Casino88 Online Slot99 Sbobet Slot Sbobet888 Joker1888 88bet Slot39 7mmbet Slot388 Joker138 Joker888

Berita Menarik Dan Unik Dari Dalam Dan Luar Negeri

Panduan

Ratu racun sianida Thailand ditangkap dalam keadaan hamil. Korban ada 14 orang.

SAHMITRA – Sararat Rangsiwuthaporn atau yang juga dikenal sebagai “Am”, ditangkap oleh kepolisian pada 25 April 2023 dalam keadaan tengah hamil empat bulan. Am ditangkap karena dicurigai sebagai pembunuh berantai wanita pertama di Thailand. Polisi memulai penyelidikan terhadap Am usai mendapatkan laporan tentang kematian Siriporn Khanwong, 32 tahun. Ketika penyelidikan diperluas, polisi akhirnya memberi keterangan bahwa ada 14 kematian akibat pembunuhan berencana dan satu orang yang diduga selamat dari kejahatan yang didalangi oleh perempuan berusia 36 tahun itu. Racun berjenis sianida teridentifikasi sebagai senjata pembunuhan, dan uang sebagai motifnya.

Selain Am, mantan suaminya yakni Vitoon Rangsiwuthaporn ikut didakwa melakukan penipuan dan penggelapan terkait dengan pembunuhan yang dilakukan Am. Polisi mengatakan Vitoon, yang notabene adalah seorang polisi senior menyerahkan diri ke kantor polisi setelah pihak berwenang mengeluarkan surat perintah atas penangkapannya. Polisi mengatakan kemungkinan besar Vitton terlibat dalam dugaan pembunuhan mantan pacar Am, Suthisak Poonkwan yang meninggal karena keracunan.

Korban terakhir Am sebelum ditangkap, Siriporn, pergi bersamanya untuk melakukan kebaikan dengan melepaskan ikan di Sungai Mae Klong di Ratchaburi. Segera setelah itu, Siriporn pingsan dan meninggal di tepi sungai. Keluarga dan kerabat Siriporn menganggap kematian mendadak Siriporn itu sangat janggal dan mereka mencurigai Am yang ketika dimintai keterangan mengklain bahwa dia tidak bersama dengan Siriporn pada saat kejadian. Kecurigaan semakin berkembang ketika barang milik Siriporn berupa tas mewah, uang tunai sekitar 40.000 baht, dan dua ponsel hilang. Mereka pun kemudian melaporkan tuduhan mereka ke pihak kepolisian.

Dalam rekaman CCTV tampak Siriporn terlihat sangat sehat saat dia berjalan ke dermaga sambil memegang sekantong ikan. Penyidik ​​​kemudian ​menemukan bahwa Am ikut menemani Siriporn ke tempat itu, tetapi kemudian meninggalkan tempat kejadian saat orang-orang di sekitarnya berusaha menyelamatkan nyawa Siriporn.

Setelah kematian Siriporn yang mencurigakan menjadi berita utama, beberapa keluarga lain mulai mendatangi kantor polisi dan ikut melaporkan anggota keluarga mereka yang mendadak meninggal setelah terakhir kali terlihat bersama Am.

Polisi mengatakan pembunuhan yang dilakukan Am terjadi di beberapa provinsi di Bangkok sejak 2020. Mereka percaya Am membunuh korban-korbannya dengan menaruh pil sianida ke dalam makanan dan minuman mereka, atau menawarkan pil tersebut sebagai obat herbal. Am hanya berteman dengan orang kaya dan berusaha mendapatkan kepercayaan mereka, sebelum akhirnya bisa mengundang mereka untuk makan atau jalan-jalan. Korban-korban berusia antara 33 hingga 45 tahun. Usut punya usut ternyata Am terlilit banyak hutang kartu kredit dan meminjam uang kepada teman-temannya yang kaya raya itu. Tapi saat mereka menagih hutang padanya dan Am tidak punya uang untuk membayar, dia memilih jalan keluar dengan meracuni dan menghilangkan nyawa orang-orang itu.

