Casino88 Online Slot99 Sbobet Slot Sbobet888 Joker1888 88bet Slot39 7mmbet Slot388 Joker138 Joker888

Berita Menarik Dan Unik Dari Dalam Dan Luar Negeri

Mancanegara

Mengenal santo di era digital Carlo Acutis

SAHMITRA –Santo pelindung internet”, “Influencer tuhan”, “Santo milenial” adalah beberapa dari julukan yang diberikan oleh banyak orang kepada Carlo Acutis. Meskipun hanya hidup selama 15 tahun lamanya, namun kehidupannya yang luar biasa menjadi mercusuar iman dan inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia.

Lahir pada tanggal 3 Mei 1991, di London, Inggris, Carlo Acutis menghabiskan sebagian besar hidupnya di Milan, Italia. Carlo menerima pendidikan Katolik taat yang kemudian menanamkan dalam dirinya kecintaan yang mendalam terhadap Tuhan dan Gereja. Namun selain kecintaannya terhadap Tuhan dan gereja Katolik, dia pun memiliki minat terhadap komputer dan pemrograman. Dia tertarik dengan pengkodean komputer dan belajar secara otodidak beberapa bahasa pengkodean dasar, termasuk C dan C++.

Kehidupan Carlo bukannya tanpa tantangan. Pada usia tiga tahun, dia didiagnosis mengidap leukemia, sebuah perjuangan yang dia perjuangkan dengan berani hingga kematiannya pada tanggal 12 Oktober 2006. Penyakit ganas yang dideritanya tidak pernah membuatnya kehilangan keyakinan, sebaliknya dia menemukan pelipur lara dalam hubungannya dengan Tuhan dan Ekaristi.

Kecintaan Carlo terhadap Ekaristi juga mengilhami pertobatan mendalam bagi ibunya, Antonia Salzano, mengatakan bahwa sebelum Carlo lahir, dia pergi ke Misa hanya untuk Komuni pertamanya, pengukuhannya, dan pernikahannya. Berbicara kepada “EWTN News Nightly” pada bulan Oktober 2023 tentang devosi putranya kepada Sakramen Mahakudus, Antonia mengungkap perkataan puteranya yang bekita membekas di hatinya, yakni:

“Ada antrian di depan konser, di depan pertandingan sepak bola, tapi saya tidak melihat antrian ini di depan Sakramen Mahakudus”

Tidak hanya orangtuanya yang berhasil “dibawa” olehnya untuk menghadiri Misa dan menerima Komuni setiap hari. Kesaksian iman Carlo juga menjadi inspirasi bagi orang dewasa untuk bertobat dan dibaptis. Rajesh Mohur, yang bekerja untuk keluarga Acutis sebagai au pair, berpindah agama dari Hindu ke Katolik. Carlo mengajari Mohur cara berdoa rosario dan memberitahunya tentang kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi. Mohur mengatakan bahwa salah satu hal yang paling mengesankan baginya sebagai seorang non-Kristen adalah kesaksian cinta dan kepedulian Carlo terhadap orang miskin. Mohur menyaksikan sendiri ketika Carlo berinteraksi dengan seorang tunawisma yang duduk di pintu masuk gereja dan membawakan kotak berisi dengan makanan untuk orang-orang yang hidup di jalanan.

Carlo juga adalah teman yang setia. Ia dikenal sering membela anak-anak di sekolah yang menjadi korban perundungan, terutama anak-anak penyandang disabilitas. Saat orang tua temannya bercerai, Carlo melakukan upaya khusus untuk memasukkan temannya ke dalam kehidupan keluarga Acutis. Bersama teman-temannya, dia berbicara tentang pentingnya menghadiri Misa dan pengakuan dosa, martabat manusia, dan kesucian.

Dan Carlo tidak takut untuk membela ajaran Gereja atau dijauhi karenanya.  Ketika ada diskusi kelas tentang aborsi, Carlo memberikan pembelaan yang penuh semangat untuk perlindungan kehidupan sejak saat pembuahan, meski beberapa teman-teman sekelasnya tidak sependapat dengannya.

Dalam upaya memajukan kerajaan Allad dan untuk melayani orang lain, Carlo menggunakan keterampilan komputernya dan mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk menciptakan katalog lengkap mukjizat Ekaristi dari seluruh dunia. Dia dengan cermat mendokumentasikan keajaiban-keajaiban ini di situs web yang dia buat, memastikan bahwa keajaiban-keajaiban tersebut dapat diakses oleh orang-orang di mana pun. Situs webnya, “Keajaiban Ekaristi Dunia,” terus menjadi sumber daya berharga bagi umat Katolik dan non-Katolik. Dia juga membuat situs web untuk paroki lokal dan organisasi amal. Carlo memahami pentingnya menggunakan keterampiilan yang dia miliki dan kemajuan teknologi untuk memberikan dampak positif bagi dunia.

Pada 12 Oktober 2006 di Monza, Italia, di usianya yang sangat muda, yakni 15 tahun, Carlo Acutis berpulang ke rumah Bapa. Pemakamannya, yang dihadiri oleh ribuan pelayat, merupakan bukti dampak besar yang ia berikan terhadap dunia dalam waktu singkatnya di bumi. Pada tahun 2013,  permintaan agar Carlo dibeatifikasi diterima oleh Gereja Katolik, untuk mengakui keteladannya atas kehidupan kekudusan dan kebajikannya.

Dan pada tanggal 10 Oktober 2020, Carlo Acutis akhirnya dibeatifikasi dalam sebuah upacara di Assisi, Italia, yang merupakan langkah pertama menuju kesucian. Paus Fransiskus, dalam homilinya saat Misa beatifikasi, memuji Carlo sebagai teladan kekudusan bagi kaum muda, dan mengundang kaum muda untuk mengikuti teladannya dalam menggunakan teknologi demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar.