Kelewat pamer aurat, pedagang kaki lima di Thailand ini sampai ditegur polisi

SAHMITRA – Dikenal dengan nama Olive, adalah seorang pedagang kudapan ringan pinggir jalan yang dikenal oleh penduduk lokal Chiang Mai, Thailand dengan nama khanom Tokyo. Di tanah air kita menyebutnya dengan kue semprong, kudapan yang teksturnya garing, renyah dan rasanya manis.

Kalau di Indonesia biasanya kudapan ini dijual sudah dalam kemasan toples atau plastik. Namun ternyata berbeda cara apabila di negara yang sering dijuluki negara gajah putih ini karena mereka membuatnya ditempat sesuai dengan pesanan alias made by order. Dan di lapak milik Olive khususnya, khanom Tokyo miliknya terasa lebih istimewa, setidaknya bagi pelanggan pria terutama, karena penampakan atau pakaian yang dikenakan Olive selagi menjajakan dagangannya ini bisa dibilang diluar dari kebiasaan atau out of the box.

Perempuan 24 tahun asal Chiang Mai yang memilik nama asli Aranya Apaiso ini punya ide kreatifnya sendiri dalam menghadapi kompetisi berjualan. Yakni dengan memasak hanya mengenakan sehelai kardigan yang menutupi tubuh bagian atasnya.  Dia tidak mengenakan apa-apa lagi dibalik kardigan tersebut yang hanya diamankan oleh sebuah peniti kecil ditengah-tengah yang bahkan tidak bisa menyatukan bagian kiri dengan yang kanan.

Sebelum viral di jalanan dan internet, pedagang kaki lima seksi ini berjualan pakaian secara online. Namun karena bisnisnya itu terkena dampak buruk pandemi COVID-19, dia lalu beralih profesi menjadi penjual khanom Tokyo, yang dia improvisasi dengan mengenakan atasan kontroversial yang pastinya mengundang perhatian.

Dan usahanya tersebut tidak sia-sia. Penjualannya langsung melonjak dari yang sehari hanya beberapa lusin hingga kini dia bisa menjual sampai 200 setiap harinya. Tentunya pelanggan yang datang dan membeli kebanyakan adalah laki-laki, bahkan Olive sendiri mengatakan kepada para media yang berbondong-bondong ingin meliput dan mengangkat kisahnya, bahwa pernah ada laki-laki yang menabrakkan motornya karena konsentrasinya terganggu karena melihat Olive berjualan.

Akibat banyaknya laki-laki yang mengerubuni lapak Olive, polisi setempat akhirnya turun tangan. Mereka memperingati Olive untuk tetap menjaga salah satu protokol kesehatan, yakni social distancing untuk para pembeli yang datang kelapaknya dan juga perihal pakaian nya yang dianggap tidak pantas dan menimbulkan keramaian. Olive ditegur dan disarankan untuk setidaknya mengenakan bra.