Viral Video Bocah Laki-laki Nyaris 'Dikawini' Kambing

Viral Video Bocah Laki-laki Nyaris ‘Dikawini’ Kambing

Situs Sahmitra — Netizen dihebohkan dengan beredarnya video seorang bocah yang hampir dikawini oleh kambing. Video yang kini viral itu direkam di sebuah kandang kambing. Bocah tersebut terdengar berteriak minta tolong karena kambing di sampingnya terus mendekatinya seperti hendak mengawini.

  1. Nyaris dikawini kambing

Dilansir dari Suara.com, pada Selasa (28/07/2020), media sosial dibuat geger dengan beredarnya video viral seorang bocah nyaris ‘diperkosa’ oleh kambing jantan. Bocah itu berteriak meminta pertolongan ketika tubuhnya dipepet kambing jantan.

Video tersebut diunggah oleh akun Twitter @bintangbete pada hari Selasa (28/07/20) kemarin. Terlihat dalam video itu seorang bocah yang sedang main ke kandang kambing tiba-tiba didekati seekor kambing jantan.

Bocah tersebut lalu berteriak minta tolong saat kambing itu terus mendekat seolah-olah hendak mengawini bocah itu. Namun perekam video justru hanya tertawa hingga akhirnya kambing tersebut melepaskan bocah itu.

“Kakak tolong. Tolong, tolong,” teriak si bocah tersebut.

      2. Video bocah yang juga hampir dikawini kambing

Melihat unggahan tersebut, netizen juga mengirimkan sebuah video seorang bocah yang bernasib sama dengan unggahan video sebelumnya. Video kiriman netizen itu memperlihatkan seorang bocah saat melakukan posisi jongkok di depan kambing.

Kambing tersebut terpancing hingga bocah tersebut nyaris dikawini oleh kambing. Bocah itu ketakutan dan memberontak hingga kambing melepaskan bocah tersebut.

“Tolong.. tolong,” teriak bocah berkaos kuning itu.

     3. Tanggapan netizen

Video tersebut menarik perhatian netizen hingga ditonton lebih dari 194 ribu akun dan dibagikan lebih dari 4 ribu kali. Netizen langsung membanjiri unggahan video tersebut dengan beragam tanggapan.

@a.mp_22.: “Kambingnya stres mau Idul Adha”

@hehesiapasihaku: “Hewan aja gamau sesama jenis. Laki laki ya kodratnya sama perempuan. Kalo laki sama laki atau perempuam sama perempuan berarti lebih rendah dari hewan”

@setengahindigo: “Diatas adalah contoh binatang yg tidak bs mengontrol gairah seks nya, syukurlah manusia diberikan kemampuan untuk bisa mengontrol hal tersebut. Jika tidak, apa bedanya kalian sm binatang”

@priam_PB: “PERTANYAAN GUE CUMA SATU, KIRA2 KORBANNYA TRAUMA GA YA?”

@Sanholo1977: “Yang ngerekam salah juga. Cuma ngerekam & ngetawain doang bukannya nolong korban”

Video tersebut kini viral di media sosial. Video-video hewan hendak mengawini manusia memang banyak beredar. Menurut kalian, hewan tersebut mengapa bisa melakukan hal itu, ya?

Unggah Video Joget di TikTok, Enam Influencer Wanita Mesir Dipenjara

Unggah Video Joget di TikTok, Enam Influencer Wanita Mesir Dipenjara

Situs Sahmitra — Dua tahun penjara dan denda masing-masing sekitar € 16.000 (setara dengan Rp 275 juta). Itulah putusan pengadilan Kairo yang dijatuhkan kepada dua influencer muda Mesir awal pekan ini. Sementara, tiga wanita muda lainnya juga dijatuhi hukuman dua tahun penjara, dan pada Rabu (29/07/2020), seorang wanita lain juga didenda dan dihukum tiga tahun penjara atas tuntutan serupa.

Dalam putusannya yang masih bisa naik banding ini, para hakim menuduh para terdakwa mengunggah video tarian “tidak senonoh” dan “melanggar nilai dan prinsip keluarga Mesir”. Menurut pernyataan penuntutan, para wanita ini disebut membangkitkan “pesta pora” dan juga mendorong perdagangan manusia, secara khusus menyebutkan dua dari terdakwa: Haneen Hossam, seorang pelajar berusia 20 tahun, dan Mawada Eladhm, 22 tahun.

Keduanya aktif di TikTok, platform media sosial asal Cina yang kini populer di kalangan anak muda. Lebih dari satu juta pengikut telah mereka kumpulkan melalui klip-klip pendek 15 detik mereka, ada yang menunjukkan mereka bergaya di samping mobil sport, menari-nari di dapur mereka dan membuat lelucon-lelucon ringan.

Kedua wanita itu juga sering terlihat dalam riasan make-up tebal untuk standar orang Mesir, memakai lipstik merah cerah dan pakaian ketat. Meski begitu, dalam foto-foto yang beredar di Twitter, keduanya terlihat lebih tertutup. Hossam kerap menggunakan jilbab, sementara Eladhm tanpa penutup kepala.

Dalam unggahannya di TikTok, mereka menari seperti yang biasanya dilakukan anak-anak muda di klub-klub di Barat, dan di diskotek para elit Mesir – bergoyang menikmati musik, menikmati hidup. Tetapi masyarakat Mesir yang mayoritas konservatif kebanyakan menolak penampilan semacam itu.

