Inggris Minta Kejujuran China Awal Mula Muncul Virus Corona

Pejabat sementara Perdana Menteri Inggris, Dominic raab yang meminta untuk China berterus terang soal awal mulanya Virus Corona bisa muncul dan menyebar ke berbagai negara.

Kata dia, ada sejumlah “pertanyaan sulit” yang harus dijawab China mengenai bagaimana virus itu bermula.

“Kita harus bertanya pertanyaan sulit tentang bagaimana itu terjadi dan bagaimana itu bisa dihentikan,” kata Menteri Luar Negeri Inggris itu dalam konferensi pers di London, Kamis (16/04/2020) waktu setempat.

Raab yang menegaskan bahwa Inggris tidak mungkin bisa menjalan hubungan layak biasanya dengan China setelah adanya pandemi Virus Corona ini.

Itu menunjukkan sikap keras Inggris terhadap China setelah mereka dihantam oleh krisisnya Corona yang telah menewaskan 13.729 orang di negara tersebut.

“Tidak ada keraguan kita tidak dapat melakukan urusan seperti biasa setelah krisis ini,” ujarnya.

Virus Corona ini mulai merebak di Kota Wuhan, China sejak lahir 2019.

Diduga virus itu yang berasal dari hewan lalu menular kepada manusia. Virus itu kemudian menyebar ke berbagai penjuru negeri dan ada lebih dari 200 negara.

Meskipun demikian, Raab menjelaskan selama ini hubungan Inggris dan China yang selalu berjalan baik, termasuk ketika mereka mengevakuasi warga dari Wuhan saat terjadi ledakan korban corona. Mereka yang juga melakukan kerja sama dalam penyediaan pasokan medis selama pandemi.

Komite Urusan Luar Negeri Inggris telah memperingatkan bahwa kampanye disinformasi yang diatur China soal virus corona itu telah mengorbankan nyawa warga Inggris.

Dalam laporan itu, anggota parlemen mengatakan China yang berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi ketika wabah sudah dimulai dimana seharusnya mereka memiliki peran kunci dalam mengumpulkan data penyebaran.

China sendiri yang mengatakan tidak ada bukti bahwa wabah itu dimulai disana. Kedutaan besar China di London mengatakan belum ada kesimpulan ilmiah atau medis tentang asal-usul Covid-19 dan menyatakan penelusuran yang masih berlangsung.

Sebelumnya sebuah lembaga pemikir asal Inggris, Henry Jackson Society (HJS) membuat laporan mengenai kemungkinan menggugat China secara hukum atas pandemi Virus Corona.

Mereka yang berpendapat bahwa China yang harus di tuntut dengan hukuman internasional dan didenda triliunan dolar AS karena menutupi awal mula munculnya wabah Virus Corona yang menyebabkan lebih dari 60 ribu kematian dan dampak ekonomi di berbagai wilayah negara.

Berdasarkan informasi, pada 31 Desember 2019 China yang melaporkan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang virus yang mematikan itu, tetapi menyebutkan bahwa tidak ada bukti virus itu dapat menular dari antarmanusia.

“Beberapa orang yakin penyakit ini menyebar di antara manusia sebelum tanggal ini,” bunyi laporan tersebut.

 

HJS juga menganggap negara China telah meremehkan data dan juga menegur dokter yang sudah berusaha memperingatkan bahaya virus tersebut.

 

HJS yang menganggap masyarakat China sendiri telah menjadi korban kelalaian pemerintah Negeri Tirai Bambu dalam menangani wabah. Henry Jackson Society kemudian meminta China mengganti rugi untuk semua dampak dan kerugian yang telah terjadi oleh karena virus itu.

India Perpanjang Lockdown Nasional hingga 3 Mei

Perdana Menteri India, Narendra Modi mengumumkan untuk memperpanjang langkah lockdown nasional sampai 3 Mei mendatang. Keputusan ini dilakukan untuk menekan lebih lanjut pencegahan penyebaran Virus Corona yang masih terjadi sampai sekarang.

Di dalam pidatonya tersebut, Modi mengumumkan jika keputusan yang dilakukan ini sangat penting untuk mencegah adanya penularan Virus Corona yang lebih lanjut.

“Sampai 3 Mei, kita semua harus tetap lockdown. Selama waktu itu, kita harus mengikuti disiplin yang sama seperti yang telah kita lakukan,” ujar Modi dalam pidatonya.

“Permintaan saya kepada semua warga adalah bahwa virus corona tidak akan dibiarkan menyebar ke seluruh wilayah baru. Kita harus sangat berhati-hati dan terus mengawasi tempat-tempat yang diharapkan menjadi pusat penyebaran,” lanjutnya.

India yang sudah memberlakukan lockdown mulai dari tanggal 25 Maret lalu selama tiga pekan. Semula aturan tersebut yang berakhir pada Selasa (14/04/2020).

