4 kencan online yang berujung dengan kematian

SAHMITRA –Kencan online tampaknya menjadi cara praktis untuk berkencan bagi kebanyakan orang. Menurut penelitian, sekitar 60 persen peserta memiliki pengalaman positif dengan platform kencan. Banyak orang berhasil menemukan pasangan romantis secara online, baik mereka mencari sesuatu yang kasual atau jangka panjang.

Sebagian besar orang menggunakan aplikasi kencan online karena memberikan kemudahan dalam mengatur preferensi dengan siapa mereka ingin mengobrol secara online untuk mengenal mereka sebelum kencan tatap muka. Sebagian besar hal terburuk yang dapat terjadi adalah orang yang ditemui tidak sesuai dengan ekspektasi atau alasan lainnya. Tapi apa yang terjadi ketika seseorang hilang saat atau setelah berkencan dengan seseorang yang mereka temui di sebuah aplikasi?

Faktanya, ditemukan banyak predator yang menggunakan aplikasi kencan untuk memikat korban mereka — beberapa untuk perampokan atau penyerangan, tetapi yang lain berakhir dengan pembunuhan. Berikut adalah beberapa kasus kencan online yang berujung maut.

  1. Interupsi maut

Pada 19 Oktober 2021, Heidi Carter perempuan berusia 36 tahun bertemu dengan seorang wanita melalui aplikasi kencan. Dia mengundang wanita dan kekasih wanita tersebut ke penginapannya untuk mabuk-mabukan dan narkoba. Setelah berpesta sebentar, ketiganya mulai terlibat dalam aktivitas seksual. Yang diluar dugaan adalah di tengah aksi tersebut kemudian diinterupsi oleh pacar Carter, Carey Hammond. Hammond menjadi marah dan mulai memukuli pasangan itu dengan tongkat baseball, mengikat pria itu, Timothy Ivy, dengan lakban dan menyerang wanita itu secara seksual. Hammond kemudian mencekik Ivy sampai mati. Setelah itu, Carter membunuh wanita itu dengan pistol milik Hammond.

Carter yang bertugas membersihkan sisa-sisa kejahatan mereka, menyewa seorang wanita untuk membantunya. Wanita pembersih menemukan tubuh Ivy dan berhasil melarikan diri dari rumah dan memberi tahu polisi. Ketika polisi tiba, Hammond ditembak dan dibunuh saat terjadi pertengkaran, dan Carter ditangkap.

  1. Pengakuan sang pembunuh

Pukul 03.19 tanggal 24 Mei 2020, Ethan Hunsaker menelepon polisi Layton untuk melaporkan bahwa dia telah membunuh seorang wanita yang dia temui di Tinder. Ketika polisi tiba, Ashlyn Black terbaring lemas di lantai dengan beberapa luka tusukan. Polisi berusaha untuk menyelamatkan nyawa Black, tetapi upaya mereka sia-sia, dan dia dinyatakan meninggal di tempat kejadian. Hunsaker mengatakan bahwa keduanya bertemu di sebuah bar, dan mereka kembali ke rumahnya untuk berhubungan seks. Dia bangun, melihat Ashlyn tidur di sebelahnya, dan mulai mencekiknya. Hunsaker kemudian mengambil pisau saku dan mulai menikam wanita itu saat dia berbaring di lantai kamar tidurnya. Dia mengalami luka tusuk di dada, samping, dan punggung. Sejauh ini, Hunsaker tidak memberikan alasan mengapa dia membunuh wanita itu.

  1. Pembunuh berantai di kencan online

Antara Agustus dan November 2016, empat wanita bertemu dengan Khalil Wheeler-Weaver di aplikasi kencan. Tiga wanita tewas, dan yang keempat nyaris tidak lolos. Wheeler-Weaver menggunakan aplikasi kencan dan aplikasi media sosial Tagged untuk memikat korbannya. Pria berusia 20 tahun itu adalah seorang penjaga keamanan dan dikenal sebagai orang yang berpenampilan rapi dan berpakaian bagus. Tapi dia memendam kecenderungan brutal.

Robin West, korban pertamanya, jasadnya yang telah hangus ditemukan di sebuah rumah kosong; penyebab kematian tidak dapat ditentukan. Korban keduanya, Joanne Brown, menghilang pada bulan Oktober; tubuhnya ditemukan pada bulan Desember, dinyatakan sebagai korban pencekikan.

Sarah Butler adalah korban terakhirnya. Dia setuju untuk bertemu Wheeler-Weaver setelah mengiriminya pesan bernada bercanda: “Kamu bukan pembunuh berantai, kan?” Sebelum pembunuhan Sarah berhasil melarikan diri. Dia memberi tahu polisi tentang pertemuannya. Sementara itu, teman dan keluarga Sarah bertekad untuk mencari tahu siapa yang membunuh Sarah. Mereka menemukan pesan yang Sarah miliki di Tagged dan membuat profil palsu untuk mengatur kencan dengan Wheeler-Weaver. Ketika dia tiba di tempat yang ditentukan, polisi sedang menunggu untuk menangkapnya. Wheeler-Weaver menghadapi tuduhan pembunuhan, percobaan pembunuhan, penculikan, dan pembakaran. Dia dinyatakan bersalah atas 11 dakwaan pada Desember 2019 dan dijatuhi hukuman 160 tahun penjara pada 2021.

  1. Pembunuh penyuka sesama jenis

Pada 2021, Talent Bradley yang berusia 19 tahun bertemu dengan dua pria di aplikasi kencan khusus penyuka sesama jenis, Grindr. Setelah ditangkap, dia mengaku bertemu dan menikam Robert Goodrich yang berusia 62 tahun pada 26 Mei. Polisi menghubungkannya dengan sebuah Toyota Merah yang terlihat di kamera lingkungan di sekitar rumah Goodrich. Kendaraan itu kemudian ditemukan di rumah Bradley. Korban kedua adalah Randy Gwirtz yang berusia 63 tahun. Ketika keluarganya melaporkan bahwa mereka tidak dapat menemukan Gwirtz, polisi pergi ke rumahnya dan menemukan pria itu meninggal, juga dengan beberapa luka tusukan. Polisi percaya Gwirtz meninggal pada hari yang sama dengan Goodrich, tetapi tubuhnya tidak ditemukan sampai 7 Juni. Bradley menghadapi tuduhan pembunuhan, pembunuhan berat, dan perampokan. Namun, tuduhan itu dibatalkan pada akhir 2021 setelah Bradley bunuh diri saat berada di penjara.