Casino88 Online Slot99 Sbobet Slot Sbobet888 Joker1888 88bet Slot39 7mmbet Slot388 Joker138 Joker888

Berita Menarik Dan Unik Dari Dalam Dan Luar Negeri

Mancanegara

Buronan berbahaya Italia yang kabur dari hukuman seumur hidup dan menyamar jadi pembuat pizza

SAHMITRA – The Godfather, adalah film bergenre kriminal tahun 1972  yang menceritakan kisah keluarga kriminal di New York dimana Vito Corleone sebagai kepala keluarga dan transformasi Michael Corleone, puteranya yang kemudian menjadi bos Mafia yang kejam. Film ini mengangkat kehidupan mafia yang banyak menampilkan adegan pembunuhan brutal dan kultur khas Italia sebagaimana yang eksis di internal kelompok mafia sungguhan. Cosa Nostra disebut-sebut sebagai jaringan kriminal tertua di dunia nyata dan makin populer karena film The Godfather.

Ternyata Cosa Nostra sempat melemah di tahun 90an karena kesalahan strategi. Ketika mereka diburu habis-habisan oleh aparat Italia, jaringan lain bernama ‘Ndrangheta mulai menyeruak ke permukaan. Bahkan ‘Ndrangheta berhasil mengembangkan kerajaan mereka tanpa terdeteksi publik. Nama ‘Ndrangheta memiliki kesamaan dengan bahasa Yunani yakni Andranghateia yang berarti kumpulan orang-orang terhormat. ‘Ndrangheta menyebut orang-orang di luar organisasinya sebagai contrasto, orang-orang yang tidak mengakui keberadaan kumpulan orang terhormat.

Di tahun 60-70an, kejahatan ‘Ndrangheta baru sampai pada pemerasan dan penculikan. Barulah di tahun 1973, mereka mendapatkan modal besar setelah berhasil mendapatkan uang tebusan atas penculikan John Paul Getty III. Mereka menginvestasikan uang tersebut untuk bisnis-bisnis legal, menginfiltrasi pelabuhan hingga melakukan negosiasi dengan Amerika Latin untuk mengimpor kokain.

Kemudian tahun 2010an ‘Ndrangheta mulai merambah peluang bisnis yang memanfaatkan kedatangan imigran gelap. Sebagai salah satu negara terdekat dari benua Afrika, Italia menarik banyak imigran untuk singgah. Jaringan mafia pun melihat peluang tersebut untuk melakukan praktik perdagangan manusia dan prostitusi. Mereka akan berlagak menawarkan suaka, bahkan membiayai keberangkatan para imigran dan menjanjikan pekerjaan di Eropa. Tetapi pada akhirnya menjebak mereka untuk bergabung dengan jaringan prostitusi lokal atau pekerjaan ilegal lainnya dengan upah rendah. Hal ini banyak terjadi di Sisilia dan Calabria. ‘Ndrangheta juga sudah tak lagi menjual kokain di jalan-jalan. Mereka memanfaatkan para imigran asal Eropa Timur dan Afrika untuk melakukannya. Sementara, mereka fokus pada bisnis-bisnis besar lainnya.

Pada awal pandemik 2020 lalu, ‘Ndrangheta memanfaatkan situasi dengan bisnis pinjaman uang dengan bunga tinggi. Dan tak sedikit orang-orang yang memilih bergabung karena kehilangan pekerjaan. Makin banyak orang yang tergantung pada mereka guna bertahan hidup. Meski beberapa petinggi dan anggota ‘Ndrangheta yang tersebar di berbagai negara juga mulai tertangkap. Namun, seperti bukan hal sulit bagi mereka untuk bebas atau tetap menjalankan bisnis dari balik jeruji. Bukan hal mudah mematikan jejaring mereka yang luas, aktif, dan sangat loyal tersebut.

Selain itu, mereka terkenal pandai bersembunyi dari sorotan. Para petingginya sangat hati-hati dalam berpenampilan dan menggunakan uang mereka. Mereka bisa tampak seperti petani atau peternak sederhana, walaupun sebenarnya punya jabatan tinggi dalam organisasi. Seperti yang dilakukan oleh Edgardo Greco. Greco adalah salah satu bos mafia ‘Ndrangheta yang pada tahun 1991 dihukum atas pembunuhan brutal Stefano dan Giuseppe Bartolomeo. Diduga bahwa Greco membunuh dan melarutkan tubuh Bartolomeo bersaudara dalam cairan asam,

Ketika surat perintah penangkapan untuknya dikeluarkan pada tahun 2006, Greco yang dijatuhi hukuman seumur hidup melarikan diri. Dia menghindari penjara dengan memalsukan dokumen medis yang menyatakan bahwa dia membutuhkan perawatan atas sebuah penyakit yang berarti dia tidak bisa ditahan. Dia lolos dari tahanan polisi dan menjadi buronan sejak saat itu. Delapan tahun kemudian, Greco diketahui menetap di kota Saint-Étienne, Perancis dan berkerja sebagai pembuat pizza di sebuah restoran Italia. Dia menggunakan nama samaran Paolo Dimitrio saat tinggal di Prancis.

Nicola Gratteri, jaksa penuntut anti-mafia yang memimpin penyelidikan, menggambarkan Greco sebagai “buronan berbahaya”. Gratteri menemukan firasat awalnya tentang Greco ketika fotonya tampil dalam sebuah artikel oleh surat kabar Prancis Le Progres pada Juli 2021 untuk mengiklankan masakan Italia restorannya. Dalam artikel tersebut Greco disebutkan sebagai orang Italia sejak lahir yang pindah dan menetap di kota Saint-Étienne.

Dalam sebuah pernyataan, polisi militer Carabinieri Italia mengatakan bahwa sejak 2019, para penyelidik telah melacak jaringan pendukung Greco, yang akhirnya membawa mereka ke Saint-Étienne. Interpol mengatakan operasi anti-‘Ndrangheta juga terlibat, dengan otoritas Prancis melakukan pengawasan terhadap lokasi Greco. Polisi Italia kemudian mengkonfirmasi identitasnya dan bergerak untuk menangkapnya.

Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Piantedosi memuji polisi karena telah berhasil menangkap dan mengadili salah satu penjahat terburuk Italia, sementara kepala wilayah Calabria, Roberto Occhiuto, mengatakan penangkapan tersebut menggarisbawahi komitmen Italia untuk memerangi segala bentuk kejahatan terorganisir.