Mesum dengan Pacar Saat Rapat Virtual, Anggota Parlemen Mengundurkan Diri

Mesum dengan Pacar Saat Rapat Virtual, Anggota Parlemen Mengundurkan Diri

SAHMITRA — Seorang anggota parlemen Argentina yang sudah menikah mengundurkan diri setelah mencium payudara pacarnya di tengah sesi virtual kongres. Juan Emilio Ameri (47) mengejutkan sesama anggota parlemen ketika dia melakukan agedan mesum tersebut di tengah keseriusan rapat sebagaimana dilansir dari New York Post, Jumat (25/9/2020).

Ketua Parlemen Argentina, Sergio Massa, yang melihat kejadian tersebut langsung menyela sesi rapat. Dia lantas mengatakan adanya, “pelanggaran serius” oleh Ameri.

Ameri kemudian mengatakan kepada Todo Noticias (TN) dalam sebuah wawancara dengan linangan air mata bahwa dia telah mengundurkan diri.

“Itu serius, sungguh. Saya bertanggung jawab. Saya sangat malu,” kata Ameri kepada TN.

Politikus tersebut awalnya mengira internetnya mati di tengah-tengah rapat. Dia juga mengakui tidak bisa melepaskan diri dari pacarnya. Ketika pacarnya baru keluar dari kamar mandi, Ameri menanyakan kesehatan pacarnya karena Ameri mengatakan pacarnya baru saja dioperasi.

“Pada saat itu dia duduk dengan saya dan saya mencium payudaranya tanpa menyadari bahwa koneksi telah kembali,” kata Ameri.

“Itu adalah momen keintiman dengan pasangan saya yang bocor. Itu serius, sungguh, saya bertanggung jawab dan saya sangat malu. Saya sangat tertekan dengan apa yang terjadi,” sambung Ameri kepada TN sambil menangis.

Laporan lokal mengatakan dia terasing dari istrinya. Sementara laporan lain mengidentifikasi pacar dalam video itu sebagai Celeste Burgos, salah satu penasihatnya.

“Saya minta maaf kepada warga, keluarga saya, pasangan saya, atas semua situasi ini,” kata politikus tersebut.

“Saya ingin meminta maaf kepada ibu saya, saudara perempuan saya, putri saya, yang belum saya ajak bicara,” tambah dia.

Di sisi lain, Massa menyerukan penangguhan segera Ameri dan pembentukan komisi berisi lima anggota untuk mempercepat pengusirannya.

“Kami akan mendengarkan penjelasan darinya, tapi kami tidak bisa mengakui bahwa perilaku seperti ini terjadi di tubuh perwakilan dalam demokrasi,” kata Massa sebagaimana dilansir dari Associated Press.

Perkosa dan Bunuh Seorang Perawat yang Dianggapnya 'Penyihir', Terpidana Ini Disuntik Mati

Perkosa dan Bunuh Seorang Perawat yang Dianggapnya ‘Penyihir’, Terpidana Ini Disuntik Mati

Sahmitra — Seorang eks tentara yang memperkosa dan membunuh seorang perawat yang diyakininya adalah seorang penyihir telah dieksekusi mati setelah 16 tahun menjadi terpidana. William LeCroy (50) dihukum mati dengan suntikan mematikan pada Selasa malam pekan lalu. Merupakan eksekusi federal keenam sejak Juli setelah absen lama dalam proses hukuman mati di tingkat nasional.

Pria berusia 50 tahun itu dinyatakan meninggal pada pukul 9.06 malam waktu setempat setelah pejabat Biro Penjara AS memberinya dosis fatal barbiturat pentobarbital, dan dilaksanakan di Terre Haute, Indiana, Amerika Serikat (AS).

Eksekusi sempat tertahan sampai pengacara utama LeCroy – yang menderita kondisi kesehatan kronis – dapat melakukan perjalanan dengan aman tanpa takut tertular Covid-19.

Sebagai bagian dari pembelaan mereka, pengacaranya juga berpendapat bahwa kematian saudara laki-laki LeCroy pada 2010 harus diperhitungkan atas penderitaan keluarga LeCroy. Polisi Negara Bagian Georgia Chad LeCroy tewas selama pemberhentian lalu lintas rutin, menurut Atlanta Journal-Constitution.

