Ditemukan di Dalam Lemari

Sahmitra — Gadis berusia 9 tahun asal Afrika Selatan meninggal dan mayatnya ditemukan di dalam lemari di sebuah gubuk. Awalnya, Boipelo Sesele dinyatakan menghilang saat bermain dengan anak-anak lain pada 1 September di provinsi Free State, Afrika Selatan.

Saksi mata mengatakan Sesele terakhir kali terlihat berbicara dengan seorang pria jangkung sebelum pergi bersamanya ke toko makanan. Sejak saat itu, tidak pernah terlihat lagi sebagaimana dilansir dari Mirror, pada Minggu (14/09/2020).

Orang tua Selese bingung mencari keberadaan putrinya hinga berhari-hari kemudian. Pada Sabtu (12/09/2020) anak-anak mengeluh tentang bau busuk yang tercium dari sebuah gubuk yang terletak tidak jauh dari rumah korban. Warga setempat lantas pergi ke gubuk tersebut untuk menyelidikinya. Karena gubuknya terkunci, warga lantas mendobraknya dan mencium bau busuk tersebut berasal dari sebuah lemari.

Ketika lemari dibuka, warga kaget karena melihat mayat Selese dan lantas menelepon polisi. Juru bicara polisi Brigadir Sam Makhele mengatakan pemilik gubuk datang setelah polisi tiba di lokasi. Dia menambahkan pemilik gubuk itu langsung diamuk oleh massa.

“Polisi mencoba turun tangan, tapi juga diserang,” kata Makhele.

Pemilik gubuk, yang juga dijadikan tersangka, akhirnya berhasil dibawa ke tempat aman setelah diamuk massa. Namun dia dinyatakan meninggal beberapa saat kemudian karena lukanya sangat parah. Tokoh masyarakat setempat, Thebe, mengatakan kepada SABC News kalau anak-anak itu melaporkan mencium bau busuk pada Sabtu sekitar pukul 16.00 waktu setempat.

Ketika membuka pintu gubuk, dia mengatakan bagian dalamnya sangat berantakan dan sangat kotor. Thebe mengatakan warga lantas membuka lemari dan mendapati jenazah Sesele di dalamnya.

“Dia membusuk. Itu menghancurkan saya,” tambah Thebe.

Pria Terjelek di Uganda Nikahi Istri Ketiga, Sekarang Punya 7 Anak 

Pria Terjelek di Uganda Nikahi Istri Ketiga, Sekarang Punya 7 Anak 

Sahmitra — Godfrey Baguma yang dijuluki pria terjelek di Uganda, dikabarkan baru saja menikahi istri ketiganya. Menurut pemberitaan media Kenya Tuko.co.ke pada Minggu (6/9/2020), lelaki berusia 47 tahun itu menikahi istrinya di pesta pernikahan penuh warna.

Meski tidak diketahui kapan tepatnya mereka menikah, foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan keduanya sangat bahagia.

Pria Terjelek di Uganda Nikahi Istri Ketiga, Sekarang Punya 7 Anak 

Baguma memenangkan gelar pria terjelek pada 2002 saat mengikuti kontes, agar bisa mendapat uang untuk keluarganya. Berkat kemenangannya ia mendapat julukan “Ssebabi” yang berarti “terburuk dari yang terburuk”. Ia juga terkenal sebagai penyanyi dan kini menjadi salah satu selebriti di negara Afrika tersebut.

Baguma yang diyakini menderita kelainan langka sehingga wajahnya tidak proporsional, tahun lalu dikaruniai bayi perempuan dari istri keduanya, Kate Namanda (30). Sebelum menikahi istri keduanya, pria yang berprofesi sebagai komedian ini cerai dengan istri pertama yang diduga karena memergoki ibu dua anak itu selingkuh.

Pria Terjelek di Uganda Nikahi Istri Ketiga, Sekarang Punya 7 Anak 

Sempat diberitakan punya 8 anak, sekarang Baguma memiliki 7 anak dan tinggal di Kyazanga, distrik Lwengo. Bersama istri keduanya mereka memiliki 5 anak.

Kondisi kesehatan Godfrey sempat menurun jelang akhir 2016. Dokter Tony Wilson dari rumah sakit Mbarara akhirnya memutuskan untuk melakukan diagnosis medis terhadap Godfrey.

“Akibat bentuk kepalanya yang abnormal, sebagian otaknya mengalami tekanan. Postur tubuhnya juga mengakibatkan tekanan di dada sehingga membuat dia sulit bernapas,” kata Dr Wilson.

Enam pekan setelah melakukan scan MRI Wilson mengatakan, Godfrey mengalami sebuah kondisi langka yang disebut fibrodysplasia, yang memengaruhi pertumbuhan dan penempatan sel serta jaringan tubuhnya.

