Kisah Duka Kakak-beradik Dibunuh karena Mengajar Kerajinan Menyulam

Sahmitra — Ayesha Bibi dan Irshad Bibi, yang bekerja sebagai pengajar kerajinan menyulam, adalah pencari nafkah bagi keluarga mereka. Awal pekan ini, kedua perempuan itu dibunuh oleh kelompok bersenjata di bekas wilayah kesukuan Pakistan, tempat aksi kekerasan terus berlangsung.

Suara serak saudara laki-laki mereka, Javed Khan, terdengar saat dia menceritakan kepada BBC apa yang terjadi. Nada dan wajahnya jelas memancarkan kedukaan mendalam.

“Kami mencintai mereka. Mereka membawa harapan dan kegembiraan bagi keluarga kami. Mereka pergi [bekerja] dengan bahagia pada Senin pagi, tetapi pada hari yang sama kami menerima jenazah mereka yang dimutilasi.”

Ayesha telah menikah dan dikaruniai seorang bayi perempuan yang baru berusia empat bulan, sedangkan Irshad belum menikah.

Serangan itu terjadi pada siang hari di Desa Ipi dekat Mir Ali, salah satu kota utama di Waziristan Utara, dekat perbatasan dengan Afghanistan.

Ayesha dan Irshad termasuk di antara empat perempuan yang ditembak mati oleh pria bertopeng saat mereka berkendara melalui desa. Seorang aktivis perempuan lainnya selamat tanpa cedera, sementara pengemudi mobil van laki-laki yang membawa mereka ke desa mengalami luka-luka.

Serangan itu telah menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya aksi kekerasan di daerah yang dulunya merupakan pusat pemberontakan kelompok jihadis yang menewaskan ribuan orang.

Dalam budaya masyarakat Pashtun yang konservatif, terutama di daerah pedesaan terpencil, foto perempuan tidak pernah ditampilkan di depan orang asing, apalagi dibagikan ke publik. Sehingga artikel ini tidak menampilkan foto kedua kakak-beradik saat mereka masih hidup.

Apa yang terjadi pada hari pembunuhan?

Para perempuan itu berangkat untuk memberikan pelatihan kerajinan menyulam kepada sejumlah ibu rumah tangga dalam program yang dijalankan bersama LSM yang didanai negara Barat dan lembaga lokal.

Hari itu aktivitas dimulai seperti biasa, kata Javed Khan. Kedua saudara perempuannya menunaikan salat subuh, dan menyiapkan sarapan untuk seluruh keluarga. Segera setelah itu, mobil van mereka tiba untuk mengantar ke Ipi, sekitar 50 kilometer ke arah barat.

Keluarga itu tinggal di pinggiran kota Bannu, pintu gerbang memasuki wilayah bekas kesukuan Pakistan.

Beberapa jam kemudian datang kabar bahwa van itu mengalami kecelakaan. Javed dan ayahnya segera berangkat menuju Mir Ali. Di tengah jalan, mereka mendengar van itu diserang.

“Kami kehilangan keberanian saat itu. Ini adalah satu jam perjalanan ke Mir Ali – tapi pagi itu waktu perjalanan sepertinya membentang menuju keabadian,” kata Javed.

“Kami dulu bahagia. Kakak-kakak perempuan saya membawa angin segar bagi keluarga kami. Kejadian ini membuat kami semua terpukul. Kakak dan sepupu saya tidak bisa menahan air mata mereka.”

Enam dari keponakan Ayesha dan Irshad lahir dengan gangguan bicara dan pendengaran sehingga keluarga menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan mereka.

Selain kehilangan orang yang disayangi, memenuhi kebutuhan keluarga sekarang akan lebih sulit, tanpa uang yang dibawa oleh Aisyah dan Irsyad. Ayah mereka membuat gerobak tangan, sementara laki-laki lain dalam keluarga bekerja sebagai buruh.

Apa yang dikerjakan para perempuan itu?

