Heboh Aplikasi Raqib Atid, Kemenag: Pahala-Dosa Urusan Kita dengan Tuhan

Heboh Aplikasi Raqib Atid, Kemenag: Pahala-Dosa Urusan Kita dengan Tuhan

Aplikasi bernama Raqib Atid yang berfungsi untuk mencatat amal baik dan buruknya seseorang, ramai dibahas di media sosial. Kementerian Agama angkat bicara soal aplikasi yang sempt muncul di PlayStore.

“Dosa itu kan urusan kita dengan Tuhan, pahala urusan kita dengan Tuhan, jadi menurut saya biar lah kita sendiri melakukan komunikasi dengan Tuhan sehingga hubungan kita dengannya bisa sangat privat, personal, dan kemudian kita bisa melakukan evaluasi,” ujar Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin ketika dihubungi, Senin (11/05/2020).

Kamaruddin sendiri mengaku belum melihat secara langsung aplikasi Raqib Atid. Menurutnya, urusan pahala dan dosa adalah urusan Tuhan secara langsung, bukan melalui aplikasi.

“Tuhan itu kan lah maha adil, salah satu hikmah puasa inikan merasakan kehadiran Tuhan yang maha adil ya dengan begitu urusan (pahala dan dosa) kita dengan Tuhan,” lanjutnya.

Diketahui, aplikasi tersebut kini sudah menghilang dari Google PlayStore. Sebelum ditarik, aplikasi yang dikembangkan Mahmud Fauzi itu telah diunduh lebih dari 5.000 kali dan mendapatkan rating 4,2.

Nikah Tertunda Akibat Lockdown, Pasangan India Bunuh Diri

Nikah Tertunda Akibat Lockdown, Pasangan India Bunuh Diri

Sepasang kekasih di India, nekat bunuh diri diduga karena tertekan batin akibat rencana pernikahan mereka yang tertunda karena penguncian wilayah (lockdown) untuk mencegah penyebaran Virus Corona lebih lanjut.

Pada Senin (11/05/2020), jasad pasangan kekasih yang bernama Pendur Ganesh (22) dan Soyam Seethabai (20) ditemukan tergeletak di sebuah sawah di Telangana. Keduanya ini diduga menenggak cairan pembasmi hama (pestisida).

Menurut dari laporan kepolisian setempat, Ganesh bekerja sebagai petani sudah menjalin hubungan selama beberapa tahun dengan Soyam. Keduanya ini lantas memutuskan unutk bertunangan beberapa bulan lalu, dan menjadwalkan pernikahan mereka pada April lalu.

Namun, keluarga keduanya memutuskan untuk menunda pernikahan mereka karena berlakunya lockdown.

Mereka dilaporkan kecewa dan tertekan akibat keputusan kedua keluarganya.

“Kedua keluarga mengatakan kedua pasangan itu mengambil langkah nekat akibat penundaan pernikahan tersebut. Jasad mereka ditemukan di sawah. Kami membawa jenazahnya ke Rumah Sakit Umum di Utnoor untuk proses autopsi,” ujar polisi tersebut.

Penerapan lockdown ini di Telangana sejak 22 Maret membuat jadwal pernikahan banyak pasangan menjadi tertunda.

Pemerintah India sudah membatasi jumlah tamu yang boleh hadir dalam sebuah resepsi, atau kegiatan pemakaman.

Pakar: Konsumsi Alkohol Berlebih Tingkatkan Risiko Terinfeksi Covid-19

Pakar: Konsumsi Alkohol Berlebih Tingkatkan Risiko Terinfeksi Covid-19

Sejumlah pakar yang menganalisis tentang alkohol, sudah memperingatkan kepada seluruh masyarakat agar tidak meminum alkohol secara berlebihan. Peringatan ini sudah dikeluarkan di tengah laporan bahwa konsumsi alkohol secara terus menerus meningkat ditengah pandemi Virus Corona.

Nina Radcliff, yakni seorang dokter asal New Jersey, menuturkan bahwa meskipun mudah bagi orang untuk minum lebih banyak daripada biasanya namun saat-saat ini ketika lebih dari seperempat populasi dunia terkunci, penting untuk lebih berhati-hati dan memantau penggunaan alkohol.

“Selain menyebabkan mabuk, yang dapat membuat Anda kesal atau membuat keputusan yang buruk, konsumsi alkohol dapat menghambat sistem kekebalan tubuh Anda,” kata Radcliff, seperti dilansir Al Arabiya.

