Kisah pahit perempuan-perempuan Kamboja yang ketahuan dibayar untuk menjadi Ibu ‘pengganti’

Kisah pahit perempuan-perempuan Kamboja yang ketahuan dibayar untuk menjadi Ibu ‘pengganti’

SAHMITRA – Surrogate mother atau yang biasa disebut sebagai ‘ibu pengganti’ merupakan istilah yang merujuk pada wanita lain yang meminjamkan rahimnya untuk membantu pasangan mendapatkan keturunan. Ibu pengganti akan mengandung melalui proses inseminasi buatan dengan bantuan sperma sang ayah, atau dengan menaruh sel telur dari ibu kandung dan sperma sang ayah ke rahimnya. Proses ini dikenal sebagai ‘fertilisasi in vitro’ (IVF). Tidak ada ikatan genetik dari sang ibu pengganti dengan sang bayi karena sel telur yang digunakan bukanlah miliknya.

Kamboja menjadi salah satu negara tujuan untuk mendapatkan ‘ibu pengganti’ atau surogasi yang populer di Asia selama hampir satu dekade meskipun sebenarnya praktek tersebut berstatus ilegal. Orang asing berbondong-bondong ke klinik kesuburan dan agen ibu pengganti yang ada di ibu kota Phnom Penh. Konon biaya ‘ibu pengganti’ ini bisa mencapai sebesar puluhan ribu dolar US.

Praktik ini tumbuh subur di ruang abu-abu antara mereka yang bisa dan tidak bisa melahirkan anak, antara mereka yang mampu ‘membayar’ seseorang untuk melahirkan anak biologis mereka dan para wanita yang membutuhkan uang; dan antara mereka yang seksualitas atau status perkawinannya menghalangi mereka untuk dapat mengadopsi secara legal dan mereka yang kesuburannya menyelamatkan mereka dari batasan-batasan tersebut.

Pada tahun 2018, Hun Daneth adalah salah satu dari sekitar 30 ibu pengganti, yang semuanya tengah hamil, yang ditangkap dalam penggerebekan polisi di sebuah kompleks perumahan kelas atas di Phnom Penh. Dia bertindak sebagai ibu pengganti untuk seorang pengusaha Cina, yang kemudian dipenjara dan usaha bandingnya ditolak pengadilan pada bulan Juni lalu. Sementara Hun Daneth dipaksa oleh pengadilan Kamboja untuk membesarkan anak yang dikandungnya atau diancam hukuman 20 tahun atas pelanggaran undang-undang perdagangan manusia.

Hampir semua yang ditangkap dalam penggerebekan tahun 2018 melahirkan saat dipenjara di rumah sakit militer, beberapa diantara mereka bahkan ada yang dirantai di tempat tidur. Hukuman untuk para ‘ibu pengganti’, datang dua tahun kemudian, sebagai ganti hukuman penjara yang ditangguhkan. Dan hukuman itu berbunyi: ibu pengganti harus membesarkan anak-anak itu sendiri. Jika para wanita diam-diam berusaha menyerahkan anak-anak itu kepada orang tua yang dituju, hakim memperingatkan, mereka akan dikirim ke penjara selama bertahun-tahun.

Tetapi menerapkan undang-undang perdagangan manusia untuk ibu pengganti alih-alih semakin membebankan para perempuan ‘ibu pengganti’. Ini berarti bahwa wanita yang kesulitan keuangannya hingga membuat mereka melakukan praktik surogasi, sekarang harus berjuang dengan satu mulut lagi untuk diberi makan. Dipaksa membesarkan anak-anak dari etnis lain juga dapat menimbulkan masalah tambahan dalam keluarga dan komunitas. Fitur atau tampilan anak-anak hasil praktik surogasi menimbulkan tanda tanya dan membuatnya sulit untuk menjelaskan asal-usul mereka.

Secara tegas dan keras, Chou Bun Eng, Sekretaris Negara di Kementerian Dalam Negeri dan wakil ketua komite penanggulangan perdagangan manusia nasional memperingati bahwa praktik surogasi atau ‘ibu pengganti’ berarti perempuan bersedia menjual bayi dan itu dianggap sebagai perdagangan manusia. Dan pemerintah tidak ingin Kamboja dikenal sebagai tempat penghasil bayi untuk dibeli.

