Casino88 Online Slot99 Sbobet Slot Sbobet888 Joker1888 88bet Slot39 7mmbet Slot388 Joker138 Joker888

Seri Kasus Tak Terpecahkan I. Pembunuhan Udin Sang Reporter

SAHMITRA – Dalam seri kasus tidak terpecahkan di Indonesia kali ini akan mengangkat kasus pembunuhan Fuad Muhammad Syafruddin atau yang lebih dikenal dengan sebutan Udin. Udin adalah seorang reporter di surat kabar harian Yogyakarta Bernas. Udin  menerbitkan serangkaian artikel tentang korupsi di pemerintahan Kabupaten Bantul. Pada 13 Agustus 1996 Udin meninggal dunia setelah mendapat penyerangan di rumahnya oleh dua orang yang tak dikenal dengan menggunakan batang logam.

Udin lahir pada tanggal 18 Februari 1963, tanggal yang dianggap sial dalam penanggalan Jawa karena jatuh pada hari Senin kliwon. Ayahnya adalah seorang marbot atau penjaga masjid dan ibunya yang tinggal di ruumah dan mengurus Udin dan lima anaknya yang lain. Waktu kecil Udin bercita-cita ingin bergabung dengan militer Indonesia, namun tidak bisa karena kurangnya koneksi politik dari keluarganya. Sebelum terjun ke dunia jurnlistik, Udin sempat melakukan berbagai pekerjaan kasar, termasuk tukang batu.

Sepuluh tahun sebelum kematiannya, tepatnya pada tahun 1986 Udin adalah reporter lepas untuk Bernas, surat kabar harian Yogyakarta milik Grup Kompas Gramedia. Ia dikenal sebagai wartawan yang kritis terhadap kebijakan pemerintah Orde Baru dan militer. Beberapa artikelnya yang kontroversial antara lain:

  • “Kisah Tragis Seorang Petani” (1995), yang menceritakan tentang seorang petani yang dibunuh oleh aparat keamanan karena menolak untuk menjual tanahnya.
  • “Prajurit TNI Terbelit Narkoba” (1996), yang mengungkap kasus penyalahgunaan narkoba oleh oknum TNI.

Ia dikenal sering mengambil gambar untuk mengilustrasikan artikelnya. Selain menjadi reporter, Udin dan istrinya Marsiyem memiliki toko kecil yang menjual lukisan dan alat tulis. Marsiyem yang sehari-hari mengelola toko tersebut.

Pada tahun 1996, Udin memulai serangkaian artikel yang mengulas korupsi yang terjadi di Kabupaten Bantul, pinggiran kota Yogyakarta, dengan fokus khusus pada kegiatan Bupati Bantul saat itu yakni Kolonel Sri Roso Sudarmo. Udin pernah menyebutkan Sudarmo telah memberikan suap sebesar Rp. 1 miliar kepada Yayasan Dharmais milik Presiden Soeharto untuk menjamin pengangkatannya kembali. Udin juga melaporkan bahwa Sudarmo telah meminta kepala desa menjamin kemenangan “200 persen” bagi Golkar (partai Presiden Soeharto) dalam pemilihan legislatif.

Setelah artikel-artikel tersebut dipublikasikan, Udin mulai menerima ‘kunjungan’ berikut ancaman berisi kekerasan dari ‘oknum’ perihal tulisannya. Bahkan ia juga pernah ditawari uang suap untuk menghentikannya. Namun yang dilakukan Udin adalah sebaliknya, ia mengajukan banyak pengaduan ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Yogyakarta. Mengenai ancaman tersebut, dia menjawab;

Apa yang saya tulis adalah fakta. Jika saya harus mati, saya akan menerimanya.”

Pada tanggal 13 Agustus 1996, ada dua pria datang ke kantor Bernas untuk mencarinya tapi seorang sekretaris menyuruh mereka pergi. Lalu sekitar pukul 22.30 Udin menerima dua orang pengunjung di luar rumahnya di Bantul. Para pengunjung mengaku ingin menitipkan sepeda motor. Saat Marsiyem sedang menyiapkan teh, para pria tersebut menyerang Udin dengan tongkat logam, memukul kepala dan perutnya. Para penyerang kemudian melarikan diri dengan sepeda motor. Marsiyem menemukan Udin tak sadarkan diri di tanah, telinganya mengeluarkan darah.

