Pria yang buang sesajen di Gunung Semeru dikenakan pasal berlapis

Pria yang buang sesajen di Gunung Semeru dikenakan pasal berlapis

SAHMITRA – Belakangan viral di media sosial sebuah video singkat yang menampilkan seorang laki-laki mengenakan sarung membuang dan menendang sesajen yang berada di lokasi bencana erupsi gunung Semeru di Kabupaten Lumanjang beberapa waktu yang lalu.

Tidak lama setelah video yang memancing emosi dan kemarahan netizen itu viral, pelakunya pun segera tertangkap. Pelaku diketahui bernama Hadfana Firdaus berusia 31 tahun yang merupakan penduduk asli NTB yang menetap di Yogyakarta setelah menikah dengan perempuan Bantul. Dia ditangkap di rumahnya di Gang Dorowati, Pringgolayan, Bantul DIY pada Kamis (13/1/2022) pukul 22:40 WIB tanpa perlawanan. Penangkapan pelaku ini atas kerjasama Polres Lumajang, Polda Jatim, Polda Jateng, Polda DIY dan Polda NTB yang melakukan pencarian.

Saat dimintai keterangan, Hadfana mengakui perbuatannya itu berdasarkan pemahaman keyakinan yang dia anut. Lebih lanjut Hadfana menjelaskan bahwa kejiadian tersebut berlangsung ketika dirinya tengah menjadi relawan bencana erupsi gunung Semeru. Dia membuang dan menendang sesajen yang ada disekitar lokasi dikarenakan sesajen-sesajen tersebut tidak sesuai dengan kepercayaan yang dia yakini. Dia lalu meminta teman sesama relawan untuk mengambil video menggunakan telepon gengam miliknya. Yang kemudian, video tersebut disebarkan ke grup WA dan langsung viral di media sosial.

Pihak kepolisian sudah mengamankan barang bukti yakni sesajen yang ada di TKP, rekaman video tersebut dan telepon genggam milik Hadfana. Hadfana pun kini telah resmi dijadikan tersangka dan dikenakan Pasal 156 dan Pasal 158 KUHP tentang penghinaan terhadap golongan tertentu dengan ancaman hukuman penjara 4 tahun. Selain itu, terkait video yang telah tersebar luas, polisi juga dapat menjerat Hadfana dengan UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman hukuman penjara 6 tahun dan denda paling banyak Rp. 1 miliar.

Aksi tidak terpuji Hadfana itu dinilai telah menyinggung dan menuai kecaman dari berbagai pihak lantaran dinilai tidak menghormati keyakinan dan kultur masyarakat setempat. Sesajen yang erat hubungannya dengan kepercayaan Animisme, hingga kini masih dipercaya sebagai bagian dari upacara sakral. Dan oleh karena itu Hadfana telah menyatakan permintaan maaf kepada masyarakat Indonesia.

“Seluruh masyarakat Indonesia yang saya cintai, kiranya apa yang kami lakukan dalam video itu dapat menyinggung perasaan saudara, kami mohon maaf yang sedalam-dalamnya,” kata Hadfana Firdaus dikutip dari Antara pada Jumat (14/1/2022).

Bukan joki, kakek asal India ketagihan vaksin COVID-19 sudah disuntik 11 kali

Bukan joki, kakek asal India ketagihan vaksin COVID-19 sudah disuntik 11 kali

SAHMITRA – Di tanah air belakangan ini marak beredar berita bahwa di beberapa daerah terdapat kasus joki vaksinasi Covid-19 yang dimana pelaku-pelakunya kini harus berurusan dengan pihak kepolisian. Salah satu kasus praktek joki vaksinasi ini terjadi di kota Semarang. Kapolrestabes Semarang, Kombes Irwan Anwar, yang dilansir dari news.detik.com, menyatakan bahwa kasus tersebut terungkap pada 3 Januari 2022.

Aksi tiga orang ibu rumah tangga, CL (37), IO (48) dan DS (41) terungkap dan berhasil digagalkan oleh tenaga medis yang menyadari adanya kejanggalan ketika melakukan screening indentitas dan ciri-ciri fisik yang tidak sesuai sebelum dilakukannya vaksinasi. CL adalah orang yang harusnya divaksin. CL membutuhkan sertifikat vaksin untuk bepergian ke luar kota tapi tidak mau divaksin dengan alasan bahwa dirinya adalah seorang penyitas COVID-19 dan memiliki penyakit komorbid. CL lalu menceritakan kebutuhannya tersebut pada IO yang kemudian mengenalkannya pada DS yang kebetulan sedang membutuhkan uang dan bersedia menjadi joki dengan bayaran Rp. 500ribu.

