Rumah horor keluarga Turpin. Punya 13 anak semuanya dipenjara dan sisiksa didalam rumah

Rumah horor keluarga Turpin. Punya 13 anak semuanya dipenjara dan sisiksa didalam rumah

SAHMITRA –

911                                         : ”911 gawat darurat, apa yang ingin anda laporkan?”

Anak perempuan             : ”Um, saya baru saja kabur dari rumah.”

911                                         : “Apa kamu tahu alamat rumah kamu?”

Anak perempuan             : “Um, tidak tahu. Saya kabur dari rumah karena, saya tinggal di keluarga yang berisikan 15 orang. Dan kami punya orangtua yang menyiksa kami. Kamu bisa dengar itu?”

911                                         : “Ya, bagaimana mereka menyiksa kamu?

Anak perempuan             : “Mereka memukul kami, melempar kami. Menarik rambut kami, menjambak kami. Saya punya dua adik perempuan yang sedang dirantai sekarang. Kamu dengar saya tidak?”

911                                         : “Kamu umur berapa?”

Anak perempuan             : “Um, saya 17 tahun.”

911                                         : “Siapa nama kamu?”

Anak perempuan             : “Jordan Turpin”

Percakapan diatas adalah potongan dari rekaman panggilan telepon yang dilakukan seorang gadis 17 tahun bernama Jordan Turpin pada tanggal 14 Januari 2018, pukul 5:49 pagi ke unit gawat darurat 911. Panggilan tersebut dilakukan Jordan sesaat setelah berhasil menyelinap keluar lewat jendela rumah orangtuanya yang telah menyekap dirinya dan 12 saudara kandung lainnya.

Beberapa belas menit kemudian setelah Jordan melaporkan penyekapan dan penyiksaan yang dialaminya dan saudara-saudaranya, seorang petugas polisi yang bertugas malam itu berhasil menemukan Jordan yang sudah berdiri menunggu sambil ketakutan di ujung jalan. Polisi yang baru saja tiba itu lalu menayai Jordan lebih lanjut. Jordan memberanikan dirinya untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan polisi berwajah serius itu. Sambil menjelaskan bahwa dirinya gugup karena tidak pernah keluar dari rumah seumur hidupnya dan tidak pernah bertemu atau bicara dengan orang lain.

Andai saja ketika itu Jordan tidak memperlihatkan foto adiknya yang sedang dirantai di tempat tidur sebagai bukti, polisi yang bertugas itu mungkin saja malah membawanya kembali ke rumahnya untuk didamaikan dengan orangtuanya. Foto tersebut yang meyakinkan polisi bahwa ini adalah sebuah kasus yang serius dan bukan permainan atau kenakalan remaja seperti yang sering terjadi. Jordan lalu diminta polisi tadi untuk masuk dan duduk di kursi penumpang mobil patroli. Sebelum berangkat, polisi tersebut menanyakan pada Jordan apakah ada anggota keluarganya yang bakal membutuhkan tim medis atau pengobatan. Jordan malah minta maaf karena dirinya bahkan tidak mengerti arti dari kata medication atau pengobatan.

Satu setengah jam kemudian beberapa polisi mendatangi rumah keluarga Turpin. Butuh beberapa menit sampai akhirnya David dan Louise Turpin muncul dari balik daun pintu dengan wajah was-was. Dan ketika ditanyai apakah mereka tinggal bersama anak-anak dan minta izin untuk mengecek kedalam rumah, pasangan ini terlihat semakin ketakutan. Beberapa orang polisi lalu masuk kedalam dan melakukan penyisiran keseluruh ruangan didalam rumah tersebut. Dan hasil penemuannya sungguh mencengangkan dan benar-benar memprihatinkan.

Polisi menemukan ke-12 saudara Jordan didalam rumah yang gelap dan bau menyengat karena dipenuhi oleh sampah, kotoran manusia, dan lumut. Anak-anak keluarga Turpin, 10 diantaranya adalah perempuan, yang paling tua yakni perempuan berusia 29 tahun dan yang paling muda berumur 2 tahun. Semuanya ditemukan dalam keadaan kurang gizi dan sangat kotor. Dua anak perempuan dan 1 anak laki-laki ditemukan dirantai di tempat tidur menggunakan gembok. Begitu berhasil diselamatkan, mereka langsung meminta makan dan minum karena kelaparan.

