Cara Membandingkan Wabah SARS, MERS, dan Covid-19

sahmitra.com  —  Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah menaikkan status virus corona sebagai pandemi karena penyebarannya yang secara universal. Lain dari itu, ada tiga kriteria umum yaitu virus dapat menyebabkan kematian atau penyakit, penularan dari orang ke orang, dan penyebaran ke seluruh dunia.

Penyebaran virus ini kerap dikaitkan dengan virus SARS. Jika diperhitungkan, tingkat kematian akibat dari SARS yang penyebarannya justru lebih tinggi dibandingkan dengan virus corona. Namun, jumlah pasien yang meninggal akibat SARS jauh lebih rendah dibanding covid-19.

Selain SARS, MERS-Cov juga masuk kedalam kategori, lantaran dengan cepat dan aktif menyebarnya.

Lalu, bagaimana cara membedakan masing-masing penyakit? Mari, kita bahas satu per satu.

SARS

Pertama kali, SARS di identifikasi pada tahun 2002 di China Selatan. Dalam hitungan bulan, SARS yang sudah menyebar ke 37 negara di negara. Secara umum, orang yang didiagnosa mengidapnya penyakit ini akan merasakan demam tinggi lebih dari 38°C dan pasien yang akan merasakan gejala seperti sakit kepala, gangguan pernafasan dan seluruh tubuh akan merasakan sakit.

Sekitar 10% sampai 20% pasien divonis SARS akan mengalami diare. Dalam hitungan tempo dua hingga tujuh hari, pasien SARS akan alami batuk kering dan pneumonia.

Virus ini diduga berasal dari kotoran-kotoran kelelawar kemudian terkena kontak dengan manusia. SARS yang disebut paling mudah menular melalui batuk atau bersin dan juga bisa mengkontaminasi permukaan atau benda sehingga orang yang meyentuhnya kemungkinan akan tertular.

WHO yang melaporkan sejumlah kasus positif SARS mencapai 8.437 orang dengan 813 yang meninggal. Tingkat kematian masih terhitung rendah yakni 9,63 persen. Sedangkan korban yang meninggal terbanyak tercatat di China dan Hong Kong.

Butuh waktu sekitar delapan bulan virus SARS menyebar ke pasien yang lain. Sementara pada tingkat kematiannya dibutuhkannya waktu 8,5 bulan. Menurut dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat, sejak 2004 laporan tentang infeksi SARS sudah tidak ada lagi.

MERS

Mers yang dikenal dengan sindrom pernafasan Timur Tengah, pada tahun 2012 pernyebarannya dilaporkan di Arab Saudi. Sama halnya dengan SARS, MERS juga menjadi penyakit penafasan yang disebabkan oleh virus corona.

MERS menyebar ke 27 negara di Eropa, Afrika, Asia dan Amerika Utara ketika pasien pertama kali dinyatakan positif terinfeksi. MERS juga merupakan virus zoonis yang ditular antar hewan dan manusia. Ilmuwan yang meyakini bahwa MERS kemungkinan besar berpindah dari kelelawar ke unta sebelum menular ke manusia.

Lihat juga:

PENYEBAB MOTOR MOGOK SETELAH DICUCI

WHO mengatakan bahwa infeksi MERS ini terjadi terutama dari kontan jarak dekat dari orang ke orang. Meskipun angka penyebaran dan korban meninggalnya lebih kecil, tapi tingkat kematian akibat MERS sangat tinggi yaitu mencapai 34,45 persen.

Butuh waktu satu tahun sejak pertama kali kasus MERS diungkap sampai bisa menginfeksi kurang lebih 203 orang. Sementara angka kematian MERS dalam setahun sudah mencapai 106 orang. Jadi, jika diklarifikasikan berdasarkan pada usia, angka kematian akibat terinfeksi MERS yang relatif beragam. Namun, resiko kematiannya yang tinggi yakni mencapai 52,7% beresiko tinggi, diatas 80 tahun atas.

Covid-19 (Virus Corona)

Dari struktur virus corona baru yang serupa dengan virus SARS, cenderung tidak terlalu mematikan. Adanya sekitar 10% orang yang terinfeksi kemungkinannya akan mengalami kematian.

Jika SARS membutuhkan waktu enam bulan untuk dinyatakan sebagai epidemi, penyebaran Covid-19 yang justru lebih cepat hanya dalam hitungan satu bulan setengah.

Covid-19 ini pertama kali dilaporkan di Wuhan, China akhir tahun 2019 lalu. Kelelawar dan tranggiling, hewan yang diduga sebagai sumber penyebaran virus ini. Dibandingkan dengan SARS ataupun MERS, penyebaran Covid-19 ini jauh lebih cepat.

Virus ini dikatakan sangat mudah menular dan dalam tempo waktu yang singkat sudah ada 26 negara dunia di luar China. Masuk bulan kedua penyebarannya virus ini telah menginfeksi kurang lebih 126.061 orang di lebih dari 100 orang negara didunia. Pasien yang berusia diatas 80 tahun ini memiliki resiko kematian 21,9% lebih tinggi dibanding kelompok usia lainnya.