Sementara itu, menurut Kaveh Khoshnood dari School of Public Health Yale University, bahwa kecemasan dan ketakutan yang terkait dengan pandemi ini mendorong beberapa orang untuk berperilaku merugikan diri mereka sendiri, dan penggunaan alkohol yang tampaknya akan lebih meningkat.

“Beberapa orang tidak tahu bagaimana mengelola kecemasan dan ketakutan mereka dan beralih ke penggunaan narkoba untuk memberi mereka bantuan sementara,” ucapnya.

Mayo Clinic, yang merupakan rumah sakit nomor satu di Amerika berdasarkan US News & World Report, mengatakan bahwa mengonsumsi alkohol berlebihan dapat mempersulit untuk tubuh seseorang melawan penyakit, serta meningkatkan risiko berbagai penyakit.

Sistem kekebalan yang melemah bukan hanya berarti meningkatkan resiko terinfeksi Virus Corona, namun juga dapat meningkatkan keparahan penyakit virus tersebut, yang terkenal dengan nama COVID-19.

“Jika Anda terkena virus korona, penggunaan alkohol dalam jumlah besar dapat meningkatkan kemungkinan penyakit parah,” ucap Arthur Reingold, Kepala Divisi Epidemiologi dan Biostatistik di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Berkeley.

Karena Virus Corona adalah sebuah penyakit baru, banyak orang diseluruh dunia yang bereksperimen dengan pengobatan rumahan, termasuk juga meminum alkohol, dalam upaya untuk menangkal infeksi Virus Corona.

Sudah ada puluhan juta orang yang meninggal karena keracunan dari meminum alkohol di Iran dalam upaya untuk mencegah terjadinya penularan Virus Corona. Pada pertengahan bulan Maret, seorang anak di Iran mengalami koma dan kehilangan penglihatannya setelah diberikan alkohol oleh pihak keluarganya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri mengeluarkan pernyataan di media sosial yang menghilangkan mitos bahwa minum alkohol mencegah virus Corona.

“Tidak, minum alkohol tidak melindungi Anda dari infeksi Covid-19. Alkohol harus selalu dikonsumsi dalam jumlah sedang dan orang-orang yang tidak minum alkohol tidak boleh mulai minum dalam upaya untuk mencegah infeksi,” jelas WHO.

Inggris Minta Kejujuran China Awal Mula Muncul Virus Corona

Pejabat sementara Perdana Menteri Inggris, Dominic raab yang meminta untuk China berterus terang soal awal mulanya Virus Corona bisa muncul dan menyebar ke berbagai negara.

Kata dia, ada sejumlah “pertanyaan sulit” yang harus dijawab China mengenai bagaimana virus itu bermula.

“Kita harus bertanya pertanyaan sulit tentang bagaimana itu terjadi dan bagaimana itu bisa dihentikan,” kata Menteri Luar Negeri Inggris itu dalam konferensi pers di London, Kamis (16/04/2020) waktu setempat.

Raab yang menegaskan bahwa Inggris tidak mungkin bisa menjalan hubungan layak biasanya dengan China setelah adanya pandemi Virus Corona ini.

Itu menunjukkan sikap keras Inggris terhadap China setelah mereka dihantam oleh krisisnya Corona yang telah menewaskan 13.729 orang di negara tersebut.

“Tidak ada keraguan kita tidak dapat melakukan urusan seperti biasa setelah krisis ini,” ujarnya.

Virus Corona ini mulai merebak di Kota Wuhan, China sejak lahir 2019.

Diduga virus itu yang berasal dari hewan lalu menular kepada manusia. Virus itu kemudian menyebar ke berbagai penjuru negeri dan ada lebih dari 200 negara.

Meskipun demikian, Raab menjelaskan selama ini hubungan Inggris dan China yang selalu berjalan baik, termasuk ketika mereka mengevakuasi warga dari Wuhan saat terjadi ledakan korban corona. Mereka yang juga melakukan kerja sama dalam penyediaan pasokan medis selama pandemi.

Komite Urusan Luar Negeri Inggris telah memperingatkan bahwa kampanye disinformasi yang diatur China soal virus corona itu telah mengorbankan nyawa warga Inggris.

Dalam laporan itu, anggota parlemen mengatakan China yang berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi ketika wabah sudah dimulai dimana seharusnya mereka memiliki peran kunci dalam mengumpulkan data penyebaran.