Sementara jauh sebelum itu, William LeCroy dihukum dan dijatuhi hukuman mati di Georgia pada tahun 2004 karena pembajakan mobil, pemerkosaan dan pembunuhan Joann Tiesler, seorang perawat berusia 30 tahun. William LeCroy menuduh korbannya adalah seorang ‘penyihir’ yang telah “merapal mantra padanya”. ‘

Sebelumnya, pria itu sudah menjadi obsesif pada hal-hal yang bersifat magis sejak dikeluarkan dari militer karena suka membolos. LeCroy masuk ke rumah korbannya saat wanita itu sedang berbelanja pada Oktober 2001.

Ketika dia masuk, dia menembaknya, sebelum memperkosanya, dan menikamnya dari belakang. LeCroy kemudian mengatakan kepada penyelidik bahwa dia secara keliru percaya Joann adalah mantan pengasuhnya yang dia klaim telah melecehkannya secara seksual saat dia masih kecil.

Dia berharap membunuhnya akan membalikkan “kutukan” padanya, kutip New York Post. Dia kemudian berkata setelah membunuhnya dia menyadari bahwa tuduhannya itu tidak benar. LeCroy ditangkap dua hari kemudian di dalam kendaraan Joann di perbatasan AS-Kanada dengan catatan tertulis di bagian belakang peta yang robek, menurut jaksa.

“Tolong, tolong, maafkan saya Joanne,” ungkap tulisan itu, yang salah mengeja nama korban.

“Kamu adalah seorang malaikat dan aku membunuhmu. Sekarang aku harus hidup dengan itu dan aku tidak akan pernah bisa pulang. Aku pengembara dan dikutuk ke neraka.”

Eksekusinya menandai hukuman mati keenam yang telah dilakukan pemerintah AS selama tiga bulan terakhir. Eksekusi ini lebih dari jumlah total eksekusi federal yang dilakukan di bawah semua gabungan dari seluruh pendahulu di Gedung Putih sejak 1963.

Mengerikan! Demi Periksa Kelamin Janin Bayi, Pria Ini Sayat Perut Istri

Mengerikan! Demi Periksa Kelamin Janin Bayi, Pria Ini Sayat Perut Istri

Sahmitra — Seorang pria di India utara ditangkap setelah menyayat dengan sabit perut istrinya yang sedang hamil sehingga menyebabkan sang istri kritis dan bayi dalam kandungannya meninggal, menurut polisi dan kerabat.

Kepolisian Budaun di Negara Bagian Uttar Pradesh menyebutkan bahwa perempuan tersebut kini dalam perawatan intensif di rumah sakit di New Delhi pascaserangan pada Sabtu (19/09/2020).

Kerabat perempuan tersebut mengungkap bahwa serangan terjadi lantaran pelaku ingin mengetahui jenis kelamin bayi mereka. Pasangan itu telah memiliki lima anak perempuan.

“Pelaku menyerang istrinya dengan sabit dan menyayat perutnya dengan alasan ingin mengetahui jenis kelamin si calon bayi,” kata saudara laki-laki korban, Golu Singh, kepada Thomson Reuters Foundation.

Anak-anak perempuan di India kerap dianggap sebagai beban sebab pihak keluarga harus membayar mas kawin ketika mereka menikah nanti. Sementara, anak laki-laki sangat dihargai sebagai pencari nafkah yang mewarisi harta dan meneruskan nama keluarga.

Aborsi janin perempuan telah dilarang di India. Di negara itu, kecenderungan menginginkan anak laki-laki menyebabkan jumlah anak perempuan berkurang.

Menurut survei pemerintah yang dirilis pada Juli, rasio jenis kelamin India, atau jumlah perempuan per 1.000 laki-laki, tercatat sebesar 896 antara 2015-2017. Jumlah itu turun dari 898 pada 2014-2016, dan 900 pada 2013-2015.

Hukum di India melarang para dokter dan petugas kesehatan memberi tahu jenis kelamin calon bayi kepada orang tuanya, atau melakukan tes untuk menentukan jenis kelamin bayi, dan hanya praktisi medis terdaftar yang diizinkan melakukan aborsi.

