Tidak Pakai Masker, Wanita Ngamuk Naik Meja hingga Ancam Tusuk Pegawai KFC

Tidak Pakai Masker, Wanita Ngamuk Naik Meja hingga Ancam Tusuk Pegawai KFC

Sahmitra — Seorang wanita di Amerika Serikat mengamuk di sebuah restoran cepat saji karena tak kunjung dilayani saat keadaan lapar dan mengancam akan menusuk staf.

Menyadur Daily Mail, pada Minggu (20/09/2020) seorang wanita mengancam akan menusuk seorang pekerja di sebuah kedai KFC di California saat ia tidak dilayani karena menolak untuk mengenakan masker.

Dalam sebuah video yang viral di media sosial, menunjukkan wanita itu melompat ke meja dan dia berteriak ‘Beri saya sesuatu untuk dimakan! Saya lapar!’

Rekaman itu dibagikan ke TikTok dan Facebook oleh seorang wanita yang mengatakan itu terjadi di Fresno.

Wanita itu kemudian melontarkan kata-kata kasar yang sebagian besar tidak dapat dipahami kepada seorang karyawan pria di mana dia menantangnya untuk menelepon polisi.

Wanita tak dikenal itu juga mengancam akan menusuk pekerja wanita kecuali dia segera mendapat ‘sesuatu untuk dimakan’.

Dalam video lain, wanita tersebut mengklarifikasi pesanan kentang tumbuk dan ayamnya meskipun staf mengatakan kepadanya bahwa dia tidak akan dilayani.

“Saya tidak bisa. Saya akan dipecat.” ujar seorang karyawan kepada wanita tersebut saat menolak untuk memberikannya makan.

Meskipun anggota staf ini jelas bekerja di KFC, wanita itu balas berteriak padanya: “Kamu bahkan tidak bekerja di sini!”

Bukan hanya naik ke meja, wanita tersebut bahkan hingga menendang sebuah papan tanda promosi dan masih minta ia untuk dilayani.

Wanita tersebut juga terus menuntut untuk diberi tahu mengapa dia tidak bisa mendapatkan makanan. Seorang anggota staf mengatakan kepadanya bahwa itu karena dia tidak memakai masker.

Wanita itu bersikap kasar kepada pekerja tersebut sebelum dia tampak mengancamnya. Sebagian besar diabaikan oleh staf, wanita itu turun dari meja dan berjalan keluar.

Dia ditawari masker oleh pelanggan lain tetapi wanita menolaknya dan berteriak ‘aku tidak peduli’ dan menyatakan bahwa dapur KFC menjijikkan.

Tak seorang pun dari pihak KFC atau Yum!, perusahaan induknya, bersedia untuk mengomentari video tersebut.

Ini adalah salah satu dari sekian banyak insiden di restoran cepat saji dalam beberapa bulan terakhir, sebagian besar disebabkan oleh pelanggan yang menolak untuk memakai masker.

Di Taco Bell, di Bolivar, Missouri, seorang wanita tanpa masker berteriak pada pelanggan, menggunakan bahasa rasial ketika dia tidak diberikan layanan.

Kronologi Sales Honda Dipecat karena Baju Tembus Pandang, Pegawai Pria Tak Nyaman

Kronologi Sales Honda Dipecat karena Baju Tembus Pandang, Pegawai Pria Tak Nyaman

Sahmitra — Seorang karyawati dealer Honda di Edmonton, Kanada, dipecat karena memakai baju yang dianggap tembus pandang. Alasan pemecatannya adalah atasan lengan panjang dan celana panjang yang melanggar aturan berpakaian di perusahaan, dan membuat rekan-rekan prianya tidak nyaman. Pegawai bernama Caitlin Bernier itu lalu mengajukan komplain terkait hak asasi manusia ke Alberta Honda, tempatnya bekerja.

“Saya dipecat karena memakai ‘pakaian yang tidak pantas’ untuk bekerja,” tulis Bernier dalam komplainnya yang dikutip CBC News, pada Rabu (16/09/2020).

“Ini pakaian yang sama sewaktu saya diterima kerja,” lanjutnya.

