Rumah horor keluarga Turpin. Punya 13 anak semuanya dipenjara dan sisiksa didalam rumah

Rumah horor keluarga Turpin. Punya 13 anak semuanya dipenjara dan sisiksa didalam rumah

SAHMITRA –

911                                         : ”911 gawat darurat, apa yang ingin anda laporkan?”

Anak perempuan             : ”Um, saya baru saja kabur dari rumah.”

911                                         : “Apa kamu tahu alamat rumah kamu?”

Anak perempuan             : “Um, tidak tahu. Saya kabur dari rumah karena, saya tinggal di keluarga yang berisikan 15 orang. Dan kami punya orangtua yang menyiksa kami. Kamu bisa dengar itu?”

911                                         : “Ya, bagaimana mereka menyiksa kamu?

Anak perempuan             : “Mereka memukul kami, melempar kami. Menarik rambut kami, menjambak kami. Saya punya dua adik perempuan yang sedang dirantai sekarang. Kamu dengar saya tidak?”

911                                         : “Kamu umur berapa?”

Anak perempuan             : “Um, saya 17 tahun.”

911                                         : “Siapa nama kamu?”

Anak perempuan             : “Jordan Turpin”

Percakapan diatas adalah potongan dari rekaman panggilan telepon yang dilakukan seorang gadis 17 tahun bernama Jordan Turpin pada tanggal 14 Januari 2018, pukul 5:49 pagi ke unit gawat darurat 911. Panggilan tersebut dilakukan Jordan sesaat setelah berhasil menyelinap keluar lewat jendela rumah orangtuanya yang telah menyekap dirinya dan 12 saudara kandung lainnya.

Beberapa belas menit kemudian setelah Jordan melaporkan penyekapan dan penyiksaan yang dialaminya dan saudara-saudaranya, seorang petugas polisi yang bertugas malam itu berhasil menemukan Jordan yang sudah berdiri menunggu sambil ketakutan di ujung jalan. Polisi yang baru saja tiba itu lalu menayai Jordan lebih lanjut. Jordan memberanikan dirinya untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan polisi berwajah serius itu. Sambil menjelaskan bahwa dirinya gugup karena tidak pernah keluar dari rumah seumur hidupnya dan tidak pernah bertemu atau bicara dengan orang lain.

Andai saja ketika itu Jordan tidak memperlihatkan foto adiknya yang sedang dirantai di tempat tidur sebagai bukti, polisi yang bertugas itu mungkin saja malah membawanya kembali ke rumahnya untuk didamaikan dengan orangtuanya. Foto tersebut yang meyakinkan polisi bahwa ini adalah sebuah kasus yang serius dan bukan permainan atau kenakalan remaja seperti yang sering terjadi. Jordan lalu diminta polisi tadi untuk masuk dan duduk di kursi penumpang mobil patroli. Sebelum berangkat, polisi tersebut menanyakan pada Jordan apakah ada anggota keluarganya yang bakal membutuhkan tim medis atau pengobatan. Jordan malah minta maaf karena dirinya bahkan tidak mengerti arti dari kata medication atau pengobatan.

Satu setengah jam kemudian beberapa polisi mendatangi rumah keluarga Turpin. Butuh beberapa menit sampai akhirnya David dan Louise Turpin muncul dari balik daun pintu dengan wajah was-was. Dan ketika ditanyai apakah mereka tinggal bersama anak-anak dan minta izin untuk mengecek kedalam rumah, pasangan ini terlihat semakin ketakutan. Beberapa orang polisi lalu masuk kedalam dan melakukan penyisiran keseluruh ruangan didalam rumah tersebut. Dan hasil penemuannya sungguh mencengangkan dan benar-benar memprihatinkan.

Polisi menemukan ke-12 saudara Jordan didalam rumah yang gelap dan bau menyengat karena dipenuhi oleh sampah, kotoran manusia, dan lumut. Anak-anak keluarga Turpin, 10 diantaranya adalah perempuan, yang paling tua yakni perempuan berusia 29 tahun dan yang paling muda berumur 2 tahun. Semuanya ditemukan dalam keadaan kurang gizi dan sangat kotor. Dua anak perempuan dan 1 anak laki-laki ditemukan dirantai di tempat tidur menggunakan gembok. Begitu berhasil diselamatkan, mereka langsung meminta makan dan minum karena kelaparan.

Selain fisik yang sangat ringkih, polisi menemukan beberapa dari mereka dalam keadaan ‘tidak sewajarnya’. Tujuh diantara mereka sudah masuk dalam kategori dewasa, namun fisik mereka yang lemah dan kurang gizi menyembunyikan fakta bahwa mereka sudah berusia antara 18-29 tahun. Mereka masih mengenakan piyama dan berbicara seperti anak-anak.

Hari itu juga David dan Louise Turpin ditangkap oleh pihak kepolisian, sementara ke 13 anak-anak mereka langsung dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Selanjutnya fakta-fakta kebiadaban pasangan Turpin ini pun terkuak yang dikisahkan oleh korban yakni anak-anak kandung mereka sendiri.

David dan Louise Turpin memenjarakan anak-anak mereka di sebuah rumah yang tampak rapi dan asri dari luar namun penuh dengan sampah dan bau kotoran manusia didalamnya. Anak-anak itu diwajibkan tidur di siang hari dan bangun di malam hari, dimana para tetangga sudah terlelap untuk menghindari kecurigaan dan masalah. Dilarang berdiri didekat jendela atau tengok-tengok keluar.

Hanya anak pertama mereka yakni Jennifer yang sempat merasakan bangku sekolah dasar, itu pun hanya sampai tahun ke tiga saja. Dan waktu itu tidak ada yang mau berteman dengan Jennifer karena bau menyengat dari tubuh Jennifer membuatnya dijauhi oleh anak-anak lain.

