Orientasi sekolah yang berujung celaka pertanda hukum yang lemah dan kebiasaan buruk di masyarakat

SAHMITRA – Pada dasarnya, pengertian orientasi adalah sebuah sikap dan perilaku terhadap individu untuk menciptakan harmoni di sebuah tempat baru. Semua orang yang telah menyelesaikan pendidikan baik itu sekolah maupun perguruan tinggi, pastinya tidak asing dengan kegiatan ini. Bahkan dalam dunia pekerjaan terutama di sebuah instansi atau perusahaan pun memberlakukan kegiatan orientasi ini.

Secara singkat tujuan orientasi adalah untuk membantu seseorang memahami sekitarnya dengan baik. Memperkenalkan latar belakang sekolah/kampus/kantor, berkenalan dengan siswa atau pegawai lainnya, dan menciptakan atmosfer yang lebih akrab agar dapat mencapai tujuan sesuai harapan.

Dalam dunia pendidikan sendiri, setidaknya di Indonesia, program orientasi biasanya menjadi wadah untuk melatih ketahanan disiplin, mental, tekad, serta sekaligus mempererat tali persaudaraan para peserta didik baru. Perkenalan dengan sesama siswa baru, guru, kakak kelas, hingga karyawan lain di sekolah itu dapat tercipta dengan lebih sempurna berkat hal ini. Pengalaman seru dan menarik pun bisa didapatkan ketika sudah selesai melewati masa orientasi.

Namun sayangnya kadang kala program orientasi semacam ini malah dimanfaatkan oleh pihak-pihak dengan posisi atau status tertentu yang alih-alih memberikan contoh yang baik dan memberikan rasa nyaman, malahan menyalahgunakan kedudukan dan kekuasaan yang mereka miliki. Mereka menekan, merundung dan menebar rasa takut pada siswa atau karyawan baru.

Baru-baru ini kasus orientasi yang berujung maut lagi-lagi terjadi di kota Solo. Yang dialami oleh seorang mahasiswa semester III Mahasiswa semester III Prodi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Jurusan Sekolah Advokasi UNS Solo, bernama Gilang Endi Saputra yang berusia 21. Polisi menduga, Gilang tewas akibat tindak kekerasan saat mengikuti Diklatsar Resimen Mahasiswa (Menwa). Berdasarkan hasil autopsi sementara, kata Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol M Iqbal Alqudusy, korban meninggal akibat penyumbatan di bagian otak akibat terkena beberapa pukulan di bagian kepala.

Diklatsar Menwa adalah kepanjangan dari pendidikan dan latihan dasar Resimen Mahasiswa (Menwa). Ini adalah proses awal dalam pembentukan karakter dasar yang akan ditanamkan ke setiap individu yang mengikuti kegiatan tersebut.

Menwa memiliki semboyan “Widya Castrena Dharma Siddha” yang memiliki arti “penyempurnaan pengabdian dengan ilmu pengetahuan dan ilmu keprajuritan”. Menwa bukan militer, tetapi berada di bawah naungan TNI yang bekerja berdasarkan SKB 3 Menteri (Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri) Menteri Pertahanan, Menteri Pendidikan Nasional, dan Menteri Dalam Negeri.

Tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negara tetangga, Singapura pun turut terjadi program orientasi yang tidak berjalan sebagimana mestinya. Seperti yang dilansir dari The Straits Times, beberapa mahasiswi baru mengeluhkan dan menilai program orientasi yang harus mereka tempuh itu sebagai kegiatan yang menjijikkan karena banyak sekali kegiatan yang berunsur seksual berlebihan dan melecehkan perempuan.

Menurut saksi dengan nama samara Chole berusia 19 tahun, dia merasa sangat tidak nyaman dan terpasa keluar dari ruangan ketika permainan ‘burning bridges’ berlangsung. ‘Burning brides’ adalah permainan yang mewajibkan seseorang untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan tanpa terkecuali. Namun pertanyaan-pertanyaan tidak pantas yang biasanya dikeluarkan. Seperti pertanyaan cairan dari tubuh pria apakah yang tidak mau kamu minum? Siapa teman perempuanmu yang bertingkah seperti pelacur? Siapa temanmu yang bakal jadi perawan tua sampai mati?

Saksi lain, bernama Kim menceritakan bahwa kegiatan yang paling mengejutkan dan membuatnya trauma adalah permainan seperti memperagakan pemerkosaan antar kakak-beradik. Seorang mahasiswi diperintahkan untuk berbaring terlentang di lantai, kemudian mahasiswa lain diperintahkan untuk berakting menendang pintu dan berteriak “Adik, kakak mau masuk!” lalu mahasiswa harus menjawab “Adik tidak mau”. Kemudian mahasiswa menedang kaki mahasiswi hingga terbuka dan dia harus melakukan push-up diatas tubuh mahasiswa tersebut.

Ini hanya dua contoh dari aktivitas berbau seksual yang terjadi. Ini mungkin menjelaskan mengapa sebagian besar dari wanita yang merasa dilecehkan secara seksual oleh nyanyian dan permainan yang terdapat didalam susunan acara orientasi itu melapor ke pihak kampus.

Namun kenyataan bahwa kegiatan semacam itu masih terjadi hingga hari ini meskipun sudah banyak yang mengeluh dan melapor dan universitas berjanji untuk menyelidiki dan mengambil tindakan terhadap pelanggar, menyiratkan bahwa tidak banyak yang berubah. Peraturan dan hukuman yang masih lemah dan kebiasaan masyarakat yang buruk belum dapat diubah.