Casino88 Online Slot99 Sbobet Slot Sbobet888 Joker1888 88bet Slot39 7mmbet Slot388 Joker138 Joker888

Berita Menarik Dan Unik Dari Dalam Dan Luar Negeri

Mancanegara

Tokuryū wajah baru kriminalitas di Jepang yang disebut-sebut pengganti Yakuza

SAHMITRA – Kirato Wakayama adalah salah satu wajah paling dikenal di Jepang. Wakayama adalah seorang mantan aktor anak-anak yang pernah membintangi seri superhero Kamen Rider dan pertunjukan langsung atau live action Kiki’s Delivery Service karya dari animator Jepang Hayao Miyazaki’s pada tahun 2014. Sekarang, pada usia 20, dia berada di balik jeruji besi tengah menunggu persidangan atas dugaan perannya dalam pembunuhan terhadap pasangan Tokyo yang mayat-mayatnya ditemukan di hutan Nasu, 200 km di utara ibukota, pada bulan April 2024.

Wakayama, yang tengah menghadapi masalah keuangan, diduga menjadi salah satu di antara semakin banyak anak muda Jepang yang terlibat Yamibaito (pekerjaan paruh waktu “gelap”, dalam bahasa Jepang) dengan janji-janji pembayaran tinggi untuk pekerjaan-pekerjaan yang sering kali bersifat ilegal seperti perampokan bersenjata, penipuan perdagangan narkoba dan bahkan pembunuhan.

Meningkatnya Yamibaito di Jepang beberapa tahun belakangan ini menimbulkan ancaman baru yang disebut tokuryū, sejenis gangster yang tanpa nama dan minim struktur. Berbeda dengan yakuza, yang memiliki struktur hierarki dan kode etik yang ketat, tokuryū tidak memiliki struktur organisasi yang jelas, dan cakupan geografis kegiatan mereka luas, bahkan sampai ke luar negeri.

Badan Kepolisian Nasiondari Jepang menciptakan istilah tokuryū, dari kata tokumei (anonim) dan ryūdo (cair) untuk mengklasifikasikan individu yang terlibat dalam pekerjaan paruh waktu gelap dan kuasi-gangster yang sering beroperasi tanpa mengenal satu sama lain dan dapat dengan mudah berpencar dan berkumpul kembali. Tokuryū diketahui memiliki hubungan dengan sindikat kejahatan terorganisir tradisional dan menyumbangkan sebagian dari keuntungan mereka kepada sindikat tersebut.

Kemunculan tokuryū menurut ahli hukum dan kriminal merupakan imbas dari peraturan yang menentang kejahatan terorganisir dan mengkriminalisasi keanggotaan dalam kelompok kejahatan terorganisir. Peraturan tersebut pertama kali ditetapkan di Prefektur Fukuoka pada tahun 2010 sebelum undang-undang serupa lainnya diberlakukan secara nasional pada tahun-tahun berikutnya.

Pada tahun 2023, terdapat 19.033 kasus terkait tokuryū, naik 8,3 persen dari tahun 2022. Banyak kasus yang menjadi berita utama, misalnya, pencurian toko jam tangan mewah di Ginza Tokyo pada siang hari bolong pada bulan Mei 2023, dan serangkaian perampokan dengan kekerasan di seluruh Jepang yang diatur oleh sindikat kejahatan yang paling terkenal yakni Luffy dari balik jeruji besi di Filipina pada tahun 2023.

Di antara para pelaku yang ditangkap karena yamibaito adalah mantan anggota yakuza yang telah berhenti tetapi kesulitan dalam mencari nafkah sehingga memaksa mereka kembali ke kehidupan kriminal. Sementara sebagaian lagi pelaku adalah benar-benar orang-orang biasa yang belum pernah melakukan tindak kriminal sebelumnya, seperti seorang mantan anggota Pasukan Bela Diri berusia 23 tahun, mantan guru taman kanak-kanak berusia 22 tahun, dan bahkan siswa sekolah menengah atas. Ada juga orang-orang tua dan terlilit hutang, seperti karyawan perusahaan real estate berusia 36 tahun, dan bahkan seorang wanita berusia 72 tahun yang melakukan penipuan kartu ATM seorang pensiunan.

Namun dalam banyak kasus, para petinggi atau dalang-dalang yang memperkerjakan yaimbaito tidak pernah tertangkap. Dan dalam usaha untuk menemukan mereka terbukti sulit karena kemajuan teknologi, serta penggunaan telepon dan nomor telepon sekali pakai, memungkinkan mereka untuk tetap anonim, bahkan kepada orang-orang yang mereka pekerjakan. Sedangkan sebuah tugas biasanya dibagi di antara para pelaku yamibaito, yang seringkali berkumpul secara acak tanpa mengenal satu sama lain, dan kelompok tersebut dibubarkan setelah tugas selesai.

Yang harus dilakukan Polisi adalah lebih banyak tindakan atau kegiatan untuk meningkatkan kesadaran akan risiko menerima yamibaito atau terlibat dalam tokuryu, seperti melakukan sosialisasi langsung melalui saluran yang sering digunakan oleh anak muda. Rehabilitasi juga harus difokuskan, mengingat banyak pelaku yang berakhir dalam “lingkaran setan” karena mereka tidak dapat berintegrasi ke dalam masyarakat setelah dibebaskan.