China sendiri yang mengatakan tidak ada bukti bahwa wabah itu dimulai disana. Kedutaan besar China di London mengatakan belum ada kesimpulan ilmiah atau medis tentang asal-usul Covid-19 dan menyatakan penelusuran yang masih berlangsung.

Sebelumnya sebuah lembaga pemikir asal Inggris, Henry Jackson Society (HJS) membuat laporan mengenai kemungkinan menggugat China secara hukum atas pandemi Virus Corona.

Mereka yang berpendapat bahwa China yang harus di tuntut dengan hukuman internasional dan didenda triliunan dolar AS karena menutupi awal mula munculnya wabah Virus Corona yang menyebabkan lebih dari 60 ribu kematian dan dampak ekonomi di berbagai wilayah negara.

Berdasarkan informasi, pada 31 Desember 2019 China yang melaporkan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang virus yang mematikan itu, tetapi menyebutkan bahwa tidak ada bukti virus itu dapat menular dari antarmanusia.

“Beberapa orang yakin penyakit ini menyebar di antara manusia sebelum tanggal ini,” bunyi laporan tersebut.

 

HJS juga menganggap negara China telah meremehkan data dan juga menegur dokter yang sudah berusaha memperingatkan bahaya virus tersebut.

 

HJS yang menganggap masyarakat China sendiri telah menjadi korban kelalaian pemerintah Negeri Tirai Bambu dalam menangani wabah. Henry Jackson Society kemudian meminta China mengganti rugi untuk semua dampak dan kerugian yang telah terjadi oleh karena virus itu.

India Perpanjang Lockdown Nasional hingga 3 Mei

Perdana Menteri India, Narendra Modi mengumumkan untuk memperpanjang langkah lockdown nasional sampai 3 Mei mendatang. Keputusan ini dilakukan untuk menekan lebih lanjut pencegahan penyebaran Virus Corona yang masih terjadi sampai sekarang.

Di dalam pidatonya tersebut, Modi mengumumkan jika keputusan yang dilakukan ini sangat penting untuk mencegah adanya penularan Virus Corona yang lebih lanjut.

“Sampai 3 Mei, kita semua harus tetap lockdown. Selama waktu itu, kita harus mengikuti disiplin yang sama seperti yang telah kita lakukan,” ujar Modi dalam pidatonya.

“Permintaan saya kepada semua warga adalah bahwa virus corona tidak akan dibiarkan menyebar ke seluruh wilayah baru. Kita harus sangat berhati-hati dan terus mengawasi tempat-tempat yang diharapkan menjadi pusat penyebaran,” lanjutnya.

India yang sudah memberlakukan lockdown mulai dari tanggal 25 Maret lalu selama tiga pekan. Semula aturan tersebut yang berakhir pada Selasa (14/04/2020).

Sejak memutuskan untuk lockdown nasional, pemerintah hanya mengizinkan beberapa layanan penting yang tetap beroperasi. Layanan ini mulai dari air, listrik, rumah sakit, pemadam kebakaran, dan toko sembako agar tetap beroperasional.

Sementara pada toko yang tidak menjual makanan, perusahaan komersial, pabrik, bengkel, kantor, pasar, dan tempat ibadah harus ditutup untuk sementara waktu. Transportasi umum juga seperti bus dan metro yang menghubungkan antar negara bagian juga berhenti beroperasi.

Semua proyek kontruksi juga diminta untuk melakukan penutupan sementara waktu selama lockdown masih berlaku.

Modi yang juga mengaku jika keputusan ini akan memengaruhi perekonomian negara, kaum miskin menjadi pihak yang paling terkena imbasan dari kebijakan ini. Namun, ia tetap memastikan akan memprioritaskan kesehatan warganya tersebut.

“Dari sudut ekonomi, kami telah membayar dengan harga besar. Tetapi nyawa rakyat jauh lebih berharga,” kata Modi menambahkan.

Lalu, Modi mengatakan kebijakan ini telah terbukti menekan hingga mencegah kasus baru Virus Corona di beberapa negara bagian dan distrik.

“Hingga 20 April, semua distrik, lingkungan, dan negara bagian akan dimonitor secara ketat untuk melihat seberapa ketat mereka menerapkan aturan tersebut,” ucapnya.