Selain fisik yang sangat ringkih, polisi menemukan beberapa dari mereka dalam keadaan ‘tidak sewajarnya’. Tujuh diantara mereka sudah masuk dalam kategori dewasa, namun fisik mereka yang lemah dan kurang gizi menyembunyikan fakta bahwa mereka sudah berusia antara 18-29 tahun. Mereka masih mengenakan piyama dan berbicara seperti anak-anak.

Hari itu juga David dan Louise Turpin ditangkap oleh pihak kepolisian, sementara ke 13 anak-anak mereka langsung dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Selanjutnya fakta-fakta kebiadaban pasangan Turpin ini pun terkuak yang dikisahkan oleh korban yakni anak-anak kandung mereka sendiri.

David dan Louise Turpin memenjarakan anak-anak mereka di sebuah rumah yang tampak rapi dan asri dari luar namun penuh dengan sampah dan bau kotoran manusia didalamnya. Anak-anak itu diwajibkan tidur di siang hari dan bangun di malam hari, dimana para tetangga sudah terlelap untuk menghindari kecurigaan dan masalah. Dilarang berdiri didekat jendela atau tengok-tengok keluar.

Hanya anak pertama mereka yakni Jennifer yang sempat merasakan bangku sekolah dasar, itu pun hanya sampai tahun ke tiga saja. Dan waktu itu tidak ada yang mau berteman dengan Jennifer karena bau menyengat dari tubuh Jennifer membuatnya dijauhi oleh anak-anak lain.

Semenjak itu tidak ada dari anak-anak Turpin lainnya yang pernah bersekolah. Tidak ada satupun yang boleh keluar dari rumah. Sesekali saja dan itu pun jarang terjadi, mereka diajak keluar rumah. Dan ketika berada di luar rumah pun mereka tidak bisa bertindak sesuka mereka. Pakaian mereka harus seragam dan mereka harus berdiri atau berbaris sesuai dengan urutan lahir. Dan tidak diperkenankan bicara dengan siapapun. Pokoknya segala tindak tanduk mereka diawasi dan dikontrol oleh Louise dan David.

Anak-anak Turpin sering dibiarkan kelaparan. Dengan kejamnya Louise dan David hanya sekali sehari memberi makan anak-anak itu pun hanya dengan roti lapis dan selai kacang saja. Sementara mereka makan bisa makan apapun yang mereka mau. Karena sering dibuat kelaparan, tumbuh kembang anak-anak Turpin ini terganggu bahkan ada yang berhenti dan beberapa dari mereka menderita penyusutan otot. Alhasil anak-anak Turpin sering ketahuan mencuri makanan dan lalu dipukuli habis-habisan oleh Loiuse.

Anak-anak Turpin diteror dengan ayat-ayat alkitab yang disalahgunakan oleh David dan Louise untuk mengontrol dan menanamkan ketakutan dalam diri anak-anak. Louise sering sengaja membeli pakaian dan mainan anak-anak namun tidak memperbolehkan satupun mengenakan atau bermain dengannya. Suatu hari Louise sengaja meletakkan sepiring pie buah diatas meja makan, membiarkan anak-anaknya melihat, mencium wangi pie tersebut namun tidak satupun boleh menikmati. Selain menyiksa secara fisik, Loise juga menyiksa anak secara mental dan emosional.

Anak-anak itu bahkan hanya diperbolehkan untuk mandi satu kali dalam setahun dan sering melarang mereka menggunakan kamar mandi. Karena itu mereka terpaksa buang hajat dimana saja seperti binatang. Dan mereka hanya diperbolehkan untuk mencuci tangan saja, jika ketahuan mencuci bagian tubuh diatas pergelangan tangan mereka bakal kena hukum. Dipukuli, didorong dari tangga atau dirantai.

Bertahun-tahun hidup dalam penyiksaan dan kontrol yang diluar nalar pasangan Turpin, mengakibatkan dampak yang mendalam bagi anak-anak Turpin. Sebagai contoh, Jennifer sempat berniat untuk bunuh diri. Karena itulah dia dan Jordan lalu menyusun rencana untuk melarikan diri dua tahun lamanya sebelum akhirnya upaya Jordan berhasil. Rencana di awal Jennifer dan Jordan yang akan menyelinap keluar dimalam itu, namun karena terlampau ketakutan, Jennifer urung dan kembali masuk ke rumah. Namun tidak dengan Jordan yang memutuskan untuk melanjutkan pelariannya sambil memegang erat-erat ponsel usang yang hampir dibuang oleh salah satu saudaranya, dengan ponsel itulah dia menghubungi 911 dan akhirnya menyelamatkan nyawanya dan saudara-saudaranya.