“Saya merasa sangat didiskriminasi atas semua ini,” kata Bernier yang baru direkrut dan terdaftar di program pelatihan karyawan perusahaan.

“Saya merasa salah diperlakukan. Saya tidak pantas kehilangan pekerjaan karena pakaian.”

Karyawati berusia 20 tahun itu menerangkan, dia dipecat dari dealer di 9525 127th Ave pada 11 September, setelah seorang rekan perempuan menghampirinya di kantor. Dia mengatakan dirinya ditegur karena bajunya tembus pandang, melanggar aturan berpakaian perusahaan dan membuat beberapa rekan pria tidak nyaman.

Bernier lalu menuturkan ke CBC News, baju itu juga dipakainya saat wawancara kerja di awal bulan dan sudah diberitahu pakaian itu sesuai dengan aturan bisnis-kasual di sana. Rekan wanitanya sempat menyuruhnya memakai sweater untuk menutupi bajunya atau pulang, tapi Bernier langsung bertemu dengan perwakilan HRD.

“Hal pertama yang dikatakan wanita HRD itu adalah, ‘bajunya tidak apa-apa, sama sekali tidak tembus pandang’,” kata Bernier di Facebook-nya menceritakan insiden itu.

Unggahannya viral dan mendapat lebih dari 15.000 komentar sejak 11 September. Bernier melanjutkan, staf HRD mengizinkannya pulang sampai manajernya kembali ke kantor. Ia pun pulang tapi kira-kira satu jam kemudian dia ditelepon manajer umum dealer itu, yang mengatakan dia dipecat karena pelanggaran aturan berpakaian.

“Dia (manajer pria) tidak pernah melihat pakaianku. Saya tidak pernah punya kesempatan berbicara.”

“Saya berkata, ‘Saya akan ke dealer dan bertemu Anda sekarang’, dan dia berkata ‘Percakapan ini sudah selesai’ dan menutup teleponku.”

Bernier baru bekerja dua minggu di sana dan merupakan satu-satunya wanita di bagian staf penjualan yang totalnya sekitar 12 orang.

Ditagih Upah Malah Marah, 2 WNI di Jeddah Dianiaya Majikan

Ditagih Upah Malah Marah, 2 WNI di Jeddah Dianiaya Majikan

Sahmitra — Dua warga negara Indonesia yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di Jeddah, Arab Saudi, dianiaya oleh majikan lantaran masalah upah.

Atas insiden Tayma, provinsi Tabuk ini, Konsulat Jenderal RI (KJRI) Jeddah memperkarakan si majikan ke pihak berwajib.

Dalam keterangan pers yang dirilis oleh KJRI Jeddah, pada Kamis (17/9/2020), Sumarkinah Kasiran Kolsimah dan Sriatun menderita sejumlah luka-luka akibat perbuatan majikan yang diidentifikasi sebagai MSU.

Penganiayaan ini terungkap setelah pihak Pelayanan dan Perlindungan Warga (Yanlin), mengetahui sebuah video yang diunggah oleh keluarga korban di media sosial.

Dari situ, koordinator Yanlin, Safaat Ghofur langsung mengerahkan tim untuk menyambangi rumah tempat dua ART bekerja dan melaporkan kejadian ini ke kantor polisi setempat.

Ditagih Upah Malah Marah, 2 WNI di Jeddah Dianiaya Majikan. (KJRI Jeddah)

Setelahnya, MSU, Sumarkinah, dan Sriatun dihadirkan ke kantor kepolisian untuk dimintakan keterangan terkait insiden penganiayaan tersebut.

Di hadapan polisi, MSU semula mengelak telah melakukan tindak kekerasan terhadap pembantunya itu. Namun, lebam di beberapa bagian tubuh Sriatun yang diperkuat dengan hasil pemeriksaan medis dari rumah sakit setempat, serta kesaksian Sumarkinah, membuat majikan ini tak berkutik.

Sriatun menyebut sejak lama telah mendapatkan perlakuan kasar dari MSU. Tapi puncaknya terjadi pada akhir Agustus saat dirinya menagih upah sekaligus uangnya senilai 2.300 riyal yang dipinjam istri majikan.