Haru, Pasangan Ini Meninggal karena Covid-19 dalam Kondisi Bergandengan

Haru, Pasangan Ini Meninggal karena Covid-19 dalam Kondisi Bergandengan

Sahmitra — Sepasang suami istri meninggal karena virus Covid-19 dalam kondisi bergandengan tangan, di Amerika Serikat.

Menyadur laman Mirror, pada Sabtu (12/09/2020) Johnny Lee Peoples (67) dan istrinya, Cathy Darlene Peoples (65), berjuang melawan Covid-19 selama sebulan di sebuah rumah sakit di Salisbury, North Carolina.

Staf di Novant Health Rowan Regional Medical Center memindahkan pasangan yang sudah bersama selama 50 tahun tersebut ke ruangan yang sama sehingga mereka dapat menghabiskan saat-saat terakhir bersama. Mereka berdua meninggal pada 2 September.

Pertarungan Mr dan Mrs Peoples melawan virus corona dimulai 30 hari sebelumnya ketika mereka berdua merasakan gejala.

Shane Peoples, putra dari kedua pasangan tersebut mengatakan kepada WBTV: “Ayah saya mulai menunjukkan gejala dua hari kemudian.”

“Kira-kira dua minggu kemudian mereka berdua masuk ke ICU. Semuanya berjalan begitu saja, semuanya menjadi lebih buruk.” ujar Shane.

Menurut Shane tersendiri, ketika orang tua mereka memburuk, mereka saling menghibur.

“Keesokan harinya mereka menempatkan orang tua saya di ruangan yang sama, ruang ICU yang sama, mereka bergandengan tangan, para perawat berkumpul dan mereka lewat dalam waktu empat menit satu sama lain.” ungkap Shane.

Pemakaman dilangsungkan pada Rabu pagi dengan tetap menjaga jarak sosial. Shane mengatakan virus corona harus ditanggapi dengan serius.

“Ini bukan lelucon. Ini bukan tipuan,” kata Shane.

“Saya tidak ingin orang lain terluka. Saya tidak ingin ada yang merasakan kesedihan yang kami rasakan.” lanjut Shane.

Shane memposting penghormatan yang memilukan kepada orang tuanya di akun Facebooknya.

“Kami ditipu. Kehidupan Ayah dan Ibu dicuri oleh virus yang banyak dijadikan lelucon setiap hari atau langsung percaya itu bohong. Keduanya menganggap pandemi ini serius dan masih sakit hingga meninggal…

“Saya berkata pada diri saya sendiri ketika saya memulai ini, saya tidak akan melakukannya dengan marah, tetapi karena cinta yang mereka berikan kepada saya.

“Mereka berdua sangat mencintai keluarga mereka dan melakukan apa saja dan segala sesuatu yang mereka bisa lakukan untuk mereka. Kecintaan mereka pada keluarga paling besar ketika menyangkut cucu mereka, sembilan dari mereka secara total. Mereka menginginkan yang terbaik untuk cucu mereka, mereka akan pergi keluar dari jalan mereka hanya untuk membuat mereka masing-masing merasa istimewa. Saya memiliki beberapa orang tua yang sangat luar biasa.

Vaksin Merah Putih Akan Mulai Diproduksi 2022

Vaksin Merah Putih Akan Mulai Diproduksi 2022

Sahmitra — Menteri BUMN sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN), Erick Thohir, berharap vaksin Merah Putih dapat mulai diproduksi pada tahun 2022.

“Dari informasi yang didapatkan insya Allah kalau bisa uji klinis I sampai dengan III vaksin Merah Putih bisa berjalan pada tahun depan, sehingga pada tahun 2022 kita bisa mulai memproduksi vaksin Merah Putih,” ujar Erick Thohir, pada Sabtu (12/09/2020).

Pemilik Grup Mahaka tersebut berujar, kehadiran vaksin Covid-19 Merah Putih agar Indonesia tidak bergantung pada vaksin-vaksin yang diproduksi dari produsen luar negeri.

“Jadi tidak mungkin kita bergantung kepada vaksin-vaksin yang merupakan hasil kerja sama dengan produsen luar negeri,” kata Erick.

Selain itu, dia juga mengatakan tidak kalah pentingnya sejak awal Bio Farma bersama dengan Lembaga Eijkman, Balitbangkes Kementerian Kesehatan di mana Indonesia mengharapkan nantinya tersedia vaksin Merah Putih.

Selain dengan lembaga-lembaga tersebut, pemerintah tentunya juga membuka kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi terkait pengembangan vaksin Covid-19 di dalam negeri.

“Karena memang kalau kita melihat vaksin itu pada saat ini untuk pembentukan antibodi dalam melawan virus Covid-19 membutuhkan waktu enam bulan sampai dengan dua tahun menurut studi yang didapatkan,” ujar Erick.

Kemungkinan vaksin Merah Putih diberikan lebih dari satu kali ke satu individu. Jika penduduk Indonesia berjumlah sekitar 270 juta orang pada saat ini misalkan, maka vaksin yang harus diberikan berarti minimal 540 juta vaksin.

