Salvador Ramos, pelaku penembakan masal sekolah kedua terparah sepanjang sejarah di AS

Salvador Ramos, pelaku penembakan masal sekolah kedua terparah sepanjang sejarah di AS

SAHMITRA – 19 anak kelas tiga dan empat sekolah dasar dan dua orang guru tewas sementara 17 orang lainnya terluka, termasuk didalamnya tiga orang dari pihak kepolisian dalam peristiwa penembakan yang terjadi di Robb Elementary School, Ulvade, Texas, Amerika Serikat pada Rabu, 25 Mei 2022 kemarin. Peristiwa ini merupakan penembakan masal di dalam sekolah kedua terburuk sepanjang sejarah di Amerika Serikat.

Pelakunya adalah seorang remaja laki-laki berusia 18 tahun, Salvador Ramos. Salvador juga dituduh telah menembak neneknya di bagian wajah sebelum mengendarai mobil milik kakeknya menuju ke sebuah sekolah dasar yang letaknya tidak jauh dan melakukan penembakan secara acak dan masal.

“Siapa pun yang menembak wajah neneknya sendiri pastinya menyimpan kejahatan di hatinya,”

 “Tapi jauh lebih jahat jika seseorang menembak mati anak-anak kecil.” kata Gubernur Texas Greg Abbott dalam konferensi pers.

Segera setelah berusia 18 tahun, usia dimana seseorang bisa membeli senjata api secara legal di AS, Salvador membeli senapan semi-otomatis di toko senjata lokal pada 17 Mei. Pada hari berikutnya ia membeli 375 butir amunisi dan kembali ke toko senjata yang sama pada hari Jumat untuk membeli senapan semi-otomatis keduanya. Senjata tersebut yang kemudian ia gunakan untuk melakukan penembakan di sekolah dasar Robb.

Letnan Christopher Olivarez, juru bicara Departemen Keamanan Publik Texas, mengatakan pada saat melakukan aksinya, Salvador mengenakan rompi yang digunakan untuk menyimpan amunisi ekstra tanpa pelat baja yang biasanya dikenakan petugas penegak hukum. Salvador ditemukan di dalam kelas empat di sekolah dengan senapan. Senapan lainnya kemudian ditemukan di truknya di dekat kampus. Penyelidik menemukan “banyak amunisi” di tas ransel yang dijatuhkan Salvador saat memasuki gedung setelah menembak dan melukai seorang petugas polisi sekolah.Untuk menghentikan aksinya petugas kepolisan terpaksa melesatkan tembakan yang mengenai dan mencabut nyawa Salvador.

Menurut teman dan keluarga, Di sekolah menengah dan sekolah menengah atas, Salvador mengalami perundungan karena gangguan bicara yang ia derita sejak masih kecil. Beberapa teman sekelas mengatakan bahwa Salvador menunjukkan perilaku yang semakin mengganggu selama dua tahun terakhir. Salvador dikenal suka berkelahi, mengancam dan menguntit sesama siswa.

Santos Valdez Jr., 18 tahun, mengaku mengenal Ramos sejak duduk di bangku sekolah dasar. Mereka berteman sampai perilaku Ramos mulai memburuk. Mereka dulu sering bermain video game seperti Fortnite dan Call of Duty, permainan yang tergolong dalam kategori kekerasan. Tapi kemudian Salvador berubah. Santos mengatakan bahwa ia pernah melihat Salvador di sebuah taman di mana mereka sering bermain basket dan memiliki luka di sekujur wajahnya. Salvador pertama kali mengatakan seekor kucing telah menggaruk wajahnya. Namun kemudian Salvador mengakui bahwa dia sendiri yang telah menoreh wajahnya berkali-kali dengan pisau dengan alasan bahwa dia menganggap itu sesuatu yang menyenangkan.

Stephen Garcia, yang menganggap dirinya sahabat Ramos di kelas delapan, mengatakan Salvador mengalami perundungan dan intimidasi oleh banyak orang karena Salvador menderita gagap dan cadel yang cukup parah. Banyak orang mengintimidasi Salvador mengenai banyak hal, entah itu soal media sosial, games atau yang lainnya. Sebagai contoh, suatu kali, Salvador memposting foto dirinya mengenakan eyeliner hitam, yang menimbulkan banyak komentar menggunakan istilah yang menghina, seperti “Gay”.

Sepupu Salvador, Mia, mengatakan dia pernah melihat siswa mengejek kesulitan bicara Salvador ketika mereka bersekolah di sekolah menengah bersama. Kemudian Salvador mulai mengeluh kepada neneknya bahwa dia tidak ingin kembali ke sekolah. Salvador akhirnya putus sekolah. Dia mulai mengenakan serba hitam dan sepatu bot militer besar. Dia memanjangkan rambutnya. Sebelum penembakan, Salvador sempat memposting foto koleksi senjata barunya di Instagram.