Semenjak itu tidak ada dari anak-anak Turpin lainnya yang pernah bersekolah. Tidak ada satupun yang boleh keluar dari rumah. Sesekali saja dan itu pun jarang terjadi, mereka diajak keluar rumah. Dan ketika berada di luar rumah pun mereka tidak bisa bertindak sesuka mereka. Pakaian mereka harus seragam dan mereka harus berdiri atau berbaris sesuai dengan urutan lahir. Dan tidak diperkenankan bicara dengan siapapun. Pokoknya segala tindak tanduk mereka diawasi dan dikontrol oleh Louise dan David.

Anak-anak Turpin sering dibiarkan kelaparan. Dengan kejamnya Louise dan David hanya sekali sehari memberi makan anak-anak itu pun hanya dengan roti lapis dan selai kacang saja. Sementara mereka makan bisa makan apapun yang mereka mau. Karena sering dibuat kelaparan, tumbuh kembang anak-anak Turpin ini terganggu bahkan ada yang berhenti dan beberapa dari mereka menderita penyusutan otot. Alhasil anak-anak Turpin sering ketahuan mencuri makanan dan lalu dipukuli habis-habisan oleh Loiuse.

Anak-anak Turpin diteror dengan ayat-ayat alkitab yang disalahgunakan oleh David dan Louise untuk mengontrol dan menanamkan ketakutan dalam diri anak-anak. Louise sering sengaja membeli pakaian dan mainan anak-anak namun tidak memperbolehkan satupun mengenakan atau bermain dengannya. Suatu hari Louise sengaja meletakkan sepiring pie buah diatas meja makan, membiarkan anak-anaknya melihat, mencium wangi pie tersebut namun tidak satupun boleh menikmati. Selain menyiksa secara fisik, Loise juga menyiksa anak secara mental dan emosional.

Anak-anak itu bahkan hanya diperbolehkan untuk mandi satu kali dalam setahun dan sering melarang mereka menggunakan kamar mandi. Karena itu mereka terpaksa buang hajat dimana saja seperti binatang. Dan mereka hanya diperbolehkan untuk mencuci tangan saja, jika ketahuan mencuci bagian tubuh diatas pergelangan tangan mereka bakal kena hukum. Dipukuli, didorong dari tangga atau dirantai.

Bertahun-tahun hidup dalam penyiksaan dan kontrol yang diluar nalar pasangan Turpin, mengakibatkan dampak yang mendalam bagi anak-anak Turpin. Sebagai contoh, Jennifer sempat berniat untuk bunuh diri. Karena itulah dia dan Jordan lalu menyusun rencana untuk melarikan diri dua tahun lamanya sebelum akhirnya upaya Jordan berhasil. Rencana di awal Jennifer dan Jordan yang akan menyelinap keluar dimalam itu, namun karena terlampau ketakutan, Jennifer urung dan kembali masuk ke rumah. Namun tidak dengan Jordan yang memutuskan untuk melanjutkan pelariannya sambil memegang erat-erat ponsel usang yang hampir dibuang oleh salah satu saudaranya, dengan ponsel itulah dia menghubungi 911 dan akhirnya menyelamatkan nyawanya dan saudara-saudaranya.

Berbeda dengan Jennifer, Jordan Turpin mendapatkan pengharapan setelah menemukan dan menonton video musik penyanyi Justin Beiber dari ponsel milik salah satu saudara laki-lakinya yang dipercaya untuk memegang ponsel. Setiap kali kedua orangtuanya sedang tidak ada dirumah, Jordan sembunyi-sembunyi menonton video dari penyanyi tembang Baby ini. Dari video-video Justin Beiber, Jordan mendapatkan ‘kesadaran’ bahwa ada kehidupan lain yang jauh berbeda dari kehidupan yang dijalaninya saat itu. Dia mengatakan bahwa dia banyak belajar hal-hal baru dari Justin Beiber yang dia tonton dan semuanya itu memberinya sebuah pengharapan bahwa dia pun bisa mendapatkan kehidupan seperti yang ditampilkan dalam video-video tersebut.

“Mungkin karena kami sudah terbiasa hidup seperti telur diujung tanduk, jadi meskipun takut saya lakukan saja. Setidaknya kalaupun saya bakal mati, setidaknya saya sudah berusaha. Saya khawatir dan melihat adik saya menangis dan takut. Jadi saya harus melakukannya, meminta pertolongan dan menyelamatkan saudara saya.” Jelas Jordan, setelah empat tahun berlalu, disebuah wawancara dengan ABC News.

Baik David ataupun Louise, hingga kini tidak dapat memberikan alasan logis mengapa mereka memperlakukan anak-anak mereka seperti itu. Hingga akhirnya pada Februari 2019, keduanya divonis 25 tahun penjara seumur hidup setelah mengaku bersalah atas 14 tuduhan kejahatan. Pada sidang peradilan, David mengatakan bahwa dia tidak pernah bermaksud untuk menyakiti anak-anaknya dan berharap yang terbaik untuk anak-anaknya di masa depan mereka. Dan Louise sambill terisak mengungkapkan permintaan maaf atas semua yang telah dia lakukan. Dan mengaku bahwa dia mencintai anak-anaknya lebih dari yang mereka bayangkan.

Pengacara di AS bayar orang untuk membunuhnya supaya anaknya dapat uang asuransi

Pengacara di AS bayar orang untuk membunuhnya supaya anaknya dapat uang asuransi

SAHMITRA – Alex Murdaugh, 53, lahir dari keluarga hukum yang cukup terkenal di Carolina Selatan, Amerika Serikat. Selama tiga generasi, mulai dari kakek buyut, kakek, dan ayahnya semuanya pernah menjabat sebagai jaksa penuntut utama di negara bagian itu.