Tidak Pakai Masker, Wanita Ngamuk Naik Meja hingga Ancam Tusuk Pegawai KFC

Tidak Pakai Masker, Wanita Ngamuk Naik Meja hingga Ancam Tusuk Pegawai KFC

Sahmitra — Seorang wanita di Amerika Serikat mengamuk di sebuah restoran cepat saji karena tak kunjung dilayani saat keadaan lapar dan mengancam akan menusuk staf.

Menyadur Daily Mail, pada Minggu (20/09/2020) seorang wanita mengancam akan menusuk seorang pekerja di sebuah kedai KFC di California saat ia tidak dilayani karena menolak untuk mengenakan masker.

Dalam sebuah video yang viral di media sosial, menunjukkan wanita itu melompat ke meja dan dia berteriak ‘Beri saya sesuatu untuk dimakan! Saya lapar!’

Rekaman itu dibagikan ke TikTok dan Facebook oleh seorang wanita yang mengatakan itu terjadi di Fresno.

Wanita itu kemudian melontarkan kata-kata kasar yang sebagian besar tidak dapat dipahami kepada seorang karyawan pria di mana dia menantangnya untuk menelepon polisi.

Wanita tak dikenal itu juga mengancam akan menusuk pekerja wanita kecuali dia segera mendapat ‘sesuatu untuk dimakan’.

Dalam video lain, wanita tersebut mengklarifikasi pesanan kentang tumbuk dan ayamnya meskipun staf mengatakan kepadanya bahwa dia tidak akan dilayani.

“Saya tidak bisa. Saya akan dipecat.” ujar seorang karyawan kepada wanita tersebut saat menolak untuk memberikannya makan.

Meskipun anggota staf ini jelas bekerja di KFC, wanita itu balas berteriak padanya: “Kamu bahkan tidak bekerja di sini!”

Bukan hanya naik ke meja, wanita tersebut bahkan hingga menendang sebuah papan tanda promosi dan masih minta ia untuk dilayani.

Wanita tersebut juga terus menuntut untuk diberi tahu mengapa dia tidak bisa mendapatkan makanan. Seorang anggota staf mengatakan kepadanya bahwa itu karena dia tidak memakai masker.

Wanita itu bersikap kasar kepada pekerja tersebut sebelum dia tampak mengancamnya. Sebagian besar diabaikan oleh staf, wanita itu turun dari meja dan berjalan keluar.

Dia ditawari masker oleh pelanggan lain tetapi wanita menolaknya dan berteriak ‘aku tidak peduli’ dan menyatakan bahwa dapur KFC menjijikkan.

Tak seorang pun dari pihak KFC atau Yum!, perusahaan induknya, bersedia untuk mengomentari video tersebut.

Ini adalah salah satu dari sekian banyak insiden di restoran cepat saji dalam beberapa bulan terakhir, sebagian besar disebabkan oleh pelanggan yang menolak untuk memakai masker.

Di Taco Bell, di Bolivar, Missouri, seorang wanita tanpa masker berteriak pada pelanggan, menggunakan bahasa rasial ketika dia tidak diberikan layanan.

Kronologi Sales Honda Dipecat karena Baju Tembus Pandang, Pegawai Pria Tak Nyaman

Kronologi Sales Honda Dipecat karena Baju Tembus Pandang, Pegawai Pria Tak Nyaman

Sahmitra — Seorang karyawati dealer Honda di Edmonton, Kanada, dipecat karena memakai baju yang dianggap tembus pandang. Alasan pemecatannya adalah atasan lengan panjang dan celana panjang yang melanggar aturan berpakaian di perusahaan, dan membuat rekan-rekan prianya tidak nyaman. Pegawai bernama Caitlin Bernier itu lalu mengajukan komplain terkait hak asasi manusia ke Alberta Honda, tempatnya bekerja.

“Saya dipecat karena memakai ‘pakaian yang tidak pantas’ untuk bekerja,” tulis Bernier dalam komplainnya yang dikutip CBC News, pada Rabu (16/09/2020).