“Dia (istri majikan) malah marah-marah dan mengadu ke suaminya. Waktu saya salat, suaminya (majikan) datang marah-marah dan mengusir saya. Saya berontak tidak mau pergi. Langsung dipukul saya di sini, sini, sini (sambil menunjuk ke bagian tubuh tertentu),” ujar Sriatun

“Saya lari ke rumah bapaknya (orang tua majikan), di sana sudah tidak sadar saya,” sambung perempuan kelahiran Mataram 1975 itu.

Sumarkinah yang bekerja di rumah orang tua majikan, terkejut melihat kondisi Sriatun yang tergeletak tak sadarkan diri. Sontak, ia langsung menelepon suami temannya itu dan merekam insiden tersebut.

Kedapatan menolong Sriatun dan mengambil video, SKK ikut dihajar oleh MSU. “Ambil sendal dia, mukul aku. Tapi ditangkis ibunya dan adiknya. Kurang puas dia mukul lagi. Dia menendang kena di sini (perut) dan pukul di sini (muka),” tutur perempuan asal Pemalang Jawa Tengah itu.

Atas tindakan kejam majikan ini, Sriatun sempat mengalami gangguan penglihatan selama beberapa hari.

Namun, kondisinya berangsur-angsur pulih setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit.

SR dan SKK akhirnya dibawa Tim Yanlin ke KJRI Jeddah. SKK dipulangkan ke Tanah Air, Rabu (16/9) setelah memaafkan majikan dan menerima hak-haknya.

Sementara itu, SR ditampung di shelter KJRI Jeddah sambil menunggu penyelesaian kasusnya dan pemenuhan hak-haknya.

Tidak Prosedural

Baik SR maupun SKK diberangkatkan ke Arab Saudi secara ilegal. Keduanya diberangkatkan dengan visa ziarah pribadi (ziarah syakhsiyah) untuk menetap dan bekerja di Arab Saudi sebagai asisten rumah tangga.

“Berangkat dengan cara ini cukup berisiko dan menyulitkan kami dari sisi pelindungan. Sebab, tidak dilengkapi dengan dokumen semestinya, seperti perjanjian kerja (PK) yang bisa dijadikan dasar penuntutan jika terjadi wanprestasi dari pihak majikan,” ujar Konjen Eko Hartono.

Selain itu, imbuh Konjen Eko, masyarakat seharusnya sudah maklum bahwa pemerintah sejak tahun 2011 telah menghentikan pengiriman PMI untuk bekerja di sektor domestik.

Kebijakan ini diperkuat dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor 260 Tahun 2015, tentang Penghentian dan Pelarangan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia pada Pengguna Perorangan di Negara-negara Kawasan Timur Tengah.

Disuruh Lompat Jongkok 100 Kali sebagai Hukuman, Bocah Ini Sakit dan Meninggal

Disuruh Lompat Jongkok 100 Kali sebagai Hukuman, Bocah Ini Sakit dan Meninggal

Sahmitra — Seorang bocah 13 tahun di Thailand dilaporkan sakit dan meninggal, setelah dia disuruh lompat jongkok hingga 100 kali sebagai hukuman. Potay Suriyawt Jiwakano, pelajar asal Samut Songkhram, awalnya tidak masuk kelas selama tiga hari karena sakit, dan baru kembali di hari keempat.

Meski masih merasa tidak enak badan, Potay memaksakan diri untuk bersekolah. Karena itu, dia membawa surat keterangan dari dokter. Hanya saja, si guru di Sekolah Thawaranukun menghukumnya agar melakoni lompat jongkok. Karena dia ditengara tak mengerjakan tugas. Bocah 13 tahun itu dilaporkan kesusahan untuk menyelesaikan hukuman mengingat dia baru saja sembuh dari sakit, kata keluarga Potay.

Setelah melakoni hukumanya, Potay kembali sakit pada 4 September dan terpaksa merawat dirinya sendiri karena orangtuanya tengah bekerja. Potay disebut ditinggalkan di rumah bersama adiknya, di mana kedua orangtuanya baru pulang dari bekerja pada pagi harinya. Betapa kagetnya orangtua Potay ketika mereka memeriksanya pada 5 September, dan mendapati bahwa dia sudah meninggal dunia.

