Masyarakat Inggris Tak Pakai Masker untuk Cegah Penularan Virus

sahmitra.com — Warga Inggris hingga kini masih melanggar peraturan tak mengenakan masker kendati penularan Virus Corona masih belum berakhir. Selain itu juga, pemandangan warga yang berkerumun tanpa mengenakan masker ini juga masih ditemukan di pertokoan dan kereta bawah tanah London.

Pelonggaran aktivitas ini dilakukan tak lama setelah WHO yang mengonfirmasi adanya penyebaran virus corona lewat udara (airborne).

Baru-baru ini, pemerintah Inggris juga mulai memberi izin club malam kembali beroperasi. Ilmuwan senior mendesak warga Inggris untuk mengenakan masker demi menekan penularan virus corona.

“Inggris jauh terbelakang dari banyak negara soal pemakaian masker,” kata kepala akademi ilmu pengetahuan nasional Inggris Royal Society Venki Ramakrishnan seperti dikutip dari CNN.

Dia mengklaim bahwa, tidak menggunakan masker seharusnya dianggap sebagai tindakan anti-sosial seperti mengemudi saat mabuk dan tindakan lainnya yang membahayakan diri dan orang di sekitar.

Untuk memahami mengapa penggunaan masker begitu rendah di Inggris, Direktur Leverhulme Center for Demographic Science di Universitas Oxford dan penulis utama pada laporan SET-C Melinda Mills menyebut penting untuk memeriksa faktor-faktor perilaku seperti pemahaman publik tentang pemakaian masker.

Ia berargumen bahwa rendahnya pemakaian masker dipengaruhi oleh kesadaran dan imbauan para petinggi di negara tersebut.

“Ini jelas bahwa rendahnya pemakaian masker bukan kesalahan publik. Sebaliknya, kebijakan yang konsisten dan pesan publik yang efektif sangat penting, yang bahkan berbeda di Inggris, Skotlandia dan Wales,” kata Mills.

Insert Artikel - Waspada Virus Corona

Mills mengatakan bahwa warga di negara-negara seperti Italia dan Spanyol yang dengan cekatan mengadopsi kebiasaan penggunaan masker wajah dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang konsisten serta pedoman yang jelas untuk memahami alasan penggunaan masker.

Ia mengambil contoh Spanyol yang sudah mencatat lebih dari 28 ribu kematian dan secara hukum mengharuskan setiap orang yang berusia di atas enam tahun untuk mengenakan masker wajah di dalam dan di luar ruangan di ruang publik ketika jarak minimum dua meter tidak dimungkinkan sejak 21 Mei.

Data statistik John Hopkins University mencatat hingga saat ini Inggris memiliki 290.054 kasus corona dengan 44.883 kematian.

Ucapan Ramakrishnan sejalan dengan ulasan penelitian ilmiah global tentang pemakaian masker yang diterbitkan oleh kelompok multi-disiplin yang diselenggarakan oleh Royal Society – Evaluasi Data dan Pembelajaran untuk Epidemi Viral (DELVE).

Sementara di AS, sebuah studi baru menunjukkan bahwa salah satu pendorong utama penyebaran Covid-19 yaitu ‘penyebar diam’ atau orang-orang yang dinyatakan positif terinfeksi tanpa menunjukkan gejala.

Laporan tersebut diterbitkan dalam jurnal Proceedings of National Academy of Sciences yang menemukan bahwa mereka yang tidak menunjukkan gejala (asimptomatik atau presimptomatik) dapat bertanggung jawab atas setengah kasus. Mereka menyoroti bagaimana penggunaan masker dapat mencegah penyebaran virus.

“Kami telah mengidentifikasi bukti meyakinkan yang sudah berusia puluhan tahun dan tampaknya dilupakan, sejak saat masker bedah dibuat dari kain dan dapat digunakan kembali, menunjukkan bahwa mereka membantu mencegah penularan infeksi melalui udara. Sekarang bahkan ada beberapa bukti bahwa masker mungkin secara langsung bermanfaat bagi pemakainya,” ucap Profesor Patologi dan Kedokteran Laboratorium Emeritus di University of Pennsylvania Paul Edelstein.

Edelstein menjelaskan bahwa orang-orang yang tidak memiliki gejala bisa saja secara tidak sadar menghembuskan tetesan (droplets) yang membawa virus. Jika wajah mereka tertutup, sebagian besar tetesan itu akan ditangkap sebelum mereka dapat menulari orang lain.