Drama di kehidupan Alex bermula pada bulan Juni 2021 lalu, ketika istrinya, Margaret, 52 tahun dan puteranya, Paul, 22 tahun ditemukan terbunuh didekat rumah mereka. Alex sendiri yang menemukan istri dan puteranya tewas tertembak dan lalu menelepon dan melapor ke 911. Hingga kini pihak kepolisian belum menetapkan pelaku pembunuhan Paul dan Margaret Murdaugh dan enggan berkomentar mengenai kemungkinan bahwa Alex Murdaugh terlibat.

Tiga bulan kemudian, tepatnya 4 September kemarin, Alex Murdaugh ditembak di bagian kepalanya dipinggir jalan. Awalnya, pengacara Alex, Dick Harpootlian mengkalim bahwa kliennya tengah mengganti ban mobilnya yang kempes dan tiba-tiba seseorang yang tidak dikenal menyerang dan menembaknya. Dua hari kemudian Alex keluar dari rumah sakit dengan luka ‘dangkal’ dibagian kepalanya.

Setelah kepolisian mengusut insiden itu dan mengumpulkan informasi dan bukti-bukti, kini Alex malah dituduh ‘mengatur pembunuhan’ atas dirinya sendiri sehingga puteranya yang lain yang masih hidup mendapatkan uang asuransi atas kematiannya. Yang akhirnya tuduhan itu diakui oleh Alex.

Menurut pengacaranya, kematian istrinya dan putranya memperburuk kecanduan opioid yang diderita Alex hingga membawanya ke dalam kesulitan keuangan yang mengerikan. Dan keyakinan yang salah bahwa putranya tidak akan bisa mendapatkan uang asuransi yang diperkirakan senilai US$ 10juta jika dia mengambil nyawanya sendiri ini lah yang menjadi motif utama Alex ‘merancang’ kematiannya.

Alex menyusun rencana dengan menyewa mantan kliennya, Curtis Edward Smith yang berusia 61 tahun untuk menembaknya. Sialnya rencananya tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Yang berakibat Smith, yang merasa telah dihianati oleh Alex malah kini ditahan dan menghadapi tuduhan kriminal, konspirasi untuk melakukan penipuan asuransi, penyerangan, membantu seseorang bunuh diri dan kepemilikan obat-obat terlarang.

Sementara Alex sendiri sudah menyerahkan diri dan ditangkap dengan dakwaan penipuan asuransi, konspirasi untuk melakukan penipuan asuransi, dan mengajukan laporan palsu. Tapi dia dibebaskan dengan membayar jaminan US$ 20.000 untuk melakukan rehab di pusat rehabilitasi di luar negara bagian, kata pengacaranya.

Sehari sebelum penembakan, Alex mengundurkan diri dari firma hukum yang mencurigainya telah melakukan penyalahgunaan dana, yang digunakan untuk mendanai kecanduan opioidnya. Pengacara Alex menambahkan bahwa Murdaugh bekerja sama dengan pihak berwenang dan tidak ingin “kejahatan palsu” yang disusunnya mengalihkan perhatian penyelidikian atas pembunuhan istri dan putranya.

Namun, secara terpisah, penyelidikan kematian Margaret dan Paul Murdaugh malah mendorong pihak berwenang untuk membuka kembali penyelidikan atas dua kematian lainnya dalam beberapa tahun terakhir yakni kasus Stephen Smith yang berusia 19 tahun pada tahun 2015, yang mayatnya ditemukan kurang dari 10 mil jauhnya dari rumah keluarga Murdaugh dan juga kasus kematian Gloria Satterfield, pengurus rumah tangga keluarga Murdaugh selama lebih dari dua dekade didalam rumah mereka.

Kematian Stephen Smith awalnya dianggap sebagai penembakan, tetapi kemudian diputuskan penyebab kematiannya adalah tabrak lari. Polisi belum mengatakan informasi apa yang ditemukan selama penyelidikan Murdaugh yang mengarahkan mereka untuk menyelidiki kasus Smith.

Pihak berwenang juga telah meluncurkan penyelidikan atas kematian pengurus rumah tangga keluarga Murdaugh, Gloria Satterfield, 57 tahun, pada tahun 2018. Ketika dimintai keterangan Alex menyatakan bahwa Mrs. Sttarerfield tersandung anjing-anjingnya dan kemudian jatuh dari tangga dan meninggal. Tetapi berwenang yang melakukan otopsi menyatakan bahwa yang terjadi pada Mrs. Satterfield bukanlah cedera terpeleset dan jatuh.

Dibalik semua peristiwa buruk yang mengelilingi keluarga Murdaugh, pihak kepolisian masih belum mau berkomentar. Baik itu penyebab atau orang yang dicurigai atas pembunuhan Margaret dan Paul atau apakah 2 kematian lain yang menguap kembali memiliki keterkaitan satu sama lain.

 

Misteri pembunuhan Gabby Petito, vlogger traveling cantik yang gemparkan AS

Misteri pembunuhan Gabby Petito, vlogger traveling cantik yang gemparkan AS

SAHMITRA – Gabrielle Venora Petito adalah seorang wanita Amerika 22 tahun yang tengah melakukan perjalanan melintasi Amerika Serikat menggunakan mobil van, yang dikenal dengan trend #vanlife bersama tunangannya, Brian Christopher Laundrie sejak awal Juli 2021.

Namun pada 11 September 2021, Nicole Schmidt, ibu dari Petito, melaporkan putrinya hilang setelah putrinya tersebut berhenti mengirim atau menanggapi pesan. 8 hari berselang selepas laporan tersebut, di dekat Grand Teton National Park di Wyoming sebuah mayat ditemukan dan dicurigai mayat tersebut adalah mayat Gabby Petito. Dan akhirnya pada 21 September kepolisian mengkonfirmasi bahwa yang ditemukan adalah benar mayat Gabby.