Dikutip Daily Mirror, pada Jumat (11/09/2020), orangtua Potay segera menelepon paramedis, yang menyatakan anak itu meninggal saat mereka sampai. Dokter menyakini, remaja itu meninggal dalam tidur karena mengalami gagal jantung pada pukul 03.00, satu jam sebelum ayah dan ibunya pulang.

Pihak Sekolah Thawaranukun kemudian menelepon keluarga remaja itu. Mereka meminta maaf dan bertanggung jawab atas insiden tersebut. Sekolah menyatakan, guru yang memberikan hukuman kepada anak itu bakal menjalani pemeriksaan sebelum diputuskan apakah bakal dilaporkan ke polisi.

Pramot Eiamsuksai, paman anak itu menuturkan keluarganya sangat sedih karena si keponakan kehilangan nyawanya hanya karena kesalahan kecil.

“Pihak sekolah sepakat untuk memberikan ganti rugi atas kematian Potay, dan bersedia menanggung biaya yang keluar,” jelas Pramot.

Dia pun berharap kasus ini bisa menjadi pelajaran di Thailand, agar tak ada lagi guru yang sewenang-wenang menghukum muridnya.

Fakta Mengejutkan Kasus Anak Dibunuh Akibat Susah Belajar Online

Fakta Mengejutkan Kasus Anak Dibunuh Akibat Susah Belajar Online

Sahmitra — Sepasang suami-istri, IS (27) dan LH (26), nekat membunuh anak perempuannya yang berusia delapan tahun. Urusan sepele berujung petaka. Kepada polisi, pelaku murka karena anaknya susah belajar online.

Di tengah pandemi Corona, korban yang duduk di kelas 1 SD itu tengah mengikuti pembelajaran jarak jauh. Entah apa yang merasuki suami-istri bengis tersebut, anaknya disiksa yang berujung nyawa melayang. Berikut fakta-fakta kasus tersebut:

1. Korban Dianiaya Saat Belajar Online

Kasat Reskrim Polres Lebak AKP David Adhi Kusuma menjelaskan peristiwa penganiayaan itu terjadi pada 26 Agustus 2020. Lokasinya di sebuah kontrakan yang pelaku dan korban tempati, kawasan Larangan, Kota Tangerang.

“(Dibunuh) lagi belajar daring dengan sekolah. Korban kelas 1 SD,” kata David, pada Senin (14/09/2020).

Pelaku katanya memukul hingga lebih dari lima kali saat hari yang naas tersebut. Pelaku khususnya ibu dari korban, LH, mengaku kesal karena si anak susah diajak belajar.

“Dicubit bagian paha. Selanjutnya sambil mukul bagian paha terus si anak ini dipukul juga menggunakan gagang sapu. Dari kayu sebanyak lebih dari 5 kali. Setelah anak ini terjatuh dia bangunkan kembali. Dia berdirikan setelah dilihat kok kami main-main, kok lemas sekali. Dia dorong sehingga terbentur ke lantai,” ujar David.

“Jadi mereka, khususnya ibunya LH ini kepada almarhum ini anak kandung sendiri dia merasa kesal. Merasa anak susah diajarkan, sudah dikasih tahu diajarkan, dia kesal gelap mata,” kata David menambahkan.

2. Korban Sering Dianiaya

Dari hasil pemeriksaan, polisi juga mengetahui bahwa orang tua tersebut sering melakukan penganiayaan. Penganiayaan khususnya ke korban anak yang meninggal ini. Korban sendiri memiliki adik kembar.

“Betul sering dianiaya. Kami dapati dari dikomen file di hp-nya pelaku. Bahwa memang korban ini ada beberapa foto mengalami lebam di bagian mata dan bibir,” kata David.

Berdasarkan pengakuan LH, kata David, korban masih hidup usai menerima sejumlah penganiayaan. Pelaku juga sempat akan membawa korban ke rumah sakit namun di perjalanan ternyata meninggal dunia.

