Trapp Family, keluarga paling tinggi di dunia. Yang terpendek 191 cm.

Trapp Family, keluarga paling tinggi di dunia. Yang terpendek 191 cm.

SAHMITRA – Keluarga Trapp yang menetap di Esko, Minnesota, Amerika Serikat adalah sebuah keluarga yang terdiri dari lima anggota keluarga yakni Scott, Krissy, Savanna, Molly, dan Adam. Yang membuat keluarga ini istimewa adalah karena pada 6 Desember 2020, Guinsess World Records mengkonfirmasi keluarga ini sebagai keluarga tertinggi di dunia dengan tinggi rata-rata 203,29 cm.

Tinggi badan anggota keluarga Trapp adalah:

  • Kristine Trapp, ibu: 191,2 cm
  • Scott Trapp, ayah: 202,7 cm
  • Savanna Trapp, putri: 203,6cm
  • Molly Steede, putri: 197.26cm
  • Adam Trapp, putra: 221.71cm

Tinggi gabungan keluarga itu sama dengan panjang setengah lapangan tenis.

Pada bulan Desember 2020 lalu, Adam, putra bungsu keluarga Trapp mendorong Savanna, putri tertua untuk menghubungi Guinness World Records. Keluarga Trapp lalu mengunjungi Dr. Anna Sudoh, seorang dokter ortopedi di Essentia Health, untuk melakukan pengukuran tinggi badan.

Setiap anggota keluarga harus diukur tiga kali sepanjang hari, dalam posisi berdiri dan berbaring. Setelah memenuhi semua kriteria, Guinness World Records lalu memberi gelar keluarga paling tinggi kepada keluarga Trapps dan mereka sangat senang mengetahui berita tersebut.

Scott dan Kristine mengatakan bahwa tinggi badan menurun dalam keluarga mereka, tetapi anak-anak mereka jauh lebih tinggi daripada anggota keluarga besar lainnya. Namun, keluarga besar menghargai tinggi badan keluarga Trapps. Karena mereka pikir itu berguna untuk proyek rumah tangga. Mereka tidak pernah membutuhkan tangga.

Dan tidak mengherankan, anak-anak keluarga Trapp menjadi idaman dan incaran pelatih olahraga seperti bola basket atau bola voli. Pelatih bola voli Molly misalnya yang kerap kali mengatakan bahwa tinggi badan tidak dapat dilatih. Hanya ada dua hal; kau tinggi atau tidak tinggi.

Savanna direkrut oleh UCLA untuk bermain basket Divisi I, Molly bermain voli di perguruan tinggi, dan Adam adalah pemain basket bintang di sekolah menengah. Namun tidak sekedar mengandalkan keuntungan memiliki tinggi badan diatas rata-rata, mereka juga memiliki etos kerja keras yang mendorong mereka untuk menjadi sukses di bidang masing-masing.

Setiap anggota keluarga Trapp mengalami situasi unik karena tinggi badan mereka. Namun yang paling umum dan sering dialami oleh mereka adalah tidak sengaja membenturkan kepala mereka di pintu, kipas langit-langit, dan lampu. Dan juga mereka sepakat mereka kerap kesulitan untuk menemukan pakaian, terutama celana dan sepatu yang pas.

Menjadi lebih tinggi dari hampir semua orang yang mereka temui, membuat keluarga itu menarik perhatian ke mana pun mereka pergi. Keluarga Trapp sudah terbiasa dengan komentar dan tatapan yang sering mereka dapatkan di tempat umum. Mereka belajar untuk menerima karunia genetika mereka dengan bijak dan menggunakan tinggi badan mereka sebagai cara untuk terlibat dalam percakapan dan membagikan pengetahuan dengan orang lain.

Seperti Savanna yang berharap bahwa dengan gelar Guinness World Records yang keluarganya terima dapat memberikan pesan kepada banyak orang, terutama orang-orang yang memiliki keunikan atau merasa berbeda, bahwa ada sukacita dan kebebasan dalam menerima siapa Anda sebenarnya dan manfaatkan apa yang Anda punya. Bahwa setiap orang adalah unik, tidak ada orang lain seperti Anda dan itu luar biasa.

Menyiksa, memotong gaji dan merusak handphone ART, perempuan di Singapura masuk penjara

Menyiksa, memotong gaji dan merusak handphone ART, perempuan di Singapura masuk penjara

SAHMITRA – Perempuan asal Singapura, Zhao Lin, 35 tahun , dijatuhi hukuman penjara dua tahun dan denda $5.000 karena terbukti melakukan penganiayaan terhadap pembantu rumah tangga yang bekerja di rumahnya. Selama setahun lebih, Zhao Lin memperlakukan ART asal Myanmar, Ma Ei, 29 tahun dengan tidak manusiawi. Zhao Lin kerap menampar dan menendang Ma Ei setiap dia tidak senang dengan pekerjaan Ma Ei.