Sejak dilaporkan menghilang, kasus Petito menarik perhatian banyak orang dan bahkan FBI ikut turun tangan menangani kasus dan misteri dibalik kematian Petito.

Petito dibesarkan di Blue Point, yang terletak di bagian selatan Long Island di New York. Kegemarannya berkeliling dunia membuatnya terinspirasi menjadi seorang vlogger dan influencer yang gemar mengabadikan dan membagikan pengalaman dan momen-momen perjalanannya di media sosial seperti YouTube, Instagram dan TikTok pada 61,000 pengikutnya.

Petito dan Laundrie mulai berpacaran sejak Maret 2019 dan bertunangan pada Juli 2020. Setahun kemudian tepatnya 4 Juli 2021 kemarin pasangan ini memutuskan untuk meninggalkan New York untuk bersama-sama melakukan perjalanan lintas alam selama empat bulan, mengunjungi dan berkemah di taman nasional. Mereka berencana untuk tidur di van mereka dan mendokumentasikan perjalanan mereka sampai akhir.

Namun ditengah-tengah perjalanan, tepatnya 12 Agustus, sebuah panggilan 911 dilakukan oleh seseorang yang melaporkan melihat Petito dan Laundrie bertengkar dan menyaksikan Laundrie memukul Petito. Polisi di Moab, Utah, langsung dikerahkan dan akhirnya berhasil menepikan van yang ditumpangi pasangan itu. Sebuah video dari kamera yang dipasang dibadan polisi menunjukkan Petito menangis dan kesal, tetapi tidak terjadi penangkapan atas kejadian tersebut. Salah satu  polisi menyarankan pasangan ini untuk berpisah sementara untuk malam itu saja,  Laundrie tidur di hotel dan Petito tetap di dalam van.

Sepertinya sudah berdamai, pada 19 Agustus, Petito dan Laundrie memposting sebuah video di YouTube berjudul “Van Life: Beginning Our Van Life Journey.” Dalam video tersebut pasangan ini terlihat tertawa dan berciuman.

Lalu pada 29 Agustus, melalui sebuah postingan di TikTok oleh seorang pengguna bernama Miranda Baker, mengklaim bahwa dirinya dan pacarnya memberikan tumpangan pada Laundrie di Colter Bay, Wyoming. Namun dikatakan Baker ketika itu Laundrie hanya seorang diri saja dan menawarkan US$ 200 untuk tumpangan tersebut. Baker memposting di TikTok setelah melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian. Dan kepolisian mengkonfirmasi adanya laporan tersebut.

Dan beberapa hari setelah postingan Miranda Baker itu viral di TikTok, tepatnya 1 September, Brian Laundrie dikabarkan pulang ke North Port, Florida kerumah orangtuanya yang ia tempati bersama Petito sejak mereka bertunangan. Yang kemudian berbuntut laporan resmi yang dibuat keluarga Petitio pada 11 September atas menghilangnya Gabby Petito setelah mereka tidak mendapatkan kabar berita dari Gabby sejak akhir Agustus dan mendengar berita bahwa Laundrie telah kembali tanpa Petito.

Pencarian dan penyelidikan atas menghilangnya Gabby Petitio pun dimulai. Keluarga Petito menuduh keluarga Laundrie menutupi informasi keberadaan Gabby selama pencarian berlangsung. Menyusul, dengan alasan menolak untuk bekerja sama, pada 15 September Polisi North Port mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan Brian Laundrie sebagai orang penting terutama atas menghilangnya Gabby Petito.

Joe Petito, ayah Gabby yang hadir dan bicara di konfrensi pers yang diselenggarakan oleh kepolisian North Port pada 16 September memohon bantuan semua orang untuk menemukan puterinya.

“Saya meminta bantuan pada orang tua Brian dan saya meminta bantuan anggota keluarga dan teman-teman dari keluarga Laundrie juga,” katanya.

“Apa pun yang dapat Anda lakukan untuk memastikan putri saya pulang, saya meminta bantuan itu. Tidak ada hal lain yang penting bagi saya sekarang.” Imbau Joe Petito.

Setelah mendapat laporan dari orangtua Brian kepada pihak kepolisian bahwa sudah tiga hari putranya itu tidak pulang kerumah, pada 18 September, pencarian Laundrie dimulai di Carlton Reserve seluas 24.000 hektar di Sarasota, Florida.

Keesokan harinya, pihak berwenang mengabarkan mereka menemukan mayat di dekat Grand Teton National Park di Wyoming. Di area yang sama di mana van pasangan Petito dan Laundrie dilaporkan terakhir terlihat dan mendukung klaim Miranda Baker yang mengangkut dan memberikan tumpangan pada Laundrie di Wyoming.

Surat pengeledahan akhirnya terbit. Kepolisian langsung mengeledah rumah keluarga Laundrie, menyisir seisi rumah, menyita mobil Ford Mustang milik Brian dan sebuah hard drive yang mungkin berisi bukti kejahatan.

Seorang koroner yang bertugas menganalisa mayat yang ditemukan di Wyoming beberapa hari sebelumnya menegaskan bahwa mayat tersebut adalah Gabby Petito dan menyatakan penyebab kematiannya adalah pembunuhan pada 21 September. Setelah itu FBI mengumumkan bahwa mereka akan mengambil alih penyelidikan kriminal, dan pihak berwenang akan terus mencari Brian Laundrie di Carlton Reserve.

Pengadilan federal di Wyoming mengeluarkan surat perintah penangkapan Brian Laundrie. Dia didakwa atas tuduhan penggunaan kartu debit yang tidak sah karena telah melakukan penarikan tidak sah senilai lebih dari $1.000 selama Petito menghilang. Namun hingga hari ini status Laundrie masih buron dan kepergian Gabby Petito untuk selamanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan orang terdekatnya.