Usai membunuh dan menguburkan anaknya di Kecamatan Cijaku, Lebak, mereka kemudian pindah kontrakan ke Jakarta Selatan.

3. Ortu Bikin Laporan Palsu

Usai membunuh dan menguburkan anaknya sendiri, IS dan LH sempat membuat laporan palsu ke Polsek Setiabudi, Jakarta Selatan. Dalam laporan itu, pasutri bengis ini mengaku kehilangan anak saat bermain.

“Mereka pindah kontrakan, anak kembarnya (adik korban) diajak untuk membuat laporan polisi kehilangan,” ucap David.

Laporan itu dibuat pada tanggal 28 Agustus setelah keduanya memakamkan korban anak di TPU Gunung Kendeng. Mereka juga mengajari kembaran korban untuk membuat laporan palsu tersebut.

“Jadi anaknya sempat ditanyakan, anaknya lancar bicara. Pada saat main, terus tiba-tiba kakaknya ini hilang,” kata David.

4. Kuburan Misterius

Untuk diketahui, terungkapnya kasus pembunuhan ini berawal dari kecurigaan warga terhadap kuburan misterius di TPU Gunung Kendeng. Warga yang curiga, kemudian menggali dan menemukan jasad di kedalaman setengah meter. Ternyata di sana ada mayat perempuan tanpa identitas lengkap dengan pakaiannya.

“Kita bongkar sama-sama, kita saksikan, apakah ini makam apa, kita baru setengah sudah kelihatan kakinya,” kata Kapolsek Cijaku AKP Zaenudin, pada Sabtu (12/09/2020).

Jasad bocah itu dievakuasi ke RS Adjidarmo, Rangkasbitung untuk kepentingan autopsi. Polisi menyelidiki kasus tersebut dan menangkap suami-istri bengis itu.

5. Korban Luka Lebam di Kepala

Hasil autopsi korban anak usia 8 tahun yang dianiaya oleh orang tuanya, IS (27) dan LH (26), menunjukkan ada bekas luka lebam di bagian kepala. Luka ini diduga akibat hantaman benda tumpul. Setelah itu, pelaku menguburkan jasad bocah perempuan tersebut secara tak layak di TPU Gunung Kendeng, Lebak, Banten.

“Dari hasil autopsi itu kepala kanan dan pada tulang tengkorak luka lebam akibat hantaman benda tumpul,” kata Kasat Reskrim Polres Lebak AKP David Adhi Kusuma, Selasa (15/09/2020).

Kasus Covid-19 Meningkat, Warga Myanmar 'Lockdown' Mandiri

Kasus Covid-19 Meningkat, Warga Myanmar ‘Lockdown’ Mandiri

Sahmitra — Beberapa penduduk di kota-kota besar Myanmar melakukan ‘lockdown’ mandiri di kawasan tempat tinggal mereka demi menghalau penyebaran pandemi virus Corona yang kasusnya kian melonjak di negara tersebut.

Menyadur Channel News Asia (CNA), Minggu (13/9/2020), para warga Myanmar menggunakan potongan kayu dan besi, serta barang-barang lainnya untuk membuat barikade di sekitar lingkungan mereka pada 11 September lalu. Setidaknya, negara Asia Tenggara itu telah melaporkan total 2.625 kasus virus korona dan 15 kematian.

Jumlah infeksi telah meningkat empat kali lipat sejak pertengahan Agustus, ketika virus muncul kembali di negara bagian Rakhine barat setelah berminggu-minggu tanpa kasus domestik. Banyak dari kasus baru-baru ini terjadi di Yangon, ibu kota komersial dan kota terbesar.

Penduduk mulai membangun penghalang jalan darurat untuk menghentikan orang bebas memasuki dan meninggalkan distrik mereka.

Pekan lalu, otoritas pemerintah mengeluarkan perintah tinggal di rumah untuk penduduk. Layanan maskapai penerbangan serta bus luar kota juga ditangguhkan.

Aung Zaw Min, kepala distrik di kotapraja Kyimyidaing yang menjaga salah satu barikade, mengatakan para penduduk telah ceroboh dalam mencegah virus hingga kasus infeksi meningkat.

