Casino88 Online Slot99 Sbobet Slot Sbobet888 Joker1888 88bet Slot39 7mmbet Slot388 Joker138 Joker888

Berita Menarik Dan Unik Dari Dalam Dan Luar Negeri

Panduan

Guru anak kebutuhan khusus siksa murid di Singapura karena tekanan hidup

SAHMITRA – Nur Amira Muhamad Razali, seorang terapis pendidikan dan perilaku untuk anak-anak berkebutuhan khusus, dijatuhi hukuman penjara selama tiga minggu pada 12 Desember 2023. Ibu satu orang anak laki-laki berusia satu tahun yang juga tengah mengandung ini terbukti bersalah telah menganiaya anak didiknya berusia sembilan tahun yang mengidap autisme. Dan perempuan 33 tahun ini juga terlibat dalam kasus terpisah di mana dia melakukan kekerasan terhadap anak autis berusia enam tahun.

Nur Amira adalah lulusan Singapore Institute Manajemen dengan gelar di bidang psikologi pada tahun 2016 dan telah menyelesaikan kursus teknis perilaku yang terdaftar. Korban anak yang berusia sembilan tahun telah menjalani sesi terapi dengan Nur Amira selama lima tahun lamanya. Nur Amira memiliki hubungan baik dengan orang tua korban, mereka bahkan datang ke pesta pernikahan Nur Amira.

Setiap sesi terapi berlangsung sekitar 90 menit dan dilakukan secara tertutup di kamar tidur rumah korban. Pada bulan Juni 2020, ibu anak laki-laki tersebut mulai memperhatikan adanya goresan di punggung dan benjolan merah di tangan anaknya, namun dia berpikir hal tersebut karena kecerobohan anaknya.

Namuun situasi semakin parah ketika pada 28 Juli 2020, sang ibu menemukan tanda merah di lengan kiri anak laki-laki tersebut, menyerupai bekas paku. Karena curiga ada yang tidak beres dan karena khawatir dengan kesehatan putranya, sang ibu kemudian diam-diam memasang kamera tersembunyi di kamar tidur tempat sesi terapi berlangsung.

Pada 29 Juli 2020, kamera menangkap Nur sedang melakukan tindakan yang amat meresahkan saat sesi terapi berlangsung. Dalam rekaman tersebut terlihat Nur Amira memukul lengan kiri dan mulut bocah tersebut, serta memegang leher dan memukul keningnya dengan tangan kanan. Sang ibu segera mengajukan laporan polisi dan menyerahkan bukti yang memberatkan Nur Amira pada hari yang sama.

Di sidang Pengadilan, Wakil Jaksa Penuntut Umum Tan Shi Yun mendesak pengadilan untuk menjatuhkan hukuman penjara antara empat dan enam minggu kepada Nur Amira. Pengacara Nur berargumen dengan pernyataan bahwa kliennya tengah berada di bawah tekanan berat pada saat melakukan pelanggaran karena ia ditemukan menderita banyak fibroid di tubuhnya. Dokter telah memberi tahu dia bahwa hal itu dapat memengaruhi kemampuannya untuk hamil.

Fibroid adalah pertumbuhan non-kanker yang timbul dari dinding otot rahim. Ini adalah salah satu kondisi ginekologi yang paling umum, diperkirakan terjadi pada sekitar 20 hingga 30 persen wanita, menurut situs National University Hospital.