Casino88 Online Slot99 Sbobet Slot Sbobet888 Joker1888 88bet Slot39 7mmbet Slot388 Joker138 Joker888

Berita Menarik Dan Unik Dari Dalam Dan Luar Negeri

BeritaMancanegara

Kekerasan seksual terhadap ART di Singapura. Masalah pelanggaran hak asasi manusia yang masih terjadi di era modern.

SAHMITRA – Setiap individu berhak hidup dan bekerja dengan bebas dan jauh dari ancaman kekerasan seksual. Pelecehan seksual terhadap pembantu rumah tangga adalah masalah hak asasi manusia yang serius dan memerlukan perhatian dan tindakan segera. Pembantu rumah tangga adalah salah satu kelompok yang rentan terhadap eksploitasi dan pelecehan. Kebanyakan dari mereka biasanya perempuan dari latar belakang miskin yang sengaja atau terpaksa meninggalkan rumah atau kampung halaman mereka untuk mencari peluang yang lebih baik. Namun lemahnya sistem dan perlindungan yang tidak memadai mengakibatkan kejahatan ini hingga kini masih terus terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Pelecehan seksual terhadap pembantu rumah tangga terjadi lebih sering daripada yang dilaporkan karena beberapa faktor. Pertama, para pembantu rumah tangga sering kali merasa tidak memiliki suara dan takut untuk melaporkan majikan mereka. Ketakutan akan kehilangan pekerjaan, status visa, atau bahkan menghadapi ancaman pembalasan dendam membuat banyak korban tidak melaporkan pelecehan. Selain itu, stigma budaya dan masyarakat seputar kekerasan seksual semakin menghalangi korban untuk mencari bantuan atau mengungkapkan pengalaman mereka.

Seorang pria di Singapura berusia 67 tahun diadili di Pengadilan Tinggi pada Selasa (9 Juli) karena memperkosa pembantu rumah tangga keluarga, yang saat itu berusia 35 tahun. Pria tersebut menghadapi lima dakwaan sekaligus, antara lainnya pemerkosaan, penyerangan seksual, dan penghinaan terhadap kesopanan. Jika terbukti bersalah melakukan pemerkosaan, ia menghadapi hukuman hingga 20 tahun penjara dan denda. Karena melanggar kesopanan, dia bisa dipenjara hingga dua tahun dan didenda. Dan karena korbannya adalah seorang pekerja rumah tangga, dapat menghadapi hukuman maksimal dua kali lipat. Dia tidak bisa dicambuk karena usianya di atas 50 tahun.

Dalam persidangan, diketahui bahwa kasus pelecehan seksual tersebut terjadi pada tanggal 5 Januari 2020, ketika pembantu tersebut sendirian di rumah bersama terdakwa sementara anggota keluarga lainnya sedang berada di luar negeri. Menurut jaksa, terdakwa mengajak pembantunya untuk menonton televisi bersamanya dan menawarkan anggur kepadanya. Dia juga memberinya “suntikan suplemen” sebelum diduga melancarkan serangan seksual terhadapnya, kata Wakil Jaksa Penuntut Umum James Chew, Tin Shu Min dan Yap Jia Jun. Selama rentang waktu sekitar setengah jam, dia diduga memperkosa dan melakukan pelecehan seksual terhadap wanita tersebut.

Pembantu rumah tangga tersebut tidak menyetujui tindakan apa pun tetapi tidak dapat menolak, karena dia merasa terlalu pusing dan lemah akibat apa yang telah dia konsumsi, kata jaksa. Terdakwa kemudian membawa wanita itu ke kamar tidurnya dan membaringkannya di tempat tidur.

Setelah wanita tersebut bangun sekitar jam 4 pagi keesokan harinya, dia menelepon saudara perempuannya dalam keadaan tertekan. Dan dia juga memberi tahu majikannya yang perempuan apa yang terjadi setelah mereka kembali ke rumah pada tanggal 8 Januari 2020. Wanita tersebut dibawa untuk membuat laporan polisi pada 9 Januari 2020 dan kemudian diperiksa oleh dokter, dimana hasil pemeriksaannya akan dijadikan barang bukti dalam persidangan.

Selain hasil pemeriksaan medis, rekaman televisi sirkuit tertutup dari ruang tamu yang merekam penyerangan tersebut, serta pengakuan terdakwa sendiri dalam rekaman wawancara digunakan penuntut sebagai bukti lainnya. Rekaman CCTV dari ruang tamu itu menunjukkan bahwa terdakwa telah melakukan tindakan seksual terhadap korban dalam kondisi sangat lemah dan tidak responsif, dan tindakan tersebut tidak atas dasar suka sama suka.

Bagi banyak korban, trauma pelecehan seksual berdampak dalam setiap aspek kehidupan mereka, memengaruhi kemampuan mereka untuk bekerja, menjalin hubungan, dan mendapatkan kembali rasa aman. Kurangnya sistem pendukung dan sumber daya yang memadai membuat mereka rentan terhadap eksploitasi lebih lanjut dan menjadi korban kembali.

Mengatasi pelecehan seksual terhadap pembantu rumah tangga memerlukan pendekatan multi-sisi yang melibatkan pemerintah, organisasi internasional, pemberi kerja, dan masyarakat sipil. Undang-undang ketenagakerjaan untuk secara eksplisit melarang pelecehan dan penganiayaan seksual di lingkungan pekerjaan rumah tangga wajib diterapkan dengan mekanisme pelaporan dan investigasi yang kuat.

Memberikan pelatihan atau penyuluhan yang komprehensif kepada majikan mengenai perilaku hormat di tempat kerja dan hak-hak pekerja rumah tangga, dengan menekankan tidak adanya toleransi terhadap kekerasan juga penting untuk dilakukan.

Layanan dukungan, termasuk konseling, bantuan hukum, dan tempat penampungan yang aman, yang disesuaikan dengan kebutuhan pembantu rumah tangga harus mudah diakses. Dan memberdayakan pekerja rumah tangga melalui pendidikan tentang hak-hak mereka, mendorong pengorganisasian kolektif, dan membina kemitraan dengan kelompok advokasi juga tidak kalah pentingnya.

Sementara untuk cakupan internasional, pemerintah juga diharpkan untuk aktif dalam memastikan, misalnya dengan kolaborasi antara negara asal dan tujuan untuk memastikan penegakan standar ketenagakerjaan dan perlindungan pekerja migran secara konsisten.