Kisah pahit perempuan-perempuan Kamboja yang ketahuan dibayar untuk menjadi Ibu ‘pengganti’

Kisah pahit perempuan-perempuan Kamboja yang ketahuan dibayar untuk menjadi Ibu ‘pengganti’

SAHMITRA – Surrogate mother atau yang biasa disebut sebagai ‘ibu pengganti’ merupakan istilah yang merujuk pada wanita lain yang meminjamkan rahimnya untuk membantu pasangan mendapatkan keturunan. Ibu pengganti akan mengandung melalui proses inseminasi buatan dengan bantuan sperma sang ayah, atau dengan menaruh sel telur dari ibu kandung dan sperma sang ayah ke rahimnya. Proses ini dikenal sebagai ‘fertilisasi in vitro’ (IVF). Tidak ada ikatan genetik dari sang ibu pengganti dengan sang bayi karena sel telur yang digunakan bukanlah miliknya.

Kamboja menjadi salah satu negara tujuan untuk mendapatkan ‘ibu pengganti’ atau surogasi yang populer di Asia selama hampir satu dekade meskipun sebenarnya praktek tersebut berstatus ilegal. Orang asing berbondong-bondong ke klinik kesuburan dan agen ibu pengganti yang ada di ibu kota Phnom Penh. Konon biaya ‘ibu pengganti’ ini bisa mencapai sebesar puluhan ribu dolar US.

Praktik ini tumbuh subur di ruang abu-abu antara mereka yang bisa dan tidak bisa melahirkan anak, antara mereka yang mampu ‘membayar’ seseorang untuk melahirkan anak biologis mereka dan para wanita yang membutuhkan uang; dan antara mereka yang seksualitas atau status perkawinannya menghalangi mereka untuk dapat mengadopsi secara legal dan mereka yang kesuburannya menyelamatkan mereka dari batasan-batasan tersebut.

Pada tahun 2018, Hun Daneth adalah salah satu dari sekitar 30 ibu pengganti, yang semuanya tengah hamil, yang ditangkap dalam penggerebekan polisi di sebuah kompleks perumahan kelas atas di Phnom Penh. Dia bertindak sebagai ibu pengganti untuk seorang pengusaha Cina, yang kemudian dipenjara dan usaha bandingnya ditolak pengadilan pada bulan Juni lalu. Sementara Hun Daneth dipaksa oleh pengadilan Kamboja untuk membesarkan anak yang dikandungnya atau diancam hukuman 20 tahun atas pelanggaran undang-undang perdagangan manusia.

Hampir semua yang ditangkap dalam penggerebekan tahun 2018 melahirkan saat dipenjara di rumah sakit militer, beberapa diantara mereka bahkan ada yang dirantai di tempat tidur. Hukuman untuk para ‘ibu pengganti’, datang dua tahun kemudian, sebagai ganti hukuman penjara yang ditangguhkan. Dan hukuman itu berbunyi: ibu pengganti harus membesarkan anak-anak itu sendiri. Jika para wanita diam-diam berusaha menyerahkan anak-anak itu kepada orang tua yang dituju, hakim memperingatkan, mereka akan dikirim ke penjara selama bertahun-tahun.

Tetapi menerapkan undang-undang perdagangan manusia untuk ibu pengganti alih-alih semakin membebankan para perempuan ‘ibu pengganti’. Ini berarti bahwa wanita yang kesulitan keuangannya hingga membuat mereka melakukan praktik surogasi, sekarang harus berjuang dengan satu mulut lagi untuk diberi makan. Dipaksa membesarkan anak-anak dari etnis lain juga dapat menimbulkan masalah tambahan dalam keluarga dan komunitas. Fitur atau tampilan anak-anak hasil praktik surogasi menimbulkan tanda tanya dan membuatnya sulit untuk menjelaskan asal-usul mereka.

Secara tegas dan keras, Chou Bun Eng, Sekretaris Negara di Kementerian Dalam Negeri dan wakil ketua komite penanggulangan perdagangan manusia nasional memperingati bahwa praktik surogasi atau ‘ibu pengganti’ berarti perempuan bersedia menjual bayi dan itu dianggap sebagai perdagangan manusia. Dan pemerintah tidak ingin Kamboja dikenal sebagai tempat penghasil bayi untuk dibeli.

Hun Daneth melahirkan seorang anak laki-laki yang sama sekali tidak mirip dengannya atau suaminya karena sebenarnya bukan milik mereka secara darah dan daging. Namun empat tahun sudah mereka membesarkan anak tersebut. Meski awalnya menghadapi keterkejutan dan keterpaksaan, Hun Daneth dengan telaten mengganti popoknya. Selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun, dia mendapati dirinya memeluk dan mencium, membujuk untuk makan lebih banyak nasi, agar anak laki-laki tersebut bisa tumbuh besar dan kuat.

“Saya sangat mencintainya,” kata Hun Daneth sambil menatap bocah laki-laki itu seakan dia  benar-benar miliknya.

Dokter lepaskan 23 lensa kontak dari mata seorang pasien lansia

Dokter lepaskan 23 lensa kontak dari mata seorang pasien lansia

SAHMITRA – Lewat akun Instagramnya seorang dokter mata di Newport Beach, California memposting sebuah video dimana dia menunjukkan dan secara singkat menceritakan bagaimana dia melepaskan 23 lensa kontak dari mata seorang pasiennya.