Sebelum Modi memutuskan untuk memperpanjang lockdown, beberapa negara bagian India yang telah lebih dahulu melakukan dan mengumumkan hal serupa sampai 30 April mendatang. Maharashtra, merupakan negara bagian pusat penyebaran Virus Corona termasuk salah satu yang membuat keputusan tersebut.

Hingga kini, sudah ada 11.487 kasus Virus Corona dengan 393 orang yang telah dinyatakan meninggal dunia.

Taiwan Nol Kasus Corona untuk Pertama Kali, Penanganan Dipuji

Negara Taiwan untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir melaporkan nol kasus baru Virus Corona, Selasa (14/04/2020). Menteri Kesehatan Chen Shih-chung, mengatakan nihil kasus Covid-19 ini merupakan kali pertama dalam 36 hari.

Taiwan sampai kini yang memiliki 393 kasus Virus Corona, 6 kematian dan 124 pasien yang sudah dinyatakan sembuh.

Dari 393 kasus tersebut, 338 diantaranya merupakan imported case, yakni penularan virus yang berasal dari warga asing atau warga mereka yang baru datang dari luar negeri.

Taiwan yang memang belum melakukan penguncian wilayah dan kehidupan relatif normal dengan sekolah dan bisnis berjalan seperti biasanya.

Namun, pemerintah telah menyerukan seluruh warga untuk menggunakan masker saat keluar rumah serta menjalankan protokol pencegahan Virus Corona.

Taiwan yang mendapatkan pujian karena dianggap berhasil mengendalikan penyebaran Virus Corona di dalam negeri. Sejumlah pengamat yang menuturkan prestasi Taiwan ini benar-benar meningkatkan citra dan kapabilitas wlayah tersebut, terutama dalam sistem kesehatan panggung dunia.

Reaksi pemerintah yang menanggapi wabah ini dianggap cukup efektif untuk menekan penularan Virus Corona.

Mereka yang telah mempersiapkan dengan secepat mungkin untuk menghadapi pandemi ini sehingga bisa meminimalisir kematian di wilayah dengan populasi 23 juta jiwa tersebut.

Bahkan Taiwan yang disebut telah memperingatkan Orginasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa virus tersebut dapat menjadi ancaman global pada 31 Desember lalu.

Namun menurut adanya laporan Dewan Hubungan Luar Negeri yang berbasis di Amerika Serikat, peringatan potensi penularan Virus Corona dari manusia ke manusia yang disampaikan Taiwan itu tidak mendapatkan tanggapan.

“WHO malah mendukung penolakan China terhadap penularan dari manusia ke manusia sampai 21 Januari. WHO juga terlihat meremehkan ancaman global. Sementara Taiwan tetap melakukan langkah-langkah pencegahan untuk menahan virus, menguji, melacak kontak, dan menegakkan karantina,” kata laporan itu.

Presiden Tsai Ing-Wen yang juga dipuji karena kepimpinannya sangat menentukan selama krisis corona.

“Pada Januari lalu, ketika muncul tanda awal munculnya penyakit itu, dia [Tsai] memperkenalkan 124 langkah untuk menahan penyebaran, tanpa harus menggunakan penguncian yang umumnya dilakukan di negara lain,” kata sebuah artikel di Majalah Forbes.

Selain itu juga, Taiwan yang dinilai berhasil mengendalikan pasokan alat kesehatan seperti masker dan hand sanitizer sehingga tidak menjadi langka dan mahal.

Belajar dari pengalaman yang menanggulangi SARS pada 2003 lalu, Taiwan yang segera mengambil alih semua pemasokan masker di negara tersebut ketika wabah corona mulai menyebar di China.

Taiwan selama ini yang dianggap China sebagai wilayah pembangkang lantaran berupaya memerdekakan diri dari Negeri Tirai Bambu.

China yang sempat memprotes WHO karena memasukkan Taiwan sebagai negara sendiri dalam laporan penanganan Virus Corona. Akhirnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ini merevisi laporan tersebut dengan menganggap Taiwan bagian dari China.

Sampai hari ini Rabu (15/04/2020) pagi, Virus Corona telah menginfeksi 1.998.111 orang di lebih dari 200 negara, sebanyak 126.604 kematian dan 478.659 orang yang telah sembuh.