“Ini pakaian yang sama sewaktu saya diterima kerja,” lanjutnya.

“Saya merasa sangat didiskriminasi atas semua ini,” kata Bernier yang baru direkrut dan terdaftar di program pelatihan karyawan perusahaan.

“Saya merasa salah diperlakukan. Saya tidak pantas kehilangan pekerjaan karena pakaian.”

Karyawati berusia 20 tahun itu menerangkan, dia dipecat dari dealer di 9525 127th Ave pada 11 September, setelah seorang rekan perempuan menghampirinya di kantor. Dia mengatakan dirinya ditegur karena bajunya tembus pandang, melanggar aturan berpakaian perusahaan dan membuat beberapa rekan pria tidak nyaman.

Bernier lalu menuturkan ke CBC News, baju itu juga dipakainya saat wawancara kerja di awal bulan dan sudah diberitahu pakaian itu sesuai dengan aturan bisnis-kasual di sana. Rekan wanitanya sempat menyuruhnya memakai sweater untuk menutupi bajunya atau pulang, tapi Bernier langsung bertemu dengan perwakilan HRD.

“Hal pertama yang dikatakan wanita HRD itu adalah, ‘bajunya tidak apa-apa, sama sekali tidak tembus pandang’,” kata Bernier di Facebook-nya menceritakan insiden itu.

Unggahannya viral dan mendapat lebih dari 15.000 komentar sejak 11 September. Bernier melanjutkan, staf HRD mengizinkannya pulang sampai manajernya kembali ke kantor. Ia pun pulang tapi kira-kira satu jam kemudian dia ditelepon manajer umum dealer itu, yang mengatakan dia dipecat karena pelanggaran aturan berpakaian.

“Dia (manajer pria) tidak pernah melihat pakaianku. Saya tidak pernah punya kesempatan berbicara.”

“Saya berkata, ‘Saya akan ke dealer dan bertemu Anda sekarang’, dan dia berkata ‘Percakapan ini sudah selesai’ dan menutup teleponku.”

Bernier baru bekerja dua minggu di sana dan merupakan satu-satunya wanita di bagian staf penjualan yang totalnya sekitar 12 orang.

Sebuah pesta pernikahan di pedesaan Maine, Amerika Serikat ( AS), berujung maut setelah menjadi superspreader virus corona yang menyebabkan 7 orang tewas dan 177 lainnya terinfeksi.

Pesta Pernikahan jadi Superspreader Virus Corona, 7 Tewas dan 177 Terinfeksi

Sahmitra — Sebuah pesta pernikahan di pedesaan Maine, Amerika Serikat ( AS), berujung maut setelah menjadi superspreader virus corona yang menyebabkan 7 orang tewas dan 177 lainnya terinfeksi.

Pernikahan pada awal Agustus itu dihadiri 65 orang, melanggar batas resmi 50 orang yang diizinkan berkumpul di sebuah pertemuan. Seremoni di gereja dilanjutkan dengan resepsi di Big Moose Inn, keduanya berlokasi di Millinocket kota kecil di AS yang hanya berpopulasi 4.000 penduduk.

Sepuluh hari kemudian 24 orang yang terkait dengan pernikahan itu dinyatakan positif Covid-19, lalu Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Maine membuka penyelidikan.

Direktur lokal CDC Nirav Shah pada Kamis (17/9/2020) mengungkap jumlah korban terbaru di acara tersebut, menambahkan bahwa 7 orang yang meninggal tidak menghadiri pernikahan itu.

Pelacak kontak lalu menghubungkan pernikahan itu dengan beberapa hotspots virus corona di seluruh negara bagian AS, termasuk lebih dari 80 kasus di penjara yang berjarak 370 kilometer, yang salah satu penjaganya datang ke pernikahan.

Dugaan 10 kasus lainnya ditemukan di sebuah gereja Baptis di daerah yang sama, sementara 39 kasus dan 6 kematian ditemukan di panti jompo sejauh 160 km dari Millinocket.

“Ketika kami mendengar tentang wabah… semua orang benar-benar berlindung,” kata Cody McEwen kepala dewan kota.

“Begitu wabah itu menyebar, kami menutup kota lagi,” sambungnya dikutip dari AFP.