Dituduh ‘membangkitkan pesta pora dan tindakan amoral’

Di Mesir, orang dapat dihukum dengan tuduhan abu-abu seperti “penyalahgunaan media sosial” atau “membangkitkan pesta pora dan tindakan amoral”. Sementara menurut kuasa hukum Eladhm, keduanya hanya ingin menarik lebih banyak pengikut.

“Mereka hanya ingin pengikut saja. Mereka bukan bagian dari jaringan pelacuran, dan saya tidak paham mengapa jaksa justru menangkap pesan semacam itu dari mereka,” kata Samar Shabana pada Senin (27/07).

Meski begitu, para wanita itu dituduh mempromosikan pelacuran karena mendorong pengikut mereka untuk ikut mempublikasikan video-video mereka pada platform berbagi lain bernama Likee, yang memungkinkan pengguna mendapat bayaran berdasarkan jumlah klik yang mereka dapatkan.

Tidak ada yang salah dengan putusan itu, kata Nihad Abuel-Komsan, Kepala Pusat Hak-hak Wanita Mesir yang juga merupakan seorang pengacara. Putusan tersebut didasarkan pada pasal 2 undang-undang komunikasi yang telah berlaku sejak 2018, katanya kepada DW. Di bawah hukum itu, dakwaan dapat diberikan bagi siapa pun yang diduga melanggar nilai-nilai sosial atau keluarga. Namun, Abuel-Komsan berpendapat bahwa hukum itu “salah, keliru, dan harus dihapuskan.”

Serangan berlebihan atas kebebasan sipil

“Penangkapan dan penuntutan terhadap para blogger Mesir hanya karena mengunggah video mereka menari atau bernyanyi adalah serangan yang keterlaluan atas kebebasan sipil,” kata Vanessa Ullrich, seorang pakar Hak Asasi Manusia di Amnesty International Jerman.

“Putusan itu menunjukkan bagaimana otoritas Mesir menggunakan tuduhan palsu dan tidak jelas seperti ‘pelanggaran nilai-nilai keluarga’ dan ‘hasutan untuk pesta pora’ terhadap influencer perempuan untuk mengendalikan platform online dan memperkuat sistem sosial dan hukum patriarki,” ujarnya kepada DW.

Melalui platform dalam bahasa Arab dan Inggris, para pendukung kedua wanita itu kemudian memprotes putusan pengadilan tersebut. Para inisiator petisi online ini mengungkapkan bahwa beberapa wanita yang dipidana berasal dari kelas sosial ekonomi rendah.

“Kami takut dan khawatir tentang tindakan-tindakan keras sistematis yang menargetkan wanita berpenghasilan rendah,” demikian isi petisi tersebut.

“Karena kelas mereka, mereka dihukum, dan dicabut haknya atas tubuh mereka sendiri, berpakaian bebas, dan mengekspresikan diri.”

Pembuat petisi percaya bahwa warga miskin telah menjadi sasaran hukum karena kelemahan mereka dalam membela diri. Hal ini mengingatkan mereka kembali akan kasus Menna Abdel-Aziz, seorang remaja putri berusia 17 tahun yang pada bulan Mei lalu dengan wajah babak belur dan memar, mengunggah sebuah video TikTok di mana ia mengatakan telah diperkosa sekelompok pemuda.

Namun ia justru ditangkap, bersama dengan enam tersangka penyerangnya, dan dituduh “membangkitkan pesta pora dan melanggar nilai-nilai keluarga Mesir”, dihukum atas penampilannya di media sosial, pakaian ketatnya dan gerakan tariannya.

‘Nilai-nilai keluarga’ Mesir dipertanyakan

Menurut petisi Change.org, para influencer dihukum atas dasar pencemaran nama baik. “Jika perempuan TikTok dihukum karena konten mereka ‘melanggar Nilai Keluarga Mesir, setidaknya bisakah kita tahu apa nilai-nilai itu?”, demikian bunyi petisi itu.

“Keluarga mana yang kita maksud? Apakah nilai-nilai ini berbeda dalam keluarga kaya atau miskin? Terkenal atau tidak? Atau jika yang dituduh adalah pria atau wanita?

Ullrich dari Amnesty International pun mengkritik undang-undang komunikasi Mesir yang ia sebut sebagai instrumen lain yang dipakai negara untuk menindak warga negara yang tidak diinginkan. Hingga saat ini, pihak berwenang telah memakai tuduhan seperti “terorisme” dan “menyebarkan berita palsu” untuk menekan para jurnalis, aktivis HAM, dan demonstran politik. Dan sekarang mereka menggunakan tuduhan ‘pesta pora’ untuk mengendalikan sepenuhnya dunia digital melalui taktik represif dan spesifik gender,” kata Ullrich.

Misteri Sushi Menyala di Thailand, Diklaim Mengandung Plankton

Misteri Sushi Menyala di Thailand, Diklaim Mengandung Plankton

Situs Sahmitra — Fenomena aneh terjadi di Thailand. Seorang pria mengunggah foto makanan khas Jepang, sushi, yang bisa bersinar di tengah gelap.

Dalam foto yang tersebar di internet, dari lima varian sushi yang dibeli pria tersebut. Hanya satu makanan itu yang terlihat menyala dalam gelap.

Menyadur The National Thailand, pada Rabu (29/07/2020), Ilmuwan Chulalongkorn Jessada Denduangboripant membeberkan dugaan terkait fenomena itu.

Lewat Facebook, Jessada menyebut peristiwa sushi glow in the dark itu disebabkan oleh bakteri bioluminescent.

