Presiden China Beri Selamat Biden Lewat Telepon

SAHMITRA — Presiden ChinaXi Jinping, mengucapkan selamat kepada Presiden terpilih Amerika Serikat, Joe Biden, pada Rabu (25/11) kemarin.

Xi berharap dengan terpilihnya Biden kedua negara bisa mencari jalan keluar yang saling menguntungkan dari permasalahan perang dagang, teknologi dan keamanan yang membuat hubungan kedua negara terpuruk.

Seperti dilansir laman Associated Press yang mengutip kantor berita China, Xinhua, pada Kamis (26/11), Xi mengatakan kepada Biden melalui sambungan telepon bahwa hubungan kenegaraan yang sehat dan stabil adalah harapan dari masyarakat dunia.

“Kami berharap kedua belah pihak akan menegakkan nilai-nilai tanpa konflik dan konfrontasi, saling menghormati kerja sama yang saling menguntungkan, fokus kepada kerja sama, mengendalikan perbedaan dan menjunjung hubungan yang sehat dan stabil antara Amerika Serikat dan China,” kata Xi.

Wakil Presiden China, Wang Qishan, juga menyampaikan ucapan selamat kepada Kamala Harris yang terpilih menjadi Wapres AS.

Pemerintah China secara langsung memberi selamat kepada Biden pada dua pekan lalu. Belum dijelaskan secara rinci alasan tertundanya ucapan selamat itu, tetapi sejumlah pihak menduga China melakukan hal itu karena ingin menghindari ketegangan baru dengan Presiden AS, Donald Trump.

Sebab, Trump masih bertugas sebagai presiden hingga Januari 2021.

Biden diperkirakan bakal mencoba membangun lagi kerja sama dengan China dan Korea Utara. Selain itu, dia juga diprediksi bakal kembali terlibat dalam mencari solusi ancaman perubahan iklim, serta penanganan virus corona.

Hubungan antara AS dan China memburuk akibat sikap Trump yang memilih berkonfrontasi dengan menerapkan perang tarif dan menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan China.

Meski begitu, diperkirakan perubahan kebijakan AS terhadap China di kemudian hari tidak bakal banyak berubah akibat masalah perdagangan, dugaan pelanggaran hak asasi manusia dan dugaan pencurian teknologi.

Hubungan dagang antara AS dan China adalah salah satu yang terbesar di dunia. Namun, hal itu terganjal masalah dugaan pencurian teknologi dan saling memata-matai, pandemi virus corona, polemik Hing Kong dan sengketa Laut China Selatan.

Trump juga melarang perusahaan AS membeli peralatan teknologi dari perusahaan telekomunikasi China, Huawei. Dia menaikkan tarif impor barang dari China pada 2018, setelah menuduh China mencuri teknologi AS, serta meminta para perusahaan Negeri Tirai Bambu mengembalikan kekayaan intelektual AS.