Bukan kasus pertama

Beberapa warga geram pada penyelenggara acara, termasuk kedai minum yang lisensinya ditangguhkan sementara.

“Saya rasa mereka tidak harus mengadakan pernikahan. Saya pikir itu seharusnya dibatasi seperti yang diwajibkan,” ucap Nina Obrikis anggota gereja Baptis tempat seremoni diadakan.

“Kita tidak bisa ke mana-mana atau melakukan apa pun,” keluhnya.

Gubernur Maine Janet Mills pada Kamis (17/9/2020) mengeluarkan peringatan kepada 1,3 juta penduduk negara bagian tersebut. Gejolak seperti itu “terancam merusak kemajuan yang kami dapat dengan cepat.”

” Covid-19 tidak berada di sisi lain pagar, itu di halaman kami,” terangnya beranalogi.

 Sejak dimulainya pandemi awal tahun ini, kasus-kasus superspreader banyak dilaporkan di seluruh dunia. Pertama di AS adalah konferensi bioteknologi di Boston pada Februari yang dihadiri sekitat 175 orang, dan pemakaman di Georgia yang membuat lebih dari 100 orang tertular.

Kemudian dalam beberapa pekan terakhir kelompok infeksi seperti itu muncul di kampus-kampus, yang membuat mahasiswa kembali dipulangkan. Universitas Oneonta di utara negara bagian New York misalnya, memiliki lebih dari 670 kasus Covid-19 dalam sebulan.

Ditagih Upah Malah Marah, 2 WNI di Jeddah Dianiaya Majikan

Ditagih Upah Malah Marah, 2 WNI di Jeddah Dianiaya Majikan

Sahmitra — Dua warga negara Indonesia yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di Jeddah, Arab Saudi, dianiaya oleh majikan lantaran masalah upah.

Atas insiden Tayma, provinsi Tabuk ini, Konsulat Jenderal RI (KJRI) Jeddah memperkarakan si majikan ke pihak berwajib.

Dalam keterangan pers yang dirilis oleh KJRI Jeddah, pada Kamis (17/9/2020), Sumarkinah Kasiran Kolsimah dan Sriatun menderita sejumlah luka-luka akibat perbuatan majikan yang diidentifikasi sebagai MSU.

Penganiayaan ini terungkap setelah pihak Pelayanan dan Perlindungan Warga (Yanlin), mengetahui sebuah video yang diunggah oleh keluarga korban di media sosial.

Dari situ, koordinator Yanlin, Safaat Ghofur langsung mengerahkan tim untuk menyambangi rumah tempat dua ART bekerja dan melaporkan kejadian ini ke kantor polisi setempat.

Ditagih Upah Malah Marah, 2 WNI di Jeddah Dianiaya Majikan. (KJRI Jeddah)

Setelahnya, MSU, Sumarkinah, dan Sriatun dihadirkan ke kantor kepolisian untuk dimintakan keterangan terkait insiden penganiayaan tersebut.

Di hadapan polisi, MSU semula mengelak telah melakukan tindak kekerasan terhadap pembantunya itu. Namun, lebam di beberapa bagian tubuh Sriatun yang diperkuat dengan hasil pemeriksaan medis dari rumah sakit setempat, serta kesaksian Sumarkinah, membuat majikan ini tak berkutik.

Sriatun menyebut sejak lama telah mendapatkan perlakuan kasar dari MSU. Tapi puncaknya terjadi pada akhir Agustus saat dirinya menagih upah sekaligus uangnya senilai 2.300 riyal yang dipinjam istri majikan.

“Dia (istri majikan) malah marah-marah dan mengadu ke suaminya. Waktu saya salat, suaminya (majikan) datang marah-marah dan mengusir saya. Saya berontak tidak mau pergi. Langsung dipukul saya di sini, sini, sini (sambil menunjuk ke bagian tubuh tertentu),” ujar Sriatun

“Saya lari ke rumah bapaknya (orang tua majikan), di sana sudah tidak sadar saya,” sambung perempuan kelahiran Mataram 1975 itu.

