Misteri di balik kematian satu keluarga di Jakarta Barat yang diduga penganut aliran sesat

SAHMITRA –¬†Sebanyak empat orang yang merupakan satu keluarga ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di sebuah rumah di Perumahan Citra Garden Satu Extension, Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (10/11). Rudyanto Gunawan (71) dan istrinya K. Margaretha Gunawan (68) ditemukan meninggal di dua kamar berbeda. Sementara anaknya yakni Dian Febbyana (42) ditemukan di lantai, dan iparnya yakni Budyanto Gunawan (69) ditemukan di sofa.

Penemuan satu keluarga yang tewas ini berawal ketika ketua RT setempat mencium bau busuk dari dalam rumah korban, Kamis lalu sekitar pukul 18.00. Ketua RT pun melapor ke Kepolisian Sektor (Polsek) Kalideres soal temuan bau busuk itu. Bersama dengan polisi, ketua RT akhirnya memaksa masuk ke dalam rumah tersebut dan menemukan mayat-mayat korban. Tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan di tempat kejadian perkara (TKP)

Dari hasil autopsi sementara menunjukan bahwa tidak ditemukannya sisa makanan dalam lambung mereka, serta otot-otot korban mengecil karena kekurangan cairan atau dehidrasi. Temuan-temuan tersebut memicu dugaan bahwa mereka mati karena kelaparan. Namun Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan menjelaskan rumah keluarga itu tinggal di kompleks yang tergolong berada. Oleh karena itu kecil kemungkinan bahwa mereka sampai kekurangan makanan hingga kelaparan. Tidak ada indikasi keracunan makanan atau minuman. Atau pun indikasi kekerasan atau penganiayaan pada mayat. Dan waktu kematian yang berbeda-beda makin membuatnya terdengar seperti ada sebuah misteri besar dibalik kasus ini.

Tidak hanya pihak kepolisian yang dibuat kebingungan, namun hampir setiap orang yang mengikuti berita ini. Menurut tetangga sekitar keluarga ini dikenal tertutup dan tidak bergaul. Bahkan Jumantik atau juru pemantau jentik yang hendak mendatangi rumah keluarga tersebut ditolak dan tidak diizinkan untuk masuk kedalam rumah mereka.

Tidak hanya di lingkungan sekitar rumah, ditengah-tengah keluarga besar mereka sendiri, keempat korban terkesan mengasingkan diri dari anggota keluarga yang lain. Hal tersebut diungkapkan oleh adik kandung Margaretha Gunawan, Ris Astuti (64) yang sempat datang ke Mapolres Kalideres, dan mengaku terakhir berkomunikasi dengan kakaknya adalah lima tahun yang lalu.

Temuan demi temuan yang terkuak perihal keluarga tersebut lalu memicu dugaan yang belakangan tersebar bahwa keempat orang itu menganut sebuah aliran sesat. Ada yang mengatakan mereka penganut Apokaliptik dan ada juga yang mengaitkan dengan ritual Shantara.

Apa itu Apokaliptik dan ritual Shantara? Banyak agama memiliki skenario “akhir zaman”. Ini adalah pengakuan bahwa kehidupan seperti yang sedang kita jalani sekarang ini tidak akan bertahan selamanya. Seringkali ada harapan akan sesuatu yang baru datang dari penghancuran yang lama. Keyakinan bahwa akan ada kiamat suatu saat nanti dan harus ada upaya tindak lanjutnya, ini berada di dalam pemahaman umum tentang kepercayaan apokaliptik. Dan salah satu wujud dari upaya tindak lanjut yang dimaksud adalah bunuh diri masal.

Sementara Shantara adalah sebuah ritual dari agama minoritas Jain di India. Shantara merupakan ritual berpuasa hingga mati. Penganut kepercayaan Jainisme yang melaksanakan ritual Santhara diharuskan membuat sumpah untuk berpuasa. Mereka harus berhenti makan dan minum serta melepaskan segala bentuk hal yang bersifat duniawi hingga meninggal. Penganut jainisme percaya, jika Santhara dapat membersihkan diri dari karma buruk dan mencapai ‘Moksha’ , Moksha adalah pembebasan dari siklus duniawi kematian dan reinkarnasi.