Selain penganiayaan fisik, Zhao Lin juga memotong gaji Ma Ei dari $500 menjadi $200 per bulan untuk kesalahan yang dibuat oleh pembantunya itu. Ma Ei datang ke Singapura dari Myanmar pada awal 2016 dan mulai bekerja untuk Zhao, yang merupakan majikan pertamanya.

Bangun pukul 6.30 pagi dan tidur tengah malam, tanggung jawab Ma Ei adalah melakukan pekerjaan rumah tangga dan merawat putra Zhao. Beberapa tindakan kekerasan sering terjadi di depan putra Zhao, yang baru berusia empat tahun.

Penyiksaan dimulai pada pertengahan tahun 2017, Zhao sesekali memukul tubuh Ma Ei ketika dia tidak senang dengan pekerjaan atau sikap korban. Pada awal 25 Agustus 2018, Zhao memberi tahu Ma Ei bahwa mainan putranya tidak disimpan dengan benar dan lalu menampar pipi Ma Ei sebanyak 10 kali dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga ART itu terhuyung kebelakang. Zhao bahkan mengancam korban dengan mengatakan dia akan terus memperlakukannya seperti itu sampai ART itu benar-benar takut.

Suatu hari Ma Ei lagi-lagi diteriaki dan ditampar berulang kali oleh Zhao Lin saat Ma Ei sedang membersihkan ruang tamu. Zhao berkata: “Jika kamu melakukan hal yang salah, aku akan langsung menamparmu dua kali!”. Dan ketika Ma Ei menjawab, Zhao Lin merasa tidak senang dan langsung memukul wajah, tubuh dan menendang kaki Ma Ei. Putra Zhao, yang menyaksikan kejadia itu, bertanya kepada ibunya: “Mengapa kamu memukul dia?” Yang dijawab Zhao dengan: “Dia melakukan kesalahan, dia memukul ibu.

Tidak bisa lagi berdiam diri karena kerap menerima siksaan dari majikannya, Ma Ei mengumpulkan keberanian untuk menelepon polisi. Sialnya, Zhao memergokinya dan alhasil dia harus menerima lagi pukulan dari majikannya tersebut.

Ketika polisi tiba beberapa saat kemudian, mereka meminta untuk melihat rekaman televisi sirkuit tertutup di rumah tetapi Zhao menolak. Suaminya, yang tiba di tempat kejadian kemudian, membantu polisi dengan permintaan mereka. Ma Ei dikirim ke rumah sakit, ditemukan memar di dahi dan beberapa lecet di sekujur tubuhnya.

Di pengadilan, Zhao Lin yang bekerja sebagai perawat, mengaku bersalah atas empat tuduhan secara sukarela menyebabkan luka dan kerusakan. Zhao juga mengaku di pengadilan, pada pertengahan 2018 dia telah melempar ponsel Ma Ei ke lantai dan merusak perangkat tersebut. Untuk tindakan ini, dia bisa dipenjara hingga satu tahun dan didenda.

Umat Muslim di Ukraina kesulitan menjalani ibadah puasa di tengah-tengah gempuran Rusia

Umat Muslim di Ukraina kesulitan menjalani ibadah puasa di tengah-tengah gempuran Rusia

SAHMITRA – Meski mayoritas warganya memeluk agama Kristen Ortodoks, namun ada sekitar satu persen dari populasi Ukraina yang beragama Islam. Sebelum perang, Ukraina adalah rumah bagi lebih dari 20.000 warga negara Turki yang dikenal dengan kaum minoritas muslim Tatar Krimea. Kaum minoritas ini sudah lama tidak dapat menikmati keamanan dan kenyamanan dan meski sudah tidak asing dengan penindasan dan pelecehan, namun Ramadan kali ini terasa kian berat bagi mereka.

Lima minggu setelah Rusia menginvasi Ukraina, lebih dari 10 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Menurut PBB ada sekitar empat juta orang yang melarikan diri ke luar negeri. Melansir Aljazeera.com, melalui panggilan telefon dengan seorang kaum Tatar Krimea yang juga menjabat sebagai ketua Liga Muslim Ukraina, Niyara Mamutova.

“Banyak umat Muslim Ukraina mengungsi ke luar negeri dan mereka yang masih di Ukraina membutuhkan dukungan.”

Pada hari pertama bulan puasa, Mamutova menyiapkan Iftar dengan sekelompok keluarga pengungsi yang tinggal bersamanya di Islamic Central di Chernivtsi.

Bulan Ramadhan tahun ini sulit dan emosional bagi muslim yang masih berada di Ukraina karena bom berjatuhan di negara itu dan jam malam yang diberlakukan, membatasi pergerakan mereka ketika banyak keluarga hendak berkumpul untuk berbuka puasa bersama. Banyak juga umat Muslim yang jauh dari rumah, komunitas dan teman-teman,  namun mereka bertekad untuk memanfaatkan bulan suci ini dengan sebaik-baiknya.