Beberapa bakteri yang memiliki kemampuan bersinar adalah Pseudomonas sp, Pseudomonas fluorescens atau Vibrio fischeri.

Jenis bakteri itu dikatakan bisa bersinar ketika mereka masih hidup. Namun, dalam kasus sushi ini, kemungkinan bakteri itu untuk hidup hampir nol karena proses masak.

Dugaan kedua adalah ikan yang menjadi bahan sushi itu telah memakan plankton yang bisa bersinar seperti dinoflagellate.

Sementara penjelasan terakhir dari Jessada adalah sushi itu telah terkontaminasi zat yang mengandung fosfor.

Zat fosfor dikatakan kerap ditambahkan ke dalam makanan untuk membuat santapan itu terlihat lebih flavoursome.

Chulalongkorn Jessada meminta Departemen Ilmu Kedokteran untuk segera menyelidiki kasus itu hingga menemukan akar penyebabnya.

Dia juga memperingatkan untuk tidak makan sushi yang bersinar, mengatakan itu dapat menyebabkan penyakit seperti diare atau keracunan makanan.

Pertama di Inggris, Seekor Kucing Peliharaan Dinyatakan Positif Covid-19

Pertama di Inggris, Seekor Kucing Peliharaan Dinyatakan Positif Covid-19

Sahmitra — Seekor kucing betina dinyatakan positif terpapar virus corona dari sang majikan dan menjadi kasus pertama yang ditemukan di Inggris.

Menyadur The Guardian, Selasa (28/07/2020), seekor kucing betina berjenis Siam menjadi hewan pertama di Inggris yang terpapar virus corona. Kucing asal Inggris Selatan tersebut diyakini tertular virus dari pemiliknya pada bulan Mei.

Awalnya kucing tersebut didiagnosis oleh dokter hewan setempat terkena herpes kucing. Tetapi sampel dari kucing diuji positif terkena virus Sars-Cov-2 pada bulan Juni saat ikut program skrining virus corona untuk ratusan kucing di Pusat Penelitian Virus Glasgow.

Sampel kucing itu kemudian diuji kembali di Laboratorium Kesehatan Tanaman Hewan di Weybridge pekan lalu yang juga mengkonfirmasi bahwa terinfeksi Covid-19.

Kucing berusia enam tahun tersebut hanya mengalami gejala ringan termasuk sesak napas dan keluarnya cairan hidung dan sudah sembuh.

Ilustrasi kucing kampung (freepik)

Margaret Hosie, profesor virologi komparatif di Universitas Glasgow, yang memimpin program pengetesan Covid-19 pada kucing, menyarankan pemilik kucing untuk selalu menjaga kebersihan dengan hati-hati.

“Jika Anda memiliki tanda-tanda pernapasan, maka pastikan untuk menutup mulut saat batuk atau bersin, dan cuci tangan Anda sebelum memegang kucing Anda. Jangan mencium kucing. Jangan biarkan kucing tidur di tempat tidur bersama Anda, dan jangan berbagi makanan dengan kucing.” jelas Prof Margaret dikutip dari The Guardian.

Dia mengaku terkejut saat mengetahui kucing siam, jenis yang memiliki bulu pendek, dapat tertular virus Covid-19.

“Saya kira kucing dengan bulu lebih tebal akan lebih siap untuk menangkap bersin atau tetesan batuk. Tetapi Anda tidak dapat menarik signifikansi dari itu.” jelasnya.

Dia menekankan bahwa hanya segelintir kucing di seluruh dunia yang dites positif terkena virus corona dan tidak ada bukti bahwa hewan-hewan itu dapat menularkan kepada manusia.

“Kami sangat ingin mengidentifikasi [kasus] Inggris karena hal itu memungkinkan kami untuk bekerja memahami transmisi. Temuan yang cukup langka. Kami selalu tertarik pada penyakit zoonosis – penyakit yang dapat ditularkan antara manusia dan hewan – untuk melihat apakah ada evolusi dalam virus.

Saat ini virus kucing yang ada di Inggris terlihat sangat mirip dengan semua virus kucing lain yang diisolasi di Eropa, AS, dan Hong Kong. Kami tidak punya bukti bahwa virus telah berubah sebelum dapat menginfeksi kucing.” papar Prof Margaret.

Pada awal April, British Veterinary Association menciptakan kepanikan di antara pemilik kucing setelah presidennya, Daniella Dos Santos menyarankan bahwa 10,9 juta kucing di Inggris harus dipelihara di rumah selama pandemi.

Setelah situs webnya mogok, BVA dipaksa untuk mengklarifikasi bahwa hanya pemilik yang melakukan isolasi mandiri yang harus memelihara binatang peliharaan mereka di dalam ruangan jika memungkinkan.

“Sangat penting bahwa tidak ada yang harus panik. Ada beberapa kasus kecil di seluruh dunia di mana hewan peliharaan terinfeksi covid dan tidak ada bukti bahwa hewan peliharaan dapat menularkan covid kepada pemiliknya.” ujar Dos Santos.

Dos Santos mengulangi saran BVA bahwa pemilik kucing yang telah positif Covid-19 atau memiliki gejala harus menjaga kucing mereka di dalam ruangan jika memungkinkan.

Ilustrasi kucing kampung (freepik)

“Ini adalah peristiwa yang sangat langka di mana hewan yang terinfeksi terdeteksi hingga saat ini hanya menunjukkan tanda-tanda klinis ringan dan pulih dalam beberapa hari,” buka Kepala petugas veteriner Inggris, Prof Christine Middlemiss.

“Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa hewan peliharaan secara langsung menularkan virus ke manusia. Kami akan terus memantau situasi ini dengan cermat dan akan memperbarui panduan kami kepada pemilik hewan peliharaan jika situasinya berubah.” jelas Prof Christine.

Yvonne Doyle, direktur medis di Public Health England, mengatakan penemuan kasus pada hewan adalah peringatan bagi orang untuk selalu mencuci tangan setelah kontak dengan hewan.

“Ini adalah kasus pertama kucing domestik yang positif Covid-19 di Inggris tetapi seharusnya tidak menjadi alasan untuk khawatir,” katanya.

“Penyelidikan terhadap kasus ini menunjukkan bahwa infeksi menyebar dari manusia ke hewan, dan bukan sebaliknya. Pada saat ini, tidak ada bukti bahwa hewan peliharaan dapat menularkan penyakit kepada manusia.” ujar Yvonne.

Selain kucing, kasus penemuan Covid-19 pada hewan juga pernah dilaporkan, seperti sejumlah harimau dan singa di kebun binatang Bronx di New York.

Bocah 9 Tahun Korban Meninggal Covid Termuda di Florida

Bocah 9 Tahun Korban Meninggal Covid Termuda di Florida

sahmitra.com  —  Seorang anak perempuan berusia 9 tahun, Kimora Lynum, menjadi korban meninggal karena virus corona (Covid-19) termuda di negara bagian Florida, Amerika Serikat.

Mengutip CNN, bocah yang akrab disapa Kimmie itu dilaporkan meninggal pada 18 Juli lalu. Menurut catatan dinas kesehatan negara bagian Florida, Kimmie tidak memiliki riwayat penyakit lain sebelum terpapar corona.

Daejeon Cain, salah satu perwakilan dari pihak keluarga, mengatakan Kimmie dibawa ke rumah sakit oleh ibunya karena mengalami demam tinggi.

Pihak rumah sakit kemudian menyatakan Kimmie bisa kembali pulang. Namun, kondisinya tak kunjung membaik sampai akhirnya ia pingsan.

Detak jantungnya sempat tidak terdeteksi saat itu.

“[Kimmie adalah sosok] Wanita muda yang luar biasa. Dia selalu bahagia dan membuat semua orang bahagia. Dia sangat fenomenal,” kata Cain.

Hingga kini pihak keluarga belum mengetahui bagaimana Kimmie terpapar corona. Cain mengatakan ia selalu menghabiskan musim panas di rumah dan tidak pernah keluar untuk sekolah.

Ibu Kimmie sudah diperiksa terkait corona, tetapi belum menerima hasilnya.

Mengutip situs Worldometers.info, kasus corona di Florida mencapai 315.775 orang. Sebanyak 4.677 kasus meninggal dunia.

Sedangkan kasus corona di AS sudah mencapai 4.250.380 orang, dengan 148.593 kasus meninggal dan 1.277.437 kasus sembuh. Hingga hari ini AS masih memegang peringkat pertama kasus terbanyak di dunia.

Kisah para perempuan Afganistan yang 'melawan tradisi' demi hak atas identitas pribadinya

Kisah para perempuan Afganistan yang ‘melawan tradisi’ demi hak atas identitas pribadinya

sahmitra.com — Seorang perempuan di kawasan barat Afganistan, sebut saja Rabia, mengalami demam tinggi. Dia memeriksakan diri ke dokter, lalu didiagnosis mengidap Covid-19.

Rabia pulang ke rumah dalam kondisi lemah dan demam. Dia memberi resep dokter kepada suaminya agar dia bisa segera meminum obat.

Namun ketika suaminya melihat nama Rubia tertera di resep itu, dia langsung memukulinya. Alasannya, Rubia memberi tahu namanya kepada laki-laki yang tak dikenal.

Kisah Rubia, yang dikisahkan kepada BBC melalui temannya, bukan satu-satu di Afganistan. Di negara itu, keluarga sering memaksa perempuan untuk merahasiakan nama dari orang asing, termsuk dokter.

Mengungkap nama perempuan kepada publik dianggap perbuatan keliru dan bisa dikategorikan pehinaan. Banyak laki-laki Afganistan menolak menyebut nama saudara perempuan, istri, atau ibu mereka.

Perempuan pada umumnya hanya disebut sebagai ibu, anak perempuan atau saudara perempuan laki-laki tertua dalam keluarga mereka.

Hukum Afghanistan menyatakan, hanya nama ayah yang harus dicatat dalam akta kelahiran seorang bayi perempuan.

Masalah dimulai ketika seorang bayi perempuan dilahirkan. Butuh waktu lama baginya untuk diberi nama.

Ketika seorang perempuan menikah, namanya tidak tertera di undangan pernikahannya. Ketika sakit, namanya tidak muncul di resep dokter.

Dan saat dia meninggal, nama perempuan itu tidak muncul pada sertifikat kematiannya, bahkan di atas batu nisannya.

Namun beberapa perempuan Afghanistan kini membuat gerakan agar bisa menggunakan nama mereka secara bebas. Mereka menggunakan slogan ‘Where Is My Name?’ atau ‘Di mana nama saya?’.

Kampanye itu dimulai tiga tahun lalu, ketika Laleh Osmany sadar bahwa dia muak dengan wanita tidak mendapatkan apa yang dia anggap sebagai ‘hak dasar’.

“Gerakan ini semakin dekat untuk mencapai tujuan, yaitu membujuk pemerintah Afghanistan mencatat nama ibu pada akta kelahiran,” kata Osmany, 28 tahun.