Dugaan korban pertama Am adalah kematian mendadak yang terjadi pada Montatip Khao-in pada tahun 2015. Montatip ebelumnya tinggal di luar negeri setelah menikah dengan orang asing. Dan ketika dia kembali ke Thailand, Am lah yang menjemput Montatip di bandara. Tak lama setelah itu Montatip meninggal karena gagal jantung akut. Ibu montatip mengatakan Am juga yang kemudian turun tangan untuk mengurus aset montatip dengan dalih  Montatip dituntut oleh suaminya yang orang asing.

Soal target atau korbannya, Am tidak pandang bulu. Tidak perduli meski korbannya adalah seorang abdi negara. Karena diduga dua orang korban Am adalah polisi wanita. Mayor Pol Nipa Sanjan meninggal karena gagal napas dan gagal jantung pada 1 April. Tes laboratorium mendeteksi sianida dalam darahnya. Dia meninggal setelah menemani Am berdoa di Phra Pathom Chedi di Nakhon Pathom. Setelah kematiannya, keluarganya menemukan 10.000 baht hilang dan 140.000 baht telah ditarik secara misterius dari rekening banknya.

Polisi wanita lainnya yang diduga diracuni oleh Am adalah Kapten Pol Kanda Torai. Dia telah meminjamkan uang kepada Am sebelum ditemukan tewas di dalam mobilnya tanpa tanda-tanda cedera pada 10 Agustus tahun lalu. Jam tangan pintar, iPad, ponsel, dan kamera dasbor mobilnya hilang.

Sementara korban Am yang berhasil selamat adalah Kantima Pae-saard. Kantima mengaku telah meminjamkan 250.000 baht kepada Am. Saat melaporkan Am ke polisi Kantima memberi tahu polisi bahwa Am pernah memberikan sebutir pil yang Am katakan adalah obat batuk yang dia beli di sebuah department store saat mereka jalan-jalan bersama di Kanchanaburi. Saat mengemudi keluar dari mal, Kantima merasakan sesak di dadanya dan mencoba menelepon Am untuk meminta bantuan, tetapi Am memutuskan panggilan telepon begitu saja. Untungnya, Kantima berhasil menghubungi nomor panggilan untuk keadaan darurat medis. Napasnya sempat berhenti tetapi bantuan tiba tepat waktu untuk menyadarkannya. Kantima percaya dia mungkin sudah meninggal jika bantuan tidak datang tepat waktu.

Polisi menemukan sebotol sianida di rumah Am ketika dia ditangkap. Am tinggal bersama dengan mantan suaminya, Vitoon dan dua anak mereka. Meski telah bercerai mereka tetap tinggal bersama di flat polisi di Kanchanaburi, tujuan liburan tepi sungai di barat negara itu. Polisi mengatakan Vitoon kemungkinan besar terlibat dalam dugaan pembunuhan mantan pacar Am, Suthisak Poonkwan. Polisi mengatakan bahwa setelah Am membunuh Suthisak, Vitoon menjemput Am dengan mobilnya dan mengantarnya berkeliling provinsi Udon Thani setempat, di mana dia memeras uang dari teman-teman Suthisak.

Meski terbukti bersalah, beberapa ahli hukum mengatakan nyawa Am akan diampuni karena sedang mengandung. Sementara keluarga dari korban menuntut hukuman mati untuk Am. Jaksa Penuntut Umum Poramate Intarachumnum mengatakan, KUHAP yang diamandemen pada 2007 menyatakan, terpidana tidak boleh dieksekusi saat hamil. Dan meskipun hukuman mati dijatuhkan, itu harus ditunda selama tiga tahun dan otomatis akan diubah menjadi penjara seumur hidup jika anaknya masih hidup setelah tiga tahun.