“Kita harus siap melakukan yang terbaik untuk mendapatkan pengampunan Allah, berdoa untuk keluarga kita, jiwa kita, negara kita, Ukraina,” kata Mamutova lagi.

Mamutova juga menceritakan bahwa mereka harus mengatur ulang kebiasaan-kebiasaan beribadah dan berpuasa mereka, misalnya beribadah secara online dan memberi makan para tunawisma.

Sumber lainnya yang dihubungi oleh Aljazeera.com adalah Isa Calebi, seorang Turkish pedagang tirai yang tinggal di Ukraina sejak 2010 mengatakan bahwa banyak orang yang terpaksa harus meninggalkan rumah mereka. Bahkan banyak yang tinggal di dalam mobil mereka. Calebi mengatakan bahwa rumahnya selalu terbuka bagi siapapun yang membutuhkan dan ia akan berbagi makanan yang ia miliki untuk mereka. Meskipun dampak perang yang berlangsung membuat kenaikan harga bahan pokok.

Pada awal perang, Calebi telah membantu mengevakuasi 400 orang-orang Turki, umat muslim dan orang Ukraina dari kota tempatnya tinggal, Vinnitsya, bagian barat Ukraina keluar dari negara itu. Sekarang ia membantu 1,000 yatim piatu yang tinggal di dekat Chernivtsi’s Holy Ascension Monastery Banchenskyy. Tidak lupa Calebi juga mengajak orang-orang di dunia untuk membantu meringankan beban dan penderitaan warga Ukraina dibawah gencatan invasi Rusia.

“Anak-anak ini penuh dengan air mata. Saya ingin memberi mereka semua zakat kita tahun ini. Saya menyerukan kepada yang lain, tolong bantu tempat ini di mana anak-anak menangis, ”

“Orang Ukraina adalah orang baik. Kita harus membantu mengangkat beban mereka – saya meminta semua orang untuk mendukung Ukraina.”

Peratuan baru soal toa masjid di Indonesia. Dukung atau tidak setuju?

Peratuan baru soal toa masjid di Indonesia. Dukung atau tidak setuju?

SAHMITRA – Pada 18 Februari 2022 lalu, Mentri Agama Yaqut Cholil Quomas menandatangani Surat Edaran (SE) Menag 05 Tahun 2022 terkait pedoman pemasangan dan penggunaan toa masjid, yang bunyinya:

  1. Pemasangan pengeras suara dipisahkan antara pengeras suara yang difungsikan ke luar dengan pengeras suara yang difungsikan ke dalam masjid/musala
  2. Untuk mendapatkan hasil suara yang optimal, hendaknya dilakukan pengaturan akustik yang baik;
  3. Volume pengeras suara diatur sesuai dengan kebutuhan, dan paling besar 100 dB (seratus desibel);
  4. Dalam hal penggunaan pengeras suara dengan pemutaran rekaman, hendaknya memperhatikan kualitas rekaman, waktu, dan bacaan akhir ayat, selawat/tarhim.

SE ini diterbikan dengan maksud dan tujuan untuk meningkatkan ketentraman, ketentraman dan keharmonisan antar warga. Tentu saja penerbitan SE ini dengan cepat menjadi topik hangat untuk dijadikan bahan pembicaraan di segala lapisan masyarakat dan menimbulkan pro dan kontra.

Orang-orang yang mendukung atau pro atas diterbitkannya SE ini menyambut baik dan melihat hal ini sebagai suatu bentuk toleransi antar umat beragama. Sementara yang kurang mendukung atau kontra beranggapan bahwa SE ini terlalu mencapuri urusan keagamaan secara teknis yang sebenarnya bisa diatur oleh masyarakat sendiri lewat musyawarah dan tradisi.

Merupakan bagian dari syiar agama, penggunaan pengeras suara masjid memang dibutuhkan khususnya untuk umat muslim yang merupakan mayoritas di negara ini. Namun disisi lain, masyarakat Indonesia memiliki keberagaman agama dan latar belakang. Dan ternyata tidak sedikit pula umat muslim yang juga mengeluhkan penggunaan toa masjid yang terlalu berlebihan.

Seperti misalnya pada tahun 2013, kakek berusia 75 tahun bernama Sayed Hasan warga Banda Aceh yang sempat melayangkan gugatan yang kemudian dicabut mengenai keluhan dan ketidaknyamanan yang ia rasakan terhadap 10 buah pelantang suara masjid disekitar rumahnya. Kakek Sayed Hasan mencabut gugatannya dan memilih jalur damai. Dan ada juga seorang Muslimah berusia 31 tahun yang tinggal di pinggiran Jakarta yang menderita insomnia atau gangguan tidur dan kecemasan karena kerap terbangun dari tidur secara tiba-tiba karena suara pengeras suara yang begitu kencang yang berasal dari masjid didekat rumahnya setiap pukul 03:00 WIB. Meski seorang muslim, dirinya tidak berani menyampaikan keluhannya tersebut pada pihak manapun dengan alasan mengingat banyak sekali kasus yang sama berujung permasalahan yang lebih besar, belum lagi perundungan dan ancaman bui yang bisa mengintai si pelapor.

