Datang dalam Keadaan Duduk, Jenazah Pria Ini Ditolak di Pemakamannya

Sahmitra — Jenazah seorang pria di Trinidad-Tobago dilaporkan ditolak masuk ke upacara pemakaman sendiri, setelah dibawa dalam keadaan duduk. Che Lewis (29) dan ayahnya Adlay Lewis (54), yang tewas dibunuh di dalam rumah mereka, awalnya bakal dikuburkan pada 25 November.

Jenazah Che kemudian dibawa ke gereja tanpa dibaringkan dalam peti mati. Dia dilaporkan dibalsem dalam posisi duduk sebagai penghormatan terakhir.

Prosesi pemakaman yang tidak lazim itu melewati ibu kota Trinidad-Tobago, Port of Spain, menuju Gereja Evangelis St John di Diego Martin.

Mengenakan setelan kemeja dan celana putih serta jas pink, jenazah Che ditolak masuk ke dalam gereja karena staf tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Dalam video dan foto yang berseliweran di internet, mayat korban pembunuhan itu kemudian didudukkan di depan gedung gereja.

Dilansir dari laman The Sun, pada Rabu (2/12/2020), sejumlah pelayat yang datang awalnya tidak mengira bahwa sosok yang duduk di depan adalah mayat Che.

Saat itu, banyak pelayat yang mengira dia merupakan bagian dari staf pemakaman. Bahkan, ada yang mencelanya karena tak memakai masker. Sejumlah video upacara pemakamannya dikomentari oleh netizen.

“Ini merupalan bukti Trinidad-Tobago bukanlah tempat yang aman,” kata salah satu warganet.

Berbeda dengan Che yang sengaja didudukkan oleh Rumah Duka Dennie’s, ayah Che dibaringkan dalam peti dan ditaruh dalam gedung.

“Setiap kehidupan adalah unik. Karena itu, kematian juga harus diperlakukan secara unik,” demikian plakat yang dipampang di depan jenazah Che.

Tetapi, pada akhirnya jasad Che Lewis dimasukkan ke dalam peti untuk dimakamkan. Kepada Loop News, si pemilik rumah duka mengaku permintaan pemakaman datang dari pihak keluarga.

Dennie mengatakan pihaknya tidak asing dengan cara tersebut. Karena mereka sudah melihatnya di luar negeri, dan bersiap jika ada yang meminta itu. Cara eksentrik itu disebut sebagai pembalseman ekstrem. Jenazah disuntikkan dengan cairan pengawet yang membuat mereka begitu kaku.

Teknik itu dilaporkan berasal dari Puerto Riko pada medio 2008-an, di mana awalnya digunakan agar mendiang mendapat waktu penghormatan terakhir lebih banyak. Permintaan itu semakin meningkat. Keluarga rela merogoh kocek hingga 2.000 poundsterling (Rp 38 juta), agar jasad kerabat mereka seolah bangkit lagi.

Namun, metode ini bukannya tidak menuai reaksi negatif. Polisi menyatakan apa yang dilakukan rumah duka sangat tidak bertangung jawab. Mereka menyatakan bakal menggelar penyelidikan dengan ancaman denda 750 poundsterling (Rp 14,2 juta) menanti jika terbukti bersalah. Sementara pastor yang bertanggung jawab akan ibadah tersebut menuturkan, mereka akan meminta bentuk pemakaman keluarga seperti apa di masa depan.