Laleh Osmany

Gerakan ini sepertinya mulai meraih hasil positif dalam beberapa minggu terakhir.

Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, disebut telah menginstruksikan Pusat Otoritas Pencatatan Sipil Afghanistan (Accra) mempertimbangkan revisi Undang-Undang Registrasi Penduduk.

Kabar itu muncul dari seorang pejabat dekat sang presiden.

Revisi beleid itu disebut akan mengizinkan perempuan mengungkap nama mereka pada kartu identitas dan akta kelahiran anak-anak mereka.

BBC mengetahui bahwa beleid itu telah diubah dan sudah diteruskan ke Kantor Urusan Administrasi Presiden (OAA).

Fawzia Koofi, aktivis hak perempuan sekaligus mantan anggota parlemen Afghanistan menyambut baik perkembangan itu. Ia berkata, perubahan itu seharusnya terjadi bertahun-tahun yang lalu.

“Memasukkan nama perempuan pada kartu identitas nasional di Afghanistan bukanlah masalah hak perempuan, itu adalah hak hukum, hak asasi manusia,” ujarnya.

“Setiap individu yang ada di dunia ini harus memiliki identitas.”

Namun para perempuan pengusung gerakan ini khawatir upaya mereka ditentang secara keras oleh anggota parlemen yang konservatif. Beberapa dari mereka telah menyatakan ketidaksetujuan.

Laleh Osmany sepakat dengan perintah presiden untuk revisi undang-undang tersebut. Namun dia berkata, itu bukanlah akhir dari pertarungan.

“Bahkan jika parlemen mengesahkan undang-undang dan Presiden Ghani mengeluarkan dekrit pengesahan pencantuman nama ibu di KTP, kami akan terus berjuang sampai rasa malu hilang dari perempuan,” kata Osmany.

Campaign poster for WhereIsMyName?

Tiga tahun lalu, setelah Osmany memulai kampanyenya tiga tahun lalu, selebritas Afghanistan mulai memberikan dukungan, termasuk penyanyi dan produser musik Farhad Darya serta penulis lagu Aryana Sayeed.

“Ketika kita merujuk perempuan berdasarkan peran mereka, identitas asli mereka hilang,” kata Darya.

“Ketika pria menyangkal identitas perempuan, lama-kelamaan perempuan mulai menyensor identitas mereka sendiri,” tuturnya.

Sayeed, seorang aktivis perempuan dan salah satu penyanyi paling terkenal di Afghanistan, menyebut perempuan berhak atas identitas independen.

“Seorang perempuan, pertama-tama, adalah manusia, kemudian istri, saudara perempuan, ibu atau anak perempuan Anda. Dia memiliki hak untuk mendapat pengakuan atas identitasnya,” kata Sayeed.

Namun Sayeed khawatir gerakan itu bakal menempuh jalan panjang untuk mencapai target.

Farhad Darya and his wife, Sultana

Selain dukungan, Osmany menerima banyak komentar kritis di media sosial. Beberapa orang mengklaim menyembunyikan nama saudara perempuan untuk menjaga kedamaian keluarga mereka.

“Lakukan apa yang menurut Anda paling penting,” tulis seorang warganet.

Sejumlah laki-laki menuduh Osmany ingin namanya tertera di kartu identitas anak-anaknya karena dia tidak tahu siapa ayah mereka.

Banyak perempuan Afganistan juga tidak mendukung gerakan itu.

“Saat seseorang menanyakan nama saya, saya harus memikirkan kehormatan saudara laki-laki saya, ayah saya dan tunangan saya,” kata seorang wanita dari Provinsi Herat, yang berbicara kepada BBC tanpa menyebut nama.

“Saya ingin disebut sebagai putri ayahku, saudara perempuan kakakku,” katanya. “Dan di masa depan, saya ingin disebut sebagai istri suamiku, kemudian ibu dari putraku.”

‘Bulan dan matahari belum melihat mereka’

Afghanistan terus menjadi negara yang menyanjung patriarki. Sosiolog asal Afghanistan, Ali Kaveh, menilai ‘kehormatan laki-laki’ memaksa perempuan tidak hanya menyembunyikan tubuh, tapi juga nama mereka.

“Dalam masyarakat Afghanistan, perempuan terbaik adalah mereka yang tidak terlihat dan didengar. Seperti kata pepatah, ‘matahari dan bulan belum melihatnya’,” kata Kaveh.

“Laki-laki yang paling keras dan paling tangguh adalah yang paling dihormati dan terhormat di masyarakat. Jika anggota keluarga perempuan mereka liberal, mereka dianggap tidak bermoral dan tidak terhormat.”

Maryam Sama checking her 2018 election campaign leaflets

Agar perempuan Afghanistan bisa memiliki identitas independen, mereka perlu kemandirian di bidang finansial, sosial, dan emosional, serta dukungan dari parlemen.

Anggapan itu diutarakan Shakardokht Jafari, seorang fisikawan medis asal Afghanistan yang bekerja di Surrey Technology Centre, Inggris.

“Di negara seperti Afghanistan, pemerintah harus mengambil tindakan hukum terhadap mereka yang menyangkal identitas perempuan,” kata Jafari.

Sejak rezim Taliban jatuh dua dekade lalu, komunitas nasional dan internasional berusaha membawa perempuan kembali ke kehidupan publik.