Kasus lainnya terjadi di provinsi Sulawesi Selatan. Warga asal kabupaten Pinrang bernama Abdul Rahim (49) telah menjalani 17 kali vaksinasi COVID-19 sebagai joki dengan memungut bayaran Rp. 100ribu hingga 800ribu.

Lain halnya dengan Abdul Rahim yang menerima vaksin COVID-19 berkali-kali demi uang. Seorang kakek berusia 85 tahun di India bernama Brahmdeo Mandal, mengaku telah menerima vaksin COVID-19 sebanyak 11 kali. Kakek pensiunan petugas pos ini mengatakan bahwa suntikan-suntikan yang dia terima tersebut membantunya menghilangkan rasa sakit dan nyeri yang telah lama dia derita dan meningkatkan nafsu makannya. Dia menambahkan bahwa dulu untuk berjalan dia membutuhkan tongkat, namun setelah mendapat suntikan vaksin untuk COVID-19 dia tidak lagi membutuhkan tongkat tersebut.

Kakek Mandal bahkan rela melakukan perjalanan ke kamp-kamp tempat vaksinasi di Madhepura, tempat tinggalnya, sampai ke distrik-distrik tetangga yang jaraknya lebih dari 100km untuk mendapatkan vaksinasi. Dan dia menyimpan catatan terperinci dalam tulisan tangan tentang tanggal, waktu dan kamp​​​​ tempat dia menerima 11 dosis yakni antara Februari dan Desember tahun 2021.

Sejak vaksinasi dimulai pada 16 Januari tahun lalu di India, terdapat dua vaksin yang diproduksi secara lokal, yakni Covishield dan Covaxin. Vaksin dua dosis ini memiliki jeda empat hingga enam minggu setelah dosis pertama. Tapi dalam sebuah temuan dari kasus ini, kakek Mandal berhasil menerimal dua suntikan dalam waktu setengah jam pada hari yang sama dan masing-masing suntikan tersebut terdaftar di portal vaksin India yang bernama CoWin.

Pakar kesehatan masyarakat Chandrakant Lahariya mengatakan bahwa penyebab hal tersebut bisa terjadi adalah karena data vaksinasi dari kamp tidak diunggah di portal secara realtime atau data-data baru diproses setelah jeda yang lama. Kemungkinan lain adalah karena adanya gangguan sistem atau jaringan pada portal yang disebabkan oleh kelalaian petugas yang menjaga kamp vaksinasi.

Perawat hamili pasien lumpuh hingga lahirkan anak laki-laki

Perawat hamili pasien lumpuh hingga lahirkan anak laki-laki

SAHMITRA – Nathan Sutherland, seorang mantan perawat ditangkap oleh pihak kepolisian Phoenix, Amerika Serikat pada Januari 2019 dengan tuduhan pemerkosaan dan menghamili seorang pasien perempuan dalam kondisi lumpuh vegetatif yang merupakan salah satu pasien yang berada dibawah pengawasannya di sebuah faskes bernama Hacienda HealthCare. Sutherland akhirnya terbukti bersalah di pengadilan yang digelar pada Desember 2021 dan diganjar hukuman 10 tahun penjara.

Hacienda HealthCare adalah fasilitas nirlaba milik swasta yang menampung pasien yang perawatannya dibayar melalui program Medicaid. Program Medicaid sendiri adalah program kolaborasi antara federal dan negara bagian di AS yang menyediakan kesehatan gratis atau murah untuk warga AS yang berpenghasilan rendah, keluarga dan anak-anak, wanita hamil, orang tua, dan orang cacat.

Sutherland mulai bekerja di Hacienda HealthCare sejak Januari 2012. Dalam form isian latar belakang yang dia tulis, dirinya menyakatan bahwa tidak pernah memiliki catatan kriminal dan tidak pernah menerima tindakan disipliner apapun sebelumnya. Dan setelah dilakukan pemeriksaan latar belakang yang ekstensif oleh pejabat di Hacienda HealthCare sendiri, akhirnya Sutherland ditugaskan ke “Fasilitas Perawatan Menengah – Cacat Intelektual sejak 2014.

Bermula ketika pada akhir tahun 2018, seorang staff di faskes Hacienda HealthCare menelepon 911 dan melaporkan bahwa terdapat seorang pasien lumpuh yang melahirkan, dimana selama itu tidak ada satu pun pihak faskes yang mengetahui mengenai kehamilan tersebut.