“Sekarang kami harus menyadari bahwa kami tidak dapat meremehkan infeksi massal yang disebabkan oleh Sittwe–salah satu kota di Myanmar,” kata Aung Zaw Min.

Barikade itu dibangun warga tanpa izin dari otoritas setempat, yang dengan cepat memerintahkan penutupan jalan itu dicopot, meskipun beberapa masih ada pada Sabtu.

Beberapa pengguna media sosial mengejek barikade, bercanda bahwa penduduk telah mengubah lingkungan kota menjadi “republik mini”.

“Ini seperti gerbang perbatasan antara Korea Selatan dan Utara,” kata Lu Zaw Oo.

“Barikade seharusnya tak diperlukan,” tambahnya.

Setelah 12 Hari, Jenazah Gadis Kecil Ditemukan di Dalam Lemari

Setelah 12 Hari, Jenazah Gadis Kecil Ditemukan di Dalam Lemari

Sahmitra — Gadis berusia 9 tahun asal Afrika Selatan meninggal dan mayatnya ditemukan di dalam lemari di sebuah gubuk. Awalnya, Boipelo Sesele dinyatakan menghilang saat bermain dengan anak-anak lain pada 1 September di provinsi Free State, Afrika Selatan.

Saksi mata mengatakan Sesele terakhir kali terlihat berbicara dengan seorang pria jangkung sebelum pergi bersamanya ke toko makanan. Sejak saat itu, tidak pernah terlihat lagi sebagaimana dilansir dari Mirror, pada Minggu (14/09/2020).

Orang tua Selese bingung mencari keberadaan putrinya hinga berhari-hari kemudian. Pada Sabtu (12/09/2020) anak-anak mengeluh tentang bau busuk yang tercium dari sebuah gubuk yang terletak tidak jauh dari rumah korban. Warga setempat lantas pergi ke gubuk tersebut untuk menyelidikinya. Karena gubuknya terkunci, warga lantas mendobraknya dan mencium bau busuk tersebut berasal dari sebuah lemari.

Ketika lemari dibuka, warga kaget karena melihat mayat Selese dan lantas menelepon polisi. Juru bicara polisi Brigadir Sam Makhele mengatakan pemilik gubuk datang setelah polisi tiba di lokasi. Dia menambahkan pemilik gubuk itu langsung diamuk oleh massa.

“Polisi mencoba turun tangan, tapi juga diserang,” kata Makhele.

Pemilik gubuk, yang juga dijadikan tersangka, akhirnya berhasil dibawa ke tempat aman setelah diamuk massa. Namun dia dinyatakan meninggal beberapa saat kemudian karena lukanya sangat parah. Tokoh masyarakat setempat, Thebe, mengatakan kepada SABC News kalau anak-anak itu melaporkan mencium bau busuk pada Sabtu sekitar pukul 16.00 waktu setempat.

Ketika membuka pintu gubuk, dia mengatakan bagian dalamnya sangat berantakan dan sangat kotor. Thebe mengatakan warga lantas membuka lemari dan mendapati jenazah Sesele di dalamnya.

“Dia membusuk. Itu menghancurkan saya,” tambah Thebe.

Pria Terjelek di Uganda Nikahi Istri Ketiga, Sekarang Punya 7 Anak 

Pria Terjelek di Uganda Nikahi Istri Ketiga, Sekarang Punya 7 Anak 

Sahmitra — Godfrey Baguma yang dijuluki pria terjelek di Uganda, dikabarkan baru saja menikahi istri ketiganya. Menurut pemberitaan media Kenya Tuko.co.ke pada Minggu (6/9/2020), lelaki berusia 47 tahun itu menikahi istrinya di pesta pernikahan penuh warna.

Meski tidak diketahui kapan tepatnya mereka menikah, foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan keduanya sangat bahagia.

Pria Terjelek di Uganda Nikahi Istri Ketiga, Sekarang Punya 7 Anak 

Baguma memenangkan gelar pria terjelek pada 2002 saat mengikuti kontes, agar bisa mendapat uang untuk keluarganya. Berkat kemenangannya ia mendapat julukan “Ssebabi” yang berarti “terburuk dari yang terburuk”. Ia juga terkenal sebagai penyanyi dan kini menjadi salah satu selebriti di negara Afrika tersebut.

