Ungkap KDRT yang Dialami, Pria Ini Diperkosa dan Disiksa Sang Istri Selama Bertahun-tahun

Sahmitra.com — Sebagian besar korban kekerasan domestik adalah perempuan dan anak perempuan. Kekerasan terhadap pasangan ataupun anggota keluarga laki-laki jarang terjadi dan jarang dibicarakan. Akibatnya, kekerasan domestik terhadap pria dibeberapa negara dianggap persoalan tabu sehingga korban harus menanggung bebannya sendiri.

       1. Pengalaman seksual korban bersama pelaku

Seorang pria asal Ukraina tak disebutkan identitasnya ini membagikan kisahnya kepada BBC, kisah sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Pria ini mengatakan hubungannya dengan sang istri tampaknya baik-baik saja. Mereka memiliki banyak teman, banyak uang, dan sering berlibur bersama (selalu harmonis).

“Saya tidak takut dengannya ketika kami bepergian, dia tidak akan menyakiti saya di hadapan orang lain. Yang paling saya hindari adalah ketika saya bersamanya sendiri” dikutip dari Kompas.com.

Pria ini menyebutkan ia dan istrinya, Ira telah menjalin hubungan sejak usia mereka masih awal 20 tahunan. Pengalaman seksual pertama kali ia lakukan bersama Ira. Saat itu juga, ia memang ingin berhubungan seks dengan Ira namun ia mengaku merasa kesakitan setelah berhubungan seks.

“…Saya memang ingin melakukannya namun itu tidak normal. Rasanya sakit dan agresif. Hubungan seksual pertama kami berlangsung sekitar lima jam dan saya merasa sakit setelahnya”


      2. Korban dipukul dan diberi cakaran

Hubungan seks bersama pasangan yang seharusnya menyenangkan justru tidak dirasakan oleh pria ini. Pada awalnya, ia selalu mengiyakan untuk berhubungan seks dengan Ira namun ketika ia mengatakan “tidak”,  Ira tetap memaksanya untuk berhubungan.

“Dalam waktu singkat saya bilang ‘tidak’. Itu tidak menghentikannya dan saat itulah hubungan seks kami berubah menjadi pemerkosaan”.

Suatu ketika pria itu pergi keluar negeri untuk kepentingan pekerjaan dan ia mengajak Ira untuk ikut dengannya. Saat ia pulang dari bekerja dan ingin beristirahat, istrinya itu kerap memaksanya untuk berhubungan seksual.

“Saya menyetujuinya satu kali, dua kali. Ia lalu berkata, ‘Saya ingin, saya butuh, jadi kamu harus. Ayolah, saya sudah menunggu lama’”.

Saat suaminya menolak, Ira memukul sampai mencakar sampai berdarah.

“Ia lalu memukul saya dan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia mencakar saya sampai saya berdarah. Ia juga menonjok saya…”.


      3. Menikah karena terpaksa

Setelah merasa hubungannya dengan Ira semakin memburuk, pria itu sempat mencoba menghindar dan melarikan diri. Namun, Ira selalu mendatanginya dan mencoba untuk meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Ia akhirnya menyerah dan kembali pada Ira, istrinya. Tak sampai disitu, Ira pun memaksanya untuk menikah. Mereka akhirnya memutuskan untuk menggelar acara pernikahan resmi meski sang pria yang sebenarnya tak menginginkan pernikahan tersebut.

Selama menjalani kehidupan rumah tangga bersama sang suami, Ira menjadi pasangan yang overprotektif. Ira pun kerap memukul dan berteriak setiap kali suaminya melakukan kesalahan.

Bertahun-tahun menjalani hubungan yang mensadiskan, pria ini akhirnya menemukan jalan keluarnya. Ia menemukan trapis keluarga yang mampu memberikan dukungan kepadanya. Ira dan dia pun mendatangi terapis tersebut dengan teratur.

“Itulah ketika saya pertama kali bicara tentang penyiksaan bagi saya. Ia sangat marah lalu berteriak kepada saya dan menyangkal semuanya”.


       4. Sulit mendapatkan bantuan

Setelah mendatangi terapis tersebut, Ira yang merasa sangat kesal karena diusulkan untuk bercerai. Kesempatan itupun dilakukan sang suami dengan baik agar ia bisa segera keluar dari hubungan yang sangat menyiksanya ini.

“Hari paling bahagia dalam hidup saya adalah ketika saya mendapat surat resmi perceraian sebulan kemudian. Beberapa hari setelah bercerai, saya berteriak, ‘Kamu memerkosa saya!’ kepada Ira”.

Pria itu akhirnya kembali pada orangtuanya. Ia membatasi kontak dengan Ira. Bahkan ia pun rela meninggalkan pekerjaannya karena takut Ira akan mengikutinya.

Sebelumnya, pria itu merasa kesulitan untuk keluar dari masalah ini. Ia ragu untuk mengungkapkan kisahnya ini pada keluarganya serta temannya. Namun, ia juga kesulitan untuk mencari profesional yang tepat dan bisa mengerti.

“Psikoterapis pertama saya yang saya temui di Ukraina mencemooh saya, ‘Itu tidak mungkin terjadi. Ia perempuan dan kamu laki-laki’. Jadi saya berpindah-pindah ke enam spesialis dan akhirnya saya mendapatkan bantuan”.

Jadi, kisah korban KDRT ini bisa membuktikan bahwa tindak kekerasan dapat menyasar kepada siapa saja baik laki-laki ataupun perempuan.