Casino88 Online Slot99 Sbobet Slot Sbobet888 Joker1888 88bet Slot39 7mmbet Slot388 Joker138 Joker888

Berita Menarik Dan Unik Dari Dalam Dan Luar Negeri

Mancanegara

Cho Family Chaebol Korea Selatan Yang Kontroversial Dengan Skandal

SAHMITRA – Selama beberapa dekade, perekonomian Korea Selatan didominasi oleh segelintir konglomerat yang dikelola keluarga yang memiliki kekayaan dan pengaruh yang sangat besar, lebih dikenal dengan sebutan “chaebol”, yang mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan di negara tersebut.

Sistem chaebol adalah warisan sejarah Korea Selatan. Setelah Perang Korea berakhir pada tahun 1953, diktator militer negara tersebut menargetkan segelintir keluarga untuk mendapatkan pinjaman khusus dan dukungan keuangan guna membangun kembali perekonomian. Bisnis yang dijalankan oleh keluarga-keluarga ‘terpilih’ tersebut berekspansi dengan cepat dan berpindah dari satu industri ke industri lainnya hingga mereka berubah menjadi konglomerat yang kuat dan berkuasa.

Namun kekuasaan pada chaebol, baik di dalam maupun di luar Korea Selatan, dianggap sebagai salah satu titik lemah dalam perekonomian, memperdalam kesenjangan dan mendorong korupsi dan nepotisme. Dan yang juga melekat pada sistem chaebol ini adalah istilah “gapjil” yang merupakan sebuah kata untuk menggambarkan berbagai perlakuan buruk yang dilakukan oleh orang yang berpangkat lebih tinggi kepada orang yang berkedudukan lebih rendah. Gapjil kerap terjadi di mana perwakilan atau anggota keluarga eksekutif perusahaan memperlakukan karyawan mereka dengan penghinaan, menggunakan bahasa yang kasar atau bahkan serangan fisik.

Dan salah satu keluarga chaebol yang paling kontroversial dengan skandal anggota keluarga yang kerap mempraktekkan gapjil  adalah keluarga Cho yang telah selama bertahun-tahun menguasi Korean Air.

Cho Yang-ho. Sang Patriak Korean Air.

Cho Yang-ho memimpin Korean Air sejak tahun 1992. Dia mewarisi perusahaan dari ayahnya Cho Choong-hoon, pendiri Hanjin Group, konglomerat yang menaungi Korean Air, Jin Air, KAL Hotel Networks, dan Hanjin Shipping yang sekarang sudah tidak beroperasi lagi. Dia dianggap sebagai orang yang telah berjasa mengawasi pertumbuhan perusahaan tersebut hingga menjadi salah satu maskapai penerbangan terbesar di Asia. Korean Air yang dimulai pada tahun 1969 dengan delapan pesawat, kini mengoperasikan 166 pesawat dengan penerbangan internasional ke 111 kota di 43 negara. Cho juga merupakan ketua Grup Hanjin, konglomerat transportasi global yang terdiri dari puluhan perusahaan yang mencakup maskapai penerbangan tersebut.

Cho Yang-ho menikah dengan Lee Myung-hee, ketua Yayasan Ilwoo nirlaba Hanjin dan putri mantan wakil menteri transportasi. Pasangan ini memiliki dua putri – Cho Hyun-ah dan Cho Hyun-min – dan satu putra, Cho Won-tae. Pada tahun 2018, Yang-ho pernah didakwa atas tuduhan penggelapan. Dia juga telah didakwa atas sejumlah tuduhan pada tahun 1999 dan akhirnya dihukum karena penggelapan dana perusahaan sebesar 27 miliar won ($23,8 juta). Lima bulan kemudian Yang-ho dipaksa mengundurkan diri dari jabatan kepala eksekutif karena lebih dari sepertiga pemegang saham menentang terpilihnya kembali dia karena tuduhan penggelapan terhadapnya. Dua minggu kemudian, di usia 70 tahun Yang-ho tutup usia.

Lee Myung-hee. Ibu pemimpin dinasti Korean Air.