Melansir Insider.com, Dr. Katerina Kurteeva membagikan pengalamannya ketika seorang pasien perempuan berusia pertengahan 70-an yang memakai lensa kontak harian datang  padanya dan mengatakan bahwa dia merasa ada sesuatu di matanya yang tidak bisa dia keluarkan. Pasien mengeluhkan penglihatannya kabur dan rasa sakit yang mengganggunya  Meskipun sudah disarankan untuk datang setahun sekali untuk pemeriksaan, pasien ini rupanya telah melewatkan janji dan tidak pernah datang untuk pemeriksaan selama dua tahun.

Awalnya Dr. Kurteeva menduga beberapa kemungkinan: lensa kontak yang rusak, goresan pada kornea, infeksi, bulu mata, atau kotoran dari riasan. Dia hanya dapat memastikannya setelah melakukan pemeriksaan. Pertama-tama dia menggunakan anestesi dan noda kuning untuk mengidentifikasi goresan atau benda asing. Tapi dia tidak menemukan kejanggalan pada kornea si pasien, jadi dia melanjutkan untuk menarik kelopak mata bawah dan atas secara manual untuk melihat apakah ada sesuatu di forniks atas atau bawah. Forniks adalah sudut mata yang dalam, seperti kantong kecil di kelopak mata, di mana benda-benda kadang-kadang tersangkut.

Dr. Kurteeva lalu memutuskan untuk menggunakan alat yang disebut spekulum kelopak mata untuk membuat kedua kelopak mata atas dan bawah pasien tetap terbuka untuk jangka waktu yang lebih lama, sehingga dia dapat dengan bebas menggunakan tangannya untuk memeriksa lebih jauh. Ketika dia meminta pasiennya untuk melihat ke bawah, dia mulai bisa melihat ujung beberapa kontak lensa yang menempel satu sama lain. Setelah menarik beberapa kontak lensa itu keluar, dia masih bisa melihat lebih banyak kontak lensa yang tersangkut dan meminta asistennya untuk merekam proses tersebut.

Dr. Kurteeva meminta pasien untuk melihat ke bawah lagi, disana dia bisa melihat gumpalan besar lensa kontak berwarna ungu tua menempel di mata pasien. Itu hampir tampak seperti biji mata kedua. Dengan lembut dan hati-hati dia menggunakan Q-tip untuk mengupas lensa satu per satu. Dan ternyata ada banyak sekali lensa kontak yang tersangkut disana. Yang membuatnya mengatakan bahwa selama hampir 20 tahun praktek, dia belum pernah melihat yang seperti ini.

Setelah yakin telah mengeluarkan semua lensa kontak yang tertinggal di mata pasien, Dr. Kurteeva dengan hati-hati membilas mata pasien dengan air sulingan dan steril, menghilangkan sebagian lendir, dan memberikan obat tetes anti-inflamasi pada pasien sebelum dia dipulangkan. Pasien tersebut mengatakan bahwa langsung merasa jauh lebih baik setelahnya. Di atas sebuah tisu, Dr. Kurteeva memisahkan satu per satu dan menghitung ada total 23 lensa kontak.

Dr. Kurteeva mengatakan bahwa pasien itu sangat beruntung, karena pasiennya itu bisa saja kehilangan penglihatannya, korneanya tergores, atau terkena infeksi. Sebulan setelah pemeriksaan pasien tersebut datang kembali untuk pemeriksaan dan terlihat baik-baik saja, dia merasa jauh lebih nyaman dan melihat dengan jelas.

Menurut analisanya, Dr. Kurteeva tentang bagaimana pasiennya itu bisa lupa melepas semua lensa itu. Itu bisa karena dia telah memakai lensa kontak selama 30 tahun. Ketika seseorang memakai lensa kontak dalam jangka waktu yang lama, hal itu dapat menyebabkan desensitisasi pada ujung saraf kornea. Pasien tidak akan langsung merasakan sesuatu meski sudah ada 23 lensa kontak yang tersangkut di dalam matanya. Itu juga bisa saja karena usia. Forniks kelopak mata orang yang lebih tua, ruang yang paling tidak sensitif, jauh lebih dalam, dan lensa kontak bisa ‘tersembunyi’ di dalam sana untuk sementara waktu sampai akhirnya itu benar-benar mengganggunya.

 

 

 

Kebakaran hebat di klub malam Mountain B di Thailand. 23 orang meninggal diantaranya tewas terpanggang

Kebakaran hebat di klub malam Mountain B di Thailand. 23 orang meninggal diantaranya tewas terpanggang

SAHMITRA – Kebakaran hebat terjadi di sebuah klub, Mountain B pada 5 Agustus 2022 lalu.  Hiburan klub malam yang berlokasi di provinsi Chonburi, sekitar 150 km tenggara Bangkok itu dilahap si jago merah sementara terdapat banyak pengunjung yang masih berada di dalam di lokasi pada saat kejadian. Pihak berwenang menemukan 13 mayat yang hangus terbakar di dalam venue. Dan menurut berita terbaru total korban meninggal dunia menjadi 23 orang.

Penyebab kebakaran diduga terjadi karena ada masalah listrik yang terjadi pada hari-hari sebelumnya. Sehingga mereka memanggil tukang listrik untuk memperbaiki sistem pencahayaan di atas langit-langit. Tapi polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut apakah perbaikan tersebut yang menyebabkan terjadinya kebakaran atau bukan.

