Dicap ibu terburuk karena minta jatah bulanan

SAHMITRA – Di beberapa negara di Asia, anak yang telah melewati usia remaja namun masih tinggal dirumah orangtua adalah sesuatu yang sangat wajar dan lumrah. Contohnya di budaya ketimuran orang Indonesia. Orangtua akan membiarkan atau lebih memilih  anak-anaknya yang belum menikah, terutama anak perempuan, untuk tinggal bersama dirumah sampai akhirnya mereka memiliki keluarga sendiri. Dan bahkan tidak sedikit juga yang meskipun sudah dewasa dan sudah berkeluarga sekalipun masih tetap tinggal atau menumpang di rumah orangtua mereka. Tentunya dengan berbagai macam alasan seperti masalah ekonomi dan finansial, tradisi atau kondisi tertentu yang memaksa mereka tetap harus tinggal dan lain-lain.

Berbeda hal nya dengan di negara Eropa seperti Denmark, Belgia dan Italia, rata-rata usia orang keluar dari rumah orangtua mereka adalah di usia 19-26 tahun. Sebuah penelitian memprediksi apabila seseorang terlalu lama tinggal dirumah orangtua mereka, dampak negatif yang ditimbukan adalah orang tersebut cenderung ‘tertinggal’. Dengan kata lain mereka tidak melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, disaat bersamaan seperti orang lainnya. Orang tersebut telah ‘gagal’ dalam fase transisi memenuhi peran sebagai orang dewasa.  Dampak negatif lainnya adalah mereka menjadi ‘beban’ bagi orangtua.

Seorang ibu di Amerika Serikat menceritakan pengalamannya seusai berbincang dengan anak perempuan yang masih tinggal dirumah. Dia justru merasa tertekan karena putrinya menolak mentah-mentah permintaannya untuk berkontribusi dengan menyetor sejumlah uang yang dianggap layak setelah putrinya tersebut diterima bekerja.

Putrinya yang telah genap berusia 17 tahun ini mendapatkan upah US$ 17,176 atau Rp. 245juta per tahun dari pekerjaannya. Namun menolak dan bersikap seolah ia adalah seorang ibu yang jahat karena meminta kontribusi sebesar US$ 237 atau Rp. 3,4juta per bulan yang mencakup didalamnya adalah tempat tinggal, makanan, pakaian bersih, air panas, tumpangan mobil untuk pergi ke kantor dan kemanpun yang putrinya itu inginkan.

Ibu ini juga menceritakan lebih jauh, alih-alih turut menyumbang, putrinya itu malah memilih menghamburkan uang dengan memesan makanan online setiap hari daripada memasak sendiri dan menabung untuk memberi IPhone terbaru.

“Dengan sikapnya yang seperti sekarang, anak itu akan benar-benar menyulitkan dirinya sendiri di tahun-tahun mendatang. “ Salah satu yang mengomentari pengalaman ibu ini.

“Anak itu terdengar sangat manja dan dia jelas butuh pelajaran tentang kemandirian dan tanggung Jawab.” Komentar ibu yang lain.

Tapi tidak sedikit yang membela sang putri dengan berkomentar: “Bagaimana bisa seorang ibu meminta anak berusia 17 tahun membayar sewa untuk tinggal dirumahnya sendiri? Anda seharusnya tidak usah punya anak kalau tidak mampu membiayai.”

Singkatnya orang-orang yang telat hidup mandiri sering dicap sebagai orang-orang yang manja, pemalas dan serakah. Namun ibarat selalu ada dua sisi dalam satu koin uang, ada penelitian lain yang mengungkapkan bahwa orang-orang yang tinggal dengan orangtua lebih lama memiliki hubungan dan koneksi yang lebih erat sehingga menimbukan rasa tanggung jawab mutual lebih tinggi dan memberikan waktu bagi anak tersebut untuk ‘mengumpulkan modal’.