Zulkarnaen militan Jemaah Islamiah divonis 15 tahun penjara

SAHMITRA – Aris Sumarsono, yang lebih dikenal sebagai Zulkarnaen, adalah mantan komandan militer di Jemaah Islamiah (JI), sebuah jaringan jihadis Asia Tenggara yang memiliki hubungan dengan Al-Qaeda. Merupakan seorang militan terkemuka di Indonesia terkait serangan bom Bali pada tahun 2002, yang menewaskan 202 orang, termasuk 88 warga Australia. Akhirnya divonis 15 tahun penjara, sesuai dengan putusan hakim di Pengadilan Negeri Jakarta, Rabu (19/1/2022). Hukuman tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum yakni hukuman seumur hidup.

Pria 58 tahun itu dinyatakan bersalah karena telah membantu dan bersekongkol dengan pelaku teror dengan meminjamkan uang, memberikan perlindungan dan menyembunyikan informasi tentang aksi teror. Pria berusia 58 tahun itu menjadi buron selama hampir dua puluh tahun, setelah dinyatakan menjadi tersangka sebagai serangan di Bali. Pada Desember 2020 Zulkarnaen ditangkap setelah penggerebekan oleh polisi kontra-terorisme di Lampus.

Dia tidak dapat diadili untuk serangan di Bali tahun 2002 karena undang-undang pembatasan telah kedaluwarsa. Namun Jaksa menuduh Zulkarnaen berperan dalam dalam aksi serangan bom di hotel JW Marriott, Jakarta tahun 2003 yang menewaskan 12 orang. Selama persidangan, Zulkarnaen mengatakan bahwa dia adalah pemimpin sayap militer JI, membantah keterlibatan dalam pemboman klub malam di Bali, namun mengaku aksi tersebut dilakukan oleh timnya.

Tidak hanya itu, pengadilan juga mengaitkan Zulkarnaen dengan beberapa serangan lain, seperti serangan tahun 2000 di kedutaan Filipina, dan serangkaian pemboman gereja. Unitnya juga ditugaskan untuk menghasut kekerasan etnis dan agama di pulau Sulawesi dan Maluku, di mana ribuan orang terbunuh antara tahun 1998 dan 2002, menurut polisi.

Zulkarnaen adalah salah satu “orang-orang penting di Asia Tenggara” Al-Qaeda dan salah satu dari sedikit orang di Indonesia yang memiliki kontak langsung dengan kelompok tersebut. JI dan Al-Qaeda memiliki “ideologi yang sama”, menurut Dewan Keamanan PBB dan banyak anggota dari kedua organisasi tersebut memiliki pengalaman yang sama dalam pelatihan atau pertempuran di Pakistan dan Afghanistan selama perang berlangsung. akhir 1980-an dan awal 1990-an.

JI sempat dibongkar oleh pihak berwenang Indonesia setelah bom Bali, tetapi organisasi tersebut dibangun kembali. Pemimpin spiritualnya, Abu Bakar Bashir, dibebaskan dari penjara tahun lalu setelah menjalani hukuman penjara karena membantu mendanai pelatihan militan.

Setelah serangan Bali dan dengan dukungan dari Australia dan Amerika Serikat, Indonesia membentuk unit elit anti-teroris yang disebut Densus 88, yang membantu melemahkan JI dan penangkapan ratusan orang yang diduga militan. Meski masih belum jelas seberapa kuat ancaman dari JI, kelompok-kelompok lain seperti Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yang diilhami oleh kelompok yang menamakan dirinya Islamic State, semakin menonjol. Kelompok-kelompok ini juga dituduh telah melakukan serangan baru di Indonesia, termasuk bom bunuh diri 2018 di Surabaya yang menewaskan sekitar 30 orang.

Karena itulah, Analis keamanan Stanislaus Riyanta dari Universitas Indonesia, memperingatkan walaupun Zulkarnaen telah dijatuhi hukuman penjara, dia masih harus dipantau saat berada di penjara. Karena ditakutkan dia bisa menyebarkan ideologi radikalnya di penjara.