Berbeda dengan Jennifer, Jordan Turpin mendapatkan pengharapan setelah menemukan dan menonton video musik penyanyi Justin Beiber dari ponsel milik salah satu saudara laki-lakinya yang dipercaya untuk memegang ponsel. Setiap kali kedua orangtuanya sedang tidak ada dirumah, Jordan sembunyi-sembunyi menonton video dari penyanyi tembang Baby ini. Dari video-video Justin Beiber, Jordan mendapatkan ‘kesadaran’ bahwa ada kehidupan lain yang jauh berbeda dari kehidupan yang dijalaninya saat itu. Dia mengatakan bahwa dia banyak belajar hal-hal baru dari Justin Beiber yang dia tonton dan semuanya itu memberinya sebuah pengharapan bahwa dia pun bisa mendapatkan kehidupan seperti yang ditampilkan dalam video-video tersebut.

“Mungkin karena kami sudah terbiasa hidup seperti telur diujung tanduk, jadi meskipun takut saya lakukan saja. Setidaknya kalaupun saya bakal mati, setidaknya saya sudah berusaha. Saya khawatir dan melihat adik saya menangis dan takut. Jadi saya harus melakukannya, meminta pertolongan dan menyelamatkan saudara saya.” Jelas Jordan, setelah empat tahun berlalu, disebuah wawancara dengan ABC News.

Baik David ataupun Louise, hingga kini tidak dapat memberikan alasan logis mengapa mereka memperlakukan anak-anak mereka seperti itu. Hingga akhirnya pada Februari 2019, keduanya divonis 25 tahun penjara seumur hidup setelah mengaku bersalah atas 14 tuduhan kejahatan. Pada sidang peradilan, David mengatakan bahwa dia tidak pernah bermaksud untuk menyakiti anak-anaknya dan berharap yang terbaik untuk anak-anaknya di masa depan mereka. Dan Louise sambill terisak mengungkapkan permintaan maaf atas semua yang telah dia lakukan. Dan mengaku bahwa dia mencintai anak-anaknya lebih dari yang mereka bayangkan.

Dokter dan perawat ini dijuluki pasangan pencabut nyawa pasien di Italia

Dokter dan perawat ini dijuluki pasangan pencabut nyawa pasien di Italia

SAHMITRA – Para dokter dan perawat merupakan tenaga ahi atau profesional yang paling terpercaya dan diandalkan dari tenaga ahli lainnya seperti penata rambut atau guru. Dan berdasarkan jejak pendapat yang dilakukan di Inggris awal tahun ini, pekerja bidang kesehatan ini mengalahkan politisi, agen properti dan jurnalis. Mereka bahkan adalah pihak yang dipercaya dan diberikan wewenang, di beberapa negara yang melegalkan, untuk melakukan tindakan euthanasia, yakni praktik pencabutan kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara memberikan suntikan yang mematikan. Yang tentunya atas permintaan dan persetujuan pasien sendiri, keluarga dan pihak berkaitan lainnya.

Namun citra baik dan terpuji para dokter dan perawat tersebut tercoreng oleh kasus yang terjadi di Italia. Dimana seorang dokter ahli anestesi dan seorang perawat, yang juga adalah pasangan berselingkuh ditangkap atas kematian setidaknya delapan pasien dan mungkin puluhan lainnya antara tahun 2011 dan 2014.

Dokter tersebut bernama Leonardo Cazzaniga, berusia 65 tahun adalah mantan dokter di bangsal darurat rumah sakit Soronno yang letaknya tidak jauh dari kota Milan. Sementara sang perawat adalah perempuan berusia 44 tahun bernama Laura Taroni. Pasangan yang diberi sebutan “pasangan setan” oleh pers Italia ini terbukti telah memberikan analgesik dengan dosis mematikan dan anestesi pada pasien yang mereka tangani.

Awalnya Laura yang lebih dulu ditangkap dan pada bulan Februari tahun 2016 dijatuhi hukuman 30 tahun penjara atas pembunuhan Massimo Guerra, suami resminya dan ibunya, Maria Rita Clerici. Massimo Guerra meninggal pada bulan Juni tahun 2013 akibat overdosis insulin yang diberikan Laura dalam jangka waktu yang lama, karena Laura berhasil meyakinkan bahwa suaminya tersebut menderita diabetes.

