Casino88 Online Slot99 Sbobet Slot Sbobet888 Joker1888 88bet Slot39 7mmbet Slot388 Joker138 Joker888

Berita Menarik Dan Unik Dari Dalam Dan Luar Negeri

Berita

Francine Hughes wanita korban KDRT yang kisah pilunya menginspirasi penegakan UU Kekerasan terhadap Perempuan di AS

SAHMITRA – Pada tahun 1964, James “Mickey” Hughes menikah dengan Francine Moran, yang kemuudian menjadi Francine Hughes.  Tidak lama setelah pernikahan mereka, Mickey mulai melakukan tindakan kekerasan terhadap Francine. Hingga 13 tahun kemudian, tepatnya pada bulan Maret tahun 1977, Francine berdiri di luar rumahnya di Michigan, menyaksikan rumah itu terbakar. Di dalamnya ada suaminya yang kejam, Mickey.

Kisah hidup Francine layaknya sebuah mimpi buruk. Saat masih kecil, Francine menyaksikan ayahnya yang pecandu alkohol menganiaya ibunya, dan ketika dia putus sekolah untuk menikah, dia juga menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga seperti ibunya. Meskipun pada awalnya Mickey tampak menyesal, pelecehan dan kekerasan secara fisik, verbal dan emosional yang dilakukannya kemudian menjadi sebuah pola.

Mickey sering kali memukuli Francine di depan anak-anak mereka, merobek buku pelajaran dari kursus sekretaris, memaksanya berhubungan seks dengannya, dan mengancam akan membunuhnya. Dalam sebuah wawancara dengan majalah People, dia menceritakan pernah membeli beberapa baju baru dan Mickey merobeknya. Dia tidak tahu apakah karena dia terlihat terlalu cantik atau apa, tapi suaminya itu tidak ingin dia terlihat cantik.

Francine memiliki empat anak dan seorang suami pecandu alkohol. Pada tahun 1971, dia berbicara dengan pekerja sosial setempat dan mengajukan perceraian. Namun Mickey mengabaikannya. Beberapa minggu kemudian Mickey mengalami kecelakaan yang membuat Francine menerimanya kembali dan mengurusnya hingga dia pulih. Namun itu tidak menghentikan Mickey untuk melakukan kekerasan, yang diterima Francine semakin parah.

Kemudian, pada tanggal 9 Maret 1977, Mickey murka usai mengetahui Francine, yang berusaha mendaftar di sekolah sekretaris dengan bantuan ibunya. Dia membakar buku-buku Francine, memaksanya untuk berhenti dari kursus, dan mengancam akan menghancurkan kendaraannya. Karena ketakutan, Francine menelepon polisi, tetapi mereka menolak untuk menangkap Mickey karena mereka tidak menyaksikan sendiri pelecehan tersebut. Ketika polisi pergi, Mickey memukuli dan memperkosa Francine. Setelah itu, dia tertidur.

Francine bertindak cepat, dia memasukkan anak-anaknya ke dalam mobil. Dia lalu menuangkan bensin ke sekitar tempat tidur Mickey dan menyalakan korek api. Setelah rumahnya terbakar, dia mengendarai mobil bersama dengan keempat anaknya yang meringkuk ketakutan dan pergi ke Penjara Ingham County untuk menyerahkan diri. Saat petugas pemadam kebakaran sampai di rumah, Mickey ditemukan tewas karena menghirup asap. Francine kemudian didakwa melakukan pembunuhan.

Francine tidak mengetahuinya, namun dia akan menjadi tokoh sentral dalam apa yang sekarang dikenal sebagai gerakan perempuan yang teraniaya. Gerakan tersebut bertujuan untuk menarik perhatian terhadap penderitaan perempuan yang dianiaya oleh suaminya, yang ironisnya jarang dianggap serius oleh sistem peradilan Amerika Serikat kala itu. Salah satu alasannya adalah karena adanya kebijakan “hukuman” yang diterima secara luas di masyarakat, yang menyatakan bahwa laki-laki mempunyai hak untuk menghukum istri mereka secara fisik. Sebagai kepala rumah tangga, seorang suami dapat memerintahkan istrinya untuk patuh, dan menjatuhkan hukuman fisik atau “hukuman” lainnya kepada istrinya jika dia menentang otoritasnya.

Pada tahun 1970an, polisi dan pengadilan menutup mata terhadap laki-laki yang memukul dan memperkosa istri mereka. Pada tahun 1976, New York Times meliput sebuah kasus di mana seorang wanita yang mengalami pendarahan dan memar pergi ke departemen kepolisian dengan harapan mendapatkan perlindungan dari suaminya yang melakukan kekerasan, hanya untuk diberitahu bahwa ‘insiden’ itu bukan urusan Departemen Kepolisian dan ‘dikembalikan’ ke suaminya. Terlalu sering kasus pelecehan atau kekerasan dalam rumah tangga dianggap sebelah mata oleh para hakim dan juri di pengadilan. Dimana laki-laki yang memukul dan memperkosa istri mereka dengan mudah terlepas dari hukuman atau bahkan tidak dilaporkan sama sekali.

Kasus Francine dan para istri korban kekerasan oleh suami lainnya menjadi motivasi kuat bagi para aktivis untuk semakin giat menggalakkan kesadaran akan perlunya memberikan perlindungan hukum khusus bagi para korban pelecehan oleh pasangan. Istilah “Burning Bed Syndrome”, yang terinspirasi dari kasus Francine, menjadi sesuatu yang dipelajari oleh para akademisi dan digunakan sebagai pembelaan dalam kasus-kasus lain di mana perempuan membunuh pelaku kekerasan. Bahkan sebuah film layar lebar berjudul The Burning Bed yang dibintangi oleh Farrah Fawcett dibuat pada tahun 1984 mengusung kesadaran terhadap kekerasan dalam rumah tangga yang berdasarkan kisah nyata.

Satu dekade kemudian, Kongres akhirnya meloloskan Undang-Undang Kekerasan Terhadap Perempuan, kemudian dibentuk hotline khusus untuk kekerasan dalam rumah tangga nasional, memaksa semua negara bagian dan yurisdiksi untuk mengakui dan menegakkan perintah perlindungan korban, dan menyediakan dana untuk pelatihan kekerasan dalam rumah tangga bagi petugas penegak hukum, dan ketentuan lainnya.

Pada saat Francine Hughes meninggal pada tahun 2017, kekerasan dalam rumah tangga telah diakui sebagai masalah utama nasional. Namun bukan berarti masalah tersebut sudah terselesaikan. Bahkan hingga saat ini, 20 orang dalam setiap menitnya mengalami kekerasan fisik yang dilakukan oleh pasangannya. Dan satu dari empat wanita dan satu dari sembilan pria tercatat pernah menjadi korban kekerasan fisik berat yang dilakukan oleh pasangan intimnya selama hidup mereka.