Hun Daneth melahirkan seorang anak laki-laki yang sama sekali tidak mirip dengannya atau suaminya karena sebenarnya bukan milik mereka secara darah dan daging. Namun empat tahun sudah mereka membesarkan anak tersebut. Meski awalnya menghadapi keterkejutan dan keterpaksaan, Hun Daneth dengan telaten mengganti popoknya. Selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun, dia mendapati dirinya memeluk dan mencium, membujuk untuk makan lebih banyak nasi, agar anak laki-laki tersebut bisa tumbuh besar dan kuat.

“Saya sangat mencintainya,” kata Hun Daneth sambil menatap bocah laki-laki itu seakan dia  benar-benar miliknya.

Dokter lepaskan 23 lensa kontak dari mata seorang pasien lansia

Dokter lepaskan 23 lensa kontak dari mata seorang pasien lansia

SAHMITRA – Lewat akun Instagramnya seorang dokter mata di Newport Beach, California memposting sebuah video dimana dia menunjukkan dan secara singkat menceritakan bagaimana dia melepaskan 23 lensa kontak dari mata seorang pasiennya.

Melansir Insider.com, Dr. Katerina Kurteeva membagikan pengalamannya ketika seorang pasien perempuan berusia pertengahan 70-an yang memakai lensa kontak harian datang  padanya dan mengatakan bahwa dia merasa ada sesuatu di matanya yang tidak bisa dia keluarkan. Pasien mengeluhkan penglihatannya kabur dan rasa sakit yang mengganggunya  Meskipun sudah disarankan untuk datang setahun sekali untuk pemeriksaan, pasien ini rupanya telah melewatkan janji dan tidak pernah datang untuk pemeriksaan selama dua tahun.

Awalnya Dr. Kurteeva menduga beberapa kemungkinan: lensa kontak yang rusak, goresan pada kornea, infeksi, bulu mata, atau kotoran dari riasan. Dia hanya dapat memastikannya setelah melakukan pemeriksaan. Pertama-tama dia menggunakan anestesi dan noda kuning untuk mengidentifikasi goresan atau benda asing. Tapi dia tidak menemukan kejanggalan pada kornea si pasien, jadi dia melanjutkan untuk menarik kelopak mata bawah dan atas secara manual untuk melihat apakah ada sesuatu di forniks atas atau bawah. Forniks adalah sudut mata yang dalam, seperti kantong kecil di kelopak mata, di mana benda-benda kadang-kadang tersangkut.

Dr. Kurteeva lalu memutuskan untuk menggunakan alat yang disebut spekulum kelopak mata untuk membuat kedua kelopak mata atas dan bawah pasien tetap terbuka untuk jangka waktu yang lebih lama, sehingga dia dapat dengan bebas menggunakan tangannya untuk memeriksa lebih jauh. Ketika dia meminta pasiennya untuk melihat ke bawah, dia mulai bisa melihat ujung beberapa kontak lensa yang menempel satu sama lain. Setelah menarik beberapa kontak lensa itu keluar, dia masih bisa melihat lebih banyak kontak lensa yang tersangkut dan meminta asistennya untuk merekam proses tersebut.

Dr. Kurteeva meminta pasien untuk melihat ke bawah lagi, disana dia bisa melihat gumpalan besar lensa kontak berwarna ungu tua menempel di mata pasien. Itu hampir tampak seperti biji mata kedua. Dengan lembut dan hati-hati dia menggunakan Q-tip untuk mengupas lensa satu per satu. Dan ternyata ada banyak sekali lensa kontak yang tersangkut disana. Yang membuatnya mengatakan bahwa selama hampir 20 tahun praktek, dia belum pernah melihat yang seperti ini.

Setelah yakin telah mengeluarkan semua lensa kontak yang tertinggal di mata pasien, Dr. Kurteeva dengan hati-hati membilas mata pasien dengan air sulingan dan steril, menghilangkan sebagian lendir, dan memberikan obat tetes anti-inflamasi pada pasien sebelum dia dipulangkan. Pasien tersebut mengatakan bahwa langsung merasa jauh lebih baik setelahnya. Di atas sebuah tisu, Dr. Kurteeva memisahkan satu per satu dan menghitung ada total 23 lensa kontak.