Dengan bantuan enam pemuda yang lewat dengan mobil jeep dan seorang tetangga, Marsiyem membawa Udin ke rumah sakit kecil terdekat. Karena tidak memiliki fasilitas untuk mengobati luka Udin, ia lalu dipindahkan ke Rumah Sakit Bethesdad dalam keadaan koma. Ia didiagnosis mengalami retak tengkorak dan pecahan tulang juga menusuk tengkoraknya. Sayangnya, pada tanggal 16 Agustus, Udin dinyatakan meninggal dunia.

Setelah kematiannya, jenazah Udin diotopsi kemudian dibawa ke kantor Bernas untuk upacara peringatan singkat. Keesokan harinya, Udin dimakamkan di pemakaman kecil di Trirenggo, Bantul. Pada hari pemakamannya terdapat  2.000 orang yang hadir. Udin meninggalkan Marsiyem dan dua orang anaknya untuk selamanya.

Di bawah komando Sersan Mayor Edy Wuryanto, investigasi atas pembunuhan Udin dilakukan. Polisi bahkan sudah memulai penyelidikan mereka pada 13 Agustus, tidak lama setelah penyerangan terjadi, namun terhambat karena tempat kejadian perkara telah terkontaminasi karena sempat terjadi keributan setelah penyerangan tersebut. Polisi mengumpulkan semua catatan milik Udin dan juga sampel darahnya.

Selain pihak Kepolisian, lima anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) juga ikut membentuk tim pencari fakta di bawah kepemimpinan Putut Wiryawan dan Asril Sutan. Mereka membaca artikel yang ditulis Udin enam bulan sebelumnya dan mencari liputan apa saja yang bisa mengarah pada penyerangan. Mereka akhirnya fokus pada tuduhan suap terhadap Sudarmo, karena hanya tuduhan tersebut yang diliput secara eksklusif di Bernas, serta kasus kecurangan pemilu.

Bernas, kantor surat kabar tempat Udin bekerja pun ikut membentuk tim yang diberi nama “Kijang Putih” yang juga menyelidiki kasus ini secara mandiri dan membantu tim PWI ketika mereka gagal menyampaikan informasi yang telah mereka kumpulkan.

Meskipun polisi mengesampingkan artikel berbau politik yang telah Udin terbitkan sebagai motif utama, banyak orang dan laporan yang percaya pada teori bahwa pembunuhan Udin berkaitan dengan artikelnya mengenai Sudarmo. Seorang jurnalis mengutip pernyataan Sudarmo sesaat sebelum pembunuhan bahwa ia ingin memberi “pelajaran” kepada Udin.

Polisi lebih fokus pada tuduhan perselingkuhan yang melibatkan Udin. Pada akhir bulan Agustus polisi menyatakan bahwa Udin terlibat dalam sebuah hubungan gelap dengan seorang perempuan yang sudah berkeluarga bernama Tri Sumaryani. Suami perempuan itu yang cemburu akibat perselingkuhan itu yang diduga telah menyerang Udin. Namun, Sumaryani kemudian mengakui kepada pers bahwa dia dibayar untuk memalsukan kesaksian tersebut.

Pada tanggal 21 Oktober, polisi menangkap Dwi Sumaji, seorang sopir perusahaan periklanan, atas pembunuhan Udin. Polisi menuduh Sumaji membunuh Udin karena berselingkuh dengan istrinya, Sunarti. Polisi juga mengumumkan bahwa mereka telah menemuukan barang bukti yakni sebuah batang logam dan sebuah kaus yang berlumuran darah Udin di rumah Sumaji. Dengan didampingi seorang pengacara yang ditujuk oleh pihak Jepolisian, Sumaji mengakui kejahatannya,

Namun seminggu kemudian, Sumaji berhasil mendapatkan penasihat independen yang lalu membantunya untuk menarik pengakuannya. Marsiyem, istri Udin yang pernah melihat penyerang suaminya, juga bersikeras bahwa Sumaji tidak bersalah. Pada tanggal 23 Oktober, Bernas menerbitkan sketsa penyerang Udin, yang digambar segera setelah pembunuhan berdasarkan deskripsi Marsiyem, dengan gambar Sumaji. Berusaha memperlihatkan perbedaan di antara keduanya.

