Warisan dan Jejak Budaya Tionghoa yang Mendarah Daging di Makassar

sahmitra.com —  Makassar memiliki banyak pilihan kuliner yang berbahan dasar mi. Mulai dari Mie Titi, Mie Awa, Mie Hengky, Mie Anto, hingga Mie Cheng, hampir setiap hari destinasi makan ini selalu ramai dijejali pengunjung.

Tak disadari, banyaknya mi kering ini menjadi salah satu peninggalan yang ditinggalkan orang Tionghoa di sana. Warisan kuliner ini adalah jejak asimilasi budaya dari orang Tionghoa yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Pencampuran budaya yang kental itu tak hanya terlihat di bidang kuliner, tapi juga merambat ke bidang lain seperti seni dan budaya.

Mungkin banyak yang tak tahu kalau salah satu lagu daerah berbahasa Makassar Ati Raja adalah ciptaan Ho Eng Djie. Ia adalah warga keturunan Tionghoa yang juga terkenal sebagai seniman luar biasa di era 1940-an sampai 1950-an.

Jika dirunut dari catatan sejarah, tidak ada keterangan pasti kapan orang dari daratan Tiongkok masuk ke Sulawesi Selatan. Yang jelas mereka sudah tinggal di sana sejak abad ke-15 saat Kerajaan Gowa-Tallo berjaya.

Saat itu, ibukotanya yang saat itu terletak di delta Sungai Jeneberang menjadi magnet tersendiri bagi pedagang asing dari Eropa dan Tiongkok untuk berdagang dan menetap. Meski begitu, ada juga catatan histori yang ditemukan di sebuah nisan di pemakaman yang sekarang menjadi Pasar Sentral Makassar. Disebutkan bahwa orang Tionghoa mulai masuk sejak abad ke-14.

Di Makassar sendiri ada tiga rumpun Tionghoa yang menetap di sana ratusan tahun. Ada Hokkian, Hakka, dan Kanton. Ketiganya punya bahasa yang berbeda satu sama lain. Orang Hokkian dipercaya sebagai rumpun Tionghoa pertama yang datang ke Makassar secara massal hingga abad ke-19.

Rumpun Hakka atau Kek juga menjadi rumpun terbesar yang datang ke Makassar yang kebanyakan berasal dari Provinsi Kwang Tung. Sedangkan Kanton atau Kwan Foe datang belakangan pada sekitar abad ke-19 dan hampir bersamaan dengan rumpun Hakka.

Selain itu, masih ada beberapa rumpun Tionghoa lain yang datang ke Makassar yang berasal dari provinsi lainnya tapi jumlah yang relatif lebih kecil. Saat pertama kali datang ke Sulawesi Selatan, rombongan pendatang tersebut tidak langsung bermukim di Makassar.

Awalnya mereka berdagang, bertani, dan menjadi nelayan di sekitar delta Sungai Jeneberang. Ramainya daerah benteng Somba Opu membuatnya betah dan mulai membaur dengan penduduk lokal. Ketika Kerajaan Gowa jatuh ke tangan Belanda dan kawasan benteng Somba Opu mulai ditinggalkan, orang Tionghoa mulai berpindah Makassar.

Oleh pemerintahan Belanda, mereka dipusatkan di satu daerah khusus yang diberi nama Chineese Wijk atau Kampung China. Di sana, mereka diatur dan diawasi dengan ketat. Bahkan tidak diperbolehkan berinteraksi dengan warga sekitar.

Sampai sekarang, kawasan itu masih ada dan diberi nama Chinatown atau Pecinan. Warga Tionghoa baru bisa bebas keluar-masuk dari wilayah tersebut di awal abad 19. Masa itu menandai makin besarnya jejak Tionghoa di Makassar.

Kuliner mi dari Tionghoa pun mulai diterima dan disukai oleh warga lokal. Coto yang jadi salah satu kuliner populernya adalah variasi dari makanan khas Tionghoa. Selain itu, perpaduan dua budaya juga tampak dari cara menyeduh kopi. Penggunaan kain penapis yang ditarik ke atas adalah metode yang dibawa oleh orang Hainan yang memang terkenal sebagai peracik kopi yang nikmat.

Di bidang seni, orang Tionghoa juga memberikan sumbangan yang tidak sedikit. Pada 1940-an sampai 1950-an, orang Tionghoa dengan orkes Melayunya menghiasi jagad seni dan budaya Makassar.

Sekarang, bangunan asli dan khas Tionghoa memang mulai jarang didapati di Makassar. Kawasan Pecinan pun sudah banyak berubah dan mulai disesaki dengan bangunan modern. Meski jejaknya sudah mulai sulit ditangkap mata, tapi tidak dengan lidah. Menikmati kuliner khas Makassar berarti menikmati jejak panjang percampuran dua budaya ini yang sudah terjadi selama ratusan tahun.