4 memorabilia bintang dunia yang unik dan cerita dibaliknya

4 memorabilia bintang dunia yang unik dan cerita dibaliknya

SAHMITRA – Memorabilia diartikan sebagai benda yang disimpan karena memiliki nilai sentimental atau karena dikaitkan dengan beberapa peristiwa atau orang penting. Bagi seorang kolektor atau pengemar, memorabilia memungkinan mereka untuk lebih dekat dan pribadi dengan kenangan akan peristiwa tertentu atau siapapun sosok yang dikagumi.

Berikut adalah daftar memorabilia dari tokoh dan pesohor terkenal dan cerita dibalik benda-benda tersebut.

  1. Gigi John Lennon

Suatu hari di tahun 1960an, John Lennon yang baru saja pulang dari dokter gigi memberikan gigi tanggalnya kepada Dot Jarlette, asisten rumah tangganya. Lennon mengatakan pada Jarlette untuk membuang gigi itu atau memberikannya pada puterinya dirumah sebagai kenang-kenangan. Gigi itulah yang lalu bertahun tahun kemudian dibeli oleh seorang dokter gigi asal Kanada bernama Michael Zuk. Selain berprofesi sebagai dokter gigi, Zuk juga adalah seorang penulis sebuah buku yang membahas tentang gigi para selebriti terkenal. Zuk membeli gigi tanggal Lennon itu disebuah lelang di Stockport seharga Rp. 382juta dan memajang gigi tersebut di ruang praktiknya.

 

 

  1. Sampel darah mantan Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan

Sebuah botol kaca yang digunakan untuk menyimpan sampel darah mantan Presiden Ronald Reagan setelah upaya pembunuhan pada tahun 1981 tampil sebagai salah satu benda yang akan dilelang di rumah lelang PFC Auctions Inggris. Namun upaya pelelangan itu gagal setelah mendapat kritik dari Yayasan Kepresidenan Ronald Reagan.

Melalui situs web PFCauctions.com, rumah lelang tersebut mengumumkan bahwa mereka telah menghubungi Yayasan Kepresidenan Ronald Reagan mengenai pelelangan botol darah laboratorium Ronald Reagan. Mereka menjelaskan bahwa pemilik awal membeli barang tersebut di lelang umum di Amerika Serikat pada Februari 2012 seharga Rp. 51juta. Sementara penawaran di situs web Lelang PFC telah mencapai Rp. 428juta. Pihak rumah lelang menyatakan bahwa telah bernegosiasi dengan pemilik awal agar barang tersebut ditarik dari lelang dan disumbangkan ke Ronald Reagan Presidential Foundation. Namun keputusan dan kesepakatan antara ketiga pihak tersebut tidak dijelaskan secara gamblang kemudian.

 

 

  1. Rambut terbakar milik Michael Jackson

12 helai rambut yang diselamatkan dari kepala mendiang Michael Jackson yang terbakar ditengah-tengah proses pembuatan iklan Pepsi yang ikonik di tahun 1984 itu dilelang pada 17 Oktober 2009 dan diperkirakan terjual hingga Rp. 23juta oleh pembeli yang hingga saat ini tidak diketahui identitasnya.

Orang yang menyelamatkan rambut terbakar itu ternyata adalah sang produser eksekutif dari iklan Pepsi yang terkenal itu, Ralph Cohen. Ketika rambut penyanyi yang dijuluki King of Pop atau Raja music pop itu terbakar setelah kembang api meletus di belakangnya, Cohen membantu memadamkan api dengan mantelnya. Ada kabar yang beredar, akibat dari kecelakaan tersebut Jackson menderita luka bakar tingkat tiga sehingga dirinya harus diberi resep obat pereda nyeri yang akhirnya membuatnya kecanduan terhadap obat tersebut.

 

 

  1. Cek terakhir yang ditandatangani oleh Marilyn Monroe

Pada tahun 2012 selembar kertas cek dari buku cek pribadi dengan tandatangan Marilyn Monroe dilelang dengan banderol harga Rp. 143juta.

Cek yang diberikan kepada Marilyn untuk perusahaan Pilgrim’s Furniture yang beralamat di Wilshire Boulevard di Los Angeles ini bertanggal 4 Agustus 1962. Jadi tampaknya Pilgrim melakukan pengiriman ke rumah Monroe dan aktris legendaris tersebut membayar “Chest Roman white” di tempat dengan cek dari buku cek pribadinya. Menariknya, pada faktur itu, petugas pengiriman ketika itu terbukti menulis “Rec’d Check #281 dalam jumlah $228,80 / Pembayaran penuh / Earl Shero. Yang diyakini adalah cek terakhir yang pernah ditandatangani Marilyn sebelum dia meninggal malam itu, 4 Agustus 1962.

Dr. S. David Bernstein, seorang Psikolog Forensik terlatih dari Harvard dan pendiri Konsultan Forensik, LLC – yang tidak menerima kompensasi untuk memberikan analisisnya – mengatakan bahwa cek itu tampaknya menunjukkan kemungkinan bunuh diri yang rendah.

“Beberapa orang, ketika mereka sangat tertekan, memiliki kecenderungan untuk menghabiskan uang terus menerus untuk membuat diri mereka merasa lebih baik.

“Namun, hanya satu barang? — terutama sesuatu yang bernilai rendah seperti ini —ini lebih konsisten dengan kerangka pikir seseorang yang tidak ingin bunuh diri.”

