Cerita mantan napi tentang praktek pembuatan tato di dalam penjara paling menakutkan di AS

SAHMITRA – Dalam buku Behind The Granite Walls: Back Inside America’s Toughest Prisons, Jamie Morgan Kane, seorang mantan napi asal Inggris yang didakwa atas kasus pembunuhan di Amerika Serikat, membagikan pengalamannya mengenai kerasnya kehidupan di dalam penjara dan termasuk cerita mengenai praktek pembuatan tato yang ‘tidak biasa’ dan alasan mengapa napi-napi lain mentato di seluruh wajah.

Jamie Morgan Kane lahir pada 21 Februari 1954 di Isle of Man, kepulauan dependensi Inggris yang terletak di Laut Irlandia. Tetapi kelahirannya tidak terdaftar karena segera setelah ia dilahirkan, ibunya meninggalkannya di depan pintu rumah kakek-neneknya kemudian melarikan diri dan tidak pernah terlihat lagi. Setelah itu kakek-neneknya mengirimnya ke sebuah panti asuhan di Canada dan kemudian ia secara illegal ‘dijual’ dan dibawa ke Amerika.

Kemudian pada tahun 1983, Jamie ditangkap atas kematian seorang pria di rumahnya di AS. Khawatir bahwa dia akan dituduh atas kematian pria itu, Jamie mengatakan dia membuang mayatnya. Namun di pengadilan, ia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara. Ia ditempatkan di San Quentin, Penjara Negara Bagian Folsom dan Institusi Kejuruan Deuel yang terkenal kejam di California. Ia tinggal di sana selama 34 tahun dan berada dalam satu atap dengan beberapa pembunuh berantai paling terkenal di dunia seperti Charles Manson dan Edmund Kemper serta geng-geng seperti Aryan Brotherhood dan kartel Meksiko.

Jamie mengklaim bahwa tato adalah bentuk hiburan bagi narapidana dan beberapa napi menato wajah mereka agar terlihat lebih menakutkan, terutama yang memiliki Baby Face atau wajah yang tidak sangar. Terdapat kode yang dikenal di antara para napi dan petugas penjara, yakni Inmate Code atau “kode narapidana.” Beginilah definisi dari kode itu: narapidana yang kuat dan kejam mengeksploitasi narapidana yang lebih lemah. Dalam banyak kasus, eksploitasi ini berbentuk kekerasan fisik yang beresiko kehilangan nyawa atau cacat permanen dan bahkan pemerkosaan atau kekerasan seksual lainnya.

Gagasan bahwa yang kuat mendominasi yang lemah berakar pada konsep kejantanan: Seorang pria sejati adalah seseorang yang mendominasi orang lain. Konsep ini berlaku di kalangan penjahat yang mengorbankan orang-orang yang tidak berdaya baik diluar maupun didalam penjara sekalipun. Atas alasan inilah narapidana yang tidak agresif sering kali menjadi korban.

Jamie menuliskan di salah satu bab dalam bukunya mengenai teknik dan proses mengerikan pembuatan tato di penjara, dia menggambarkan beberapa metode brutal dan mengerikan yang digunakan. Diantaranya menggunakan tulang ayam yang diasah dan direndam dalam desinfektan, sebagai pengganti jarum tato darurat. Staples atau klip kertas yang diambil dari beberapa dokumen yang kemudian diluruskan juga kerap digunakan sebagai pengganti jarum.

Item-item pengganti jarum itu diasah di lantai beton kemudian dibilas dengan air hangat atau direndam cairan disinfektan yang diberikan napi yang bertugas untuk mengepel lantai. Dan untuk membantu menahan tinta, para narapidana menggunakan benang katun dari kaos yang dililitkan di sekitar jarum.

Untuk tinta, metode paling sederhana dan paling umum adalah dengan membakar cangkir styrofoam dan menggunakan kantong kertas tempat pembungkus makan siang untuk mengumpulkan asapnya. Biasanya diperlukan dua hingga empat cangkir untuk mendapatkan jumlah tinta yang diinginkan. Kemudian mereka akan mengikis cangkir stryofoam yang dibakar tadi ke dalam tutup plastik dan dicampur dengan sedikit pasta gigi dan air.

Jamie juga membagikan beberapa desain tato dan artinya yang paling sering dibuat dan dilihat di dalam penjara.

  • Tetes air mata: Jika air mata itu hanya garis luar atau outline, itu melambangkan percobaan pembunuhan. Jika air mata itu diwarnai, itu melambangkan pembunuhan.
  • Jaring laba-laba: Umumnya berarti mereka menjalani hukuman penjara jangka panjang.
  • 666: Menyiratkan keganasan dan kebrutalan, biasanya diletakkan di dahi, wajah, leher dan tangan.
  • Jam tanpa tangan: Untuk narapidana yang dijatuhi hukuman 80 tahun lebih. Karena secara teknis mereka tidak akan pernah mendapatkan pembebasan bersyarat.

Metode pembuatan tato darurat ala penjara ini tentu saja bukan tanpa resiko dan bahaya. Nyatanya cara ini berkontribusi pada lebih dari 80 kasus Hepatitis C setiap tahun di antara narapidana di seluruh negara bagian di Amerika Serikat. Biaya pengobatan infeksi berkisar antara $20.000 hingga $75.000 per orang. inilah yang lalu mendorong Departemen Pemasyarakatan Minnesota yang akhirnya menciptakan jalur khusus bagi narapidana untuk menjadi teknisi tato berlisensi. Selain untuk menekan kasus infeksi darah, namun juga menciptakan peluang kerja setelah mereka dibebaskan.