Memaksa pekerja untuk berlutut, menyerang pekerja karena lupa membeli jahe, menendang dan meludahi karena terlambat. Menyiram supir dengan air karena mengemudi terlalu lambat. Memukul dahi pekerja dengan gagang pel tanpa alasan. Semua itu hanyalah sebagian dari kekerasan fisik dan verbal yang diduga dilakukan oleh Lee Myung-hee. Dugaan pelecehan tersebut, yang terjadi antara tahun 2013 dan 2017, dibantah oleh Myung-hee. Namun dalam sebuah pernyataan,  Hanjin Group mengatakan: “Kami mengakui bahwa beberapa serangan tersebut adalah fakta dan kami meminta maaf.”

Tahn 2020 Pengadilan Distrik Pusat Seoul menyatakan Lee Myung-hee, yang berusia 70 tahun, bersalah karena terbukti menyiksa para pegawainya dan menjatuhinya hukuman dua tahun penjara dengan masa percobaan tiga tahun. Tim penuntut sebetulnya mengupayakan hukuman 2,5 tahun penjara. Namun pengadilan meringankannya setelah mempertimbangkan usia Myung-hee yang sudah lanjut dan pengakuannya bahwa ia bertanggung jawab atas tindakan-tindakan yang pernah dilakukannya.

Cho Hyun-ah. The Nutrage.

Cho Hyun-ah adalah sang putri tertua dinasti Korean Air. Dia sukses membuat namanya menjadi berita utama di seluruh dunia dengan insiden yang dikenal dengan ‘Nutrage’. Ms Cho, yang duduk di kursi kelas pertama dalam penerbangan tujuan Seoul dari New York menjadi murka ketika seorang pramugara menyuguhinya kacang macadamia yang masih berada dalam kemasan, bukan di atas piring.

Hyun-ah memaksa pramugara yang bernama Park Chang-jin tersebut untuk meminta maaf padanya sambil berlutut. Tidak hanya itu, dia juga menuntut pilot pesawat untuk kembali ke gate dan mengelurkan Chang-jin dari pesawat yang sedang dalam persiapan untuk lepas landas. Hingga mengakibatkan keberangkatan tertunda selama 20 menit. Setelah insiden tersebut Chang-ji diturunkan jabatannya dari pramugara kelas utama menjadi pramugara biasa karena pramugara tersebut bicara ke media soal penurunan jabatan yang dialaminya.

Chang-ji akhirnya menuntut Korean Air dan menang.  Maskapai tersebut diperintahkan untuk membayar hampir $18.000 (€16.000; £14.000) kepada sang pramugara. Hyun-ah dinyatakan bersalah karena melanggar keselamatan penerbangan, pemaksaan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Dia menjalani hukuman lima bulan penjara atas insiden tersebut. Pada Mei 2015 Hyun-ah dibebaskan setelah pengadilan tertinggi negara itu membatalkan hukuman atas kasusnya. Hyun-Ah dicopot dari jabatannya di Korean Air. Tapi kembali menjabat di salah satu anak perusahaan dan kembali dipecat karena kasus lainnya, dimana ibunya Myung-hee dituduh menyelundupkan buah-buahan, tembikar, dan aksesoris dekoratif senilai sekitar 37 juta won dalam 46 perjalanan dari Mei 2013 hingga Maret 2018 dengan pesawat Korean Air. Sementara Hyun-ah dituduh menyelundupkan barang-barang mewah senilai sekitar 89 juta won dari Januari 2012 hingga Mei 2018 juga menggunakan Korean Air.

Cho Hyum-min. Anak perempuan no.2

Cho Hyun-min diduga melemparkan jus buah dan gelas ke arah karyawan biro iklan saat rapat. Dia berkilah dia hanya menyambar cangkir dari meja dan melemparkannya ke dinding. Tapi tuduhan penyerangan itu kemudian dibatalkan atas permintaan korban.

Cho Won-tae. Putra Bungsu

Hanya putra bungsu dinasti Korean Air ini yang memiliki catatan bersih dari gapjil.