Sumarkinah yang bekerja di rumah orang tua majikan, terkejut melihat kondisi Sriatun yang tergeletak tak sadarkan diri. Sontak, ia langsung menelepon suami temannya itu dan merekam insiden tersebut.

Kedapatan menolong Sriatun dan mengambil video, SKK ikut dihajar oleh MSU. “Ambil sendal dia, mukul aku. Tapi ditangkis ibunya dan adiknya. Kurang puas dia mukul lagi. Dia menendang kena di sini (perut) dan pukul di sini (muka),” tutur perempuan asal Pemalang Jawa Tengah itu.

Atas tindakan kejam majikan ini, Sriatun sempat mengalami gangguan penglihatan selama beberapa hari.

Namun, kondisinya berangsur-angsur pulih setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit.

SR dan SKK akhirnya dibawa Tim Yanlin ke KJRI Jeddah. SKK dipulangkan ke Tanah Air, Rabu (16/9) setelah memaafkan majikan dan menerima hak-haknya.

Sementara itu, SR ditampung di shelter KJRI Jeddah sambil menunggu penyelesaian kasusnya dan pemenuhan hak-haknya.

Tidak Prosedural

Baik SR maupun SKK diberangkatkan ke Arab Saudi secara ilegal. Keduanya diberangkatkan dengan visa ziarah pribadi (ziarah syakhsiyah) untuk menetap dan bekerja di Arab Saudi sebagai asisten rumah tangga.

“Berangkat dengan cara ini cukup berisiko dan menyulitkan kami dari sisi pelindungan. Sebab, tidak dilengkapi dengan dokumen semestinya, seperti perjanjian kerja (PK) yang bisa dijadikan dasar penuntutan jika terjadi wanprestasi dari pihak majikan,” ujar Konjen Eko Hartono.

Selain itu, imbuh Konjen Eko, masyarakat seharusnya sudah maklum bahwa pemerintah sejak tahun 2011 telah menghentikan pengiriman PMI untuk bekerja di sektor domestik.

Kebijakan ini diperkuat dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor 260 Tahun 2015, tentang Penghentian dan Pelarangan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia pada Pengguna Perorangan di Negara-negara Kawasan Timur Tengah.

Disuruh Lompat Jongkok 100 Kali sebagai Hukuman, Bocah Ini Sakit dan Meninggal

Disuruh Lompat Jongkok 100 Kali sebagai Hukuman, Bocah Ini Sakit dan Meninggal

Sahmitra — Seorang bocah 13 tahun di Thailand dilaporkan sakit dan meninggal, setelah dia disuruh lompat jongkok hingga 100 kali sebagai hukuman. Potay Suriyawt Jiwakano, pelajar asal Samut Songkhram, awalnya tidak masuk kelas selama tiga hari karena sakit, dan baru kembali di hari keempat.

Meski masih merasa tidak enak badan, Potay memaksakan diri untuk bersekolah. Karena itu, dia membawa surat keterangan dari dokter. Hanya saja, si guru di Sekolah Thawaranukun menghukumnya agar melakoni lompat jongkok. Karena dia ditengara tak mengerjakan tugas. Bocah 13 tahun itu dilaporkan kesusahan untuk menyelesaikan hukuman mengingat dia baru saja sembuh dari sakit, kata keluarga Potay.

Setelah melakoni hukumanya, Potay kembali sakit pada 4 September dan terpaksa merawat dirinya sendiri karena orangtuanya tengah bekerja. Potay disebut ditinggalkan di rumah bersama adiknya, di mana kedua orangtuanya baru pulang dari bekerja pada pagi harinya. Betapa kagetnya orangtua Potay ketika mereka memeriksanya pada 5 September, dan mendapati bahwa dia sudah meninggal dunia.

Dikutip Daily Mirror, pada Jumat (11/09/2020), orangtua Potay segera menelepon paramedis, yang menyatakan anak itu meninggal saat mereka sampai. Dokter menyakini, remaja itu meninggal dalam tidur karena mengalami gagal jantung pada pukul 03.00, satu jam sebelum ayah dan ibunya pulang.

