AS Beli Lagi 100 Juta Dosis Vaksin Moderna, Total Jadi 200 Juta

Sahmitra.com — AS menambah 100 juta dosis vaksin Covid-19 lagi yang dibeli dari Moderna di saat pemerintah juga mengatakan akan mengamankan lebih banyak vaksin dari Pfizer.

Adanya perjanjian tambahan dosis vaksin Covid-19 dari Moderna menjadikan total dosis yang dibeli dari sana ada sebanyak 200 juta, yang cukup untuk mengimunisasi 100 juta orang dengan rejimen 2 suntikan per orang.

“Mengamankan 100 juta dosis lagi dari Moderna pada Juni 2021 semakin memperluas pasokan dosis kami di seluruh portofolio vaksin Operation Warp Speed,” kata Sekretaris Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Alex Azar seperti yang dilansir dari AFP pada Jumat (11/12/2020). 

Sebuah pernyataan dari perusahaan bioteknologi yang berbasis di New York mengatakan bahwa pesanan baru akan dikirim pada kuartal kedua 2021, ketika pesanan pertama sudah terpenuhi pada kuartal pertama.

Total dana federal yang dialokasikan ke Moderna untuk vaksin mRNA-1273, yang dikembangkan bersama dengan Institusi Kesehatan Nasional (NIH), adalah sebesar 4,1 miliar dollar AS (Rp 58 triliun).

Kesepakatan terbaru dengan Moderna terjadi setelah muncul laporan media bahwa selama musim panas AS memutuskan tidak meningkatkan pesanan vaksin Pfizer-BioNTech lebih dari 100 juta dosis yang semula dipesan.

Sehingga memungkinkan negara lain untuk membeli pasokan yang berharga tersebut. Otorisasi penggunaan darurat diperkirakan akan segera terjadi untuk suntikan vaksin Covid-19 dari Pfizer, yang juga merupakan rejimen dua dosis, setelah komite ahli independen memberikan suaranya pada Kamis (10/12/2020).

Panel ahli serupa akan diadakan untuk membahas vaksin Moderna-NIH pada 17 Desember, dan persetujuan darurat dapat menyusul segera

Sementara, telah ditemukan kemanjuran 94,1 persen dalam uji klinis vaksin Moderna yang melibatkan 30.000 orang. Baik Moderna maupun Pfizer, pelopor vaksin ini menggunakan teknologi mRNA (messenger ribonucleic acid), sebuah pendekatan baru yang mengirimkan instruksi genetik ke sel manusia untuk membuat mereka mengekspresikan protein permukaan dari virus SARS-CoV-2.

Ini mensimulasikan infeksi dan mempersiapkan sistem kekebalan jika bertemu dengan virus yang sebenarnya.

Mengembangkan vaksin dengan teknologi mRNA lebih cepat dari pada pendekatan yang lebih tradisional, yang sering mengandalkan penggunaan mikroba penyebab penyakit yang dilemahkan atau dinonaktifkan.

Kelemahan utama yang telah diidentifikasi sejauh ini adalah molekul mRNA, yang terbungkus partikel lemak, harus disimpan pada suhu ultra dingin, yaitu -70 derajat celcius untuk Pfizer dan -20 derajat celcius untuk Moderna.