Mungkin hal-hal ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan SE tersebut dibuat. Selain itu tidak hanya di Indonesia saja yang sudah mengatur soal penggunaan toa masjid ini. Negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Mesir, Malaysia, Arab Saudi ternyata sudah lebih dulu mengeluarkan peraturan tentang penggunaan toa masjid ini.  Kebanyakan alasan yang menyebabkan peraturan tersebut dibuat adalah karena maraknya keluhan warga akan bisingnya volume pengeras suara yang digunakan masjid yang justru malah menganggu kekushyukan warga ketika beribadah. Selain itu suara yang perasal dari pengeras suara tersebut kerap menganggu warga lansia, balita dan pasien rumah sakit.

Turis asal Rusia terancam jadi gembel karena tidak bisa tarik uang

Turis asal Rusia terancam jadi gembel karena tidak bisa tarik uang

SAHMITRA – Pulau Dewata, Bali adalah destinasi liburan paling populer bagi turis internasional, termasuk Rusia. Menurut data dari biro statistik, ada sekitar 1.150 orang Rusia yang masuk ke Indonesia pada Januari 2022. Seminggu belakangan, para turis asal Rusia ini mengalami masalah akibat imbas dari invasi militer ke negara Ukrania yang dimulai oleh presiden mereka, Vladimir Putin.

Pada dini hari Kamis, 24 Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan “operasi militer khusus” terhadap Ukraina. Sedikitnya 136 warga sipil tewas, termasuk 13 anak-anak, dan 400 lainnya terluka menurut badan PBB pada Selasa, 1 Maret. Seluruh dunia bereaksi dan menentang keras keputusan yang diyakini sebagai serangan terbesar di negara Eropa sejak Perang Dunia II ini.

Sanksi melumpuhkan yang dijatuhkan oleh AS, UE, dan negara lainnya terhadap Rusia tampaknya berdampak tidak hanya pada warga yang tengah berada di negara itu, tetapi juga pada warganya yang saat ini tengah berada di luar negeri.

Melansir dari reuters.com, seorang turis asal Rusia, Konstantin Ivanov mencoba menarik uang dari rekeningnya di salah satu mesin ATM di Bali, transaksi tersebut gagal karena diblokir. Hal yang sama juga dialami oeh turis-turis Rusia lainnya yang tidak dapat melakukan pembayaran di hotel, restoran dan lain-lain dengan menggunakan kartu mereka hingga mereka terpaksa membayar dengan uang tunai. Masalahnya menurut mereka, mereka tidak akan mungkin bertahan dengan uang tunai yang tersisa yang mereka miliki saat ini.

Dan ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Setidaknya ada lebih dari 7.000 orang Rusia yang saat ini terdampar di destinasi  pantai populer di Thailand karena pembatalan penerbangan, mata uang yang terjun bebas dan masalah pemblokiran pembayaran.

Di Kerala dan Goa, India yang merupakan tujuan paling dicari turis Rusia, banyak turis yang dilaporkan kehabisan uang karena mereka tidak dapat mengakses rekening bank mereka.

Bukan joki, kakek asal India ketagihan vaksin COVID-19 sudah disuntik 11 kali

Bukan joki, kakek asal India ketagihan vaksin COVID-19 sudah disuntik 11 kali

SAHMITRA – Di tanah air belakangan ini marak beredar berita bahwa di beberapa daerah terdapat kasus joki vaksinasi Covid-19 yang dimana pelaku-pelakunya kini harus berurusan dengan pihak kepolisian. Salah satu kasus praktek joki vaksinasi ini terjadi di kota Semarang. Kapolrestabes Semarang, Kombes Irwan Anwar, yang dilansir dari news.detik.com, menyatakan bahwa kasus tersebut terungkap pada 3 Januari 2022.

Aksi tiga orang ibu rumah tangga, CL (37), IO (48) dan DS (41) terungkap dan berhasil digagalkan oleh tenaga medis yang menyadari adanya kejanggalan ketika melakukan screening indentitas dan ciri-ciri fisik yang tidak sesuai sebelum dilakukannya vaksinasi. CL adalah orang yang harusnya divaksin. CL membutuhkan sertifikat vaksin untuk bepergian ke luar kota tapi tidak mau divaksin dengan alasan bahwa dirinya adalah seorang penyitas COVID-19 dan memiliki penyakit komorbid. CL lalu menceritakan kebutuhannya tersebut pada IO yang kemudian mengenalkannya pada DS yang kebetulan sedang membutuhkan uang dan bersedia menjadi joki dengan bayaran Rp. 500ribu.

Kasus lainnya terjadi di provinsi Sulawesi Selatan. Warga asal kabupaten Pinrang bernama Abdul Rahim (49) telah menjalani 17 kali vaksinasi COVID-19 sebagai joki dengan memungut bayaran Rp. 100ribu hingga 800ribu.