Menurut penyelidikan awal, busa akustik mudah terbakar yang melekat disekeliling dinding klub mempercepat kobaran api, sehingga petugas pemadam kebakaran membutuhkan lebih dari tiga jam untuk mengendalikannya. Itu juga dikarenakan struktur bangunan yang merupakan area tertutup namun tidak ada pintu keluar darurat yang layak dan banyak hal lainnya yang menyalahi aturan. Sebagian besar aset interior venue rusak total, termasuk dekorasi, peralatan panggung, lampu dan suara, dan langit-langit.

Ditengah-tengah penyelidikan oleh pihak kepolisian, juga baru diketahui bahwa klub tersebut telah beroperasi tanpa izin. Kemudian Polisi pun lalu menangkap dan menetapkan pemilik klub, Pongsiri Panprasong, 27, yang dikenal dengan julukan Sia B sebagai terdakwa yang telah menyebabkan kematian karena kecerobohan dan mengoperasikan pub tanpa lisensi.

Namun pada 8 Agustus sekitar pukul 15:00, Sia B dibebaskan dengan membayar jaminan 300,00 baht (sekitar Rp. 121juta). Dalam memberikan jaminan, pengadilan mencatat bahwa ‘Sia B’ menyerahkan diri, mengakui tuduhan yang diajukan kepadanya, berjanji bertanggung jawab, dan sepenuhnya kooperatif dengan pengadilan. Sebagai bagian dari syarat jaminannya dia harus memakai gelang pemantau elektronik dan tidak merusak barang bukti. Dia juga diwajibkan untuk menghadiri pengadilan.

Yang kemudian menjadikan kasus ini semakin menarik perhatian adalah beredarnya kabar yang menyebutkan bahwa ‘Sia B’ hanyalah ‘kambing hitam’ yang dikorbankan oleh pemilik klub sebenarnya, yang tak lain dan bukan adalah ayahnya sendiri, Somyot Panprasong, atau ‘Sia Yot’. Bahkan surat perintah penangkapan Sia Yot telah dikeluarkan oleh Pengadilan Provinsi Pattaya.

Pada hari Selasa 16 Agustus, pengacara ‘Sia B’ tiba di kantor polisi untuk memberikan informasi lebih lanjut kepada petugas. Ia juga menegaskan bahwa ‘Sia Yot’ tidak terlibat dalam pendirian klub tersebut dan menyatakan kembali bahwa Sia B adalah pemilik sebenarnya. Namun, ‘Sia Yot’ tetap datang ke kantor polisi Pluta Luangle untuk menanggapi surat perintah penangkapan tersebut. ‘Sia Yot’ membantah semua tuduhan dan mengatakan dia tidak terlibat dengan Mountain B dalam bentuk apa pun.

Pernyataan bantahan ‘Sia Yot’ didukung oleh istri Sia B, Anongnat Panprasong, 31, yang mengatakan kepada pers bahwa berita yang beredar itu adalah tidak benar dan suaminya adalah pemilik tunggal dan bertanggung jawab penuh. Dan Sia B yang sejak awal telah menyatakan bahwa dirinya adalah pemilik Mountain B, menyampaikan penyesalannya kepada para korban dalam pernyataan singkat kepada pers saat meninggalkan pengadilan. Dia menyatakan bahwa dia akan bertanggung jawab dan akan mendukung para korban secara finansial.

Laporan terakhir korban tewas kebakaran Mountain B diketahui naik menjadi 23 orang. Letnan Panupong Wongpakpaiboon, 27, dari Angkatan Laut Kerajaan Thailand yang sebelumnya diidentifikasi sebagai korban dengan luka parah mengalami 60 persen luka bakar. Dia  sempat dirawat di rumah sakit sebelum dinyatakan meninggal karena infeksi.

Seorang gadis berusia 23 tahun bernama Athithaya adalah korban meninggal dunia yang ke-19. Ice, nama panggilan Athithaya adalah kekasih dari Chatchai Chuenkha, penyanyi band yang tampil bersama band-nya , “The Burn”  yang juga ikut menjadi korban meninggal dunia pada saat kebakaran terjadi.

15 Agustus, sang ibu mengkonfirmasi di Facebook bahwa putrinya Athitaya telah meninggal dunia pada usia 23 tahun. Ice meninggal setelah mengalami luka bakar hampir 100 persen dan keracunan yang disebabkan gas karbon monoksida. Sebelumnya, pada 12 Agustus, seorang gadis berusia17 tahun juga meninggal dunia.

 

 

Oli London alias Jimin ‘BTS’ KW akhirnya minta maaf atas obsesi mengerikannya pada sang idola dan kebudayaan Asia

Oli London alias Jimin ‘BTS’ KW akhirnya minta maaf atas obsesi mengerikannya pada sang idola dan kebudayaan Asia

SAHMITRA – Oli London adalah pria asal Inggris kelahiran 14 Januari 1990. Pada tahun 2013, London pindah ke Korea Selatan untuk mengajar bahasa Inggris. Saat itulah dia jatuh cinta dengan kebudayaan negara itu dan juga pada salah satu anggota K-Pop boyband paling populer BTS yakni Jimin. Dia tinggal di sana selama setahun dan setelah kembali ke Inggris dia mulai menjalani operasi plastik agar terlihat seperti idolanya, Jimin.

London yang mengklaim dirinya sebagai media sosial influencer mulai viral pada tahun 2018, ketika dia muncul di Hooked on the Look, acara dokumenter televisi Inggris. Di acara itu, dia mengungkapkan bahwa dia telah menghabiskan lebih dari $ 100.000 dolar untuk operasi plastik demi mencapai tampilan Korea yang sempurna. Dia juga pernah menjadi bintang tamu di Rich Kids Go Skint, yang merupakan acara realiti di Inggris. Di The X Factor Series 15 dan Celebs Go Dating.