Baguma yang diyakini menderita kelainan langka sehingga wajahnya tidak proporsional, tahun lalu dikaruniai bayi perempuan dari istri keduanya, Kate Namanda (30). Sebelum menikahi istri keduanya, pria yang berprofesi sebagai komedian ini cerai dengan istri pertama yang diduga karena memergoki ibu dua anak itu selingkuh.

Pria Terjelek di Uganda Nikahi Istri Ketiga, Sekarang Punya 7 Anak 

Sempat diberitakan punya 8 anak, sekarang Baguma memiliki 7 anak dan tinggal di Kyazanga, distrik Lwengo. Bersama istri keduanya mereka memiliki 5 anak.

Kondisi kesehatan Godfrey sempat menurun jelang akhir 2016. Dokter Tony Wilson dari rumah sakit Mbarara akhirnya memutuskan untuk melakukan diagnosis medis terhadap Godfrey.

“Akibat bentuk kepalanya yang abnormal, sebagian otaknya mengalami tekanan. Postur tubuhnya juga mengakibatkan tekanan di dada sehingga membuat dia sulit bernapas,” kata Dr Wilson.

Enam pekan setelah melakukan scan MRI Wilson mengatakan, Godfrey mengalami sebuah kondisi langka yang disebut fibrodysplasia, yang memengaruhi pertumbuhan dan penempatan sel serta jaringan tubuhnya.

Haru, Pasangan Ini Meninggal karena Covid-19 dalam Kondisi Bergandengan

Haru, Pasangan Ini Meninggal karena Covid-19 dalam Kondisi Bergandengan

Sahmitra — Sepasang suami istri meninggal karena virus Covid-19 dalam kondisi bergandengan tangan, di Amerika Serikat.

Menyadur laman Mirror, pada Sabtu (12/09/2020) Johnny Lee Peoples (67) dan istrinya, Cathy Darlene Peoples (65), berjuang melawan Covid-19 selama sebulan di sebuah rumah sakit di Salisbury, North Carolina.

Staf di Novant Health Rowan Regional Medical Center memindahkan pasangan yang sudah bersama selama 50 tahun tersebut ke ruangan yang sama sehingga mereka dapat menghabiskan saat-saat terakhir bersama. Mereka berdua meninggal pada 2 September.

Pertarungan Mr dan Mrs Peoples melawan virus corona dimulai 30 hari sebelumnya ketika mereka berdua merasakan gejala.

Shane Peoples, putra dari kedua pasangan tersebut mengatakan kepada WBTV: “Ayah saya mulai menunjukkan gejala dua hari kemudian.”

“Kira-kira dua minggu kemudian mereka berdua masuk ke ICU. Semuanya berjalan begitu saja, semuanya menjadi lebih buruk.” ujar Shane.

Menurut Shane tersendiri, ketika orang tua mereka memburuk, mereka saling menghibur.

“Keesokan harinya mereka menempatkan orang tua saya di ruangan yang sama, ruang ICU yang sama, mereka bergandengan tangan, para perawat berkumpul dan mereka lewat dalam waktu empat menit satu sama lain.” ungkap Shane.

Pemakaman dilangsungkan pada Rabu pagi dengan tetap menjaga jarak sosial. Shane mengatakan virus corona harus ditanggapi dengan serius.

“Ini bukan lelucon. Ini bukan tipuan,” kata Shane.

“Saya tidak ingin orang lain terluka. Saya tidak ingin ada yang merasakan kesedihan yang kami rasakan.” lanjut Shane.

Shane memposting penghormatan yang memilukan kepada orang tuanya di akun Facebooknya.

“Kami ditipu. Kehidupan Ayah dan Ibu dicuri oleh virus yang banyak dijadikan lelucon setiap hari atau langsung percaya itu bohong. Keduanya menganggap pandemi ini serius dan masih sakit hingga meninggal…

“Saya berkata pada diri saya sendiri ketika saya memulai ini, saya tidak akan melakukannya dengan marah, tetapi karena cinta yang mereka berikan kepada saya.