Dr. Kurteeva mengatakan bahwa pasien itu sangat beruntung, karena pasiennya itu bisa saja kehilangan penglihatannya, korneanya tergores, atau terkena infeksi. Sebulan setelah pemeriksaan pasien tersebut datang kembali untuk pemeriksaan dan terlihat baik-baik saja, dia merasa jauh lebih nyaman dan melihat dengan jelas.

Menurut analisanya, Dr. Kurteeva tentang bagaimana pasiennya itu bisa lupa melepas semua lensa itu. Itu bisa karena dia telah memakai lensa kontak selama 30 tahun. Ketika seseorang memakai lensa kontak dalam jangka waktu yang lama, hal itu dapat menyebabkan desensitisasi pada ujung saraf kornea. Pasien tidak akan langsung merasakan sesuatu meski sudah ada 23 lensa kontak yang tersangkut di dalam matanya. Itu juga bisa saja karena usia. Forniks kelopak mata orang yang lebih tua, ruang yang paling tidak sensitif, jauh lebih dalam, dan lensa kontak bisa ‘tersembunyi’ di dalam sana untuk sementara waktu sampai akhirnya itu benar-benar mengganggunya.

 

 

 

Kebakaran hebat di klub malam Mountain B di Thailand. 23 orang meninggal diantaranya tewas terpanggang

Kebakaran hebat di klub malam Mountain B di Thailand. 23 orang meninggal diantaranya tewas terpanggang

SAHMITRA – Kebakaran hebat terjadi di sebuah klub, Mountain B pada 5 Agustus 2022 lalu.  Hiburan klub malam yang berlokasi di provinsi Chonburi, sekitar 150 km tenggara Bangkok itu dilahap si jago merah sementara terdapat banyak pengunjung yang masih berada di dalam di lokasi pada saat kejadian. Pihak berwenang menemukan 13 mayat yang hangus terbakar di dalam venue. Dan menurut berita terbaru total korban meninggal dunia menjadi 23 orang.

Penyebab kebakaran diduga terjadi karena ada masalah listrik yang terjadi pada hari-hari sebelumnya. Sehingga mereka memanggil tukang listrik untuk memperbaiki sistem pencahayaan di atas langit-langit. Tapi polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut apakah perbaikan tersebut yang menyebabkan terjadinya kebakaran atau bukan.

Menurut penyelidikan awal, busa akustik mudah terbakar yang melekat disekeliling dinding klub mempercepat kobaran api, sehingga petugas pemadam kebakaran membutuhkan lebih dari tiga jam untuk mengendalikannya. Itu juga dikarenakan struktur bangunan yang merupakan area tertutup namun tidak ada pintu keluar darurat yang layak dan banyak hal lainnya yang menyalahi aturan. Sebagian besar aset interior venue rusak total, termasuk dekorasi, peralatan panggung, lampu dan suara, dan langit-langit.

Ditengah-tengah penyelidikan oleh pihak kepolisian, juga baru diketahui bahwa klub tersebut telah beroperasi tanpa izin. Kemudian Polisi pun lalu menangkap dan menetapkan pemilik klub, Pongsiri Panprasong, 27, yang dikenal dengan julukan Sia B sebagai terdakwa yang telah menyebabkan kematian karena kecerobohan dan mengoperasikan pub tanpa lisensi.

Namun pada 8 Agustus sekitar pukul 15:00, Sia B dibebaskan dengan membayar jaminan 300,00 baht (sekitar Rp. 121juta). Dalam memberikan jaminan, pengadilan mencatat bahwa ‘Sia B’ menyerahkan diri, mengakui tuduhan yang diajukan kepadanya, berjanji bertanggung jawab, dan sepenuhnya kooperatif dengan pengadilan. Sebagai bagian dari syarat jaminannya dia harus memakai gelang pemantau elektronik dan tidak merusak barang bukti. Dia juga diwajibkan untuk menghadiri pengadilan.

Yang kemudian menjadikan kasus ini semakin menarik perhatian adalah beredarnya kabar yang menyebutkan bahwa ‘Sia B’ hanyalah ‘kambing hitam’ yang dikorbankan oleh pemilik klub sebenarnya, yang tak lain dan bukan adalah ayahnya sendiri, Somyot Panprasong, atau ‘Sia Yot’. Bahkan surat perintah penangkapan Sia Yot telah dikeluarkan oleh Pengadilan Provinsi Pattaya.