Meski terdengar aneh, namun banyak orang yang dibuat penasaran oleh ceritanya dan mereka mulai mengunjungi saluran YouTube-nya. Segera dia menjadi viral dan saluran YouTube-nya mendapatkan banyak subscribers baru. Kini, dia memiliki lebih dari 37 ribu subscribers di YouTube dan videonya telah mengumpulkan lebih dari satu juta tampilan. Selain membagikan perjalanan transormasi penampilannya, konten-konten yang ada dalam YouTube-nya adalah video musiknya, dan kecintaannya pada segala hal yang berbau Korea.

Berikut adalah hal-hal kontroversial tentang Oli London:

1. Perombakkan fisk total

18 operasi dan lebih dari 100 prosedur non-bedah agar terlihat seperti Ji-min. Dalam prosesnya, ia telah menghabiskan lebih dari $ 150.000. Pada tahun 2013 dia memulai proses transformasi fisiknya. Sejauh ini, dia telah menjalani lima operasi hidung, operasi pengangkatan kelopak mata, rekonstruksi rahang dan tulang pipi untuk membuatnya tampak lebih simetris. Giginya juga dicabut dan dipasangi veneer untuk memberikan tampilan Korea yang sempurna. Salah satu operasi paling menyakitkan yang pernah dia lakukan adalah operasi pengecilan dada.

Transformasi fisiknya tidak disukai banyak orang. Beberapa orang menyebutnya rasis dan menuduhnya melakukan perampasan budaya. Dalam pembelaannya, Oli London mengatakan bahwa dia melakukannya karena dia mencintai budaya Korea. Selain itu, dia berpendapat bahwa banyak orang Asia menjalani operasi agar terlihat lebih seperti orang kulit putih dan itu tidak masalah bagi mereka.

2. Menikah dengan potongan karton Jimin lalu bercerai 2 tahun kemudian

Pada tahun 2020, London membuat berita dengan menikahi potongan karton Ji-min di Las Vegas dan upacara itu ditayangkan di Daily Mail TV, E! Berita, dan MBC News Korea. Lalu dua tahun kemudian London mengumumkan ‘perceraian’ dengan potongan karton Jimin dan membagikan surat cerai di akun Twitternya.

3.  Mengidentifikasi dirinya sebagai orang Korea dan Non-Binary

Pada Juni 2021, melalui akun Twitternya, London mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Non-Binary. Non binary, atau yang disebut juga sebagai genderqueer adalah istilah identitas gender yang tidak merujuk secara spesifik pada salah satu gender seperti perempuan maupun laki-laki. Dan tidak hanya itu, dia juga menyebut dirinya sebagai orang asli Korea.

Lagi-lagi cuitannya itu mendapatkan tanggapan buruk. Pernyataannya yang menyebut bahwa dia merupakan orang Korea dinilai tidak sopan dan sebagai tindakan aprosiasi kebudayaan. Dia bahkan mengakui telah menerima ancaman pembunuhan dan  ‘dipaksa’ untuk meminta maaf tapi tidak pernah dilakukannya.

4. Rencana melakukan operasi pengecilan alat kelamin sesuai dengan ukuran rata-rata pria Korea.

Februari 2022, London kembali membuat kehebohan setelah dia mengungkapkan rencananya untuk melakukan operasi pengecilan penis dan alasan dibalik rencananya tersebut. Dalam sebuah wawancara dengan Newsweek, London mengatakan bahwa rata-rata penis pria-pria Korea adalah 3,5 inches atau 8,9cm. Karena itu, Oli mengatakan dia sering diledek oleh teman-temannya yang mengatakan dia tidak bisa menjadi orang Korea 100%. Jadi dia memutuskan untuk ‘mengecilkan’ ukurannya menjadi rata-rata pria Korea untuk bisa menjadi 100% orang Korea.

4. Permintaan maaf terbuka kepada orang Korea dan Jimin

Banyak orang yang percaya bahwa London tidak benar-benar mencintai budaya Korea dan dia melakukan semuanya hanya untuk mendapatkan perhatian dan mendongkrak karirnya. Dan setelah berkali-kali membantah dan tidak meminta maaf, akhirnya belum lama ini London mengeluarkan pernyataan dalam sebuah surat terbuka bahwa ‘setelah periode refleksi diri dan setelah menjalani terapi dan bantuan kesehatan mental’, dia ingin ‘meminta maaf dengan sepenuh hati’.

Saya ingin meminta maaf yang sedalam-dalamnya dari lubuk hati saya kepada setiap anggota komunitas Asia yang pernah salah paham, atau salah menafsirkan kecintaan saya yang ekstrem terhadap Asia dan budaya Asia,” kata London dalam surat itu.

London kemudian menjelaskan bahwa dirinya adalah orang yang sangat tidak bahagia karena mengalami perundungan semasa kecil. Setelah kunjungannya ke Korea Selatan, dia mengalami perubah sepenuhnya sebagai pribadi.

Membutuhkan 32 operasi dan kontroversi lainnya untuk membuat London akhirnya menyadari bahwa apa yang telah dilakukannya selama ini salah dan sangat tidak sehat.

Saya meminta maaf dengan sepenuh hati kepada Jimin, kepada BTS, kepada Army dan semua komunitas Asia yang mungkin menganggap obsesi saya ‘terlalu banyak’, ‘menyeramkan’ atau ‘tidak sehat’.