Sejak memutuskan untuk lockdown nasional, pemerintah hanya mengizinkan beberapa layanan penting yang tetap beroperasi. Layanan ini mulai dari air, listrik, rumah sakit, pemadam kebakaran, dan toko sembako agar tetap beroperasional.

Sementara pada toko yang tidak menjual makanan, perusahaan komersial, pabrik, bengkel, kantor, pasar, dan tempat ibadah harus ditutup untuk sementara waktu. Transportasi umum juga seperti bus dan metro yang menghubungkan antar negara bagian juga berhenti beroperasi.

Semua proyek kontruksi juga diminta untuk melakukan penutupan sementara waktu selama lockdown masih berlaku.

Modi yang juga mengaku jika keputusan ini akan memengaruhi perekonomian negara, kaum miskin menjadi pihak yang paling terkena imbasan dari kebijakan ini. Namun, ia tetap memastikan akan memprioritaskan kesehatan warganya tersebut.

“Dari sudut ekonomi, kami telah membayar dengan harga besar. Tetapi nyawa rakyat jauh lebih berharga,” kata Modi menambahkan.

Lalu, Modi mengatakan kebijakan ini telah terbukti menekan hingga mencegah kasus baru Virus Corona di beberapa negara bagian dan distrik.

“Hingga 20 April, semua distrik, lingkungan, dan negara bagian akan dimonitor secara ketat untuk melihat seberapa ketat mereka menerapkan aturan tersebut,” ucapnya.

Sebelum Modi memutuskan untuk memperpanjang lockdown, beberapa negara bagian India yang telah lebih dahulu melakukan dan mengumumkan hal serupa sampai 30 April mendatang. Maharashtra, merupakan negara bagian pusat penyebaran Virus Corona termasuk salah satu yang membuat keputusan tersebut.

Hingga kini, sudah ada 11.487 kasus Virus Corona dengan 393 orang yang telah dinyatakan meninggal dunia.

Taiwan Nol Kasus Corona untuk Pertama Kali, Penanganan Dipuji

Negara Taiwan untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir melaporkan nol kasus baru Virus Corona, Selasa (14/04/2020). Menteri Kesehatan Chen Shih-chung, mengatakan nihil kasus Covid-19 ini merupakan kali pertama dalam 36 hari.

Taiwan sampai kini yang memiliki 393 kasus Virus Corona, 6 kematian dan 124 pasien yang sudah dinyatakan sembuh.

Dari 393 kasus tersebut, 338 diantaranya merupakan imported case, yakni penularan virus yang berasal dari warga asing atau warga mereka yang baru datang dari luar negeri.

Taiwan yang memang belum melakukan penguncian wilayah dan kehidupan relatif normal dengan sekolah dan bisnis berjalan seperti biasanya.

Namun, pemerintah telah menyerukan seluruh warga untuk menggunakan masker saat keluar rumah serta menjalankan protokol pencegahan Virus Corona.

Taiwan yang mendapatkan pujian karena dianggap berhasil mengendalikan penyebaran Virus Corona di dalam negeri. Sejumlah pengamat yang menuturkan prestasi Taiwan ini benar-benar meningkatkan citra dan kapabilitas wlayah tersebut, terutama dalam sistem kesehatan panggung dunia.

Reaksi pemerintah yang menanggapi wabah ini dianggap cukup efektif untuk menekan penularan Virus Corona.

Mereka yang telah mempersiapkan dengan secepat mungkin untuk menghadapi pandemi ini sehingga bisa meminimalisir kematian di wilayah dengan populasi 23 juta jiwa tersebut.

Bahkan Taiwan yang disebut telah memperingatkan Orginasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa virus tersebut dapat menjadi ancaman global pada 31 Desember lalu.

Namun menurut adanya laporan Dewan Hubungan Luar Negeri yang berbasis di Amerika Serikat, peringatan potensi penularan Virus Corona dari manusia ke manusia yang disampaikan Taiwan itu tidak mendapatkan tanggapan.

“WHO malah mendukung penolakan China terhadap penularan dari manusia ke manusia sampai 21 Januari. WHO juga terlihat meremehkan ancaman global. Sementara Taiwan tetap melakukan langkah-langkah pencegahan untuk menahan virus, menguji, melacak kontak, dan menegakkan karantina,” kata laporan itu.

Presiden Tsai Ing-Wen yang juga dipuji karena kepimpinannya sangat menentukan selama krisis corona.

“Pada Januari lalu, ketika muncul tanda awal munculnya penyakit itu, dia [Tsai] memperkenalkan 124 langkah untuk menahan penyebaran, tanpa harus menggunakan penguncian yang umumnya dilakukan di negara lain,” kata sebuah artikel di Majalah Forbes.

Selain itu juga, Taiwan yang dinilai berhasil mengendalikan pasokan alat kesehatan seperti masker dan hand sanitizer sehingga tidak menjadi langka dan mahal.