Kisah pria yang selamat setelah tertelan ikan paus bungkuk selama 40 detik

Kisah pria yang selamat setelah tertelan ikan paus bungkuk selama 40 detik

SAHMITRA – Namanya Michael Packard, pria 56 tahun yang tinggal di Massachusettes, Amerika Serikat dan berprofesi sebagai petani lobster ini dapat dikatakan sebagai salah satu orang paling beruntung. 10 tahun lalu, diperjalananya menuju ke Costa Rica, Packard adalah salah satu dari 5 penumpang pesawat kecil yang jatuh di hutan. Kecelakaan itu memakan korban sang pilot, co-pilot dan satu orang penumpang. Packard mengalami beberapa luka serius di perut dan tubuh bagian atasnya. Dia dan 4 penumpang lainnya mengabiskan dua malam didalam hutan tersebut sebelum akhirnya ditemukan dan diselamatkan oleh tim penyelamat yang mengatakan bahwa apabila terlambat satu malam saja, Packard dan korban lainnya tidak akan selamat.

Menjalani profesi sebagai petani lobster membutuhkan nyali besar dan ketangguhan karena mereka harus menantang perairan dingin, terutama di Provicetown dan arus yang begitu kuat tempat munculnya lobster-lobster tersebut. Kapanpun saja terdapat kemungkinan terjadinya bahaya dan tidak jarang arus yang kuat itu bisa menggulung petani lobster yang sedang menyelam dan berakibat fatal. Dan Packard pernah mengalami hal tersebut, terseret arus laut dan mengapung ditengah lautan selama berjam-jam sebelum akhirnya diketemukan. Dia juga pernah menemukan mayat sesama petani lobster.

Entah pengalaman-pengalaman lolos dalam bahaya tersebut dapat membuktikan bahwa Packard adalah orang yang sangat beruntung atau tidak. Namun kisahnya yang satu ini mungkin bisa menjadi alasan kuat untuk membenarkan.

Di bulan Juli 2021 lalu, seperti hari-hari sebelumnya, pagi-pagi betul Packard dengan kapalnya yang dinamai “Ja’n J” dan seorang awak kapal, Josiah Mayo, sudah berlayar di suhu air 60 derajat dan jarak pandang sekitar 20 kaki untuk menangkap buruannya. Pada penyelamanya yang kedua kali yakni sebelum jam 8 pagi, tiba-tiba saja dari arah belakangnya sesuatu menghantam tubuhnya dan sesaat kemudian semuanya menjadi gelap total.

“Tiba-tiba saja, saya merasakan dorongan yang sangat kuat dan kemudian semuanya menjadi hitam.”

“Saya bisa rasakan bahwa saya bergerak dan paus itu menekan saya dengan otot-otot yang ada dimulutnya.” Ingat Packard setelah keluar dari rumah sakit Cape Cod.

Alwanya Packard pikir dia berada dalam ikan hiu putih besar, namun dia tidak merasakan adanya gigi-gigi yang tajam dan dia tidak mengalami luka yang kentara pada tubuhnya. Dengan cepat dia sadar bahwa dia telah ditelan oleh ikan paus.

“Saya benar-benar sudah berada didalam; semuanya gelap dan aku begumam dalam hati, ‘tidak mungkin ada jalan keluar. Habislah aku. Mati aku.’ Dan aku mulai membayangkan kedua puteraku – mereka baru berumur 12 dan 15 tahun.”

Didalam mulut paus itu, Packard masih berkostum selam lengkap, dia berjuang dan sang paus mulai menggerakkan kepalanya sehingga Packard menduga paus itu tidak menyukainya. Dia memperkirakan dia berada di dalam paus selama 30 hingga 40 detik sebelum paus itu akhirnya muncul ke permukaan.

“Lalu aku melihat ada cahaya, dan paus itu mulai menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Dan kemudian aku sudah berada diluar (di air).” Lanjut Packard mengisahkan.

Dari permukaan, dari atas kapal, Josiah Mayo  menyaksikan ada sebuah semburan air yang sangat kuat dan besar, yang semula dia pikir adalah hiu putih besar namun ternyata adalah paus yang beberapa saat lalu menegak rekannya dalam satu tegukan. Mayo menambahkan, kemudian paus itu memuntahkan Packard kembali ke laut. Mayo pun segera menjemput rekannya itu, menelepon pantai melalui panggilan radio dan melesat kembali ke dermaga. Ambulan lalu segera membawa Packard ke rumah sakit Cape Cod.

“Berdasarkan apa yang dijelaskan, ini pasti kesalahan di pihak sang paus bungkuk,” kata Jooke Robbins, direktur Studi Paus Bungkuk di Pusat Studi Pesisir di Provincetown.

Robbins menjelaskan paus bungkuk bukanlah hewan yang agresif, terutama terhadap manusia.

Mayo mendeskripsikan sang paus berukuran sedang dan Robbins menduga itu adalah paus bungkuk remaja. Ketika seekor paus bungkuk membuka mulutnya untuk makan, ia mengepul seperti parasut, menghalangi pandangan di depannya, itulah sebabnya apapun mungkin terjerat dalam alat tangkap di mulut dan rahang mereka, kata Robbins.

Robbins juga menjelaskan bahwa insiden paus bungkuk melukai perenang atau penyelam, terutama menelan mereka, sangat jarang terjadi hingga tidak ada karena kerongkongan pada paus yang tidak bergigi terlalu kecil untuk benar-benar menelan manusia.

Seusai dibebaskan dari Rumah Sakit Cape Cod, Packard yang mengalami beberapa kerusakan jaringan lunak tetapi tidak ada tulang yang patah, mengatakan dia akan kembali menyelam segera setelah dia sembuh.

 

Kanada Stop Vaksin AstraZeneca untuk Peserta di Bawah 55 Tahun

Kanada Stop Vaksin AstraZeneca untuk Peserta di Bawah 55 Tahun

Sahmitra — Kanada menghentikan penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca untuk orang dewasa di bawah usia 55 tahun.

Hal ini disampaikan kata seorang pejabat kesehatan masyarakat pada Senin (29/3/2021), setelah panel penasihat mengutip “ketidakpastian substansial” seputar potensi risiko pengembangan pembekuan darah langka.

