Casino88 Online Slot99 Sbobet Slot Sbobet888 Joker1888 88bet Slot39 7mmbet Slot388 Joker138 Joker888

Berita Menarik Dan Unik Dari Dalam Dan Luar Negeri

BeritaMancanegara

Remaja AS tusuk teman sekelas 114 kali karena ingin tahu rasanya membunuh

SAHMITRA – Keluarga melaporkan hilangnya Tristyn Bailey, 13 tahun pada 9 Mei 2021 sekitar pukul 10 pagi ke Kantor Sheriff St Johns County.  Kepolisian kemudian mengeluarkan peringatan darurat orang hilang atas siswi kelas tujuh Patriot Oak Academy tersebut. Malam harinya, tubuh tidak bernyawanya ditemukan di hutan. Remaja itu ditikam 114 kali, dengan 49 luka tusuk di tangan, lengan, dan kepala. Ujung pisau yang digunakan untuk menyerangnya putus dan ditemukan tertancap di kulit kepalanya oleh pemeriksa medis.

Laporan peringatan daurat orang hilang mengatakan Tristyn terakhir terlihat pada pukul 1.15 pagi hari itu mengenakan rok pemandu sorak putih dan kemeja gelap. Dari rekaman CCTV menunjukkan Tristyn menyusuri jalan perumahan di Durbin Amenity Center di barat laut St Johns County yang redup beberapa saat sebelum kematiannya. Tentunya remaja perempuan itu tidak berjalan sendirian. Seorang laki-laki terlihat berjalan bersamanya namun kemudian terlihat berlari sendirian tanpa alas kaki sebelum pukul 3.30 pagi.

Aiden Fucci, remaja laki-laki 14 tahun, teman sekelas Tristyn yang tinggal setengah mil dari tempat mayatnya ditemukan, ditangkap malam itu juga. Penyelidik menggeledah rumah Aiden dan menemukan sarung pisau Buck di kamar tidurnya, bersama dengan sepatu Nike putih berlumuran darah, kaus berlumuran darah dan selembar kertas putih dengan bercak darah di atasnya. Pisau Buck senjata yang dipakai pada pembunuhan itu ditemukan di kolam dekat tempat tubuh Tristyn.

Aiden didakwa dengan pembunuhan tingkat dua dan lalu ditahan tanpa jaminan. Tidak hanya Aiden, ibunya Crystal Smith juga kemudian didakwa merusak bukti karena diduga mencuci darah dari celana anaknya. Menurut surat perintah penangkapan, kamera CCTV di dalam rumah merekam Smith sedang mencuci jeans dan jejak darah juga ditemukan di saluran pembuangan. Sekitar tiga minggu setelah penangkapannya, dakwaan Aiden ditingkatkan menjadi pembunuhan tingkat pertama.

Sebuah laporan yang dirilis oleh Kantor Sheriff St Johns County pada Juli 2021 mengungkapkan bahwa Aiden pernah memberi tahu teman-temannya bahwa dia berfantasi tentang pembunuhan dan mutilasi. Menurut First Coast News seorang saksi mengatakan kepada polisi bahwa Aiden pernah berkata dia ingin menggorok leher seseorang dan bilang itu akan memuaskan. Saksi berkaa pernah melihat Aiden berlatih gerakan menusuk dengan pisaunya.

Saksi lain yang diidentifikasi sebagai “sahabat” Aiden mengatakan bahwa obsesi kekerasannya adalah cara untuk ‘lari’ dari kehidupan rumah yang penuh kekerasan dan pengabaian. Teman itu mengatakan Aiden adalah perokok berat ganja. Selama 20 bulan di Penjara Duval County menunggu persidangan, Aiden telah beberapa kali berkelahi, mengancam akan menikam sesama narapidana remaja, dan disemprot merica oleh petugas koreksi, menurut First Coast News.

Biadabnya, saat Aiden duduk di belakang mobil patroli, dia mengambil foto selfie dan mempostingnya di Snapchat. “Hai teman-teman, apakah ada yang melihat Tristyn akhir-akhir ini,” bunyi judulnya. Kantor Kejaksaan Negara kemudian merilis beberapa video Snapchat yang diambil dan diunggah saat dirinya berada di dalam kendaraan polisi. “Kami bersenang-senang, di dalam mobil polisi,” katanya sambil melihat ke kamera dan tersenyum.

Pada 6 Februari 2023, pada hari pertama persidangan pembunuhannya, Aiden mengaku bersalah atas pembunuhan tingkat pertama. Dia menulis surat kepada hakim, meminta maaf kepada keluarga Bailey dan masyarakat atas kerugian yang ditimbulkannya, serta kepada orang tuanya. Hukuman Aiden dimulai pada 21 Maret. Dia menghadapi 40 tahun hidup di balik jeruji besi.

Hakim R Lee Smith mengatakan kepada pengadilan St Johns County bahwa dia sangat terganggu dengan kasus tersebut. Hakim berkata bahwa Aiden tidak melakukan pembunuhan karena keserakahan. Pembunuhan tidak dilakukan sebagai pembalasan atau retribusi atau balas dendam. Itu bukan kejahatan nafsu. Aiden membunuh bukan karena merasa ditolak oleh Tristyn. Pembunuhan tidak dilakukan dalam kemarahan yang tak terkendali. Pembunuhan itu tidak ada alasa dan tidak ada tujuan. Aiden membunuh hanya untuk memuaskan keinginan internalnya untuk merasakan bagaimana rasanya membunuh seseorang. Hukuman Aiden dapat ditinjau kembali setelah dia menghabiskan 25 tahun di balik jeruji besi.