Teman lain mengatakan Salvador kadang-kadang berkeliling dengan teman lain menggunakan mobil di malam hari dan menembak orang secara acak dengan pistol BB. Dia juga sengaja mengempesi ban atau menggores mobil orang.

Ruben Flores, 41, yang tinggal bersebelahan dengan keluarga Salvador mengatakan ibu Ramos menggunakan narkoba, yang sering memicu permasalahan di rumah. Ruben mengatakan pernah mencoba menjadi semacam figur ayah bagi Salvador. Namun seiring bertambahnya usia, perubahan dalam diri Salvador makin akut dan lebih jelas terlihat oleh tetangga yang lain. Ruben sering melihat polisi mampir ke rumah Salvador atau menyaksikan pertengkaran hebat antara Salvador dan ibunya.

 

Perempuan di Inggris nikahi kucing kampung peliharaannya agar tidak diusir oleh tuan tanah

Perempuan di Inggris nikahi kucing kampung peliharaannya agar tidak diusir oleh tuan tanah

SAHMITRA – Deborah Hodge, seorang perempuan Inggris berusia 49 tahun ini sangat mencintai hewan peliharaannya yakni kucing kampung yang sering disebut oleh orang Inggris dengan ‘moggie’. Hodge memutuskan untuk menikah secara resmi dengan ‘moggie’ nya yang bernama India untuk menyelamatkan India dari tuan tanah yang selama bertahun-tahun memaksanya untuk menggembalikan India ke tempat penampungan hewan liar, tempat dimana Hodge mengadopsi India.

Hodge mengenakan setelan tuksedo, sementara pengantin kucingnya mengenakan dasi kupu-kupu dan pakaian berlapis emas dalam sebuah upacara di sebuah taman yang dipimpin oleh seorang teman yang ditahbiskan secara hukum.

Hodge, seorang single mother, selama bertahun-tahun telah menjadi sasaran terror tuan tanahnya yang kerap memaksanya untuk mengembalikan hewan-hewan kampung peliharaanya. Terlebih ketika Hodge kehilangan pekerjaanya, dia semakin khawatir bakal diusir dari rumahnya di Sidcup, London. Agar terbebas dari terror paksaan dari tuan rumah manapun, Hodge memilih ‘pernikahan’ sebagai cara untuk menunjukkan kepada tuan tanah di masa depan bahwa dia tidak akan terpisahkan dari India.

Bagi Hodge, India adalah hal terpenting dalam hidupnya setelah anak-anaknya. Dia juga mengatakan bahwa dia lebih baik hidup dijalanan daripada hidup tanpa moggie kesayangannya, India.

Legenda dibalik Sesshō-seki, batu keramat di Jepang yang belum lama ini terbelah dua

Legenda dibalik Sesshō-seki, batu keramat di Jepang yang belum lama ini terbelah dua

SAHMITRA – Di kaki gunung Chausu yang berada di prefektur Tochigi, Jepang, pada sebidang tanah tandus yang dipenuhi bebatuan, terdapat ditengah-tengahnya sebuah batu besar berwarna gelap yang diikat dengan shimenawa dan shide.

Shide, kertas berbentuk zigzag dan tali jerami beras Shimenawa biasa digunakan dalam berbagai ritual pemurnian dalam agama Shinto. Tempat atau benda yang terikat oleh Shimanewa dan Shide ini menunjukkan ruang suci atau murni. Di mana roh hidup didalamnya.

Ya, batu tersebut bukan lah sembarang batu. Itu adalah Sesshō-seki atau “Batu Pembunuh” yang menurut mitos Jepang merupakan rumah bagi roh rubah jahat berekor sembilan. Maret lalu batu itu ditemukan terbelah dua, yang memicu ketakutan di antara penduduk setempat dan pengguna media sosial yang meyakini bahwa terbelahnya batu tersebut menandakan roh rubah jahat yang selama ini terkurung didalamnya kini bebas berkeliaran.

Kisah dari rubah jahat ini berawal di tahun 1000 sebelum Masehi di Tiongkok. Menurut mitos orang Tiongkok disebut Huli jing yang adalah makhluk-makhluk mitologi yang mampu berubah-ubah bentuk. Huli jing dapat berupa roh baik atau jahat. Huli jing yang paling terkenal adalah rubah berekor sembilan yang disebut jiuweihu. Mengapa rubah? Karena rubah dipercaya adalah hewan mistis yang dapat berubah bentuk menjadi seorang manusia.