Dua bulan setelah Laura dijatuhi hukuman 30 tahun penjara, menyusul Leonardo Cazzaniga yang dijatuhi hukuman seumur hidup oleh pengadilan Italia karena telah merenggut 10 nyawa, delapan diantaranya adalah pasiennya. Dan juga pembunuhan terhadap ayah mertua Laura, Luciano Guerra.

Di pengadilan, pengacara yang membela Leonardo berargumen bahwa praktik yang dilakukan kliennya telah sesuai dan konsisten dengan perawatan paliatif standar, yakni perawatan pada seorang pasien dan keluarganya yang memiliki penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan cara memaksimalkan kualitas hidup pasien serta mengurangi gejala yang mengganggu, mengurangi nyeri dengan memperhatikan aspek psikologis dan spiritual.

Namun pengacara penuntut melawan argument tersebut dengan menunjukkan bukti bahwa salah satu korban, seorang wanita muda, meninggal setelah dirawat di Rumah Sakit Saronno hanya karena bahu yang terkilir.

Selama penyelidikan, carabinieri, angkatan bersenjata Italia yang juga ditugaskan sebagai kepolisian sipil juga menemukan catatan sekitar 40 kematian yang terjadi di bangsal darurat antara 2011 dan 2014 saat Leonardo bertugas. “Daftar hitam” ini juga mencantumkan nama ayah kandungnya sendiri, yang meninggal pada Oktober 2013 karena penyakit mematikan.

Dipersidangan juga diputar kutipan rekaman percakapan telepon Leonardo dan Laura yang disadap Polisi yang terdengar begitu mengerikan, dimana Laura memberi tahu Leonardo bahwa dia ingin membunuh putranya dan putrinya yang berusia delapan tahun. Menurut salah satu rekannya, Leonardo sering menyebut dirinya sebagai “malaikat maut”. Leonardo juga diduga menggunakan kokain.

Pembunuh mayat dalam koper di Bali yang dideportasi kembali ke AS langsung ditangkap FBI

Pembunuh mayat dalam koper di Bali yang dideportasi kembali ke AS langsung ditangkap FBI

SAHMITRA – Heather Mack berumur 19 tahun dan tengah hamil beberapa minggu ketika dia dan kekasihnya waktu itu, Tommy Schaefer, membunuh ibunya, Sheila von Wiese-Mack di sebuah hotel di Bali ketika mereka tengah berlibur dan memasukkan mayatnya ke dalam sebuah koper. Heather dinyatakan bersalah pada 12 Agustus 2014 dan divonis hukuman 10 tahun penjara di LPP Kelas II A Kerobokan, Bali dengan dakwaan membantu pembunuhan. Sementara Tommy yang dinyatakan bersalah sebagai pelaku pembunuhan divonis 18 tahun di penjara yang sama.

29 Oktober 2021 lalu, setelah menjalani hukuman penjara selama lebih dari tujuh tahun akhirnya Heather bebas. Setelah bebas dia lalu diserahkan ke pihak imigrasi untuk dideportasi. Dan akhirnya untuk pertama kalinya sejak 2014, Heather menginjakkan kakinya kembali ke negara asalnya, Amerika Serikat. Namun begitu mendarat di Bandara Internasional O’Hare Chicago pada hari Rabu (3/11/2021), Heather langsung ditangkap Biro Investigasi Federal (FBI).

Putri Heather, Stella Schaefer yang telah berusia 6 tahun ikut dideportasi ke AS. Setelah permohonanya pada Divisi Keimigrasian Kemenkum HAM Bali agar puterinya itu tetap diizinkan tinggal di Indonesia ditolak. Ketika Heather dibawa oleh FBI, hak asuh darurat Stella diberikan kepada pengacara Heather di AS.

Heather dan Tommy kini menghadapi tuduhan federal dalam konspirasi melakukan pembunuhan dan menghalangi keadilan. Dalam dakwaan federal pada hari Rabu, jaksa menuduh Heather dan Tommy merencanakan pembunuhan saat masih di AS sebelum melaksanakan eksekusinya di Bali. Atas alasan itulah mengapa meski sudah menjalani hukuman penjara di Indonesia, sekembalinya ke AS Heather langsung dicokot penegak keadilan disana.

Pada tahun 20017 di bulan Januari, Heather sempat memposting 3 buah video di YouTube yang diberi judul “Video Pengakuan”. Heather merekam video itu ketika tengah menjalani hukuman didalam penjara. Dalam video tersebut Heather memulainya dengan membahas pepatah yang berbunyi: “The truth will set you free” yang artinya kebenaran akan membebaskanmu. Kemudian dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa dia ingin membebaskan dirinya dari segala kebohongan.

