Casino88 Online Slot99 Sbobet Slot Sbobet888 Joker1888 88bet Slot39 7mmbet Slot388 Joker138 Joker888

Berita Menarik Dan Unik Dari Dalam Dan Luar Negeri

Mancanegara

Poyd Treecheda ‘kathoey’ tercantik Thailand dinikahi anak konglomerat

SAHMITRA – Poyd Treechada Petcharat, yang sering disebut-sebut sebagai transgender tercantik di Thailand, menikah dengan kekasihnya yakni seorang pengusaha bernama Oak Phakwa Hongyok pada Rabu (1/3/2023). Pasangan ini menikah dalam sebuah upacara yang intim dan terbatas hanya untuk keluarga dan teman dekat yang diadakan di Phuket’s Baan Ar-Jor, sebuah museum sejarah, hotel dan restoran yang pernah menjadi rumah peristirahatan keluarga Hongyok.

Poyd lahir 5 Oktober 1986 dengan nama asli Saknarin Marnyaporn adalah seorang aktris dan model yang juga pernah menjuarai kontes Miss Tiffany’s Universe 2004 dan Miss International Queen 2004, yakni kontes kecantikan terbesar dan paling prestisius untuk wanita transgender di Thailand dan di seluruh dunia. Sejak kecil Poyd sudah merasa bahwa dirinya adalah seorang perempuan, namun dia tetap bersikap layaknya seorang anak laki-laki dihadapan kedua orangtuanya. Hingga dia menginjak usia 19 tahun, Poyd memutuskan untuk melakukan operasi afirmasi kelamin dan merasa seperti terlahir kembali sejak itu.

Sementara Oak Phakwa Hongyok merupakan anak konglomerat Thailand sekaligus calon pewaris dari grup Ar Jor yang bergerak di bidang bisnis perhotelan dan pariwisata. Grup Ar Jor memiliki museum, restoran dan kafe yang terkenal di Phuket. Menurut kabar yang beredar bahwa Poyd and Oak telah saling mengenal satu sama lain selama dua puluh tahun, bahkan sebelum Poyd menjalani operasi. Dan Oak adalah saudara dari sahabat Poyd.

Kedua mempelai mengenakan kostum pernikahan Peranakan yang menelan biaya sekitar 20 juta baht atau hampir Rp. 9 miliar. Poyd mengenakan gaun pengantin tradisional bersulam benang emas, perhiasan emas antik, dan permata. Dia juga mengenakan “hua kuan”, atau mahkota bunga, buatan tangan dari emas murni oleh pengrajin dari provinsi Ranong. Mahkota membutuhkan waktu tiga bulan untuk diselesaikan. Kostum pernikahan kedua mempelai membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk diselesaikan.

Kathoey adalah bahasa gaul Thailand untuk wanita transgender. Sebutan “ladyboy” sebenarnya dianggap cukup ofensif disana. Meskipun seringkali dikait-kaitkan dengan industri seks, wanita transgender di Thailand secara sosial lebih terintegrasi di kehidupan sosial daripada wanita transgender di tempat lain di dunia. Bahkan dalam satu penelitian terhadap 200 wanita trans di Thailand, ditemukan bahwa rata-rata dari mereka memiliki pendidikan lebih baik dan lebih makmur daripada transgender di negara lain.

Mungkin Anda bertanya-tanya mengapa demikian? Teori ini mungkin dapat menjawab pertanyaan atau rasa penasaran dan membantu Anda untuk lebih memahami alasana mengapa ada begitu banyak wanita transgender di Thailand. Penyebabnya kemungkinan adalah budaya. Menurut Dr Witchayanee Ocha dari Universitas Rangsit, masyarakat Thailand didasarkan pada ‘sistem tiga gender,’ di mana orang transgender diakui bahkan sejak era Siam kuno. Mereka tidak dianggap sesuatu yang tidak biasa sampai negara tersebut dipengaruhi oleh konsep biner gender. Gagasan tentang gender sebagai spektrum berlangsung selama berabad-abad, dan telah menanamkan toleransi yang mengakar di negara ini. Bahkan, bahasa Thailand menyediakan kata atau frasa untuk delapan belas jenis kelamin yang berbeda.

Sistem kepercayaan Thailand yang merupakan integrasi dari Hinduisme Khmer, animisme Tai-Tionghoa, dan Buddhisme Mon Theravada juga dipercaya menjadi salah satu alasan penerimaan yang besar untuk orang transgender disana karena kepercayaan-kepercayaan yang disebutkan tadi mengakui keberadaan individu interseks. Dalam mitos penciptaan yang disebut Pathamamulamuli, di mana pencipta manusia pertama di dunia secara khusus menyatakan bahwa ada tiga jenis kelamin, yakni laki-laki, perempuan, dan hermafrodit. Agama-agama non-monoteistik yang mendominasi di Thailand memiliki pandangan siklus kehidupan, dan gagasan karma yang menyiratkan bahwa menjadi interseks bukanlah penyimpangan, melainkan takdir.