Komite Penasihat Nasional untuk Imunisasi sebelumnya merekomendasikan jeda dalam penggunaan vaksin AstraZeneca untuk orang Kanada dalam kelompok usia tersebut.

“Kami bertindak tegas dengan menghentikan sementara penggunaan vaksin AstraZeneca di Kanada pada mereka yang berusia di bawah 55 tahun saat ini,” kata wakil kepala kesehatan masyarakat Kanada, Howard Njoo, kepada wartawan dilansir laman Aljazeera, Selasa (30/3/2021).

Dia munuturkan bahwa pemerintah mengambil tindakan pencegahan ini sementara Health Canada, sebagai regulator, menyelesaikan analisis manfaat-risiko yang diperbarui berdasarkan data yang muncul.

Kanada adalah negara terbaru yang menghentikan sementara penggunaan vaksin AstraZeneca setelah kasus pembekuan darah yang jarang dilaporkan.

Beberapa negara, sebagian besar di Eropa, menghentikan penggunaan suntikan bulan ini, meskipun ada jaminan dari perusahaan multinasional Inggris-Swedia, European Medicines Agency (EMA) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa vaksin tersebut aman.

“Sampai sekarang, kami tidak tahu apakah beberapa atau semua kondisi disebabkan oleh vaksin atau oleh faktor kebetulan lainnya,” kata Hans Kluge, direktur WHO untuk Eropa, belum lama ini.

Dia menegaskan bahwa banfaat vaksin AstraZeneca jauh lebih besar daripada risikonya.

“Penggunaannya harus terus berlanjut, untuk menyelamatkan nyawa,” ujanya.

Health Canada mengatakan bahwa meminta AstraZeneca memberikan penilaian rinci tentang manfaat dan risiko vaksin menurut usia dan jenis kelamin dalam konteks Kanada.

“Informasi ini akan mendukung evaluasi berkelanjutan dari peristiwa pembekuan darah langka ini dan memungkinkan Health Canada untuk menentukan apakah ada kelompok orang tertentu yang mungkin berisiko lebih tinggi,” katanya.

Sadis! Seorang Wanita Tega Bunuh Pacar dan Mutilasi, Simpan Jasad di Kulkas

Sadis! Seorang Wanita Tega Bunuh Pacar dan Mutilasi, Simpan Jasad di Kulkas

Sahmitra — Seorang ibu di Rusia tega membunuh dan memutilasi pacarnya sendiri dan menyimpannya di dalam lemari es selama delapan hari sebelum terungkap.

Menyadur dari laman The Sun, pada Selasa (23/3/2021) kasus tersebut terungkap ketika Anna Vinokurova (39) meminta bantuan kepada petugas untuk memindahkan lemari esnya yang terletak di rumahnya di Krasnoyarsk, Rusia.

Ketiga petugas mulai memindahkan lemari pendingin tersebut, mereka melihat aliran darah di belakang truk dan langsung memeriksanya.

“Kulkas mengalirkan darah di jalan dan dia mengakui pembunuhan itu,” kata sebuah laporan mengutip dari sumber penegakan hukum.

Tuduhan pembunuhan itu terjadi setelah wanita 39 tahun itu diketahui berpesta minum keras dan kemudian terjadi perdebatan.

“Wanita itu menikam korban dengan pisau di area dada,” kata Komite Investigasi Rusia.

“Untuk menyembunyikan jejak kejahatan, dia memotong-motong jasadnya, memasukkannya ke dalam tas, dan menaruhnya di lemari esnya.” sambungnya.

Menurut penyelidikan, pelaku menggunakan gergaji untuk memotong mayat dan menyimpan jasadnya di dalam lemari pendingin selama delapan hari.

“Dia kemudian menelepon layanan pemindahan dan meminta mereka untuk membawa lemari es beserta bagian-bagian tubuhnya ke distrik lain di kota itu.

“Dalam perjalanan, para pekerja melihat darah mengalir dari lemari es dan menanyakan isinya. Dia mengakui semuanya saat itu juga.” jelas penyelidik.

Petugas pemindahan kemudian menelepon polisi yang menahan wanita itu.

Vinokurova, yang dikabarkan memiliki seorang putri remaja, memulai hubungan dengan pria 27 tahun tersebut setelah dibebaskan dari penjara karena mengedarkan narkoba pada bulan Oktober.

Vinokurova menghadapi hukuman 15 tahun penjara jika terbukti bersalah atas tuduhan pembunuhan dan mutliasi tersebut.

Berkat CPR dari Petugas Pemadam Kebakaran, Seekor Kucing Selamat

Berkat CPR dari Petugas Pemadam Kebakaran, Seekor Kucing Selamat

Sahmitra — Seekor kucing selamatkan dari kebakaran hingga tak sadarkan diri setelah seorang petugas pemadam kebakaran menyelamatkannya menggunakan metode CPR (Cardiopulmonary Resuscitation).

Menyadur dari laman Sky News, pada Rabu (17/3/2021) insiden tersebut dilaporkan di kota Montebello Vicentino, dekat Kota Verona, Italia.

Aksi petugas penyelamatan seekor kucing tersebut diabadikan dalam sebuah video dan beredar luas di media sosial.

Dalam video tersebut menunjukkan seekor kucing betina menerima kompresi dada dan oksigen dari masker khusus oleh seorang petugas pemadam kebakaran.

Video aksi heroik tersebut dimulai dengan suasana di sekitar tempat kejadian yang tertutup asap tebal sehingga tapak gelap.

Saat kamera bergerak ke luar dari kepulan asap, terlihat kucing itu dibawa oleh seorang petugas pemadam kebakaran dan seorang wanita tak dikenal.

Petugas membawa kucing dan wanita tersebut ke sebuah taman yang penuh bunga dengan bangunan yang lebih besar di bagian belakangnya.