Konon, istri dari Kaisar Dinasti Yin, adalah perwujudan dari rubah jahat. Dia menipu sang Kaisar untuk memperlakukan rakyatnya dengan buruk hingga mengakibatkan pemerintahannya digulingkan. Kemudian rubah jahat itu pindah ke India dan menjadi istri pertama sang pangeran. Dia menggodanya untuk memenggal ribuan orang. Tapi salah satu pengikut sang pangeran berhasil membuka kedoknya dan si rubah jahat langsung menghilang. Pada tahun 753, rubah jahat berubah wujud seorang gadis muda dan menyelinap ke kapal utusan Jepang yang hendak kembali ke Jepang.

Sampai di Jepang, rubah jahat menyamar sebagai wanita istana yang anggun. Menyebut dirinya Tamamo-no-Mae, ia bertugas di istana Kaisar yang sudah pensiun yakni Kaisar Toba (1103-1156) dan berhasil membuat Kaisar itu jatuh cinta padanya. Namun, tiba-tiba Kaisar Toba jatuh sakit dan keadaaanya semakin parah.  Tidak ada yang mengetahui secara jelas mengapa sang Kaisar tiba-tiba jatuh sakit. Hingga akhirnya seorang peramal, Abe Yasunari, akhirnya mengetahui dan mengungkap rencana rubah jahat untuk menghancurkan bangsa. Mereka bertarung dengan hebat dan akhirnya rubah menunjukkan ekornya, dan dia memiliki Sembilan, kemudian dia melarikan diri ke Nasu, salah satu area di prefektur Tochigi.

80.000 tentara Kekaisaran dikerahkan untuk memburu rubah jahat. Rubah jahat melakukan perlawanan tetapi tentara akhirnya memojokkan rubah di gang buntu. Kemudian, salah satu prajurit melepaskan busur panah ke arah rubah. Rubah jahat itu kemudian berubah bentuk menjadi batu raksasa yang mengeluarkan racun yang kuat. Setiap orang atau hewan yang mendekati batu itu terbunuh oleh gas beracunnya. Tidak ada burung, serangga atau pun tanaman yang bisa hidup didekatnya. Maka dari itu penduduk sekitar menamai batu itu Sesshō-seki yang artinya batu pembunuh.

Banyak biksu mencoba meredakan amarah rubah jahat tetapi tidak satupun yang berhasil menghilangkan racunnya. Berabad-abad kemudian, biksu Gennō (1329-1400) datang ke Nasu. Dia memurnikan tubuh dan jiwanya dengan pemandian air panas sebelum pertempuran. Kemudian dia mulai melantunkan mantra sutra khusus berulang-ulang dengan sungguh-sungguh dan memukul batu itu dengan palu besar. Batu itu lalu pecah menjadi tiga bagian. Satu terbang ke prefektur Fukushima, satu lagi mendarat di Hiroshima dan satu lagi tetap berada di Nasu.

Sejak itu, ritual malam hari yang disebut Gojinkasai dilakukan setiap hari Minggu terakhir bulan Mei untuk menjinakkan roh rubah jahat. Penabuh genderang memakai pakaian putih, wig emas dan topeng rubah sambil menabuh genderang khusus yang disebut genderang rubah sembilan ekor. Dan peserta ritual lainnya membawa obor. Mereka semua berjalan dari Kuil Nasu Onsen ke Sesshō-seki.

Perempuan hamil di Pakistan memalu kepalanya atas saran seorang dukun untuk dapatkan anak laki-laki

Perempuan hamil di Pakistan memalu kepalanya atas saran seorang dukun untuk dapatkan anak laki-laki

SAHMITRA – Bagi kebanyakan orang di Asia terutama, memiliki anak laki-laki lebih disukai dibadingkan dengan anak perempuan.  Karena kentalnya budaya patriaki yang ada, dimana laki-laki dipersepsikan dan ditempatkan berfungsi produktif, sebagai pencari nafkah yang dianggap bertanggung jawab penuh terhadap keberlangsungan rumah tangga dan untuk meneruskan nama keluarga yang sangat dihargai. Sementara perempuan dipersepsikan dan ditempatkan semata-mata berfungsi reproduktif.

Seorang perempuan Pakistan yang tengah mengandung, yang identitasnya sengaja ditutupi untuk melindungi ruang privasinya, telah memiliki tiga anak perempuan dan amat sangat menginginkan anak laki-laki. Perempuan yang tinggal di sebuah perkampungan bernama Peshawar, demi upayanya untuk memastikan bahwa anak yang tengah ia kandung tersebut adalah seorang anak laki-laki lalu menemui seorang dukun.

Prakter perdukunan atau ‘orang pintar’ rupanya sangat umun di negara Pakistan. Orang-orang berbondong-bondong pergi untuk menemui ‘penyembuh’ tidak berlisensi ini untuk mendapatkan pemecahan atas berbagai macam problematika kehidupan mulai dari penyakit kesehatan hingga masalah hubungan dan uang.