Lain halnya dengan Abdul Rahim yang menerima vaksin COVID-19 berkali-kali demi uang. Seorang kakek berusia 85 tahun di India bernama Brahmdeo Mandal, mengaku telah menerima vaksin COVID-19 sebanyak 11 kali. Kakek pensiunan petugas pos ini mengatakan bahwa suntikan-suntikan yang dia terima tersebut membantunya menghilangkan rasa sakit dan nyeri yang telah lama dia derita dan meningkatkan nafsu makannya. Dia menambahkan bahwa dulu untuk berjalan dia membutuhkan tongkat, namun setelah mendapat suntikan vaksin untuk COVID-19 dia tidak lagi membutuhkan tongkat tersebut.

Kakek Mandal bahkan rela melakukan perjalanan ke kamp-kamp tempat vaksinasi di Madhepura, tempat tinggalnya, sampai ke distrik-distrik tetangga yang jaraknya lebih dari 100km untuk mendapatkan vaksinasi. Dan dia menyimpan catatan terperinci dalam tulisan tangan tentang tanggal, waktu dan kamp​​​​ tempat dia menerima 11 dosis yakni antara Februari dan Desember tahun 2021.

Sejak vaksinasi dimulai pada 16 Januari tahun lalu di India, terdapat dua vaksin yang diproduksi secara lokal, yakni Covishield dan Covaxin. Vaksin dua dosis ini memiliki jeda empat hingga enam minggu setelah dosis pertama. Tapi dalam sebuah temuan dari kasus ini, kakek Mandal berhasil menerimal dua suntikan dalam waktu setengah jam pada hari yang sama dan masing-masing suntikan tersebut terdaftar di portal vaksin India yang bernama CoWin.

Pakar kesehatan masyarakat Chandrakant Lahariya mengatakan bahwa penyebab hal tersebut bisa terjadi adalah karena data vaksinasi dari kamp tidak diunggah di portal secara realtime atau data-data baru diproses setelah jeda yang lama. Kemungkinan lain adalah karena adanya gangguan sistem atau jaringan pada portal yang disebabkan oleh kelalaian petugas yang menjaga kamp vaksinasi.

Perawat hamili pasien lumpuh hingga lahirkan anak laki-laki

Perawat hamili pasien lumpuh hingga lahirkan anak laki-laki

SAHMITRA – Nathan Sutherland, seorang mantan perawat ditangkap oleh pihak kepolisian Phoenix, Amerika Serikat pada Januari 2019 dengan tuduhan pemerkosaan dan menghamili seorang pasien perempuan dalam kondisi lumpuh vegetatif yang merupakan salah satu pasien yang berada dibawah pengawasannya di sebuah faskes bernama Hacienda HealthCare. Sutherland akhirnya terbukti bersalah di pengadilan yang digelar pada Desember 2021 dan diganjar hukuman 10 tahun penjara.

Hacienda HealthCare adalah fasilitas nirlaba milik swasta yang menampung pasien yang perawatannya dibayar melalui program Medicaid. Program Medicaid sendiri adalah program kolaborasi antara federal dan negara bagian di AS yang menyediakan kesehatan gratis atau murah untuk warga AS yang berpenghasilan rendah, keluarga dan anak-anak, wanita hamil, orang tua, dan orang cacat.

Sutherland mulai bekerja di Hacienda HealthCare sejak Januari 2012. Dalam form isian latar belakang yang dia tulis, dirinya menyakatan bahwa tidak pernah memiliki catatan kriminal dan tidak pernah menerima tindakan disipliner apapun sebelumnya. Dan setelah dilakukan pemeriksaan latar belakang yang ekstensif oleh pejabat di Hacienda HealthCare sendiri, akhirnya Sutherland ditugaskan ke “Fasilitas Perawatan Menengah – Cacat Intelektual sejak 2014.

Bermula ketika pada akhir tahun 2018, seorang staff di faskes Hacienda HealthCare menelepon 911 dan melaporkan bahwa terdapat seorang pasien lumpuh yang melahirkan, dimana selama itu tidak ada satu pun pihak faskes yang mengetahui mengenai kehamilan tersebut.

Korban adalah seorang perempuan berusia 29 tahun. Berada dalam kondisi lumpuh vegetatif selama 14 tahun karena nyaris tenggelam ketika masih berusia 3 tahun. Dia menderita cacat intelektual akibat kejang yang dia alami di masa kanak-kanak. Dia dapat mengerakan bagian tubuh, leher dan kepalanya, tetapi tidak dapat berbicara. Ketika itu korban didapati tengah dalam kondisi proses melahirkan ketika salah satu pegawai faskes ingin mengganti pakaiannya.

