69 anak di Gambia meninggal dunia akibat sirup obat batuk buatan India

SAHMITRA – Pada 5 Oktober lalu, World Health Organization (WHO) mengeluarkan peringatan kesehatan secara global setelah menemukan empat obat batuk dan pilek yang menjadi penyebab kematian 66 anak di Republik Gambia pada bulan Juli, Agustus dan September 2022.

Lalu beberapa hari kemudian, tepatnya pada 8 Oktober, Menteri kesehatan negara kecil di Afrika Barat tersebut mengumumkan  pada bahwa tiga anak lagi telah meninggal, menjadikan total kematian menjadi 69 anak.

Promethazine Oral Solution, Kofexmalin Baby Cough Syrup, Makoff Baby Cough Syrup, dan Magrip N Cold Syrup yang terkait dengan kematian, semuanya diproduksi oleh pembuat obat India, Maiden Pharmaceuticals Ltd yang berbasis di New Delhi. Sirup tersebut berpotensi mengakibatkan Cedera Ginjal Akut (AKI) pada anak-anak yang menjadi korban. AKI adalah suatu kondisi saat ginjal tiba-tiba tidak dapat menyaring limbah dari darah. Gagal ginjal akut berkembang pesat selama beberapa jam atau hari dan dapat berakibat fatal. Kondisi ini paling umum terjadi pada mereka yang sakit kritis dan sudah dirawat di rumah sakit.

Melansir BBC News, beberapa orang tua yang terpaksa kehilangan anak-anak mereka mengatakan bahwa anak-anak mereka berhenti buang air kecil setelah diberi sirup obat batuk pilek buatan India tersebut. Ketika kondisi mereka memburuk, upaya untuk menyelamatkan hidup mereka tidak membuahkan hasil.

Pejabat kesehatan Gambia dan pekerja Palang Merah sekararang melakukan sidak dari pintu ke pintu rumah warga, juga ke apotek dan pasar, untuk mencari sirup serta obat-obatan lainnya yang mencurigakan. Lebih dari 16.000 produk telah ditemukan sejauh ini dan telah disita untuk dihancurkan. Dan Presiden Gambia, Adama Barrow juga telah memberi wewenang kepada Badan Pengawas Obat, melalui Kementerian Kesehatan, untuk menangguhkan izin apotek dan importir yang dicurigai. Peninjauan ulang seluruh protokol perizinan obat dan medis juga akan segera dilaksanakan oleh pemerintah.

Saat ini Menteri Kesehatan dan Direktur Eksekutif Badan Pengawas Obat (MCA),  yang bertanggung jawab atas regulasi kualitas, keamanan, impor, pembuatan, dan distribusi obat-obatan di Gambia tengah berada di kursi panas dan menjadi sorotan warga karena dianggap sebagai pihak yang ikut bertanggung jawab atas hilangnya nyawa hampir 70 anak kecil.