Juga berdasarkan rasa takut dan khawatir suaminya akan pergi meninggalkannya apabila anak dalam kandungannya itu lagi-lagi adalah anak perempuan, perempuan hamil ini menemui seorang dukun yang kemudian memberikan kepadanya jampi-jampi yang disebut Taweez oleh orang Pakistan dan sebuah paku. Pun dukun tersebut menyarankan pada perempuan hamil itu untuk memalu kepalanya dengan paku  dengan jaminan anak yang akan dilahirkan adalah anak laki-laki.

Sepulangnya dari rumah dukun tersebut, perempuan hamil itu langsung mempraktekkan apa yang telah disarankan oleh sang dukun yakni memalu kepalanya dengan paku yang telah diberikan kepadanya. Teriak kesakitannya mengejutkan anggota keluarga lainnya yang tinggal serumah dengannya. Rupanya perempuan itu mencoba untuk melepaskan paku tadi dan gagal. Ia pun lalu dibawa ke rumah sakit terdekat dengan keadaan amat kesakitan.

Beruntungnya operasi pengangkatan paku 2 inci yang tertanam di tengkorang kepala perempuan hamil itu berhasil.

“Perempuan itu mengatakan bahwa seorang wanita di wilayahnya melakukan hal yang sama dan melahirkan anak laki-laki meskipun USG menunjukkan anaknya yang belum lahir adalah perempuan,” kata Dr. Haider Suleman Khan, ahli bedah saraf residen di Rumah Sakit Lady Reading, tempat perempuan hamil itu dirawat pada media.

Penyelidikan polisi atas kasus ini sedang berlangsung. Pihak berwenang masih mencari sang dukun untuk diinterogasi. Kepala Polisi Peshawar, Abbas Ahsan mengatakan bahwa tim khusus telah dibentuk untuk menyelidiki insiden tersebut.

Pembunuhan kejam perempuan Kuwait yang terjadi di bulan Ramadan

Pembunuhan kejam perempuan Kuwait yang terjadi di bulan Ramadan

SAHMITRA – Ramadhan adalah bulan suci. Bulan di mana umat Islam memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan berpuasa selama sebulan penuh. Bulan yang dinanti-nantikan oleh orang-orang beriman untuk menyucikan hati mereka, memperbaharui iman, mencari pengampunan, dan meningkatkan disiplin diri. Ini juga merupakan waktu yang tepat untuk fokus pada apa yang paling penting dan positif dalam kehidupan orang percaya.

Namun jauh dari makna bulan Ramadhan yang telah diperbuat oleh Fahad Subhi Mohammed. Melansir Alarabiya.net, pada bulan April 2021 lalu, Fahad Subhi Mohammed dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan kriminalitas negara di Timur Tengah, Kuwait atas tuduhan pembunuhan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang.

Tindak pembunuhan tersebut dilakukan oleh Fahad pada bulan suci Ramadhan dan di siang hari bolong. Korbannya adalah seorang perempuan Kuwait bernama Farah Hamza Akbar. Fahad dengan sengaja menabrakkan mobilnya pada mobil yang tengah dikendarai oleh Farah dan anak perempuannya dan kemudian menculik mereka. Didalam mobil itu Fahad menikam dada Farah beberapa kali didepan anak Farah. Setelah itu Fahad mengendarai mobil dan menuju ke rumah sakit, meninggalkan Farah yang sekarat dan anaknya di depan pintu rumah sakit dan kemudian ia melarikan diri.

Tidak butuh waktu lama, pihak kepolisian berhasil menangkap Fahad. Fahad mengakui perbuatannya dan menyatakan alasan ia membunuh Farah adalah karena perempuan itu telah menolak lamarannya.

Setelah diusut lebih lanjut ternyata Farah telah dua kali mengajukan surat pengaduan kepada pihak kepolisian terhadap Fahad atas tindak penculikan dan pengancaman. Fahad sempat ditahan oleh kepolisian namun kemudian dibebaskan dengan jaminan. Setelah bebas, Fahad memanfaatkan kebebasan itu dengan pergi untuk menghilangkan nyawa Farah.

Dana Akbar, saudari dari Farah mengunduh sebuah video di media sosial. Di video tersebut Dana menjelaskan bahwa kakaknya telah mengajukan dua kasus terhadap Fahad dan bagaimana dalam kedua kasus tersebut Fahad dibebaskan dengan jaminan. Dana menambahkan dia bahkan mengatakan pada jaksa berkali-kali bahwa Fahad sangat berbahaya bagi keluarganya. Namun sepertinya tidak ada seorang pun yang perduli dan mereka membiarkan Fahad bebas hingga akhirnya membunuh Farah.