Namun perempuan seperti Rabia masih dilecehkan oleh suami karena memberi tahu nama mereka kepada dokter. Ada risiko yang dihadapi perempuan Afganistan jika mereka berbicara secara terbuka menentang tradisi.

Di Afganistan, para perempuan akan memiliki opsi lebih baik saat keluar negeri. Farida Sadaat adalah seorang pengantin anak. Dia melahirkan bayi pertamanya pada usia 15 tahun.

Sadaat dan suaminya kemudian berpisah. Dia lantas pindah ke Jerman dengan keempat anaknya.

Sahar Samet holding a poster promoting the WhereIsMyName? campaign

Sadaat berkata kepada BBC, suaminya tidak hadir dalam kehidupan anak-anaknya, baik secara fisik maupun emosional. Dia yakin tidak memiliki hak untuk menuliskan namanya pada kartu identitas penduduk Afghanistan.

“Saya membesarkan anak-anak saya sendirian. Suami saya menolak menceraikan saya sehingga saya tidak bisa menikah lagi,” katanya.

“Saya meminta presiden Afghanistan untuk mengubah undang-undang dan mencatat nama ibu pada akta kelahiran dan kartu identitas anak.”

Sahar, seorang pengungsi Afganistan di Swedia, pernah bekerja sebagai jurnalis lepas tetapi sekarang bekerja di panti jompo.

Sahar berkata, dia mendukung gerakan ini dari jauh, sejak kampanye hak perempuan itu dimulai. Ketika Sahar pertama kali mendengar gagasan itu, dia memutuskan untuk mengirim pesan di media sosial.

“Saya bangga menulis bahwa nama saya Sahar,” tulisnya.

“Nama ibuku adalah Nasimeh, nama nenek keibuanku adalah Shahzadu, dan nama nenek dari pihak ayahku adalah Fukhraj,” lanjutnya.

Orang Singapura Mengaku menjadi mata-mata China di AS

Orang Singapura Mengaku menjadi mata-mata China di AS

Seorang pria berkewarganegaraan Singapura, pada Jumat (24/07/2020), mengaku bersalah di pengadilan federal karena bekerja sebagai mata-mata China di Amerika Serikat.

Pengakuan ini menambah daftar insiden antara China dan AS yang hubungannya memanas dalam beberapa waktu terakhir.

Jun Wei Yeo, nama pria tersebut, dituduh menggunakan profesinya sebagai konsultan politik di AS untuk mengumpulkan informasi bagi intelijen China.

Yeo, yang juga dikenal sebagai Dickson Yeo, mengaku bekerja sebagai mata-mata ilegal pemerintah China selama 2015 hingga 2019. Pengakuan itu dirilis Kementerian Kehakiman AS.

Informasi yang dikumpulkan Yeo berkaitan dengan urusan non-publik. Dalam pengakuannya, dia berkata selama ini mencari orang-orang AS yang bekerja untuk dinas rahasia.

Mereka, kata Yeo, dipaksanya menulis laporan untuk klien-klien palsunya.

Persidangan ini bergulir setelah Yeo ditangkap tahun otoritas AS tahun 2019.

US official outside the former Chinese consulate in Houston, 24 July 2020

Ilmuwan asal China

Dalam kasus berbeda, AS menangkap peneliti asal China, benerma Juan Tang yang mereka tuduh menyembunyikan relasinya dengan militer China.

Perempuan berusia 37 tahun itu adalah satu dari empat warga China yang dituduh AS memalsukan visa. Mereka dituduh berbohong soal status mereka di Angkatan Bersenjata China.

Juan Tang adalah ditahan di California. Pemerintah AS menuding konsulat China di San Francisco memberangkatkannya.

Hingga saat ini belum ada keterangan bagaimana otoritas AS menangkapnya.

Merujuk laporan kantor berita Associated Press, sejumlah agen FBI menemukan foto-foto Juan Tang dalam seragam tentara China. Mereka menganalisis beberapa artikel berbahasa China yang mengungkap afiliasinya dengan militer China.

Laporan berita yang sama mengutip University of California Davis yang menyebut Juan Tang meninggalkan pekerjaannya sebagai peneliti tamu di Departemen Onkologi Radiasi, Juni lalu.

Trump Xi composite image

Mengapa hubungan AS-China memanas?

China baru-baru ini memerintahkan penutupan konsulat AS di Chengdu.

Ini adalah tanggapan mereka atas penutupan konsulat China di Houston, AS.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengatakan perintah penutupan konsulat di Houston itu berkaitan dengan tuduhan pencurian kekayaan intelektual oleh mata-mata China.

Sebaliknya, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, mengatakan langkah AS didasarkan pada ‘kebohongan anti-China’.

Terdapat sejumlah faktor yang memanaskan hubungan kedua negara ini. AS menuduh China menyebarkan Covid-19. Tanpa menjabarkan bukti, Presiden AS Donald Trump menyebut virus corona berasal dari sebuah laboratorium di kota Wuhan.

Sementara itu, dalam pernyataan tidak berdasar, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Maret lalu, berkata bahwa militer AS membawa virus ke Wuhan.

Hubungan AS dan China tak kunjung membaik dalam perang tarif sejak tahun 2018.

Trump sejak lama menuduh China melakukan perdagangan yang tidak fair serta melakukan pencurian kekayaan intelektual.

Namun di China muncul persepsi bahwa AS berusaha menjegal China yang melesat sebagai kekuatan ekonomi global.

amerika

AS menjatuhkan sanksi kepada politikus China yang mereka tuduh bertanggung jawab atas pelanggaran HAM terhadap minoritas Muslim di Xinjiang.