“Mereka berdua sangat mencintai keluarga mereka dan melakukan apa saja dan segala sesuatu yang mereka bisa lakukan untuk mereka. Kecintaan mereka pada keluarga paling besar ketika menyangkut cucu mereka, sembilan dari mereka secara total. Mereka menginginkan yang terbaik untuk cucu mereka, mereka akan pergi keluar dari jalan mereka hanya untuk membuat mereka masing-masing merasa istimewa. Saya memiliki beberapa orang tua yang sangat luar biasa.

Vaksin Merah Putih Akan Mulai Diproduksi 2022

Vaksin Merah Putih Akan Mulai Diproduksi 2022

Sahmitra — Menteri BUMN sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN), Erick Thohir, berharap vaksin Merah Putih dapat mulai diproduksi pada tahun 2022.

“Dari informasi yang didapatkan insya Allah kalau bisa uji klinis I sampai dengan III vaksin Merah Putih bisa berjalan pada tahun depan, sehingga pada tahun 2022 kita bisa mulai memproduksi vaksin Merah Putih,” ujar Erick Thohir, pada Sabtu (12/09/2020).

Pemilik Grup Mahaka tersebut berujar, kehadiran vaksin Covid-19 Merah Putih agar Indonesia tidak bergantung pada vaksin-vaksin yang diproduksi dari produsen luar negeri.

“Jadi tidak mungkin kita bergantung kepada vaksin-vaksin yang merupakan hasil kerja sama dengan produsen luar negeri,” kata Erick.

Selain itu, dia juga mengatakan tidak kalah pentingnya sejak awal Bio Farma bersama dengan Lembaga Eijkman, Balitbangkes Kementerian Kesehatan di mana Indonesia mengharapkan nantinya tersedia vaksin Merah Putih.

Selain dengan lembaga-lembaga tersebut, pemerintah tentunya juga membuka kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi terkait pengembangan vaksin Covid-19 di dalam negeri.

“Karena memang kalau kita melihat vaksin itu pada saat ini untuk pembentukan antibodi dalam melawan virus Covid-19 membutuhkan waktu enam bulan sampai dengan dua tahun menurut studi yang didapatkan,” ujar Erick.

Kemungkinan vaksin Merah Putih diberikan lebih dari satu kali ke satu individu. Jika penduduk Indonesia berjumlah sekitar 270 juta orang pada saat ini misalkan, maka vaksin yang harus diberikan berarti minimal 540 juta vaksin.

Ia akan mengusulkan kepada pemerintah dan DPR dua tipe program vaksinasi virus corona atau Covid-19. Erick mengatakan bahwa usulan program vaksinasi tersebut terdiri dari program vaksin bantuan pemerintah dan program vaksin mandiri yang dibiayai sendiri oleh masyarakat.

“Kami mengusulkan kepada pemerintah dan DPR RI bahwa terdapat dua tipe program vaksinasi yakni vaksin bantuan pemerintah untuk program vaksinasi massal di bawah TNI-Polri bekerjasama dengan Kemendiknas,” kata Erick.

“Bahkan kemarin juga dengan Kementerian Kesehatan dan PMI semua kita libatkan,” ujar lagi.

Ia berujar, khusus dengan Kemendiknas turut dilibatkan karena ada 40 ribu calon perawat dan 12 ribu calon dokter yang bisa diharapkan turun bersama membantu vaksinasi ini. Di luar data tersebut, ada sekitar 1,5 juta dokter, perawat dan bidan yang siap membantu imunisasi massal ini.

Pendanaan vaksin corona bantuan pemerintah berasal dari APBN, dengan menggunakan data BPJS Kesehatan sesuai angka Penerima Bantuan Iuran (PBI) di mana terdapat 93 juta masyarakat yang membutuhkan.

“Kita juga sangat mengharapkan masyarakat yang memiliki uang bisa membantu keuangan negara dengan melakukan vaksinasi mandiri alias tidak gratis,” kata Erick.