Bukan joki, kakek asal India ketagihan vaksin COVID-19 sudah disuntik 11 kali

SAHMITRA – Di tanah air belakangan ini marak beredar berita bahwa di beberapa daerah terdapat kasus joki vaksinasi Covid-19 yang dimana pelaku-pelakunya kini harus berurusan dengan pihak kepolisian. Salah satu kasus praktek joki vaksinasi ini terjadi di kota Semarang. Kapolrestabes Semarang, Kombes Irwan Anwar, yang dilansir dari news.detik.com, menyatakan bahwa kasus tersebut terungkap pada 3 Januari 2022.

Aksi tiga orang ibu rumah tangga, CL (37), IO (48) dan DS (41) terungkap dan berhasil digagalkan oleh tenaga medis yang menyadari adanya kejanggalan ketika melakukan screening indentitas dan ciri-ciri fisik yang tidak sesuai sebelum dilakukannya vaksinasi. CL adalah orang yang harusnya divaksin. CL membutuhkan sertifikat vaksin untuk bepergian ke luar kota tapi tidak mau divaksin dengan alasan bahwa dirinya adalah seorang penyitas COVID-19 dan memiliki penyakit komorbid. CL lalu menceritakan kebutuhannya tersebut pada IO yang kemudian mengenalkannya pada DS yang kebetulan sedang membutuhkan uang dan bersedia menjadi joki dengan bayaran Rp. 500ribu.

Kasus lainnya terjadi di provinsi Sulawesi Selatan. Warga asal kabupaten Pinrang bernama Abdul Rahim (49) telah menjalani 17 kali vaksinasi COVID-19 sebagai joki dengan memungut bayaran Rp. 100ribu hingga 800ribu.

Lain halnya dengan Abdul Rahim yang menerima vaksin COVID-19 berkali-kali demi uang. Seorang kakek berusia 85 tahun di India bernama Brahmdeo Mandal, mengaku telah menerima vaksin COVID-19 sebanyak 11 kali. Kakek pensiunan petugas pos ini mengatakan bahwa suntikan-suntikan yang dia terima tersebut membantunya menghilangkan rasa sakit dan nyeri yang telah lama dia derita dan meningkatkan nafsu makannya. Dia menambahkan bahwa dulu untuk berjalan dia membutuhkan tongkat, namun setelah mendapat suntikan vaksin untuk COVID-19 dia tidak lagi membutuhkan tongkat tersebut.

Kakek Mandal bahkan rela melakukan perjalanan ke kamp-kamp tempat vaksinasi di Madhepura, tempat tinggalnya, sampai ke distrik-distrik tetangga yang jaraknya lebih dari 100km untuk mendapatkan vaksinasi. Dan dia menyimpan catatan terperinci dalam tulisan tangan tentang tanggal, waktu dan kamp​​​​ tempat dia menerima 11 dosis yakni antara Februari dan Desember tahun 2021.

Sejak vaksinasi dimulai pada 16 Januari tahun lalu di India, terdapat dua vaksin yang diproduksi secara lokal, yakni Covishield dan Covaxin. Vaksin dua dosis ini memiliki jeda empat hingga enam minggu setelah dosis pertama. Tapi dalam sebuah temuan dari kasus ini, kakek Mandal berhasil menerimal dua suntikan dalam waktu setengah jam pada hari yang sama dan masing-masing suntikan tersebut terdaftar di portal vaksin India yang bernama CoWin.

Pakar kesehatan masyarakat Chandrakant Lahariya mengatakan bahwa penyebab hal tersebut bisa terjadi adalah karena data vaksinasi dari kamp tidak diunggah di portal secara realtime atau data-data baru diproses setelah jeda yang lama. Kemungkinan lain adalah karena adanya gangguan sistem atau jaringan pada portal yang disebabkan oleh kelalaian petugas yang menjaga kamp vaksinasi.