Issie Sagawa, kanibal dari jepang yang pernah jadi selebriti karena kejahatannya

SAHMITRA – Issie Sagawa adalah pria Jepang yang lahir pada hari 26 April 1949 dengan kondisi kesehatan yang berbeda dari kebanyakan bayi di seluruh dunia, Sagawa terlahir lemah dan rapuh, kecil dan memiliki kaki yang mungil. Meski demikian dia bisa dianggap beruntung karena terlahir dari kedua orang tua yang kaya raya, sehingga dia tidak pernah harus menghadapi kesulitan keuangan. Tapi karena kondisi kesehatannya yang rapuh, Issei kecil menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di dalam rumah karena dia merasa orang lain menganggapnya ‘berbeda’ dan hal itu dianggapnya sangat memalukan.

Karena tidak pernah keluar rumah dan berurusan dengan dunia luar, Issie terjebak dengan buku-bukunya, dia menyukai dan banyak sekali membaca buku-buku. Anehnya, buku-buku yang memiliki cerita ‘berdarah’ adalah jenis buku yang dia gemari. Jika Anda pernah membaca atau mendengar kisah Hansel and Gretel yang mengisahkan sepasang kakak-beradik di masa kelaparan di Eropa, Anda pasti tahu bahwa buku tersebut menggambarkan kanibalisme. Issie sangat tertarik pada cerita yang menunjukkan tindakan pembunuhan. Hansel dan Gretel adalah novel favoritnya.

Tidak mengherankan ketika Issei tumbuh menjadi pria dewasa, Issie tidak pernah tertarik dengan ciuman dan pelukan, dia menganggap menggigit daging orang yang dicintainya adalah cara sempurna untuk menunjukkan kasih sayang. Ketika dia pindah ke luar negeri untuk belajar, di dalam kelas pikirannya melayang-layang dan bertanya-tanya seberapa enak paha teman-teman perempuan sekelasnya. Dia memiliki ketertarikan sendiri terhadap wanita kulit putih yang cantik tetapi hanya untuk merasakan daging mereka.

Korban pertama Issie adalah seorang wanita Jerman yang sedang tidur nyenyak di kamarnya. Dia masuk dan berniat untuk mengiris pantatnya tetapi wanita itu memergokinya. Dia kemudian ditangkap oleh polisi karena percobaan pemerkosaan tetapi kasus itu dibatalkan karena rumor mengatakan ayahnya membayar sejumlah besar uang kepada korban.

Kejadian itu rupanya tidak memadamkan dorongan dalam diri Issie, malahan rasa laparnya akan daging manusia semakin kuat setiap hari. Dia lau pindah ke Paris untuk belajar sastra dan mulai sering membawa pulang pelacur ke rumahnya setiap malam. Namun percobaannya selalu gagal karena kurang keberanian. Dan itu hanya membuat rasa laparnya akan daging manusia terus membendung.

Hingga akhirnya dia bertemu dengan Renee Hartevelt, seorang wanita Belanda berusia 25 tahun pada saat kematiannya yang akan membawa ketenaran ke dalam hidup Issie sebagai seorang kanibal. Issie mengundang Renee ke apartemennya dengan alasan membantunya dengan tugas kuliahnnya. Ketika perhatian Renee teralihkan, dia menembakkan pistolnya dan peluru menembus leher Renne hingga wanita cantik dan ramah itu tewas seketika. Issie sempat pingsan, dia tidak percaya dia telah membunuh seseorang.

Tak butuh waktu lama, sifat monster dalam diri Issie pun muncul. Ketika Renne sudah tidak berdaya, dia berpikir itu adalah waktu yang sempurna untuk menunjukkan kasih sayangnya kepada Renee dengan menyetubuhi mayatnya dan kemudian memotong tubuhnya menjadi beberapa bagian. Dia bahkan mengambil gambar di setiap tahap kejahatannya, dia makan dengan puas. Ketika sisa-sisa mayat itu mulai berbau busuk, dia memutuskan untuk membuangnya ke danau.

Dan itu adalah sebuah keputusan yang buruk, polisi segera menangkapnya ketika mereka melihat dua koper berlumuran darah ditemukan bersamanya. Dia ditahan di penjara selama dua tahun. Ayahnya yang kaya membayar pengacara andal yang berhasil membuat Issie dinyatakan tidak layak secara mental untuk diadili. Karena alasan ini, dia dikurung di fasilitas kesehatan mental.

Seorang penulis Jepang mengunjungi fasilitas tersebut untuk mewawancara Issie, si kanibal. Hasil wawancara dan tulisan penulis Jepang itu memberikan ketenaran yang mudah untuk Issie. Dia kemudian dibebaskan oleh otoritas Prancis karena tuduhan itu dibatalkan dan lalu mendeportasinya kembali ke Jepang. Issie Sagawa dinyatakan stabil secara mental.

Layaknya seorang selebritas, issie banyak diundang untuk berbicara dan menulis tentang kejahatannya yang keji, dia bangga dengan apa yang dia lakukan, bahkan mencari nafkah dari kekejiannya, dan memastikan dia mampu menginspirasi orang lain.

Dia mengklaim bahwa membunuh Renee dan memakan dagingnya adalah hal yang wajar. Dan dalam sebuah wawancara, Issie secara blak-blakan mengatakan bahwa terutama pada musim panas, ketika para wanita mulai mengenakan pakaian yang menunjukkan banyak kulit yang terbuka, membuat rasa laparnya akan daging manusia menjadi intens. Dia secara spesifik ingin makan daging wanita Jepang karenanya.

Setelah ketenarannya yang tiba-tiba, Issie segera pula disingkirkan dan diasingkan, tidak ada organisasi atau penulis yang mau bekerja dengannya lagi. Ketika dia berusia awal 70-an, dia dilaporkan tinggal di daeraah di luar Tokyo. Dia menderita penyakit jantung yang mematikan dan terbatas pada jarak yang bisa ditempuh kursi rodanya. Tidak ada yang mau menikah dengannya dan dia bertahan hidup dengan bantuan saudaranya.