Kemudian seorang petugas terlihat menuangkan air ke kaki kucing tersebut dan kemudian petugas pemadam kebakaran lainnya melakukan CPR.

Seorang pekerja darurat terdengar berkata “tunggu, kitty!”.

Selang beberapa saat, kaki kucing berwarna coklat itu terlihat bergerak-gerak, lalu hewan tersebut sadar dengan mengulurkan kaki lainnya.

Laporan menyatakan bahwa kucing itu selamat dari kematian dan bertemu kembali dengan pemilik yang sangat bahagia dan sangat lega.

Video diakhiri dengan petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air bagian dalam garasi yang menghitam untuk menjinakkan si jago merah.

Domba “Gondrong” Berhasil Diselamatkan, Berat Bulunya 35 Kg Setelah Dicukur

Domba “Gondrong” Berhasil Diselamatkan, Berat Bulunya 35 Kg Setelah Dicukur

Sahmitra — Seekor domba berhasil diselamatkan oleh tim penyelawat hewan Edgar’s Mission Farm Sanctuary di sebuah hutan di Australia. Domba tersebut lantas dinamai Baarack sebagaimana dilansir dari laman Reuters, Kamis (24/2/2021).

Penampilan Baarack tak lazimnya domba pada umumnya. Hewan ternak tersebut memiliki bulu yang sangat tebal dan menandakan tidak dicukur dalam waktu yang lama.

Setelah dicukur, berat bulu Baarack mencapai lebih dari 35 kilogram, hampir separuh dari berat kanguru dewasa.

Domba itu mulanya ditemukan oleh seorang warga yang kemudian menghubungi Edgar’s Mission Farm Sanctuary dekat Lancefield, Victoria, Australia.

Anggota Edgar’s Mission Farm Sanctuary, Kyle Behrend, mengatakan, kemungkinan Baarack awalnya merupakan domba peliharaan seseorang.

“Dia (Baarack) pernah diberi tanda di telinganya. Namun, tanda itu tampaknya telah robek oleh bulu tebal di sekitar wajahnya,” ujar Behrend.

Behrend menambahkan, biasanya seekor domba dicukur paling tidak setiap setahun sekali.

“Domba perlu dicukur minimal setahun sekali. Kalau tidak, bulunya terus tumbuh dan berkembang, seperti yang terjadi ini,” tutur Behrend.

Setelah Baarack diselamatkan, tim penyelamat mencukur bulu Baarack.

Setelah ditimbang, berat bulu Barack yang berhasil dicukur mencapai 35,4 kilogram. Kendati Baarack ditemukan dalam keadaan “gondrong”, kuku Baarack dalam keadaan yang bagus dan cukup rapi.

Namun, meski kukunya cukup rapi, kondisi Baarack sebenarnya cukup memprihatinkan.

“Dia berada dalam kondisi yang buruk. Dia kurus, dan karena semua wol di sekitar wajahnya, dia hampir tidak bisa melihat,” kata Behrend.

Behrend mengatakan, kini Baarack dikandangkan bersama domba lain yang diselamatkan oleh Edgar’s Mission Farm Sanctuary.

Dia menambahkan, melihat Baarack yang masih hidup, menandakan bahwa domba sebenarnya adalah hewan yang tangguh.

Menyusup ke Bangsal Covid-19, Polisi Ini Menangis Menyaksikan Ayahnya Meninggal

Menyusup ke Bangsal Covid-19, Polisi Ini Menangis Menyaksikan Ayahnya Meninggal

Sahmitra — Seorang polisi di Peru menangis, setelah dia melihat sang ayah meninggal di ranjang saat menyusup ke bangsal Covid-19. Jampier Gaspar Montes langsung diborgol karena menyamar sebagai dokter, dengan mengenakan alat pelindung diri lengkap.

Dia dilaporkan bisa menerobos Rumah Sakit Daniel Alcides Carrion di kota Huancayo setelah mengelabuhi petugas keamanan.

Televisi Peru merekam bagaimana dia duduk di jalan, seraya melepas APD berwarna biru dan dikelilingi petugas bersenjata.

Kementerian keseahatan menyatakan, mereka bakal menginvestigasi apakah Montes mendapat bantuan orang dalam sehingga bisa menyusup ke bangsal Covid-19.

Media setempat melaporkan, Montes berbuat nekat karena frustrasi karena dia tak mendapatkan perkembangan ayahnya dalam 48 jam.

Karena itu, dia menyaru sebagai dokter gizi saat ditanya statusnya oleh keamanan, dan naik ke lantai enam rumah sakit.

Dilansir Daily Mail Rabu (17/2/2021), polisi 21 tahun itu menangis dan segera meninggalkan bangsal saat tahu sang ayah meninggal di ranjang.

Berdasarkan keterangan rumah sakit, ayah Montes dirawat sejak 9 Februari karena menderita virus corona dan diabetes.

“Dia dibawa ke area khusus dan dipasangi ventilator sementara kami menunggu agar bangsal perawatan intensif tersedia.”

Pihak rumah sakit menjelaskan, ada 12 pasien yang juga tengah menunggu ketika mereka mendapat permintaan pemindahan pasien skala prioritas tinggi. Tim medis yang bertugas mengungkapkan, ayah si polisi kondisinya memburuk sebelum bisa ditransfer ke Ruang Perawatan Intensif (ICU).

“Dia dinyatakan meninggal ketika masker yang dipakai untuk membantunya bernapas dicabut,” jelas rumah sakit.

Kepala Polisi Roger Arista menuturkan, dia bisa memahami jika anak buahnya itu putus asa dan berusaha mencari tahu kondisi ayahnya. Karena itu, pihaknya akan menyelidiki jika saat menjenguk ayahnya, Montes apakah sedang berada dalam posisi bertugas atau tidak.