Kelima perempuan yang pergi ke Desa Ipi pada saat serangan itu memiliki keterampilan dalam menjahit, menyulam, dan menjadi ahli kecantikan telah mengantongi sertifikat dari sebuah lembaga yang dikelola pemerintah di Bannu.

Mereka telah dipilih untuk menjalankan proyek tersebut dari 22 lulusan yang disediakan oleh institut atas permintaan sebuah LSM yang berbasis di Peshawar bernama Sabawon.

Didanai sebuah badan amal Jerman, Sabawon bekerja dengan mitra lokal di Bannu untuk melatih 140 ibu rumah tangga di wilayah Mir Ali di berbagai bidang, termasuk tata rias pengantin, menjahit, dan membuat bordiran menggunakan mesin.

Proyek itu berlangsung selama 48 hari, dan para sukarelawan menerima sekitar Rp90.000 sehari. Mereka juga menerima fasilitas antar-jemput antara lokasi pelatihan dan rumah.

Para perempuan itu dibunuh dua hari sebelum proyek berakhir pada 24 Februari.

Siapa yang membunuh mereka?

Hingga kini belum ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan itu, tetapi banyak yang menduga pembunuhan itu dilakukan para ekstremis.

Kelompok militan Islam di daerah tersebut telah lama menargetkan perempuan yang pergi bekerja atau mendapatkan pendidikan. Taliban Pakistan menembak dan melukai aktivis remaja Malala Yousafzai di wilayah barat laut negara itu – di bawah kendali mereka pada tahun 2012.

Di sekitar Mir Ali, pamflet bertanda tangan “Shura Waziristan Utara” kembali beredar, memperingatkan orang-orang untuk tidak bekerja dengan LSM atau tim vaksinasi polio yang dikelola pemerintah.

Pekan ini, kelompok militan mengeluarkan ancaman terhadap organisasi pemerintah dan non-pemerintah yang mereka tuduh mengajarkan “amoralitas”, bersama dengan siapa pun yang menyediakan akomodasi atau transportasi kepada mereka.

Pada hari Selasa lalu, militer mengklaim telah membunuh seorang komandan militan lokal Hasan Sajna, yang dikatakan berada di balik serangan di Ipi.

Dalam sebuah pernyataan, militer mengatakan Hasan Sajna telah terlibat dalam “serangan bom, penculikan untuk tebusan, pembunuhan spesifik, pemerasan [dan] perekrutan teroris”.

Polisi setempat khawatir akan lebih banyak serangan terjadi dan telah mengeluarkan sebuah anjuran berisi 12 poin kepada masyarakat umum, di antaranya meminta mereka, antara lain, untuk membatasi pergerakan yang tidak perlu, menghindari pertemuan, terus mengubah waktu dan rute perjalanan, serta menjauh dari orang-orang yang tidak dapat mereka identifikasi.

Mengapa milisi bangkit kembali?

Tentara menyatakan seluruh wilayah perbatasan dengan Afghanistan “bebas milisi” setelah operasi besar-besaran melawan Taliban Pakistan dan pemberontak lainnya pada tahun 2014.

Kekerasan yang memaksa puluhan ribu orang mengungsi turun drastis. Tetapi kegiatan milisi berlanjut di wilayah perbatasan selama 2018, bertepatan dengan kebangkitan gerakan nasionalis non-kekerasan, PTM, yang mengkampanyekan hak asasi manusia untuk Pashtun.

Dan selama beberapa tahun terakhir, kekerasan terus meningkat.

Setidaknya tujuh insiden pembunuhan bertarget telah dilaporkan terjadi di Waziristan Utara tahun ini. Sekitar 50 pembunuhan seperti itu dilaporkan terjadi selama tahun 2020.

Selain itu terjadi pula puluhan ledakan bom dan serangan terhadap pasukan keamanan, serta operasi militer terhadap militan.

Beberapa pengamat percaya bahwa kelompok militan berkumpul kembali di sisi perbatasan Pakistan ketika Amerika Serikat mencoba melepaskan diri dari perang di Afghanistan.