Ia akan mengusulkan kepada pemerintah dan DPR dua tipe program vaksinasi virus corona atau Covid-19. Erick mengatakan bahwa usulan program vaksinasi tersebut terdiri dari program vaksin bantuan pemerintah dan program vaksin mandiri yang dibiayai sendiri oleh masyarakat.

“Kami mengusulkan kepada pemerintah dan DPR RI bahwa terdapat dua tipe program vaksinasi yakni vaksin bantuan pemerintah untuk program vaksinasi massal di bawah TNI-Polri bekerjasama dengan Kemendiknas,” kata Erick.

“Bahkan kemarin juga dengan Kementerian Kesehatan dan PMI semua kita libatkan,” ujar lagi.

Ia berujar, khusus dengan Kemendiknas turut dilibatkan karena ada 40 ribu calon perawat dan 12 ribu calon dokter yang bisa diharapkan turun bersama membantu vaksinasi ini. Di luar data tersebut, ada sekitar 1,5 juta dokter, perawat dan bidan yang siap membantu imunisasi massal ini.

Pendanaan vaksin corona bantuan pemerintah berasal dari APBN, dengan menggunakan data BPJS Kesehatan sesuai angka Penerima Bantuan Iuran (PBI) di mana terdapat 93 juta masyarakat yang membutuhkan.

“Kita juga sangat mengharapkan masyarakat yang memiliki uang bisa membantu keuangan negara dengan melakukan vaksinasi mandiri alias tidak gratis,” kata Erick.

Masih Muda Terobsesi Oplas, Penampilan Remaja Ini Jadi Susah Dikenali

Masih Muda Terobsesi Oplas, Penampilan Remaja Ini Jadi Susah Dikenali

Sahmitra — Prosedur operasi plastik merupakan sesuatu yang biasanya dilakukan ketika sudah dewasa. Wajar, ada batasan umur di mana seseorang boleh melakukan prosedur oplas.

Meski begitu, tidak sedikit remaja yang bercita-cita untuk melakukan operasi plastik begitu menginjak umur dewasa. Salah satunya adalah wanita bernama Amber May ini.

Melansir Daily Star, Amber May adalah presenter TV sekaligus model untuk situs dewasa OnlyFans. Amber May kini berusia 22 tahun, tapi dirinya sudah melakukan prosedur kecantikan sejak umur 18 tahun.

Amber rupanya terobsesi untuk memiliki tampilan seksi dan seperti boneka. Saat berusia 18 tahun, Amber mulai melakukan suntik filler.

Begitu Amber menginjak 19 tahun, dirinya melakukan operasi plastik pertama di payudara. Remaja ini mengubah ukuran payudaranya dari 34C menjadi 34F, yaitu ukuran terbesar yang bisa dilakukan lewat operasi.

Beberapa minggu setelah operasi payudara, Amber kembali membuat janji dengan dokter bedah plastik. Perempuan ini mengaku dirinya ketagihan dan sudah menghabiskan 38.000 poundsterling atau Rp 729 juta.

Remaja Ketagihan Oplas (instagram.com/ambermayy__)

“Aku pertama melakukan operasi untuk payudara di umur 19, dibiayai oleh hasil kerjaku di kelab selama 5 hari setiap minggu.”

“Aku selalu ingin payudara besar dan palsu, tapi aku melakukan operasi di Inggris dan mereka hanya mengizinkan ukuran 34F. Jadi 12 minggu setelah operasi pertama, aku menghubungi dokter di Belgia yang melakukan implan ukuran XL,” tambahnya.

Obsesi Amber bermula saat dirinya melihat wanita-wanita lain di Instagram yang memiliki ukuran payudara besar.

Berkat operasi di Belgia tersebut, ukuran payudara Amber May mencapai 36K. Namun, wanita 22 tahun ini masih belum puas. Tahun depan, Amber berniat kembali melakukan oplas di Belgia.

Selain operasi payudara, Amber juga sudah melakukan implan bokong, operasi hidung, serta filler bibir, pipi, dagu, dan rahang.

Berkat operasi yang dilakukannya, Amber menjadi terkenal dan mendapat puluhan ribu pengikut di Instagram. Amber May juga memutuskan untuk menjadi bintang dewasa.

Remaja Ketagihan Oplas (instagram.com/ambermayy__)

Hal ini mendorong Amber untuk meneruskan obsesinya pada operasi plastik. Padahal, penampilan Amber May saat ini tampak berbeda dengan dulu dan sulit dikenali.

“Aku tidak pernah berencana melakukan operasi berkali-kali, tapi sekarang aku mencintainya dan ini membuatku ketagihan.”

“Aku akan pergi ke Turki minggu depan untuk operasi hidung kedua, sedot lemak, dan aku akan melakukan implan bokong di Februari nanti,” tambahnya.