Sumaji mencabut pengakuannya, lalu menuduh bahwa polisi telah ‘memaksanya’ untuk mengaku setelah memberinya alkohol dan menyuapnya dengan uang, pelacur dan pekerjaan yang lebih baik jika dia mengakui kejahatannya. Sunarti, yang tidak percaya suaminya adalah seorang pembunuh bahkan menulis surat kepada beberapa pejabat tinggi dan lembaga, termasuk Presiden Soeharto. Hanya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), yang mengirimkan balasan. Dan pada tanggal 28 Oktober, Komnas HAM mengumumkan bahwa mereka akan menyelidiki kejanggalan dalam penangkapan dan penahanan Sumaji. Sementara itu, kuasa hukum Sumaji dan tim Kijang Putih terus bergerak mencari beberapa saksi untuk menguatkan keterangan Sumaji, termasuk pelacur yang disebut Sumaji.

Kasus ini menjadi kian meluas ketika pada tanggal 7 November, keluarga Udin melayangkan tuntutan dengan tuduhan penggunaan barang bukti yang tidak sepatutnya. Pengumuman ini menyusul laporan dari Kapolres Mulyono bahwa darah Udin telah dibuang di laut selatan Pantai Parangtritis sebagai persembahan kepada Nyai Roro Kidul, untuk memudahkan penyelesaian penyelidikan yang cepat. Pengacara Marsiyem dari LBH mengajukan kasus pada bulan Januari 1997 terhadap polisi dan Sersan Mayor Edy Wuryanto yang mengepalai investigasi kasus pembunuhan Udin.  Gugatan sebesar Rp. 1 juta sebagai ganti rugi. Tapi Polisi membantah telah menyerahkan darah Udin kepada siapa pn yang telah membuangnya dengan sukarela. Setelah berbulan-bulan sidang di Pengadilan berlangsung dimana keluarga Udin, beberapa reporter Bernas dan polisi ikut bersaksi, pada 7 April 1997, Sersan Mayor Edy Wuryanto divonis bersalah karena menghancurkan barang bukti pengambilan darah, yang menurut dugaan pengacara Marisyem digunakan untuk menjebak Sumaji.

Persidangan Sumaji dimulai pada tanggal 29 Juli. Sidang itu dipenuhi oleh penonton. Di persidangan, pihak pembela menyatakan bahwa mungkin ada konspirasi pemerintah dibalik kasus ini. Itu karena saksi-saksi yang mereka dihadirkan, termasuk saksi kunci dianggap tidak meyakinkan, kerap mengubah kesaksian mereka dan mengingkari pernyataan yang mereka buat sebelum persidangan. Saksi lain termasuk beberapa tetangga Sumaji, bersaksi bahwa tidak mungkin Sumaji melakukan pembunuhan tersebut karena dia berada di rumah pada malam 13 Agustus. Yang lain mengatakan bahwa pipa baja yang dikatakan sebagai senjata pembunuhan di pengadilan berbeda dengan yang ditemukan berlumuran darah Udin.

Namun saksi-saksi yang dihadirkan dari pihak penuntut ternyata tidak cukup untuk meyakinkan hakim unk berpihak pada mereka. Bahkan ada salah satu saki  penuntut yang akhinya ditangkap karena ketahuan memberikan kesaksian palsu. Saksi lainnya menyatakan bahwa penangkapan Sumaji berdasarkan naluri buakn bukti. Dan ketika Edy Wuryanto bersaksi, beberapa kali hakim menmperingatinya untuk menjawab dengan jujur. Oleh karena itu pada tanggal 3 November, penuntut menarik kasusnya.

Namun berdasarkan hukum di Indonesia, hakim mempunyai hak untuk memutuskan terdakwa bersalah atau tidak meskipun penuntut telah mencabut tuntutannya. Setelah pertimbangan lebih lanjut, pada tanggal 27 November, pengadilan membebaskan Sumaji dari segala tuntutan atas kasus penghilangan nyawa Udin. Setelah pembebasan Sumaji, polisi Bantual menolak menyelidiki pembunuhan Udin lebih lanjut.

Beberapa minggu setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri, Bupati Bantul Sri Roso Sudarmo dicopot dari jabatannya setelah para mahasiswa melakukan demonstrasi di Gedung DPR Bantul. Ia dihukum karena tindak korupsi Yayasan Dharmais, namun hukuman tersebut dibatalkan oleh pengadilan yang lebih tinggi, setelah itu Sudarmo pensiun. Sementara Edy Wuryanto tidak pernah menjalani hukuman karena membuang darah Udin.

Sumaji yang awalnya sudah siap melayangkan tuntutan atas kesalahan pemenjaraan, namun Sumaji memilih untuk tidak melanjutkannya. Ia tidak dapat bekerja selama tiga tahun karena citra buruk yang ia peroleh dari kasus tersebut, namun pada tahun 2000 ia berhasil mendapatkan pekeraan sebagai supir bus umum.