Selama ini China dituduh melakukan penahanan massal, penganiayaan berbasis agama dan sterilisasi paksa terhadap warga Uighur.

China selalu membantah tuduhan itu dan balik menuduh AS mencampuri secara kotor urusan domestik mereka.

Bagaimana terkait Hong Kong?

Penerapan Undang-Undang Keamanan di Hong Kong juga menjadi sumber ketegangan mereka dengan AS dan Inggris.

AS pekan lalu mencabut status perdagangan khusus Hong Kong. Ini memungkinkan China menghindari tarif yang dikenakan kepada barang-barang mereka oleh AS.

AS dan Inggris menganggap undang-undang itu sebagai ancaman terhadap kebebasan yang telah dinikmati Hong Kong berdasarkan perjanjian tahun 1984 antara Cina dan Inggris.

Perjanjian itu diteken sebelum kedaulatan Hong Kong dikembalikan ke China.

Hong Kong

Inggris belakangan juga memicu kemarahan China dengan menawarkan status kewarganegaraan untuk sekitar tiga juta penduduk Hong Kong.

China menanggapinya dengan mengancam akan berhenti mengakui jenis paspor Inggris. Paspor itu dipegang banyak penduduk Hong Kong.

Warisan dan Jejak Budaya Tionghoa yang Mendarah Daging di Makassar

Warisan dan Jejak Budaya Tionghoa yang Mendarah Daging di Makassar

sahmitra.com —  Makassar memiliki banyak pilihan kuliner yang berbahan dasar mi. Mulai dari Mie Titi, Mie Awa, Mie Hengky, Mie Anto, hingga Mie Cheng, hampir setiap hari destinasi makan ini selalu ramai dijejali pengunjung.

Tak disadari, banyaknya mi kering ini menjadi salah satu peninggalan yang ditinggalkan orang Tionghoa di sana. Warisan kuliner ini adalah jejak asimilasi budaya dari orang Tionghoa yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Pencampuran budaya yang kental itu tak hanya terlihat di bidang kuliner, tapi juga merambat ke bidang lain seperti seni dan budaya.

Mungkin banyak yang tak tahu kalau salah satu lagu daerah berbahasa Makassar Ati Raja adalah ciptaan Ho Eng Djie. Ia adalah warga keturunan Tionghoa yang juga terkenal sebagai seniman luar biasa di era 1940-an sampai 1950-an.

Jika dirunut dari catatan sejarah, tidak ada keterangan pasti kapan orang dari daratan Tiongkok masuk ke Sulawesi Selatan. Yang jelas mereka sudah tinggal di sana sejak abad ke-15 saat Kerajaan Gowa-Tallo berjaya.

Saat itu, ibukotanya yang saat itu terletak di delta Sungai Jeneberang menjadi magnet tersendiri bagi pedagang asing dari Eropa dan Tiongkok untuk berdagang dan menetap. Meski begitu, ada juga catatan histori yang ditemukan di sebuah nisan di pemakaman yang sekarang menjadi Pasar Sentral Makassar. Disebutkan bahwa orang Tionghoa mulai masuk sejak abad ke-14.

Di Makassar sendiri ada tiga rumpun Tionghoa yang menetap di sana ratusan tahun. Ada Hokkian, Hakka, dan Kanton. Ketiganya punya bahasa yang berbeda satu sama lain. Orang Hokkian dipercaya sebagai rumpun Tionghoa pertama yang datang ke Makassar secara massal hingga abad ke-19.

Rumpun Hakka atau Kek juga menjadi rumpun terbesar yang datang ke Makassar yang kebanyakan berasal dari Provinsi Kwang Tung. Sedangkan Kanton atau Kwan Foe datang belakangan pada sekitar abad ke-19 dan hampir bersamaan dengan rumpun Hakka.

Selain itu, masih ada beberapa rumpun Tionghoa lain yang datang ke Makassar yang berasal dari provinsi lainnya tapi jumlah yang relatif lebih kecil. Saat pertama kali datang ke Sulawesi Selatan, rombongan pendatang tersebut tidak langsung bermukim di Makassar.

Awalnya mereka berdagang, bertani, dan menjadi nelayan di sekitar delta Sungai Jeneberang. Ramainya daerah benteng Somba Opu membuatnya betah dan mulai membaur dengan penduduk lokal. Ketika Kerajaan Gowa jatuh ke tangan Belanda dan kawasan benteng Somba Opu mulai ditinggalkan, orang Tionghoa mulai berpindah Makassar.

Oleh pemerintahan Belanda, mereka dipusatkan di satu daerah khusus yang diberi nama Chineese Wijk atau Kampung China. Di sana, mereka diatur dan diawasi dengan ketat. Bahkan tidak diperbolehkan berinteraksi dengan warga sekitar.

Sampai sekarang, kawasan itu masih ada dan diberi nama Chinatown atau Pecinan. Warga Tionghoa baru bisa bebas keluar-masuk dari wilayah tersebut di awal abad 19. Masa itu menandai makin besarnya jejak Tionghoa di Makassar.

Kuliner mi dari Tionghoa pun mulai diterima dan disukai oleh warga lokal. Coto yang jadi salah satu kuliner populernya adalah variasi dari makanan khas Tionghoa. Selain itu, perpaduan dua budaya juga tampak dari cara menyeduh kopi. Penggunaan kain penapis yang ditarik ke atas adalah metode yang dibawa oleh orang Hainan yang memang terkenal sebagai peracik kopi yang nikmat.