Pihak Sekolah Thawaranukun kemudian menelepon keluarga remaja itu. Mereka meminta maaf dan bertanggung jawab atas insiden tersebut. Sekolah menyatakan, guru yang memberikan hukuman kepada anak itu bakal menjalani pemeriksaan sebelum diputuskan apakah bakal dilaporkan ke polisi.

Pramot Eiamsuksai, paman anak itu menuturkan keluarganya sangat sedih karena si keponakan kehilangan nyawanya hanya karena kesalahan kecil.

“Pihak sekolah sepakat untuk memberikan ganti rugi atas kematian Potay, dan bersedia menanggung biaya yang keluar,” jelas Pramot.

Dia pun berharap kasus ini bisa menjadi pelajaran di Thailand, agar tak ada lagi guru yang sewenang-wenang menghukum muridnya.

Fakta Mengejutkan Kasus Anak Dibunuh Akibat Susah Belajar Online

Fakta Mengejutkan Kasus Anak Dibunuh Akibat Susah Belajar Online

Sahmitra — Sepasang suami-istri, IS (27) dan LH (26), nekat membunuh anak perempuannya yang berusia delapan tahun. Urusan sepele berujung petaka. Kepada polisi, pelaku murka karena anaknya susah belajar online.

Di tengah pandemi Corona, korban yang duduk di kelas 1 SD itu tengah mengikuti pembelajaran jarak jauh. Entah apa yang merasuki suami-istri bengis tersebut, anaknya disiksa yang berujung nyawa melayang. Berikut fakta-fakta kasus tersebut:

1. Korban Dianiaya Saat Belajar Online

Kasat Reskrim Polres Lebak AKP David Adhi Kusuma menjelaskan peristiwa penganiayaan itu terjadi pada 26 Agustus 2020. Lokasinya di sebuah kontrakan yang pelaku dan korban tempati, kawasan Larangan, Kota Tangerang.

“(Dibunuh) lagi belajar daring dengan sekolah. Korban kelas 1 SD,” kata David, pada Senin (14/09/2020).

Pelaku katanya memukul hingga lebih dari lima kali saat hari yang naas tersebut. Pelaku khususnya ibu dari korban, LH, mengaku kesal karena si anak susah diajak belajar.

“Dicubit bagian paha. Selanjutnya sambil mukul bagian paha terus si anak ini dipukul juga menggunakan gagang sapu. Dari kayu sebanyak lebih dari 5 kali. Setelah anak ini terjatuh dia bangunkan kembali. Dia berdirikan setelah dilihat kok kami main-main, kok lemas sekali. Dia dorong sehingga terbentur ke lantai,” ujar David.

“Jadi mereka, khususnya ibunya LH ini kepada almarhum ini anak kandung sendiri dia merasa kesal. Merasa anak susah diajarkan, sudah dikasih tahu diajarkan, dia kesal gelap mata,” kata David menambahkan.

2. Korban Sering Dianiaya

Dari hasil pemeriksaan, polisi juga mengetahui bahwa orang tua tersebut sering melakukan penganiayaan. Penganiayaan khususnya ke korban anak yang meninggal ini. Korban sendiri memiliki adik kembar.

“Betul sering dianiaya. Kami dapati dari dikomen file di hp-nya pelaku. Bahwa memang korban ini ada beberapa foto mengalami lebam di bagian mata dan bibir,” kata David.

Berdasarkan pengakuan LH, kata David, korban masih hidup usai menerima sejumlah penganiayaan. Pelaku juga sempat akan membawa korban ke rumah sakit namun di perjalanan ternyata meninggal dunia.

Usai membunuh dan menguburkan anaknya di Kecamatan Cijaku, Lebak, mereka kemudian pindah kontrakan ke Jakarta Selatan.

3. Ortu Bikin Laporan Palsu

Usai membunuh dan menguburkan anaknya sendiri, IS dan LH sempat membuat laporan palsu ke Polsek Setiabudi, Jakarta Selatan. Dalam laporan itu, pasutri bengis ini mengaku kehilangan anak saat bermain.

“Mereka pindah kontrakan, anak kembarnya (adik korban) diajak untuk membuat laporan polisi kehilangan,” ucap David.

Laporan itu dibuat pada tanggal 28 Agustus setelah keduanya memakamkan korban anak di TPU Gunung Kendeng. Mereka juga mengajari kembaran korban untuk membuat laporan palsu tersebut.