Bebas Virus Corona, Korea Utara Asyik Uji Coba Senjata

Bebas Virus Corona, Korea Utara Asyik Uji Coba Senjata

Korea Utara menjadi salah satu negara yang terdeteksi menembak rudal jelajah jarak dekat dekat ke arah perairan diantara semenanjung Korea dan Jepang. Ini adalah kali kelima sejak pertengahan Maret, Korut melakukan uji coba senjata jarak jauh terbarunya itu.

Militer Korea Selatan juga sedang memantau perkembangan lebih lanjutnya terkaitnya insiden ini.

“Rudal itu memiliki jangkauan sekitar 150 km,” kata pihak Kepala Staf Gabungan (JCS) Korea Selatan kepada wartawan.

Korea Utara menggelar latihan militer selama beberapa pekan, termasuk sejumlah peluncuran rudal balistik jarak dekat dalam akhir-akhir ini. Maret lalu Korut melepaskan sembilan rudal balistik dan empat putaran uji coba, menurut para analis.

Pada Minggu lalu, media pemerintah Korut melaporkan bahwa pemimpin Kim Jong Un mengunjungi pangkalan udara dan menyaksikan latihan pesawat tempur negara tersebut.

Dua pekan sebelumnya pada (29/03/2020), JCS yang mengatakan bahwa pihaknya telah menyaksikan Korut menembakkan rudal-rudal balistik jarak pendek. Menurut dirinya, latihan militer Korut di tengah pandemi corona merupakan tindakan yang tidak pantas dan harus seger dihentikan.

Ditengah negara-negara lain sibuk menghadapi pandemi Virus Corona, Korut yang sampai saat ini belum melaporkan sedikitpun adanya kasus-kasus corona yang menginfeksi warganya.

Virus Corona 10 Kali Mematikan dari Flu Babi? Mari Disimak

Virus Corona 10 Kali Mematikan dari Flu Babi? Mari Disimak

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Virus Corona yang jauh lebih berbahaya dan mematikan daripada Virus Flu Babi pada tahun 2009 lalu.

“Kita tahu Covid-19 sangat cepat menyebar, dan lebih mematikan, 10 kali lebih mematikan dari pandemik flu 2009,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam jumpa pers di Jenewa, Swiss, seperti dilansir AFP, pada Selasa (14/04/2020).

Virus Corona saat ini sudah menyerang banyak orang, sekitar 1,8 juta penduduk dunia yang positif dan menewaskan 115 ribu orang lebih.

Sedangkan pada flu babi yang menewaskan 18.500 oran. Namun, menurut dari lembaga kesehatan jumlah korban flu babi diantara 151.700 sampai 575.400 orang.

Flu babi yang merebak pertama kali di Meksiko dan Amerika Serikat pada tahun 2009 silam. Lalu virus tersebut menyebar ke Afrika dan Asia Tenggara.

WHO yang lantas menyatakan flu babi sebagai pandemi pada bulan Juni 2009 lalu. Lantas pada bulan Agustus 2010 virus tersebut dinyatakan berakhir.

Tedros yang menyatakan kasus Virus Corona sangat cepat melonjak dan penurunannya yang lambat. Maka dari itu, dirinya yang berharap seluruh warga negara gencar melakukan deteksi ini, serta melakukan isolasi dan melacak orang-orang yang melakukan kontak dengan pasien untuk mencegah penyebaran virus.

“Penurunan kasus lebih lamban ketimbang pertambahan. Upaya pengendalian wabah harus dilakukan perlahan jika ingin dilonggarkan. Tidak bisa dilakukan sekaligus,” kata Tedros.

“Kebijakan pengendalian hanya bisa dicabut jika sudah bisa menjamin keamanan kesehatan masyarakat, termasuk meningkatkan kemampuan penelusuran kontak,” ujar Tedros.
Selain itu juga, Tedros berharap bahwa vaksin dapat segera ditemukan dan diproduksi untuk menghentikan penyebaran. Penelitian vaksin yang diperkirakan memakan waktu sekitar 12 sampai 18 bulan.
Amerika Serikat Uji Coba Vaksin Corona

Amerika Serikat Uji Coba Vaksin Corona

sahmitra.com  —  Di negara Amerika Serikat, mereka mulai menguji coba klinis vaksin corona pada hari ini, Senin (16/03/2020) pada kalangan yang terbatas. Penguji cobaan itu akan dilakukan di Seattle.