Di bidang seni, orang Tionghoa juga memberikan sumbangan yang tidak sedikit. Pada 1940-an sampai 1950-an, orang Tionghoa dengan orkes Melayunya menghiasi jagad seni dan budaya Makassar.

Sekarang, bangunan asli dan khas Tionghoa memang mulai jarang didapati di Makassar. Kawasan Pecinan pun sudah banyak berubah dan mulai disesaki dengan bangunan modern. Meski jejaknya sudah mulai sulit ditangkap mata, tapi tidak dengan lidah. Menikmati kuliner khas Makassar berarti menikmati jejak panjang percampuran dua budaya ini yang sudah terjadi selama ratusan tahun.

Agar Anak Bisa Ikut Kelas Online, Ayah Jual Sapi Satu-satunya untuk Beli HP

Agar Anak Bisa Ikut Kelas Online, Ayah Jual Sapi Satu-satunya untuk Beli HP

sahmitra.com — Demi membuat kedua anaknya bisa mengikuti kelas online, seorang ayah di India rela menjual sapi yang menjadi satu-satunya sumber pendapatan.

Menyadur India Times, pada Jumat (24/07/2020), kondisi keluarga Kuldip Kumar yang kekurangan, membuat keduanya kesulitan untuk mengakses pembelajaran jarak jauh.

Agar Anak Bisa Ikut Kelas Online, Ayah Jual Sapi Satu-satunya untuk Beli HP
Agar Anak Bisa Ikut Kelas Online, Ayah Jual Sapi Satu-satunya untuk Beli HP

Keluarga yang tinggal di Jwalamukhi, dist ik Kangra, ini tak memiliki handphone.

Mengetahui anak-anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar tak bisa mengikuti pelajaran, Kuldip pun berusaha mengambil pinjaman di sejumlah bank. Namun, usahanya tak membuahkan hasil, ia ditolak sana-sini.

Tak punya piliha lain, ayah ini pun terpaksa menjual sapi yang menjadi satu-satunya sumber pendapatan keluarga seharga Rs 6.000 atau sekitar satu juta.

Hasil penjualan sapi itu ia gunakan untuk membeli smartphone bagi anak-anaknya yang merupakan siswa kelas dua dan empat SD.

Cerita Kuldip dalam mengupayakan ponsel untuk kedua anaknya agar bisa mengikuti kelas online ini menarik perhatian netizen India, termasuk aktor Sano Sood.

Melalui twitter, Sano mengatakan mencari tahu informasi tentang Kuldip dan ingin memberikan bantuan untuk keluarganya.

“Bisakah anda berbagi informasi tentang pria ini?,” cuit Sano.

Agar Anak Bisa Ikut Kelas Online, Ayah Jual Sapi Satu-satunya untuk Beli HP
Agar Anak Bisa Ikut Kelas Online, Ayah Jual Sapi Satu-satunya untuk Beli HP

Sementara, seorang pejabat Jwalamukhi Ramesh Dhawala mengatakan pihaknya telah mengarahkan otoritas terkait untuk mengirim bantuan kepada Kuldip secepatnya.

AS Tolak Pelajar Asing untuk Kelas Online Tahun Ajaran Baru

AS Tolak Pelajar Asing untuk Kelas Online Tahun Ajaran Baru

sahmitra.com — Amerika Serikat (AS) mengumumkan pada hari Jumat (24/07/2020) waktu setempat bahwa tidak akan menerima pelajar asing baru yang hendak belajar dengan metode studi online, setelah membatalkan aturan yang dikritik banyak pihak soal pemulangan pelajar asing karena pandemi virus corona.

Perubahan kebijakan diumumkan dalam pernyataan oleh Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai AS.

Presiden Donald Trump telah membuat aturan ketat pada imigrasi dan telah menangguhkan beberapa jenis visa untuk orang asing selama krisis virus corona.

Sengketa pencabutan visa pelajar asing yang kelasnya akan pindah online di musim gugur telah dibawa ke pengadilan oleh universitas terkemuka, termasuk Harvard dan MIT, serikat guru, dan setidaknya 18 negara.

Dan pada 14 Juli 2020, pemerintah AS berbalik arah dan membatalkan keputusan.

Langkah itu dilihat sebagai usaha Trump untuk memberi tekanan pada institusi pendidikan yang mengadopsi pendekatan penuh kehati-hatian untuk membuka kembali kelasnya di tengah pandemi global COVID-19.

Trump berkeinginan agar sekolah-sekolah di semua tingkatan dibuka kembali dengan kelas tatap muka, sebagai tanda dimulai era normal baru seiring ia berjuang keras untuk terpilih kembali sebagai pemimpin AS dalam pemilihan umum pada bulan November ini.

Dia mendorong pembukaan kelas tatap muka, meskipun virus merajalela di luar kendali di beberapa negara, dengan angka kematian AS tertinggi di dunia lebih dari 144 ribu.

Pemerintahannya menyerahkan sebagian besar kepada negara untuk mencari tahu cara membuka sekolah dengan aman.

Ada lebih dari 1 juta pelajar asing di AS untuk tahun akademik 2018-19, menurut Institute of International Education.

Banyak sekolah sangat bergantung pada uang sekolah yang dibayarkan oleh para siswa.

Sebagian besar perguruan tinggi dan universitas AS belum mengumumkan rencana mereka untuk semester musim gugur, tetapi Harvard telah mengatakan semua kelasnya untuk tahun akademik 2020-21 akan dilakukan secara online, “dengan pengecualian yang amat langka.”