London menambahkan bahwa dirinya bertanggung jawab penuh dan menyesali perbuatannya selama ini dan berjanji untuk mencoba menjadi orang yang lebih baik.

Trapp Family, keluarga paling tinggi di dunia. Yang terpendek 191 cm.

Trapp Family, keluarga paling tinggi di dunia. Yang terpendek 191 cm.

SAHMITRA – Keluarga Trapp yang menetap di Esko, Minnesota, Amerika Serikat adalah sebuah keluarga yang terdiri dari lima anggota keluarga yakni Scott, Krissy, Savanna, Molly, dan Adam. Yang membuat keluarga ini istimewa adalah karena pada 6 Desember 2020, Guinsess World Records mengkonfirmasi keluarga ini sebagai keluarga tertinggi di dunia dengan tinggi rata-rata 203,29 cm.

Tinggi badan anggota keluarga Trapp adalah:

  • Kristine Trapp, ibu: 191,2 cm
  • Scott Trapp, ayah: 202,7 cm
  • Savanna Trapp, putri: 203,6cm
  • Molly Steede, putri: 197.26cm
  • Adam Trapp, putra: 221.71cm

Tinggi gabungan keluarga itu sama dengan panjang setengah lapangan tenis.

Pada bulan Desember 2020 lalu, Adam, putra bungsu keluarga Trapp mendorong Savanna, putri tertua untuk menghubungi Guinness World Records. Keluarga Trapp lalu mengunjungi Dr. Anna Sudoh, seorang dokter ortopedi di Essentia Health, untuk melakukan pengukuran tinggi badan.

Setiap anggota keluarga harus diukur tiga kali sepanjang hari, dalam posisi berdiri dan berbaring. Setelah memenuhi semua kriteria, Guinness World Records lalu memberi gelar keluarga paling tinggi kepada keluarga Trapps dan mereka sangat senang mengetahui berita tersebut.

Scott dan Kristine mengatakan bahwa tinggi badan menurun dalam keluarga mereka, tetapi anak-anak mereka jauh lebih tinggi daripada anggota keluarga besar lainnya. Namun, keluarga besar menghargai tinggi badan keluarga Trapps. Karena mereka pikir itu berguna untuk proyek rumah tangga. Mereka tidak pernah membutuhkan tangga.

Dan tidak mengherankan, anak-anak keluarga Trapp menjadi idaman dan incaran pelatih olahraga seperti bola basket atau bola voli. Pelatih bola voli Molly misalnya yang kerap kali mengatakan bahwa tinggi badan tidak dapat dilatih. Hanya ada dua hal; kau tinggi atau tidak tinggi.

Savanna direkrut oleh UCLA untuk bermain basket Divisi I, Molly bermain voli di perguruan tinggi, dan Adam adalah pemain basket bintang di sekolah menengah. Namun tidak sekedar mengandalkan keuntungan memiliki tinggi badan diatas rata-rata, mereka juga memiliki etos kerja keras yang mendorong mereka untuk menjadi sukses di bidang masing-masing.

Setiap anggota keluarga Trapp mengalami situasi unik karena tinggi badan mereka. Namun yang paling umum dan sering dialami oleh mereka adalah tidak sengaja membenturkan kepala mereka di pintu, kipas langit-langit, dan lampu. Dan juga mereka sepakat mereka kerap kesulitan untuk menemukan pakaian, terutama celana dan sepatu yang pas.

Menjadi lebih tinggi dari hampir semua orang yang mereka temui, membuat keluarga itu menarik perhatian ke mana pun mereka pergi. Keluarga Trapp sudah terbiasa dengan komentar dan tatapan yang sering mereka dapatkan di tempat umum. Mereka belajar untuk menerima karunia genetika mereka dengan bijak dan menggunakan tinggi badan mereka sebagai cara untuk terlibat dalam percakapan dan membagikan pengetahuan dengan orang lain.

Seperti Savanna yang berharap bahwa dengan gelar Guinness World Records yang keluarganya terima dapat memberikan pesan kepada banyak orang, terutama orang-orang yang memiliki keunikan atau merasa berbeda, bahwa ada sukacita dan kebebasan dalam menerima siapa Anda sebenarnya dan manfaatkan apa yang Anda punya. Bahwa setiap orang adalah unik, tidak ada orang lain seperti Anda dan itu luar biasa.

Menyiksa, memotong gaji dan merusak handphone ART, perempuan di Singapura masuk penjara

Menyiksa, memotong gaji dan merusak handphone ART, perempuan di Singapura masuk penjara

SAHMITRA – Perempuan asal Singapura, Zhao Lin, 35 tahun , dijatuhi hukuman penjara dua tahun dan denda $5.000 karena terbukti melakukan penganiayaan terhadap pembantu rumah tangga yang bekerja di rumahnya. Selama setahun lebih, Zhao Lin memperlakukan ART asal Myanmar, Ma Ei, 29 tahun dengan tidak manusiawi. Zhao Lin kerap menampar dan menendang Ma Ei setiap dia tidak senang dengan pekerjaan Ma Ei.

Selain penganiayaan fisik, Zhao Lin juga memotong gaji Ma Ei dari $500 menjadi $200 per bulan untuk kesalahan yang dibuat oleh pembantunya itu. Ma Ei datang ke Singapura dari Myanmar pada awal 2016 dan mulai bekerja untuk Zhao, yang merupakan majikan pertamanya.

Bangun pukul 6.30 pagi dan tidur tengah malam, tanggung jawab Ma Ei adalah melakukan pekerjaan rumah tangga dan merawat putra Zhao. Beberapa tindakan kekerasan sering terjadi di depan putra Zhao, yang baru berusia empat tahun.