Pihak yang mendanai uji coba tersebut ialah National Institude of Health (NIH) mengatakan bahwa pengujian akan dilakukan dengan hanya melibatkan sekitar 45 orang sukarekawan yang muda dan masih sehat. Lalu mereka disuntikkan dosis vaksin virus corona yang berbeda.

Nantinya, peserta yang akan bicara mengenai bagaimana proses dilalui secara anonim karena langkah tersebut yang belum diumumkan secara publik.

Pejabat kesehatan AS mengatakan bahwa butuh waktu sekitaran satu tahunan ataupun 18 bulan untuk memvalidasi uji coba vaksin itu

Vaksin yang sudah dikembangkan oleh NIH ini diklaim tidak akan memberikan efek samping yang sangat mengkhawatirkan. Di samping itu pula, para sukarelawan yang dipastikan tidak terinfeksi suntikan yang mengandung virus itu sendiri.
“Bahkan jika di tes di tahap awal yang berjalan baik, anda berbicara soal waktu satu tahun ataupun setengah tahun sebelum vaksin benar-benar siap digunakan,” ujar Dr. Anthony Fauci, Direktur NIH.
Anthony mengatakan bahwa butuh studi lanjutan untuk mengetahui apakah vaksin benar-benar bisa melindungi orang yang terinfeksi dan tak bahayakan masyarakat.
Dari sejauh ini belum adanya perawatan yang terbukti dapat menyembuhkan virus corona ini. Ilmuwan di China yang sempat menguji coba kombinasi obat HIV yang dikembangkan untuk infeksi ebola berguna menyembuhkan orang yang terinfeksi corona.
Selain di China, Pusat Medis Nebraska University juga menguji beberapa penumpang kapal pesiar Diamond Princess yang sudah kembali dari Jepang.
Beberapa penelitian yang bahkan mengembangkan vaksin sementara seperti, suntikan untuk menjaga daya tahan tubuh yang bisa melindungi diri selama satu atau dua bulan.
Sejauh ini, virus corona yang tercatat sudah menginfeksi  165.969 orang diseluruh dunia. Sekitar 75.910 orang yang sudah dinyatakan sembuh sementara 6.475 diantaranya itu dilaporkan meninggal dunia.
Bayi Baru Lahir Terinfeksi Corona di Inggris

Bayi Baru Lahir Terinfeksi Corona di Inggris

sahmitra.com  —  Di Inggris, ada kasus yang melibatkan seorang bayi yang baru lahir telah dikonfirmasi terinfeksi virus corona. Ia menjadi korban virus corona yang termuda di Inggris.

Sebelum ia dilahirkan, ibu dari bayi tersebut telah dibawa ke rumah sakit di kawasan utara London beberapa hari lalu karena berdasarkan laporan kesehatan, bahwa sang Ibu mengidap penyakit pneumonia kemudian dikonfirmasi terinfeksi corona.

Sang Ibu dinyatakan positif corona setelah beberapa saat melahirkan kemudian beberapa menit pasca selesai lahir sang bayi juga langsung menjalani uji medis corona.

Hal itu juga dikonfirmasi oleh Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS). Mereka menyatakan semua pegawai dan suster rumah sakit yang menangani sang ibu dan anak saat ini sedang mengisolasi diri demi mencegahnya penyebaran corona.

Saat ini belum dapat dipastikan dengan benar bahwa bayi yang terinfeksi itu memang sudah terinfeksi dalam kandungan atau setelah dilahirkan. Bayi tersebut yang masih menjalani perawatan di rumah sakit sementara si Ibu sudah dipindah ke rumah sakit spesialis.
“Keselamatan pasien dan pekerja adalah prioritas kami. Sehingga, mengikuti petunjuk dari organisasi Kesehatan Publik Inggris, kami yang setiap harinya membersihkan area tempat merawat pasien dan pegawai yang berinteraksi disarankan untuk mengisolasi dirinya,” tulis Rumah Sakit North.
Terpisah dari Kepala Petugas Medis Inggris, Profesor Chris Whity yang menghimbau bahwa perempuan hamil tak perlu mengkhawatirkan corona. Pemerintah Inggris saat ini menyatakan bahwa tak adanya bukti klinis yang mengindikasikan virus itu dapat ditularkan melalui ASI.
Sekarang ini Inggris masuk menjadi 10 besar negara dengan kasus virus corona terbanyak di dunia. Saat ini Inggris memiliki 1.143 kasus dengan 21 orang yang meninggal dunia serta 19 orang yang sudah sembuh.