Heather menyatakan bahwa dia tidak menyesal telah membunuh ibunya, Sheila. Karena dia meyakini bahwa Sheila telah membunuh ayahnya, James L. Mack di sebuah hotel saat mereka berlibur di Yunani pada tahun 2006. Padahal menurut keterangan resmi kematian James L. Mack adalah akibat emboli paru-paru. Jadi Sheila Menyusun rencana untuk membunuh Sheila di sebuah hotel sebagai balas dendam.

Heather juga mengakui bahwa dia juga yang telah dengan sedemikian rupa menjebak Tommy untuk melakukan pembunuhan terhadap Sheila dengan ancaman dan memanipulasi ponsel Tommy. Alasannya adalah apabila dia yang membunuh Sheila, dia akan kehilangan hak atas semua harta warisan Sheila sebesar US$ 1juta atau sekitar Rp. 130miliar.

Pengakuan Heather tersebut bertolak belakang dengan pernyataan yang diberikan Heather dan Tommy di persidangan. Karena ketika di pengadilan keduanya mengaku bersama-sama memukul Sheila dengan mangkuk wadah buah besar yang terbuat dari logam di Hotel St. Regis di Nusa Dua, Bali. Selain karena hubungan mereka tidak direstui oleh Sheila, Tommy mengatakan bahwa dia juga kesal karena Sheila kerap kali melontarkan sindiran-sindiran berbau rasis terhadap dirinya. Dan ketika Sheila mengetahui tentang kehamilan Heather, Sheila pun marah besar dan memojokkan Tommy hingga akhirnya Tommy nekad memukul Sheila sampai meninggal dunia. Mayat ibunya yang dipukuli habis-habisan itu lalu dimasukkan oleh Heather dan Tommy kedalam koper. Pembunuhan ini menarik perhatian nasional dan internasional selama bertahun-tahun, sebagian karena foto-foto koper yang tampak terlalu kecil untuk menampung tubuh wanita dewasa.

Keluarga dari Sheila Von Weise-Mack berterima kasih kepada FBI atas penangkapan Heather Rabu kemarin untuk menegakkan keadilan. Sementara ibu dari Tommy Schaefer yang hingga kini masih mendekam di penjara Kerobokan, yakni Kia Walker harus menelan pil pahit setelah gagal bertemu dengan cucunya, Stella Schaefer. Kia mengatakan bahwa dia secara rutin dua kali dalam seminggu menelepon Tommy dan anaknya itu mendukung penuh upayanya untuk mendapatkan hak asuh atas Stella, anak Heather dan Tommy. Dalam sebuah wawancara dengan salah satu stasiun berita di AS, Kia mengatakan bahwa dia selalu menjaga hubungan dengan Stella, dia mencintai Stella dan siap berjuang untuk mendapatkan hak asuh dan memberikan ruang aman untuk Stella.

Namun pengacara Heather bersumpah untuk melawan segala upaya dari pihak manapun yang mencoba untuk mengambil alih hak asuh darurat atas Stella Schaefer yang telah diberikan oleh Heather padanya. Jika terbukti bersalah, Heather bakal menghadapi hukuman penjara seumur hidup. Dan pertanyaan selanjutnya, apakah perlakuan yang sama akan belaku pada Tommy Schaefer ketika dia bebas dari hukuman di Indonesia nanti?

Orientasi sekolah yang berujung celaka pertanda hukum yang lemah dan kebiasaan buruk di masyarakat

Orientasi sekolah yang berujung celaka pertanda hukum yang lemah dan kebiasaan buruk di masyarakat

SAHMITRA – Pada dasarnya, pengertian orientasi adalah sebuah sikap dan perilaku terhadap individu untuk menciptakan harmoni di sebuah tempat baru. Semua orang yang telah menyelesaikan pendidikan baik itu sekolah maupun perguruan tinggi, pastinya tidak asing dengan kegiatan ini. Bahkan dalam dunia pekerjaan terutama di sebuah instansi atau perusahaan pun memberlakukan kegiatan orientasi ini.

Secara singkat tujuan orientasi adalah untuk membantu seseorang memahami sekitarnya dengan baik. Memperkenalkan latar belakang sekolah/kampus/kantor, berkenalan dengan siswa atau pegawai lainnya, dan menciptakan atmosfer yang lebih akrab agar dapat mencapai tujuan sesuai harapan.