Comatose pregnancy atau kehamilan koma yang diakibatkan oleh kekerasan seksual saat korban tidak sadarkan diri untuk sementara atau permanen, atau mati otak, sangat jarang terjadi namun pernah terjadi sebelumnya di tahun 2015 dengan kasus serupa, yakni pasien koma yang diperkosa dan hamil. Namun kasus ini tidak pernah diproses secara hukum karena keputusan keluarga pasien yang bersangkutan. Kehamilan koma secara medis memiliki risiko yang cukup tinggi dan mengakibatkan permasalah etika yang kompleks bagi keluarga korban.

Menanggapi laporan tersebut, kepolisian Phoenix yang sudah mengantongi surat izin, pada 8 Januari 2019 meminta pihak Hacienda HealthCare untuk menyerahkan sampel tes DNA semua pegawai laki-laki yang bekerja disana. Dengan tujuan untuk menemukan pelaku yang bertanggung jawab telah memperkosa dan menghamili pasien yang dalam keadaan lumpuh total dan tidak berdaya sama sekali.

Sampel DNA bayi laki-laki yang telah lahir dari korban lalu digunakan pihak kepolisian untuk dicocokkan dengan sampel DNA para staff laki-laki di Hacienda HealthCare. Hasilnya test sampel DNA Nathan Sutherland lah yang ternyata cocok dengan bayi tersebut. Sutherland pun segera ditangkap.

Meskipun diawal membantah dan pengacaranya sempat berargumen bahwa tidak ada bukti yang dapat ditunjukkan dimana Sutherland tengah memperkosa korban, namun akhirnya Sutherland mengakui bahwa dia telah memperkosa korban berulang kali selama dia bertugas merawat korban tersebut hingga hamil dan akhirnya melahirkan. Akibat perbuatannya, dia tidak hanya harus mendekam di penjara selama 10 tahun, namun juga dilarang bekerja sebagai perawat seumur hidup, namanya terdaftar sebagai pelaku kejahatan seksual dan berada dalam program pengawasan seumur hidup.

Selain menuntut keadilan pada Sutherland, pihak keluarga korban pun menuntut negara bagian Arizona dengan tuduhan “sangat lalai” dalam memantau, mengawasi, dan menilai pengoperasian Hacienda HealthCare. Dimana pada akhirnya pihak keluarga meraih kesepakatan penyelesaian senilai $ 7,5juta.

Keluarga korban juga melayangkan gugatan hukum terhadap dua orang dokter Hacienda HealthCare yang ditugaskan untuk merawat korban, yakni Dr. Phillip Gear Jr. dan Dr. Thanh Nguyen. Keduanya terbukti gagal dalam melaksanakan kewajiban mereka secara memadai sebagai Primary Care Physician (PCP) atau dokter perawat primer, apakah itu disebabkan oleh rasa bosan, kelemahan fisik, kelelahan atau alasan lain.

Dr. Thanh Nguyen telah mencapai perjanjian kesepakatan dengan keluarga korban yang nilai atau bentuknya dirahasiakan. Sementara Dr. Phillip Gear Jr. secara sukarela telah menyerahkan lisensi kedokterannya dan meraih perjanjian kesepakatan senilai $ 15juta dengan pihak keluarga korban

Tak cukup hanya itu saja dampak kasus ini, beberapa anggota senior Hacienda HealthCare menyatakan pengunduran diri mereka tidak lama setelah beritanya menjadi konsumsi dan perbincangan publik. Termasuk diantaranya adalah CEO Hacienda HealthCare, Bill Timmons, Direktur spesialis terapi, Kerri Masengale, Ketua Dewan yang telah menjabat selama 4 dekade, Tom Pomeroy dan beberapa anggota senior lainnya.

Saat ini bayi laki-laki yang dilahirkan oleh korban telah berusia 3 tahun dan tinggal bersama orangtua korban. Korban juga tidak lagi dirawat di Hacienda HealthCare.

Waspada! Covid-19 varian OMICRON sudah masuk ke Indonesia

Waspada! Covid-19 varian OMICRON sudah masuk ke Indonesia

SAHMITRA – Pada konfrensi pers yang digelar pada hari Kamis, 16 Desember 2021, mentri kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan bahwa telah ditemukan satu kasus Covid-19 varian terbaru Omricon di Indonesia. pasien tersebut adalah seorang petugas kebersihan di Wisma Atlet.

Mutasi terbaru yang berpotensi lebih menular ini pertama kali ditemukan di Afrika Selatan sekitar awal bulan Desember dan sejak itu mulai terdeteksi di beberapa negara lainnya, seperti Belanda, Inggris dan Portugal.

Ditemukannya kasus pertama varian Omicron di tanah air berawal ketika pada 8 Desember 2021, dilakukan pemeriksaan sampel rutin tim yang bertugas di Wisma Atlet. Dari hasil tes PCR para petugas, tiga orang terkonfirmasi positif Covid-19. Kemudian ketiga sampel tersebut diproses lebih lanjut oleh Kemenkes untuk dilakukan tes Whole Genome Sequencing (WGS).