Penyiksaan dimulai pada pertengahan tahun 2017, Zhao sesekali memukul tubuh Ma Ei ketika dia tidak senang dengan pekerjaan atau sikap korban. Pada awal 25 Agustus 2018, Zhao memberi tahu Ma Ei bahwa mainan putranya tidak disimpan dengan benar dan lalu menampar pipi Ma Ei sebanyak 10 kali dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga ART itu terhuyung kebelakang. Zhao bahkan mengancam korban dengan mengatakan dia akan terus memperlakukannya seperti itu sampai ART itu benar-benar takut.

Suatu hari Ma Ei lagi-lagi diteriaki dan ditampar berulang kali oleh Zhao Lin saat Ma Ei sedang membersihkan ruang tamu. Zhao berkata: “Jika kamu melakukan hal yang salah, aku akan langsung menamparmu dua kali!”. Dan ketika Ma Ei menjawab, Zhao Lin merasa tidak senang dan langsung memukul wajah, tubuh dan menendang kaki Ma Ei. Putra Zhao, yang menyaksikan kejadia itu, bertanya kepada ibunya: “Mengapa kamu memukul dia?” Yang dijawab Zhao dengan: “Dia melakukan kesalahan, dia memukul ibu.

Tidak bisa lagi berdiam diri karena kerap menerima siksaan dari majikannya, Ma Ei mengumpulkan keberanian untuk menelepon polisi. Sialnya, Zhao memergokinya dan alhasil dia harus menerima lagi pukulan dari majikannya tersebut.

Ketika polisi tiba beberapa saat kemudian, mereka meminta untuk melihat rekaman televisi sirkuit tertutup di rumah tetapi Zhao menolak. Suaminya, yang tiba di tempat kejadian kemudian, membantu polisi dengan permintaan mereka. Ma Ei dikirim ke rumah sakit, ditemukan memar di dahi dan beberapa lecet di sekujur tubuhnya.

Di pengadilan, Zhao Lin yang bekerja sebagai perawat, mengaku bersalah atas empat tuduhan secara sukarela menyebabkan luka dan kerusakan. Zhao juga mengaku di pengadilan, pada pertengahan 2018 dia telah melempar ponsel Ma Ei ke lantai dan merusak perangkat tersebut. Untuk tindakan ini, dia bisa dipenjara hingga satu tahun dan didenda.

Umat Muslim di Ukraina kesulitan menjalani ibadah puasa di tengah-tengah gempuran Rusia

Umat Muslim di Ukraina kesulitan menjalani ibadah puasa di tengah-tengah gempuran Rusia

SAHMITRA – Meski mayoritas warganya memeluk agama Kristen Ortodoks, namun ada sekitar satu persen dari populasi Ukraina yang beragama Islam. Sebelum perang, Ukraina adalah rumah bagi lebih dari 20.000 warga negara Turki yang dikenal dengan kaum minoritas muslim Tatar Krimea. Kaum minoritas ini sudah lama tidak dapat menikmati keamanan dan kenyamanan dan meski sudah tidak asing dengan penindasan dan pelecehan, namun Ramadan kali ini terasa kian berat bagi mereka.

Lima minggu setelah Rusia menginvasi Ukraina, lebih dari 10 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Menurut PBB ada sekitar empat juta orang yang melarikan diri ke luar negeri. Melansir Aljazeera.com, melalui panggilan telefon dengan seorang kaum Tatar Krimea yang juga menjabat sebagai ketua Liga Muslim Ukraina, Niyara Mamutova.

“Banyak umat Muslim Ukraina mengungsi ke luar negeri dan mereka yang masih di Ukraina membutuhkan dukungan.”

Pada hari pertama bulan puasa, Mamutova menyiapkan Iftar dengan sekelompok keluarga pengungsi yang tinggal bersamanya di Islamic Central di Chernivtsi.

Bulan Ramadhan tahun ini sulit dan emosional bagi muslim yang masih berada di Ukraina karena bom berjatuhan di negara itu dan jam malam yang diberlakukan, membatasi pergerakan mereka ketika banyak keluarga hendak berkumpul untuk berbuka puasa bersama. Banyak juga umat Muslim yang jauh dari rumah, komunitas dan teman-teman,  namun mereka bertekad untuk memanfaatkan bulan suci ini dengan sebaik-baiknya.

“Kita harus siap melakukan yang terbaik untuk mendapatkan pengampunan Allah, berdoa untuk keluarga kita, jiwa kita, negara kita, Ukraina,” kata Mamutova lagi.

Mamutova juga menceritakan bahwa mereka harus mengatur ulang kebiasaan-kebiasaan beribadah dan berpuasa mereka, misalnya beribadah secara online dan memberi makan para tunawisma.

Sumber lainnya yang dihubungi oleh Aljazeera.com adalah Isa Calebi, seorang Turkish pedagang tirai yang tinggal di Ukraina sejak 2010 mengatakan bahwa banyak orang yang terpaksa harus meninggalkan rumah mereka. Bahkan banyak yang tinggal di dalam mobil mereka. Calebi mengatakan bahwa rumahnya selalu terbuka bagi siapapun yang membutuhkan dan ia akan berbagi makanan yang ia miliki untuk mereka. Meskipun dampak perang yang berlangsung membuat kenaikan harga bahan pokok.