“Jadi anaknya sempat ditanyakan, anaknya lancar bicara. Pada saat main, terus tiba-tiba kakaknya ini hilang,” kata David.

4. Kuburan Misterius

Untuk diketahui, terungkapnya kasus pembunuhan ini berawal dari kecurigaan warga terhadap kuburan misterius di TPU Gunung Kendeng. Warga yang curiga, kemudian menggali dan menemukan jasad di kedalaman setengah meter. Ternyata di sana ada mayat perempuan tanpa identitas lengkap dengan pakaiannya.

“Kita bongkar sama-sama, kita saksikan, apakah ini makam apa, kita baru setengah sudah kelihatan kakinya,” kata Kapolsek Cijaku AKP Zaenudin, pada Sabtu (12/09/2020).

Jasad bocah itu dievakuasi ke RS Adjidarmo, Rangkasbitung untuk kepentingan autopsi. Polisi menyelidiki kasus tersebut dan menangkap suami-istri bengis itu.

5. Korban Luka Lebam di Kepala

Hasil autopsi korban anak usia 8 tahun yang dianiaya oleh orang tuanya, IS (27) dan LH (26), menunjukkan ada bekas luka lebam di bagian kepala. Luka ini diduga akibat hantaman benda tumpul. Setelah itu, pelaku menguburkan jasad bocah perempuan tersebut secara tak layak di TPU Gunung Kendeng, Lebak, Banten.

“Dari hasil autopsi itu kepala kanan dan pada tulang tengkorak luka lebam akibat hantaman benda tumpul,” kata Kasat Reskrim Polres Lebak AKP David Adhi Kusuma, Selasa (15/09/2020).

Kasus Covid-19 Meningkat, Warga Myanmar 'Lockdown' Mandiri

Kasus Covid-19 Meningkat, Warga Myanmar ‘Lockdown’ Mandiri

Sahmitra — Beberapa penduduk di kota-kota besar Myanmar melakukan ‘lockdown’ mandiri di kawasan tempat tinggal mereka demi menghalau penyebaran pandemi virus Corona yang kasusnya kian melonjak di negara tersebut.

Menyadur Channel News Asia (CNA), Minggu (13/9/2020), para warga Myanmar menggunakan potongan kayu dan besi, serta barang-barang lainnya untuk membuat barikade di sekitar lingkungan mereka pada 11 September lalu. Setidaknya, negara Asia Tenggara itu telah melaporkan total 2.625 kasus virus korona dan 15 kematian.

Jumlah infeksi telah meningkat empat kali lipat sejak pertengahan Agustus, ketika virus muncul kembali di negara bagian Rakhine barat setelah berminggu-minggu tanpa kasus domestik. Banyak dari kasus baru-baru ini terjadi di Yangon, ibu kota komersial dan kota terbesar.

Penduduk mulai membangun penghalang jalan darurat untuk menghentikan orang bebas memasuki dan meninggalkan distrik mereka.

Pekan lalu, otoritas pemerintah mengeluarkan perintah tinggal di rumah untuk penduduk. Layanan maskapai penerbangan serta bus luar kota juga ditangguhkan.

Aung Zaw Min, kepala distrik di kotapraja Kyimyidaing yang menjaga salah satu barikade, mengatakan para penduduk telah ceroboh dalam mencegah virus hingga kasus infeksi meningkat.

“Sekarang kami harus menyadari bahwa kami tidak dapat meremehkan infeksi massal yang disebabkan oleh Sittwe–salah satu kota di Myanmar,” kata Aung Zaw Min.

Barikade itu dibangun warga tanpa izin dari otoritas setempat, yang dengan cepat memerintahkan penutupan jalan itu dicopot, meskipun beberapa masih ada pada Sabtu.

Beberapa pengguna media sosial mengejek barikade, bercanda bahwa penduduk telah mengubah lingkungan kota menjadi “republik mini”.

“Ini seperti gerbang perbatasan antara Korea Selatan dan Utara,” kata Lu Zaw Oo.

“Barikade seharusnya tak diperlukan,” tambahnya.