Casino88 Online Slot99 Sbobet Slot Sbobet888 Joker1888 88bet Slot39 7mmbet Slot388 Joker138 Joker888

Berita Menarik Dan Unik Dari Dalam Dan Luar Negeri

Berita

Seri Kasus Tak Terpecahkan II. Pembunuhan Ita Martadinata 1998

SAHMITRA – Dalam seri kasus yang tidak terpecahkan di Indonesia kali ini akan membahas mengenai tragedi kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa yang terjadi di Indonesia pada 13-15 Mei 1998 yang disebut dengan Kerusuhan Mei 1998. Peristiwa ini tercatat sebagai tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan merupakan satu dari tiga peristiwa pelangaran HAM berat selain peristiwa penghilangan orang secara paksa 1997-1998 dan tragedi Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II 1998-1999 yang terjadi di sekitaran era awal reformasi.

Dalam kerusuhan tersebut yang lebih mengerikan selain terjadinya pembunuhan, pembakaran dan penjarahan adalah pemerkosaan massal yang menargetkan perempuan keturunan Tionghoa. Selama 13-15 Mei 1998, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) mencatat hampir ada 200 laporan kasus perkosaan. Sebanyak 189 sudah terverifikasi. Mereka berasal dari Jakarta dan sekitarnya, Solo, Medan, Palembang, Surabaya. Semua adalah perempuan keturunan Tionghoa. Salah satu korban, Ita Martadinata baru berusia 17 tahun ketika ditemukan tewas pada 9 Oktober 1998 di rumah keluarganya di Jakarta Pusat. Tenggorokan Ita digorok begitu dalam hingga kepalanya hampir terpenggal dan sebatang kayu ditusukkan ke dalam anusnya.

Yang dialami Ita hanyalah sebagian contoh dari kekejaman dan kebiadaban yang dialami oleh perempuan-perempuan keturunan Tionghoa korban Kerusuhan Mei 1998. Namun banyak pihak percaya ada ‘hal lain’ yang tersembunyi di balik pemerkosaan dan penghilangan nyawa Ita. Diketahui Ita adalah seorang aktivis hak asasi manusia yang bergabung di Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK). Ita memberi konseling bagi sesama korban pemerkosaan. Ibu Ita, Wiwin Haryono juga merupakan seorang aktivis Budhis yang cukup vokal. Ita dan empat korban kerusuhan lainnya telah setuju untuk menjadi sukarelawan yang akan memberikan kesaksian pribadi mereka di sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nation (UN) di New York.

Akomodasi, tiket pesawat, dan visa telah diatur, Ita akan segera berangkat ke Amerika Serikat dengan didampingi oleh ibunya. Ita sudah menyiapkan video dalam tiga bahasa berisi kesaksian yang akan dipresentasikan dalam sidang di PBB nanti. Namun sepekan sebelum keberangkatannya, Ita ditemukan tewas di kamarnya. Ada 10 tikaman yang bersarang di tubuh mungilnya, leher pun disayat hingga hampir putus dan yang paling mengerikan, anusnya ditancap kayu.

Miris, pihak kepolisian menganggap kematian Ita hanya kejahatan biasa. Polisi juga tidak menanggapi laporan bahwa tiga hari sebelum Ita dibunuh, ada tiga aktivis lain yang menerima surat ancaman pembunuhan. Mereka merasa ada pihak tertentu yang mengintimidasi untuk mencegah investigasi skala internasional terhadap Kerusuhan Mei 1998.

Selanjutnya Kepolisian mengumumkan pelaku pembunuhan Ita yang bernama Suryadi alias Otong alias Bram, seorang pria pecandu obat bius yang berniat menjarah rumah keluarga Ita dan menemukan Ita di kamarnya yang berada di lantai dua rumah tersebut. Itu saja. Namun banyak yang percaya bahwa tewasnya Ita adalah pembunuhan bermotif politik yang menyimpan pesan intimidasi terhadap anggota minoritas Tionghoa agar mereka tidak bersuara dan menyebarkan apa saja yang telah terjadi pada kerusuhan Mei 1998.

Untuk memperingati tragedi  Kerusuhan  Mei 1998, Perkumpulan Masyarakat Boen Hian Tong di Semarang mengggalakkan tradisi makan rujak pare sambal kecombrang setiap tanggal 13 Mei. Ada filosofi di balik bahan rujak yang terbuat dari pare dan kecombrang. Pare melambangkan ‘pahit’ dan kecombrang merupakan simbol perempuan Tionghoa-Indonesia yang menjadi korban kekerasan seksual, penganiayaan dan pemerkosaan.

 “Meski pahit, kepahitan itu harus ditelan agar kita semakin kuat mengingat masa lalu.”