Pada awal perang, Calebi telah membantu mengevakuasi 400 orang-orang Turki, umat muslim dan orang Ukraina dari kota tempatnya tinggal, Vinnitsya, bagian barat Ukraina keluar dari negara itu. Sekarang ia membantu 1,000 yatim piatu yang tinggal di dekat Chernivtsi’s Holy Ascension Monastery Banchenskyy. Tidak lupa Calebi juga mengajak orang-orang di dunia untuk membantu meringankan beban dan penderitaan warga Ukraina dibawah gencatan invasi Rusia.

“Anak-anak ini penuh dengan air mata. Saya ingin memberi mereka semua zakat kita tahun ini. Saya menyerukan kepada yang lain, tolong bantu tempat ini di mana anak-anak menangis, ”

“Orang Ukraina adalah orang baik. Kita harus membantu mengangkat beban mereka – saya meminta semua orang untuk mendukung Ukraina.”

Peratuan baru soal toa masjid di Indonesia. Dukung atau tidak setuju?

Peratuan baru soal toa masjid di Indonesia. Dukung atau tidak setuju?

SAHMITRA – Pada 18 Februari 2022 lalu, Mentri Agama Yaqut Cholil Quomas menandatangani Surat Edaran (SE) Menag 05 Tahun 2022 terkait pedoman pemasangan dan penggunaan toa masjid, yang bunyinya:

  1. Pemasangan pengeras suara dipisahkan antara pengeras suara yang difungsikan ke luar dengan pengeras suara yang difungsikan ke dalam masjid/musala
  2. Untuk mendapatkan hasil suara yang optimal, hendaknya dilakukan pengaturan akustik yang baik;
  3. Volume pengeras suara diatur sesuai dengan kebutuhan, dan paling besar 100 dB (seratus desibel);
  4. Dalam hal penggunaan pengeras suara dengan pemutaran rekaman, hendaknya memperhatikan kualitas rekaman, waktu, dan bacaan akhir ayat, selawat/tarhim.

SE ini diterbikan dengan maksud dan tujuan untuk meningkatkan ketentraman, ketentraman dan keharmonisan antar warga. Tentu saja penerbitan SE ini dengan cepat menjadi topik hangat untuk dijadikan bahan pembicaraan di segala lapisan masyarakat dan menimbulkan pro dan kontra.

Orang-orang yang mendukung atau pro atas diterbitkannya SE ini menyambut baik dan melihat hal ini sebagai suatu bentuk toleransi antar umat beragama. Sementara yang kurang mendukung atau kontra beranggapan bahwa SE ini terlalu mencapuri urusan keagamaan secara teknis yang sebenarnya bisa diatur oleh masyarakat sendiri lewat musyawarah dan tradisi.

Merupakan bagian dari syiar agama, penggunaan pengeras suara masjid memang dibutuhkan khususnya untuk umat muslim yang merupakan mayoritas di negara ini. Namun disisi lain, masyarakat Indonesia memiliki keberagaman agama dan latar belakang. Dan ternyata tidak sedikit pula umat muslim yang juga mengeluhkan penggunaan toa masjid yang terlalu berlebihan.

Seperti misalnya pada tahun 2013, kakek berusia 75 tahun bernama Sayed Hasan warga Banda Aceh yang sempat melayangkan gugatan yang kemudian dicabut mengenai keluhan dan ketidaknyamanan yang ia rasakan terhadap 10 buah pelantang suara masjid disekitar rumahnya. Kakek Sayed Hasan mencabut gugatannya dan memilih jalur damai. Dan ada juga seorang Muslimah berusia 31 tahun yang tinggal di pinggiran Jakarta yang menderita insomnia atau gangguan tidur dan kecemasan karena kerap terbangun dari tidur secara tiba-tiba karena suara pengeras suara yang begitu kencang yang berasal dari masjid didekat rumahnya setiap pukul 03:00 WIB. Meski seorang muslim, dirinya tidak berani menyampaikan keluhannya tersebut pada pihak manapun dengan alasan mengingat banyak sekali kasus yang sama berujung permasalahan yang lebih besar, belum lagi perundungan dan ancaman bui yang bisa mengintai si pelapor.

Mungkin hal-hal ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan SE tersebut dibuat. Selain itu tidak hanya di Indonesia saja yang sudah mengatur soal penggunaan toa masjid ini. Negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Mesir, Malaysia, Arab Saudi ternyata sudah lebih dulu mengeluarkan peraturan tentang penggunaan toa masjid ini.  Kebanyakan alasan yang menyebabkan peraturan tersebut dibuat adalah karena maraknya keluhan warga akan bisingnya volume pengeras suara yang digunakan masjid yang justru malah menganggu kekushyukan warga ketika beribadah. Selain itu suara yang perasal dari pengeras suara tersebut kerap menganggu warga lansia, balita dan pasien rumah sakit.

Turis asal Rusia terancam jadi gembel karena tidak bisa tarik uang

Turis asal Rusia terancam jadi gembel karena tidak bisa tarik uang

SAHMITRA – Pulau Dewata, Bali adalah destinasi liburan paling populer bagi turis internasional, termasuk Rusia. Menurut data dari biro statistik, ada sekitar 1.150 orang Rusia yang masuk ke Indonesia pada Januari 2022. Seminggu belakangan, para turis asal Rusia ini mengalami masalah akibat imbas dari invasi militer ke negara Ukrania yang dimulai oleh presiden mereka, Vladimir Putin.