Dari hasil tes WGS yang keluar pada tanggal 15 Desember, dinyatakan 1 pasien berinisial N terkonfirmasi positif Omicron, sementara dua lainnya bukan Omicron. Ketiga pasien tersebut adalah OTG, tidak mengalami demam ataupun batuk.

Menurut laporan mingguan yang diterbitkan oleh Pusat Pengendalian Pencegahan Penyakit Amerika Seikat (CDC), melaporkan bahwa pada pasien kasus Omicron di Amerika Serikat 89% men geluhkan gejala batuk, 65% mengalami efek samping mudah Lelah, 59% mengalami pilek atau hidung tersumbat.

CDC juga melaporkan golongan umur yang terjangkit oleh Omicron ini 58% usia produktif yakni 18-39 tahun, 23% usia 40-64 tahun, 9% 65 tahun keatas dan 9% 18 tahun kebawah. Dan belum ada catatan pasian Omicron yang meninggal dunia dan persentase yang sampai harus dirawat di rumah sakit juga rendah, yakni 2% saja.

Namun, meskipun varian Omicron ini ‘terkesan’ tidak ganas, namun semua orang diharapkan untuk tetap menjaga protokol kesehatan dan mematuhi peraturan yang berlaku. Segera melakukan vaksinasi, bagi yang belum melakukan.

Berita terbaru kasus Omicron di tanah air per tanggal 18 Desember kemarin bertambah menjadi 3 orang. Setelah ditemukan pada WNI yang baru kembali dari perjalanan luar negeri. Kedua WNI tersebut, berinisial IKWJ, berjenis kelamin laki-laki, berusia  42 tahun yang beru kembali dari Amerika Selatan. Dan pasien lainnya yang berinisial M berusia 50 tahun, baru kembali dari Inggris. Saat ini keduanya tengah menjalani karantina di Wisma Atlet.

Temuan ini menunjukkan bahwa pemerintah sangat serius dalam menangani jalur dan mencegah penularan virus Covid-19 yang berasal dari luar negeri. Semua pihak, baik itu pemerintahan dan masyarakat umum diharapkan untuk sama-sama menjaga dan patuh pada peraturan demi menekan penularan virus ini dan demi kelangsungan hidup bersama.

Semoga kedepannya tidak ditemukan lagi kasus-kasus seperti yang dilakukan selebgram berinisial RV, yang terbukti kabur dari ketentuan menjalani karantina sepulangnya ke tanah air dari luar negeri dengan bantuan petugas. Pemerintah perlu menindak dengan tegas para pelanggar sesuai dengan pelanggaran yang telah diperbuat demi keselamatan masyarakat banyak.

Kelewat pamer aurat, pedagang kaki lima di Thailand ini sampai ditegur polisi

Kelewat pamer aurat, pedagang kaki lima di Thailand ini sampai ditegur polisi

SAHMITRA – Dikenal dengan nama Olive, adalah seorang pedagang kudapan ringan pinggir jalan yang dikenal oleh penduduk lokal Chiang Mai, Thailand dengan nama khanom Tokyo. Di tanah air kita menyebutnya dengan kue semprong, kudapan yang teksturnya garing, renyah dan rasanya manis.

Kalau di Indonesia biasanya kudapan ini dijual sudah dalam kemasan toples atau plastik. Namun ternyata berbeda cara apabila di negara yang sering dijuluki negara gajah putih ini karena mereka membuatnya ditempat sesuai dengan pesanan alias made by order. Dan di lapak milik Olive khususnya, khanom Tokyo miliknya terasa lebih istimewa, setidaknya bagi pelanggan pria terutama, karena penampakan atau pakaian yang dikenakan Olive selagi menjajakan dagangannya ini bisa dibilang diluar dari kebiasaan atau out of the box.

Perempuan 24 tahun asal Chiang Mai yang memilik nama asli Aranya Apaiso ini punya ide kreatifnya sendiri dalam menghadapi kompetisi berjualan. Yakni dengan memasak hanya mengenakan sehelai kardigan yang menutupi tubuh bagian atasnya.  Dia tidak mengenakan apa-apa lagi dibalik kardigan tersebut yang hanya diamankan oleh sebuah peniti kecil ditengah-tengah yang bahkan tidak bisa menyatukan bagian kiri dengan yang kanan.

Sebelum viral di jalanan dan internet, pedagang kaki lima seksi ini berjualan pakaian secara online. Namun karena bisnisnya itu terkena dampak buruk pandemi COVID-19, dia lalu beralih profesi menjadi penjual khanom Tokyo, yang dia improvisasi dengan mengenakan atasan kontroversial yang pastinya mengundang perhatian.

Dan usahanya tersebut tidak sia-sia. Penjualannya langsung melonjak dari yang sehari hanya beberapa lusin hingga kini dia bisa menjual sampai 200 setiap harinya. Tentunya pelanggan yang datang dan membeli kebanyakan adalah laki-laki, bahkan Olive sendiri mengatakan kepada para media yang berbondong-bondong ingin meliput dan mengangkat kisahnya, bahwa pernah ada laki-laki yang menabrakkan motornya karena konsentrasinya terganggu karena melihat Olive berjualan.

