‘Harta Karun’ Indonesia di Puncak Monas

Tidak ada orang yang menolak untuk dihadiahkan emas yang bertengger di puncak Monumen Nasional (Monas).
Jika dipandangi dari bawah saja sudah terlihat WOW, jadi bagaimana jika bisa membawa pulang bongkahan berharga tersebut ?

Sempat terlintas sejenak di dalam benak; “apakah pernah ada yang berusaha mencuri emas Monas?”

Saat sedang berbincang pekan kemarin, Staff Unit Pengelola Kawasan (UPK) Monas Endrati Fariani mengulas kembali sejarah emas Monas ‘Harta Karun’  yang bernama resmi Lidah Api Monas.

Dijelaskannya, Lidah Api merupakan pucuk filosofis pembangunan Monas sebagai pengobat semangat kebangkitan untuk Indonesia.

Lidah Api Monas yang tercipta dari perunggu seberat 14,5 ton dan terdiri dari 77 bagian yang dipersatukan, kemudian bagian luarnya yang dilapisi emas murni seberat 35 kg hampir sebagian besar merupakan pemberian dari pengusaha Aceh Teuku Arkam.

Kemudian ditahun 1995, yang memperingati 50 tahun ulangtahun Indonesia Merdeka, terjadi penambahan emas murni sebesar 50 kg yang diambil dari dana APBD DKI Jakarta.

Banyak orang yang tidak tahu tentang lapisan-lapisan emas, karena yang umum diketahui lapisan emas ada pada Lidah Api Monas.

Endrati yang juga menyebut beberapa atribut Ruang Kemerdekaan terletak dalam cawan Monas dilapisi emas murni, seperti lambang negara Indonesia.

“Tahun 17 Agustus 1965 Lidah Api yang dikatan sebagai Harta Karun ini sudah ada, cuma saja Ruang Kemerdekaannya belum ada,” jelas dirinya.

Sementara itu, terdapat buku “Panggung Indonesia” yang ditulis oleh Yuke Ardhiati, mengatakan Soekarno ingin Lidah Api ini sebagai simbol cita-cita bangsa Indonesia setinggi langit.

Perawatan Rumit ‘Harta Karun’ Indonesia di Puncak Monas

Tidak semua orang dapat menyentuh Lidah Api Monas ini.

Dijelaskan Endriati, hal yang cukup riskan, baik untuk keselamatan orang karena ketinggian disertakan angin kencang maupun kelestarian Lidah Api berlapis emas.

Terjadi korosi hingga penjamuran pada bagian tubuh Lidah Api Monas karena terpapar matahari setelah lebih kurang setengah abad.

Endriati yang mengaku perawatan dalam koridor konservasi pertama kali yang dilakukan oleh Pempro Jakarta pada tahun 1995 sekaligus ditambah jumlah lapisan emas.

Di tahun 2014 dan 2016 yang sempat ada proses perawatan Monas nya oleh salah satu perusahaan melalui program CSR-nya, hanya saja produk yang dipakai itu ternyata meninggalkan efek yang buruk.

“Pembersihan yang berbeda dengan konservasi. Bagian luar yang pernah dibersihkan oleh CSR produk, namun ada dua kali dibersihkan memakai air panas. Penggunaan air panas yang membuat dampak yang kurang baik, pasalnya nat pada tubuh marmer tugu Monas yang semakin merenggang, hingga membuat adanya celah sampai jamur tumbuh, ditambah adanya terpaan sinar matahari, angin dan hujan. Jadi sejak saat itu Monas muncul jamur,” katanya.

Endriati mengaku pihaknya melakukan koordinasi dengan Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertahanan (Citata) terkait rencana pemeliharaan konservasi monas secara keseluruhan.

Endriati yang menyebut bahsa itu sudah dibahas sejak tahun 2018 dan akan direalisasikan dengan target selesai pada tahun 2021.

“Kita yang masih menunggu kajian dari Dinas Citata untuk perawatan emas ini,” jelasnya

“Seharusnya 2021 harus selesai, tapi di dalam perjalanannya ada saja, kita pelan tapi pasti, permintaan dari Gubernur 2021 selesai,” lanjutnya.

Perunggu yang dilapisi dengan emas murni itu mulai menurun kualitasnya.

“Lidah api pertama kali dilapisi, dicelup atau disemprot ya saya kurang tahu, cuma yang jekasnya dia melekat dengan erat. Dengan berat 32 kg emas yang sampai sekarang melekat dengan erat. Namun penambahan yang dilakukan dengan sistem berbeda, emasnya dibuat seperti kertas kemudian ditempel, nah itu yang perlu perbaikan khusus,” paparnya.

BACA JUGA :

Tewas Corona Capai 2.360

Tingkat Kematian Corona Mencapai 2.465 Jiwa