Pada dini hari Kamis, 24 Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan “operasi militer khusus” terhadap Ukraina. Sedikitnya 136 warga sipil tewas, termasuk 13 anak-anak, dan 400 lainnya terluka menurut badan PBB pada Selasa, 1 Maret. Seluruh dunia bereaksi dan menentang keras keputusan yang diyakini sebagai serangan terbesar di negara Eropa sejak Perang Dunia II ini.

Sanksi melumpuhkan yang dijatuhkan oleh AS, UE, dan negara lainnya terhadap Rusia tampaknya berdampak tidak hanya pada warga yang tengah berada di negara itu, tetapi juga pada warganya yang saat ini tengah berada di luar negeri.

Melansir dari reuters.com, seorang turis asal Rusia, Konstantin Ivanov mencoba menarik uang dari rekeningnya di salah satu mesin ATM di Bali, transaksi tersebut gagal karena diblokir. Hal yang sama juga dialami oeh turis-turis Rusia lainnya yang tidak dapat melakukan pembayaran di hotel, restoran dan lain-lain dengan menggunakan kartu mereka hingga mereka terpaksa membayar dengan uang tunai. Masalahnya menurut mereka, mereka tidak akan mungkin bertahan dengan uang tunai yang tersisa yang mereka miliki saat ini.

Dan ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Setidaknya ada lebih dari 7.000 orang Rusia yang saat ini terdampar di destinasi  pantai populer di Thailand karena pembatalan penerbangan, mata uang yang terjun bebas dan masalah pemblokiran pembayaran.

Di Kerala dan Goa, India yang merupakan tujuan paling dicari turis Rusia, banyak turis yang dilaporkan kehabisan uang karena mereka tidak dapat mengakses rekening bank mereka.

Bukan joki, kakek asal India ketagihan vaksin COVID-19 sudah disuntik 11 kali

Bukan joki, kakek asal India ketagihan vaksin COVID-19 sudah disuntik 11 kali

SAHMITRA – Di tanah air belakangan ini marak beredar berita bahwa di beberapa daerah terdapat kasus joki vaksinasi Covid-19 yang dimana pelaku-pelakunya kini harus berurusan dengan pihak kepolisian. Salah satu kasus praktek joki vaksinasi ini terjadi di kota Semarang. Kapolrestabes Semarang, Kombes Irwan Anwar, yang dilansir dari news.detik.com, menyatakan bahwa kasus tersebut terungkap pada 3 Januari 2022.

Aksi tiga orang ibu rumah tangga, CL (37), IO (48) dan DS (41) terungkap dan berhasil digagalkan oleh tenaga medis yang menyadari adanya kejanggalan ketika melakukan screening indentitas dan ciri-ciri fisik yang tidak sesuai sebelum dilakukannya vaksinasi. CL adalah orang yang harusnya divaksin. CL membutuhkan sertifikat vaksin untuk bepergian ke luar kota tapi tidak mau divaksin dengan alasan bahwa dirinya adalah seorang penyitas COVID-19 dan memiliki penyakit komorbid. CL lalu menceritakan kebutuhannya tersebut pada IO yang kemudian mengenalkannya pada DS yang kebetulan sedang membutuhkan uang dan bersedia menjadi joki dengan bayaran Rp. 500ribu.

Kasus lainnya terjadi di provinsi Sulawesi Selatan. Warga asal kabupaten Pinrang bernama Abdul Rahim (49) telah menjalani 17 kali vaksinasi COVID-19 sebagai joki dengan memungut bayaran Rp. 100ribu hingga 800ribu.

Lain halnya dengan Abdul Rahim yang menerima vaksin COVID-19 berkali-kali demi uang. Seorang kakek berusia 85 tahun di India bernama Brahmdeo Mandal, mengaku telah menerima vaksin COVID-19 sebanyak 11 kali. Kakek pensiunan petugas pos ini mengatakan bahwa suntikan-suntikan yang dia terima tersebut membantunya menghilangkan rasa sakit dan nyeri yang telah lama dia derita dan meningkatkan nafsu makannya. Dia menambahkan bahwa dulu untuk berjalan dia membutuhkan tongkat, namun setelah mendapat suntikan vaksin untuk COVID-19 dia tidak lagi membutuhkan tongkat tersebut.

Kakek Mandal bahkan rela melakukan perjalanan ke kamp-kamp tempat vaksinasi di Madhepura, tempat tinggalnya, sampai ke distrik-distrik tetangga yang jaraknya lebih dari 100km untuk mendapatkan vaksinasi. Dan dia menyimpan catatan terperinci dalam tulisan tangan tentang tanggal, waktu dan kamp​​​​ tempat dia menerima 11 dosis yakni antara Februari dan Desember tahun 2021.

Sejak vaksinasi dimulai pada 16 Januari tahun lalu di India, terdapat dua vaksin yang diproduksi secara lokal, yakni Covishield dan Covaxin. Vaksin dua dosis ini memiliki jeda empat hingga enam minggu setelah dosis pertama. Tapi dalam sebuah temuan dari kasus ini, kakek Mandal berhasil menerimal dua suntikan dalam waktu setengah jam pada hari yang sama dan masing-masing suntikan tersebut terdaftar di portal vaksin India yang bernama CoWin.

Pakar kesehatan masyarakat Chandrakant Lahariya mengatakan bahwa penyebab hal tersebut bisa terjadi adalah karena data vaksinasi dari kamp tidak diunggah di portal secara realtime atau data-data baru diproses setelah jeda yang lama. Kemungkinan lain adalah karena adanya gangguan sistem atau jaringan pada portal yang disebabkan oleh kelalaian petugas yang menjaga kamp vaksinasi.