Akibat banyaknya laki-laki yang mengerubuni lapak Olive, polisi setempat akhirnya turun tangan. Mereka memperingati Olive untuk tetap menjaga salah satu protokol kesehatan, yakni social distancing untuk para pembeli yang datang kelapaknya dan juga perihal pakaian nya yang dianggap tidak pantas dan menimbulkan keramaian. Olive ditegur dan disarankan untuk setidaknya mengenakan bra.

Lanjutan misteri pembunuhan Gabby Petito, tersangka utama Brian Laundrie akhirnya ditemukan

Lanjutan misteri pembunuhan Gabby Petito, tersangka utama Brian Laundrie akhirnya ditemukan

SAHMITRA – Setelah hampir dua bulan lamanya sejak Brian Laundrie dinyatakan menghilang, pengacara keluarga Laundrie akhirnya mengumumkan bahwa jasad Brian telah ditemukan pada 20 Oktober. Brian merupakan tersangka utama atas terbunuhnya Gabby Petito, seorang vlogger perjalanan asal Amerika Serikat yang sekaligus adalah tunangan dari Brian.

Gabby Petito dilaporkan menghilang oleh keluarganya pada 11 September, yang ketika itu tengah melakukan perjalanan melintasi Amerika Serikat dengan menggunakan mobil Van bersama dengan Brian. Laporan tersebut dibuat oleh keluarga Petito karena mereka hilang kontak dengan Gabby sejak akhir Agustus dan setelah mendengar kabar bahwa Brian pulang kerumahnya tanpa Gabby.

Satu hari setelah laporan Gabby menghilang, Brian yang merupakan satu-satunya orang yang memiliki kemungkinan terbesar untuk mengetahui keberadaan Gabby, ikut menghilang. Dan kedua orangtua Brian terkesan menutupi informasi keberadaan putera mereka.  Karena dua hal tersebut, akhirnya FBI mengumumkan dan menyatakan Brian sebagai orang yang dicurigai atas menghilangnya Gabby.

Pada 17 September, orangtua Brian Laundrie melayangkan laporan atas menghilangnya Brian dan menyerahkan senjata api yang mereka miliki dan mengatakan bahwa salah satu dari senjata itu ada yang hilang. Gabby dan Brian, keduanya dinyatakan hilang dan pencarian atas keduanya lalu gencar dilaksanakan oleh pihak kepolisian wilayah setempat dan campur tangan FBI karena kasus ini telah menyita banyak pehatian oleh publik.

Akhirnya pada 19 September, jasad Gabby Petito ditemukan di area Wyoming dan kematiannya dinyatakan sebagai pembunuhan dengan pencekikan. FBI lagi-lagi mengaitkan nama Brian Laundrie sebagai orang yang dicurigai dalam pembunuhan Gabby.

Brian masih belum diketahui keberadaannya ketika itu, sementara pencarian atas dirinya masih berlangsung. Semenjak berita menghilangnya Gabby, kasus ini telah menjadi pusat perhatian karena Gabby adalah seorang influencer yang memiliki cukup banyak followers. Banyak yang mengangkat kasus menghilang dan akhirnya ditetapkan sebagai kasus pembunuhan ini menjadi topik di media sosial.

Bahkan banyak pihak yang muncul dan secara sukarela ikut melakukan pencarian terhadap Brian Laundrie. Salah satunya adalah Dog The Bounty Hunter. Dog the Bounty Hunter adalah sosok bintang televisi Amerika yang terkenal sebagai pemburu hadiah. Pada tahun 2003 dia mendulang ketenaran setelah berhasil menangkap Andrew Luster, pembius dan pemperkosa, di Meksiko. Namun sayangnya Dog The Bounty Hunter tidak berhasil menemukan Brian Laundrie kali ini.

Akhirnya, pada 20 Oktober jenazah Brian Laundrie ditemukan di bawah air di area Carlton Reserve. Brian meninggal karena bunuh diri dengan luka tembak di kepala. Ayah Brian, yang ikut mencari dengan pihak berwenang pada hari jenazah putranya ditemukan, menemukan sebuah buku catatan di dekat tempat mayat Brian ditemukan.

Hingga kini belum ditemukan motif pembunuhan dan bahkan pihak kepolisian belum bisa menetapkan mendiang Brian sebagai pelaku utama karena statusnya hingga jasadnya ditemukan adalah orang yang dicurigai bertanggung jawab atas pencekikan yang berujung kematian yang dialami oleh mendiang Gabby Petito. Para ahli sangat berharap pada buku catatan yang ditemukan di area penemuan jasah Brian itu bisa menjadi kunci dalam mendapatkan informasi lebih lanjut atau mungkin bukti-bukti kuat untuk bisa mendakwa Brian, apabila memang betul Brian lah yang melakukan.