Belajar dari pengalaman yang menanggulangi SARS pada 2003 lalu, Taiwan yang segera mengambil alih semua pemasokan masker di negara tersebut ketika wabah corona mulai menyebar di China.

Taiwan selama ini yang dianggap China sebagai wilayah pembangkang lantaran berupaya memerdekakan diri dari Negeri Tirai Bambu.

China yang sempat memprotes WHO karena memasukkan Taiwan sebagai negara sendiri dalam laporan penanganan Virus Corona. Akhirnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ini merevisi laporan tersebut dengan menganggap Taiwan bagian dari China.

Sampai hari ini Rabu (15/04/2020) pagi, Virus Corona telah menginfeksi 1.998.111 orang di lebih dari 200 negara, sebanyak 126.604 kematian dan 478.659 orang yang telah sembuh.

Bebas Virus Corona, Korea Utara Asyik Uji Coba Senjata

Bebas Virus Corona, Korea Utara Asyik Uji Coba Senjata

Korea Utara menjadi salah satu negara yang terdeteksi menembak rudal jelajah jarak dekat dekat ke arah perairan diantara semenanjung Korea dan Jepang. Ini adalah kali kelima sejak pertengahan Maret, Korut melakukan uji coba senjata jarak jauh terbarunya itu.

Militer Korea Selatan juga sedang memantau perkembangan lebih lanjutnya terkaitnya insiden ini.

“Rudal itu memiliki jangkauan sekitar 150 km,” kata pihak Kepala Staf Gabungan (JCS) Korea Selatan kepada wartawan.

Korea Utara menggelar latihan militer selama beberapa pekan, termasuk sejumlah peluncuran rudal balistik jarak dekat dalam akhir-akhir ini. Maret lalu Korut melepaskan sembilan rudal balistik dan empat putaran uji coba, menurut para analis.

Pada Minggu lalu, media pemerintah Korut melaporkan bahwa pemimpin Kim Jong Un mengunjungi pangkalan udara dan menyaksikan latihan pesawat tempur negara tersebut.

Dua pekan sebelumnya pada (29/03/2020), JCS yang mengatakan bahwa pihaknya telah menyaksikan Korut menembakkan rudal-rudal balistik jarak pendek. Menurut dirinya, latihan militer Korut di tengah pandemi corona merupakan tindakan yang tidak pantas dan harus seger dihentikan.

Ditengah negara-negara lain sibuk menghadapi pandemi Virus Corona, Korut yang sampai saat ini belum melaporkan sedikitpun adanya kasus-kasus corona yang menginfeksi warganya.

Virus Corona 10 Kali Mematikan dari Flu Babi? Mari Disimak

Virus Corona 10 Kali Mematikan dari Flu Babi? Mari Disimak

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Virus Corona yang jauh lebih berbahaya dan mematikan daripada Virus Flu Babi pada tahun 2009 lalu.

“Kita tahu Covid-19 sangat cepat menyebar, dan lebih mematikan, 10 kali lebih mematikan dari pandemik flu 2009,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam jumpa pers di Jenewa, Swiss, seperti dilansir AFP, pada Selasa (14/04/2020).

Virus Corona saat ini sudah menyerang banyak orang, sekitar 1,8 juta penduduk dunia yang positif dan menewaskan 115 ribu orang lebih.

Sedangkan pada flu babi yang menewaskan 18.500 oran. Namun, menurut dari lembaga kesehatan jumlah korban flu babi diantara 151.700 sampai 575.400 orang.

Flu babi yang merebak pertama kali di Meksiko dan Amerika Serikat pada tahun 2009 silam. Lalu virus tersebut menyebar ke Afrika dan Asia Tenggara.

WHO yang lantas menyatakan flu babi sebagai pandemi pada bulan Juni 2009 lalu. Lantas pada bulan Agustus 2010 virus tersebut dinyatakan berakhir.

Tedros yang menyatakan kasus Virus Corona sangat cepat melonjak dan penurunannya yang lambat. Maka dari itu, dirinya yang berharap seluruh warga negara gencar melakukan deteksi ini, serta melakukan isolasi dan melacak orang-orang yang melakukan kontak dengan pasien untuk mencegah penyebaran virus.

“Penurunan kasus lebih lamban ketimbang pertambahan. Upaya pengendalian wabah harus dilakukan perlahan jika ingin dilonggarkan. Tidak bisa dilakukan sekaligus,” kata Tedros.

“Kebijakan pengendalian hanya bisa dicabut jika sudah bisa menjamin keamanan kesehatan masyarakat, termasuk meningkatkan kemampuan penelusuran kontak,” ujar Tedros.
Selain itu juga, Tedros berharap bahwa vaksin dapat segera ditemukan dan diproduksi untuk menghentikan penyebaran. Penelitian vaksin yang diperkirakan memakan waktu sekitar 12 sampai 18 bulan.