Dokter dan perawat ini dijuluki pasangan pencabut nyawa pasien di Italia

SAHMITRA – Para dokter dan perawat merupakan tenaga ahi atau profesional yang paling terpercaya dan diandalkan dari tenaga ahli lainnya seperti penata rambut atau guru. Dan berdasarkan jejak pendapat yang dilakukan di Inggris awal tahun ini, pekerja bidang kesehatan ini mengalahkan politisi, agen properti dan jurnalis. Mereka bahkan adalah pihak yang dipercaya dan diberikan wewenang, di beberapa negara yang melegalkan, untuk melakukan tindakan euthanasia, yakni praktik pencabutan kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara memberikan suntikan yang mematikan. Yang tentunya atas permintaan dan persetujuan pasien sendiri, keluarga dan pihak berkaitan lainnya.

Namun citra baik dan terpuji para dokter dan perawat tersebut tercoreng oleh kasus yang terjadi di Italia. Dimana seorang dokter ahli anestesi dan seorang perawat, yang juga adalah pasangan berselingkuh ditangkap atas kematian setidaknya delapan pasien dan mungkin puluhan lainnya antara tahun 2011 dan 2014.

Dokter tersebut bernama Leonardo Cazzaniga, berusia 65 tahun adalah mantan dokter di bangsal darurat rumah sakit Soronno yang letaknya tidak jauh dari kota Milan. Sementara sang perawat adalah perempuan berusia 44 tahun bernama Laura Taroni. Pasangan yang diberi sebutan “pasangan setan” oleh pers Italia ini terbukti telah memberikan analgesik dengan dosis mematikan dan anestesi pada pasien yang mereka tangani.

Awalnya Laura yang lebih dulu ditangkap dan pada bulan Februari tahun 2016 dijatuhi hukuman 30 tahun penjara atas pembunuhan Massimo Guerra, suami resminya dan ibunya, Maria Rita Clerici. Massimo Guerra meninggal pada bulan Juni tahun 2013 akibat overdosis insulin yang diberikan Laura dalam jangka waktu yang lama, karena Laura berhasil meyakinkan bahwa suaminya tersebut menderita diabetes.

Dua bulan setelah Laura dijatuhi hukuman 30 tahun penjara, menyusul Leonardo Cazzaniga yang dijatuhi hukuman seumur hidup oleh pengadilan Italia karena telah merenggut 10 nyawa, delapan diantaranya adalah pasiennya. Dan juga pembunuhan terhadap ayah mertua Laura, Luciano Guerra.

Di pengadilan, pengacara yang membela Leonardo berargumen bahwa praktik yang dilakukan kliennya telah sesuai dan konsisten dengan perawatan paliatif standar, yakni perawatan pada seorang pasien dan keluarganya yang memiliki penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan cara memaksimalkan kualitas hidup pasien serta mengurangi gejala yang mengganggu, mengurangi nyeri dengan memperhatikan aspek psikologis dan spiritual.

Namun pengacara penuntut melawan argument tersebut dengan menunjukkan bukti bahwa salah satu korban, seorang wanita muda, meninggal setelah dirawat di Rumah Sakit Saronno hanya karena bahu yang terkilir.

Selama penyelidikan, carabinieri, angkatan bersenjata Italia yang juga ditugaskan sebagai kepolisian sipil juga menemukan catatan sekitar 40 kematian yang terjadi di bangsal darurat antara 2011 dan 2014 saat Leonardo bertugas. “Daftar hitam” ini juga mencantumkan nama ayah kandungnya sendiri, yang meninggal pada Oktober 2013 karena penyakit mematikan.

Dipersidangan juga diputar kutipan rekaman percakapan telepon Leonardo dan Laura yang disadap Polisi yang terdengar begitu mengerikan, dimana Laura memberi tahu Leonardo bahwa dia ingin membunuh putranya dan putrinya yang berusia delapan tahun. Menurut salah satu rekannya, Leonardo sering menyebut dirinya sebagai “malaikat maut”. Leonardo juga diduga menggunakan kokain.