Casino88 Online Slot99 Sbobet Slot Sbobet888 Joker1888 88bet Slot39 7mmbet Slot388 Joker138 Joker888

Berita Menarik Dan Unik Dari Dalam Dan Luar Negeri

Mancanegara

Kisah pembalasan dendam terepik: The 47 Rōnin

SAHMITRA – Kisah empat puluh tujuh ronin adalah salah satu kisah paling terkenal di Jepang yang dianggap oleh banyak orang sebagai ‘Legenda Nasional Jepang’ dan ini adalah sebuah kisah nyata. Kisah ini juga sering disebut sebagai balas dendam Akō, adalah perseteruan yang terjadi pada abad ke-18 antara seorang tuan muda bernama Asano Naganori dan Kira Yoshinaka, seorang shōgun.

Selama era Tokugawa, Jepang diperintah oleh shōgun, atau pejabat militer tertinggi, atas nama kaisar. Di bawahnya ada sejumlah penguasa daerah, daimyo, yang masing-masing mempekerjakan sekumpulan prajurit samurai.

Pada 1701, kaisar Higashiyama mengutus seorang pejabat tinggi keshogunan, Kira Yoshinaka, untuk untuk melatih dua daimyo muda tentang etiket  dan protokol keistanaan. Dua daimyo muda tersebut adalah Asano Naganori dari Ako dan Kamei Sama dari Tsumano. Asano dan Kamei mempersembahkan ‘hadiah’ kepada Kira, tetapi pejabat itu menganggap ‘hadiah’ mereka sama sekali tidak pantas atau tidak sesuai dengan harapannya dan dia menjadi marah dan mulai memperlakukan kedua daimyo itu dengan hina.

Daimyo Kamei sangat marah dengan perlakuan memalukan yang ia terima dari Kiran dan ingin membunuhnya. Sementara daimyo Asano mempraktikan kesabaran. Khawatir akan tuan mereka, para pengikut Kamei diam-diam membayar Kira sejumlah besar uang, dan pejabat itu mulai memperlakukan Kamei dengan lebih baik. Dan perlakukan buruk dan hina terus dilanjutkan Kira terhadap Asano.

Saat Kira menyebut Asano sebagai “orang udik tanpa sopan santun” di aula utama, Asano menghunus pedangnya dan menyerang pejabat itu. Kira hanya menderita luka ringan di kepalanya, tetapi hukum keshogunan dengan tegas melarang siapa pun menghunus pedang di dalam kastil Edo. Asano yang berusia 34 tahun diperintahkan untuk melakukan seppuku.

Seppuku yang yang secara harfiah berarti ‘potong perut’ adalah suatu bentuk ritual bunuh diri yang dilakukan oleh samurai di Jepang dengan cara merobek perut dan mengeluarkan usus untuk memulihkan nama baik setelah kegagalan saat melaksanakan tugas dan atau kesalahan untuk kepentingan rakyat.

Setelah kematiannya, keshogunan menyita wilayah Asano, membuat keluarganya miskin dan para samurai yang berada dibawah kepemimpinanya diturunkan statusnya menjadi ronin. Samurai yang sudah tidak memiliki daimyo ini kemudian disebut ronin. Secara harfiah, ronin artinya adalah orang yang seperti ombak.

Biasanya, samurai diharapkan untuk mengikuti tuannya menuju kematian daripada menghadapi aib sebagai samurai tanpa tuan. Namun empat puluh tujuh dari 320 samurai Asano memutuskan untuk tetap hidup dan membalas dendam.

Dipimpin oleh Oishi Yoshio, 47 Ronin bersumpah untuk membunuh Kira dengan cara apa pun. Pembalasan dendam ini disebut dengan pembalasan dendam Ako. Khawatir akan nyawanya, Kira membentengi rumahnya dan menempatkan banyak penjaga. Ako ronin dengan sabar menunggu sampai kewaspadaan Kira mengendur.

Untuk membantu membuat Kira lengah, para ronin menyebar ke berbagai wilayah, mengambil pekerjaan kasar sebagai pedagang atau buruh. Salah satu dari mereka ada yang menikah dengan keluarga yang telah membangun rumah Kira sehingga dia dapat mengakses cetak biru rumah tersebut.

Sementara untuk menutupi rencana balas dendam Ako dan mengalihkan perhatian dari dirinya sendiri, Oishi Yoshio menceraikan istrinya dan menjauhkan diri dari keluarganya. Dia kemudian sering mengunjungi daerah kumuh, mabuk-mabukan, dan sering terlihat di distrik prostitusi di daerah Kuruwa.

Saat salju turun pada malam tanggal 14 Desember 1702, empat puluh tujuh ronin bertemu sekali lagi di Honjo, dekat Edo, bersiap untuk menjalankan misi pembalasan dendam mereka. Seorang Ronin yang paling muda diperintahkan untuk bersembunyi. Sebelum penyerangan, para ronin memperingatkan tetangga Kira tentang niat mereka, kemudian mengepung rumah pejabat itu dengan membawa tangga, pendobrak, dan pedang. Diam-diam, beberapa ronin memanjat dinding rumah Kira, lalu mengalahkan dan mengikat para penjaga malam yang lengah.

Setelah aba-aba diberikan, ronin lainnya kemudian menyerang dari segala penjuru. Para samurai Kira yang tengah tertidur pun bergegas keluar. Kira sendiri yang hanya mengenakan pakaian dalam lari bersembunyi di gudang penyimpanan. Ronin menggeledah rumah selama satu jam, akhirnya menemukan pejabat itu meringkuk di dalam gudang di antara tumpukan batu bara.

Kira dikenali lewat bekas luka di kepalanya yang didapatnya dari pukulan Asano, Oishi langsung berlutut dan menawarkan Kira sebilah wakizashi (pedang pendek) yang sama yang digunakan Asano untuk melakukan seppuku. Oishi segera menyadari bahwa Kira tidak memiliki keberanian untuk bunuh diri secara terhormat karena pejabat tersebut alih-alih terlihat gemetar ketakutan. Oishi pun lalu memenggal kepala Kira.

Ke-empat puluh enam ronin itu masih hidup dan berkumpul kembali. Selain Kira mereka juga telah membunuh sebanyak empat puluh samurainya. Saat fajar menyingsing, para ronin berjalan melewati kota menuju Kuil Sengakuji, tempat Asano tuan mereka dimakamkan. Oishi membilas darah dari kepala Kira dan mempersembahkannya di makam Asano. Empat puluh enam ronin kemudian duduk dan menunggu untuk ditangkap.

Pada tanggal 4 Februari 1703, para ronin diperintahkan untuk melakukan seppuku, hukuman yang lebih terhormat daripada eksekusi. Empat puluh enam ronin, termasuk Oishi dan putranya yang berusia 16 tahun, melakukan seppuku. Para ronin dimakamkan di dekat tuan mereka di Kuil Sengkuji di Tokyo. Salah satu orang pertama yang mengunjungi makam mereka adalah samurai dari Satsuma yang pernah menendang dan meludahi Oishi di jalan. Dia meminta maaf dan kemudian bunuh diri juga.

Ronin ke-47 yang termuda dipercaya kembali untuk menceritakan kisah tersebut di rumah para ronin di Ako. Dia hidup sampai usia lanjut dan kemudian pada akhir hayatnya dimakamkan bersama yang lain. Untuk membantu meredakan kemarahan publik atas hukuman yang dijatuhkan kepada ronin, pemerintah shogun mengembalikan hak milik dan sepersepuluh dari tanah Asano kepada putra sulungnya.