Casino88 Online Slot99 Sbobet Slot Sbobet888 Joker1888 88bet Slot39 7mmbet Slot388 Joker138 Joker888

Berita Menarik Dan Unik Dari Dalam Dan Luar Negeri

Mancanegara

Ibu berusia 52 tahun di Tiongkok didiagnosa penyakit vampir

SAHMITRA – Vampir, dalam cerita rakyat dan fiksi dari berbagai budaya selama ratusan tahun, terutama di Eropa adalah makhluk bertaring yang memangsa manusia dengan memakan darahnya. Selain menggigit, membenci bawang putih, dan memiliki taring panjang yang tajam, vampir juga dikenal alergi atau takut terhadap sinar matahari. Oleh karena itu mereka sering digambarkan tidur di siang hari dan hanya beraktifitas ketika sinar matahari sudah tidak nampak. Bahkan di beberapa kisah membuktikan bahwa cara paling ampuh untuk memusnahkan vampir adalah membuat mereka terekspos sinar matahari yang akan membakar tubuh mereka.

Tapi tahukan Anda bahwa ada sebuah penyakit serius yang gejalanya mirip dengan ciri-ciri yang dimiliki Vampir? Ya, penyakit tersebut bernama Porfiria. Penderita Porfiria memiiliki gejala kulit tubuh yang sangat sensitif terhadap sinar matahari hingga mempengaruhi kesehatan secara menyeluruh dan memiliki resiko melumpuhkan penderitanya. Seperti yang dialami oleh seorang perempuan berusia 52 tahun, memiliki nama tengah Lin di Tiongkok yang¬† didiagnosis menderita porfiria, yang juga dikenal masyarakat dalam beberapa tahun terakhir sebagai “penyakit vampir”.

Sebelum didiagnosa menderita Porfiria, Lin yang bekerja di bidang penjualan, dikenal karena optimisme serta kinerjanya yang luar biasa. Namun, dia mulai merasa gejala awal seperti lemah dan lelah, wajah dan tangannya menguning. Awalnya dia pikir dia hanya kurang istirahat. Kemudian suatu hari sepulang kerja, dia merasa tidak bisa berjalan lagi. Butuh waktu hampir satu jam untuk menaiki tangga dari lantai satu ke lantai empat, dan baru saja sampai di depan pintu rumahnya, dia pun pingsan. Untungnya, dia ditemukan oleh tetangga yang langsung menghubungi keluarganya dan membawanya ke rumah sakit.

Awalnya, dokter setempat mencurigai adanya masalah kandung empedu, namun hasil tes menunjukkan kadar hemoglobin rendah dan semuanya normal. Lalu dokter mengatakan bahwa Lin menderita anemia parah dan meresepkan suplemen zat besi, namun kondisinya malah memburuk. Setelah mengonsumsi suplemen zat besi, Lin tidak bisa berjalan tanpa bantuan. Setelah dirawat di rumah sakit selama lebih dari setengah bulan di rumah sakit setempat, dia sudah cukup pulih untuk berjalan sendiri, namun dalam waktu satu bulan, penyakitnya kambuh lagi.

Lin kemudian melakukan pemeriksaan jantung dan pencernaan lanjutan yang hasilnya menunjukkan bahwa dia tidak memiliki masalah pada jantung dan sistem pencernaannya. Baru pada awal tahun 2024 dia mengunjungi Zhao Hong, kepala dokter di Departemen Penyakit Menular di Rumah Sakit Afiliasi Pertama Fakultas Kedokteran Universitas Zhejiang. Tim medis menemukan kadar hemoglobin yang berfluktuasi dengan cepat pada hasil pemeriksaan Lin.

Penurunan kadar hemoglobin secara tiba-tiba dalam waktu singkat dapat disebabkan oleh tiga alasan: kehilangan darah, penyakit hemolitik, atau sintesis sel darah merah yang tidak normal. Namun pada akhirnya tim medis menghubungkan kondisi Lin pada penyakit porfiria atau penyakit vampir.

Porfiria merupakan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan atau berkurangnya aktivitas enzim dalam tubuh sehingga menyebabkan terhambatnya sintesis hemoglobin sehingga mengakibatkan gangguan metabolisme porfirin. Penderita porfiria mengalami rasa gatal, terbakar, dan nyeri saat terkena sinar matahari.

Hal lain yang membuat penyakit sering dikait-kaitkan dengan vampir adalah, vampir meminum darah. Ada yang mengatakan bahwa sebelum adanya pengobatan modern, dokter menganjurkan agar pasien meminum darah, direkomendasikan darah hewan, untuk mengkompensasi kerusakan pada sel darah merah mereka. Tapi saat ini, pengobatan paling umum untuk penyakit ini adalah pengambilan darah secara teratur untuk mengurangi kadar zat besi dan porfirin di hati.

Terakhir, gagasan bahwa vampir memiliki taring dan membenci bawang putih mungkin karena penyakit porfiria ini dapat mengakibatkan kerusakan wajah dan menyebabkan resesi gusi. Dan karena kandungan sulfur dalam tubuh penderita porfiria tinggi, bawang putih dapat memicu serangan pada penderita porfiria akut.

Khawatir dengan masalah genetik, kedua anak Lin juga menjalani tes genetik yang mengungkapkan bahwa mereka juga membawa mutasi gen porfiria. Meskipun mereka belum menunjukkan gejala, mereka berpotensi jatuh sakit karena faktor pemicu yang sama. Sebaliknya, pasangan Lin adalah pembawa mutasi gen heterozigot dan tidak berisiko terkena penyakit tersebut.