Casino88 Online Slot99 Sbobet Slot Sbobet888 Joker1888 88bet Slot39 7mmbet Slot388 Joker138 Joker888

Berita Menarik Dan Unik Dari Dalam Dan Luar Negeri

Panduan

Warlok area gunung Fuji keluhkan perilaku turis meresahkan

SAHMITRA – Dengan latar belakang puncak gunung Fuji, toko serba ada Lawson yang terletak di Fujikawaguchiko, Prefektur Yamanashi, telah menjadi destinasi tersendiri berkat pemandangannya yang indah dan kekuatan media sosial. Para penggemar perjalanan, fotografer, dan influencer beramai-ramai membagikan foto dan pengalaman mereka di platform media sosial seperti Instagram dan Twitter dengan menyertakan tagar #MountFujiLawson. Toko ini pun dengan cepat menjadi pusat perhatian. Tapi pada 21 Mei lalu, otoritas setempat mulai memasang layar hitam besar di hamparan trotoar untuk menghalangi pemandangan gunung tersebut. Alasannya: turis asing yang berulah.

Paska pendemi dan usai pembatasan perbatasan dicabut, dan juga karena melemahnya mata uang Yen, turis asing berbondong-bondong datang ke Jepang. Tahun lalu, Jepang dikunjungi lebih dari 25 juta pengunjung, dan jumlah tersebut diperkirakan akan melampaui hampir 32 juta pengunjung pada tahun ini, sebuah rekor dibandingkan tahun 2019, menurut Organisasi Pariwisata Nasional Jepang. Dan pemerintah menginginkan lebih banyak wisatawan.

Meskipun melonjaknya pariwisata telah memberi keuntungan tersendiri untuk industri ini, tapi bersamaan muncul keluhan dari penduduk lokal di tujuan wisata populer, seperti Kyoto dan Kamakura. Di Kyoto, distrik geisha terkenal baru-baru ini memutuskan untuk menutup beberapa gang milik pribadi.

Dipuja karena keindahannya yang menakjubkan dan makna budayanya, toko serba ada yang sederhana dengan latar belakang gunung Fuji yang menakjubkan, menjadikannya magnet bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momen sempurna kenyamanan modern yang disandingkan dengan kemegahan alam. Namun sayangnya, sebagian besar turis asing yang memadati kawasan kecil tersebut, memicu gelombang kekhawatiran dan keluhan dari warga yang menuntut tindakan atau solusi untuk masalah turis yang meresahkan ini segera ditangani.

Perilaku turis meresahkan yang banyak dikeluhkan oleh warga setempat antar lain adalah mengabaikan rambu lalu lintas dan peringatan berulang kali dari penjaga keamanan. Memarkir kendaraan sembarangan tanpa izin dan bahkan terlihat naik ke atap properti pribadi untuk mendapatkan foto yang sempurna. Belum lagi menyebabkan ketidaknyamanan lainnya, seperti membuang sampah sembarangan, memenuhi trotoar hingga menghambat

Pemerintah kota akhirnya terpaksa mengambil tindakan dengan menempatkan jaring-jaring hitam setinggi 2,5 meter dan panjang 20 meter yang hampir sepenuhnya menghalangi pemandangan Gunung Fuji. Rencananya jaring-jaring hitam itu akan tetap dipasang sampai situasi membaik.

Melansir Guardian.com, menurut Kosuke Wada, 49, yang mengelola restoran tempura di dekat toko Lawson, mengatakan jumlah pengunjung di sekitar kawasan tersebut tidak berubah. Hanya ada tanggal 25 dan 26 Mei, akhir pekan pertama sejak layar hitam itu dipasang, awan menghalangi pemandangan Gunung Fuji sehingga hanya sedikit orang yang terlihat di trotoar depan toko itu.

Dan per tanggal 27 Mei, atau kurang dari seminggu, sekitar 10 lubang telah ditemukan di jaring-jaring hitam besar yang sengaja dipasang otoritas setempat untuk menghalangi pemandangan Gunung Fuji. Setiap lubang berdiameter sekitar 1 sentimeter, dan pejabat kota yakin lubang tersebut adalah ulah pengunjung agar lensa kamera mereka dapat masuk pada jam-jam ketika penjaga keamanan tidak ada.

Sementara Wakana Watanabe, 43, yang bekerja di toko persewaan kimono dekat toko Lawson, mengatakan, beberapa hari setelah pemasangan layar hitam, dia melihat turis naik ke punggung temannya dalam upaya untuk mengambil gambar dari atas layar hitam.

Dan ternyata tidak hanya warga sekitar area toko Lawson saja yang harus berhadapan dengan turis meresahkan,  warga lain di kota sekitar 1 kilometer ke arah barat juga mengalami masalah serupa. Di kota tersebut terdapat toko Fuji-Kawaguchiko Machiyakubamae milik Lawson, dan area sekitarnya menawarkan pemandangan serupa. Pengunjung asing yang berperilaku buruk dilaporkan ada di sana bahkan sebelum kain hitam dipasang di situs “asli” Lawson. Ada laporan yang menyebutkan beberapa turis asing menginjak-injak hamparan bunga antara toko dan trotoar. Dan setelah layar hitam dipasang, tingkat kekesalan warga  kota tersebut melonjak.