Korban adalah seorang perempuan berusia 29 tahun. Berada dalam kondisi lumpuh vegetatif selama 14 tahun karena nyaris tenggelam ketika masih berusia 3 tahun. Dia menderita cacat intelektual akibat kejang yang dia alami di masa kanak-kanak. Dia dapat mengerakan bagian tubuh, leher dan kepalanya, tetapi tidak dapat berbicara. Ketika itu korban didapati tengah dalam kondisi proses melahirkan ketika salah satu pegawai faskes ingin mengganti pakaiannya.

Comatose pregnancy atau kehamilan koma yang diakibatkan oleh kekerasan seksual saat korban tidak sadarkan diri untuk sementara atau permanen, atau mati otak, sangat jarang terjadi namun pernah terjadi sebelumnya di tahun 2015 dengan kasus serupa, yakni pasien koma yang diperkosa dan hamil. Namun kasus ini tidak pernah diproses secara hukum karena keputusan keluarga pasien yang bersangkutan. Kehamilan koma secara medis memiliki risiko yang cukup tinggi dan mengakibatkan permasalah etika yang kompleks bagi keluarga korban.

Menanggapi laporan tersebut, kepolisian Phoenix yang sudah mengantongi surat izin, pada 8 Januari 2019 meminta pihak Hacienda HealthCare untuk menyerahkan sampel tes DNA semua pegawai laki-laki yang bekerja disana. Dengan tujuan untuk menemukan pelaku yang bertanggung jawab telah memperkosa dan menghamili pasien yang dalam keadaan lumpuh total dan tidak berdaya sama sekali.

Sampel DNA bayi laki-laki yang telah lahir dari korban lalu digunakan pihak kepolisian untuk dicocokkan dengan sampel DNA para staff laki-laki di Hacienda HealthCare. Hasilnya test sampel DNA Nathan Sutherland lah yang ternyata cocok dengan bayi tersebut. Sutherland pun segera ditangkap.

Meskipun diawal membantah dan pengacaranya sempat berargumen bahwa tidak ada bukti yang dapat ditunjukkan dimana Sutherland tengah memperkosa korban, namun akhirnya Sutherland mengakui bahwa dia telah memperkosa korban berulang kali selama dia bertugas merawat korban tersebut hingga hamil dan akhirnya melahirkan. Akibat perbuatannya, dia tidak hanya harus mendekam di penjara selama 10 tahun, namun juga dilarang bekerja sebagai perawat seumur hidup, namanya terdaftar sebagai pelaku kejahatan seksual dan berada dalam program pengawasan seumur hidup.

Selain menuntut keadilan pada Sutherland, pihak keluarga korban pun menuntut negara bagian Arizona dengan tuduhan “sangat lalai” dalam memantau, mengawasi, dan menilai pengoperasian Hacienda HealthCare. Dimana pada akhirnya pihak keluarga meraih kesepakatan penyelesaian senilai $ 7,5juta.

Keluarga korban juga melayangkan gugatan hukum terhadap dua orang dokter Hacienda HealthCare yang ditugaskan untuk merawat korban, yakni Dr. Phillip Gear Jr. dan Dr. Thanh Nguyen. Keduanya terbukti gagal dalam melaksanakan kewajiban mereka secara memadai sebagai Primary Care Physician (PCP) atau dokter perawat primer, apakah itu disebabkan oleh rasa bosan, kelemahan fisik, kelelahan atau alasan lain.

Dr. Thanh Nguyen telah mencapai perjanjian kesepakatan dengan keluarga korban yang nilai atau bentuknya dirahasiakan. Sementara Dr. Phillip Gear Jr. secara sukarela telah menyerahkan lisensi kedokterannya dan meraih perjanjian kesepakatan senilai $ 15juta dengan pihak keluarga korban

Tak cukup hanya itu saja dampak kasus ini, beberapa anggota senior Hacienda HealthCare menyatakan pengunduran diri mereka tidak lama setelah beritanya menjadi konsumsi dan perbincangan publik. Termasuk diantaranya adalah CEO Hacienda HealthCare, Bill Timmons, Direktur spesialis terapi, Kerri Masengale, Ketua Dewan yang telah menjabat selama 4 dekade, Tom Pomeroy dan beberapa anggota senior lainnya.

Saat ini bayi laki-laki yang dilahirkan oleh korban telah berusia 3 tahun dan tinggal bersama orangtua korban. Korban juga tidak lagi dirawat di Hacienda HealthCare.