Dalam dunia pendidikan sendiri, setidaknya di Indonesia, program orientasi biasanya menjadi wadah untuk melatih ketahanan disiplin, mental, tekad, serta sekaligus mempererat tali persaudaraan para peserta didik baru. Perkenalan dengan sesama siswa baru, guru, kakak kelas, hingga karyawan lain di sekolah itu dapat tercipta dengan lebih sempurna berkat hal ini. Pengalaman seru dan menarik pun bisa didapatkan ketika sudah selesai melewati masa orientasi.

Namun sayangnya kadang kala program orientasi semacam ini malah dimanfaatkan oleh pihak-pihak dengan posisi atau status tertentu yang alih-alih memberikan contoh yang baik dan memberikan rasa nyaman, malahan menyalahgunakan kedudukan dan kekuasaan yang mereka miliki. Mereka menekan, merundung dan menebar rasa takut pada siswa atau karyawan baru.

Baru-baru ini kasus orientasi yang berujung maut lagi-lagi terjadi di kota Solo. Yang dialami oleh seorang mahasiswa semester III Mahasiswa semester III Prodi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Jurusan Sekolah Advokasi UNS Solo, bernama Gilang Endi Saputra yang berusia 21. Polisi menduga, Gilang tewas akibat tindak kekerasan saat mengikuti Diklatsar Resimen Mahasiswa (Menwa). Berdasarkan hasil autopsi sementara, kata Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol M Iqbal Alqudusy, korban meninggal akibat penyumbatan di bagian otak akibat terkena beberapa pukulan di bagian kepala.

Diklatsar Menwa adalah kepanjangan dari pendidikan dan latihan dasar Resimen Mahasiswa (Menwa). Ini adalah proses awal dalam pembentukan karakter dasar yang akan ditanamkan ke setiap individu yang mengikuti kegiatan tersebut.

Menwa memiliki semboyan “Widya Castrena Dharma Siddha” yang memiliki arti “penyempurnaan pengabdian dengan ilmu pengetahuan dan ilmu keprajuritan”. Menwa bukan militer, tetapi berada di bawah naungan TNI yang bekerja berdasarkan SKB 3 Menteri (Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri) Menteri Pertahanan, Menteri Pendidikan Nasional, dan Menteri Dalam Negeri.

Tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negara tetangga, Singapura pun turut terjadi program orientasi yang tidak berjalan sebagimana mestinya. Seperti yang dilansir dari The Straits Times, beberapa mahasiswi baru mengeluhkan dan menilai program orientasi yang harus mereka tempuh itu sebagai kegiatan yang menjijikkan karena banyak sekali kegiatan yang berunsur seksual berlebihan dan melecehkan perempuan.

Menurut saksi dengan nama samara Chole berusia 19 tahun, dia merasa sangat tidak nyaman dan terpasa keluar dari ruangan ketika permainan ‘burning bridges’ berlangsung. ‘Burning brides’ adalah permainan yang mewajibkan seseorang untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan tanpa terkecuali. Namun pertanyaan-pertanyaan tidak pantas yang biasanya dikeluarkan. Seperti pertanyaan cairan dari tubuh pria apakah yang tidak mau kamu minum? Siapa teman perempuanmu yang bertingkah seperti pelacur? Siapa temanmu yang bakal jadi perawan tua sampai mati?

Saksi lain, bernama Kim menceritakan bahwa kegiatan yang paling mengejutkan dan membuatnya trauma adalah permainan seperti memperagakan pemerkosaan antar kakak-beradik. Seorang mahasiswi diperintahkan untuk berbaring terlentang di lantai, kemudian mahasiswa lain diperintahkan untuk berakting menendang pintu dan berteriak “Adik, kakak mau masuk!” lalu mahasiswa harus menjawab “Adik tidak mau”. Kemudian mahasiswa menedang kaki mahasiswi hingga terbuka dan dia harus melakukan push-up diatas tubuh mahasiswa tersebut.

Ini hanya dua contoh dari aktivitas berbau seksual yang terjadi. Ini mungkin menjelaskan mengapa sebagian besar dari wanita yang merasa dilecehkan secara seksual oleh nyanyian dan permainan yang terdapat didalam susunan acara orientasi itu melapor ke pihak kampus.

Namun kenyataan bahwa kegiatan semacam itu masih terjadi hingga hari ini meskipun sudah banyak yang mengeluh dan melapor dan universitas berjanji untuk menyelidiki dan mengambil tindakan terhadap pelanggar, menyiratkan bahwa tidak banyak yang berubah. Peraturan dan hukuman yang masih lemah dan kebiasaan masyarakat yang buruk belum dapat diubah.