Pada hari Selasa 16 Agustus, pengacara ‘Sia B’ tiba di kantor polisi untuk memberikan informasi lebih lanjut kepada petugas. Ia juga menegaskan bahwa ‘Sia Yot’ tidak terlibat dalam pendirian klub tersebut dan menyatakan kembali bahwa Sia B adalah pemilik sebenarnya. Namun, ‘Sia Yot’ tetap datang ke kantor polisi Pluta Luangle untuk menanggapi surat perintah penangkapan tersebut. ‘Sia Yot’ membantah semua tuduhan dan mengatakan dia tidak terlibat dengan Mountain B dalam bentuk apa pun.

Pernyataan bantahan ‘Sia Yot’ didukung oleh istri Sia B, Anongnat Panprasong, 31, yang mengatakan kepada pers bahwa berita yang beredar itu adalah tidak benar dan suaminya adalah pemilik tunggal dan bertanggung jawab penuh. Dan Sia B yang sejak awal telah menyatakan bahwa dirinya adalah pemilik Mountain B, menyampaikan penyesalannya kepada para korban dalam pernyataan singkat kepada pers saat meninggalkan pengadilan. Dia menyatakan bahwa dia akan bertanggung jawab dan akan mendukung para korban secara finansial.

Laporan terakhir korban tewas kebakaran Mountain B diketahui naik menjadi 23 orang. Letnan Panupong Wongpakpaiboon, 27, dari Angkatan Laut Kerajaan Thailand yang sebelumnya diidentifikasi sebagai korban dengan luka parah mengalami 60 persen luka bakar. Dia  sempat dirawat di rumah sakit sebelum dinyatakan meninggal karena infeksi.

Seorang gadis berusia 23 tahun bernama Athithaya adalah korban meninggal dunia yang ke-19. Ice, nama panggilan Athithaya adalah kekasih dari Chatchai Chuenkha, penyanyi band yang tampil bersama band-nya , “The Burn”  yang juga ikut menjadi korban meninggal dunia pada saat kebakaran terjadi.

15 Agustus, sang ibu mengkonfirmasi di Facebook bahwa putrinya Athitaya telah meninggal dunia pada usia 23 tahun. Ice meninggal setelah mengalami luka bakar hampir 100 persen dan keracunan yang disebabkan gas karbon monoksida. Sebelumnya, pada 12 Agustus, seorang gadis berusia17 tahun juga meninggal dunia.

 

 

Trapp Family, keluarga paling tinggi di dunia. Yang terpendek 191 cm.

Trapp Family, keluarga paling tinggi di dunia. Yang terpendek 191 cm.

SAHMITRA – Keluarga Trapp yang menetap di Esko, Minnesota, Amerika Serikat adalah sebuah keluarga yang terdiri dari lima anggota keluarga yakni Scott, Krissy, Savanna, Molly, dan Adam. Yang membuat keluarga ini istimewa adalah karena pada 6 Desember 2020, Guinsess World Records mengkonfirmasi keluarga ini sebagai keluarga tertinggi di dunia dengan tinggi rata-rata 203,29 cm.

Tinggi badan anggota keluarga Trapp adalah:

  • Kristine Trapp, ibu: 191,2 cm
  • Scott Trapp, ayah: 202,7 cm
  • Savanna Trapp, putri: 203,6cm
  • Molly Steede, putri: 197.26cm
  • Adam Trapp, putra: 221.71cm

Tinggi gabungan keluarga itu sama dengan panjang setengah lapangan tenis.

Pada bulan Desember 2020 lalu, Adam, putra bungsu keluarga Trapp mendorong Savanna, putri tertua untuk menghubungi Guinness World Records. Keluarga Trapp lalu mengunjungi Dr. Anna Sudoh, seorang dokter ortopedi di Essentia Health, untuk melakukan pengukuran tinggi badan.

Setiap anggota keluarga harus diukur tiga kali sepanjang hari, dalam posisi berdiri dan berbaring. Setelah memenuhi semua kriteria, Guinness World Records lalu memberi gelar keluarga paling tinggi kepada keluarga Trapps dan mereka sangat senang mengetahui berita tersebut.

Scott dan Kristine mengatakan bahwa tinggi badan menurun dalam keluarga mereka, tetapi anak-anak mereka jauh lebih tinggi daripada anggota keluarga besar lainnya. Namun, keluarga besar menghargai tinggi badan keluarga Trapps. Karena mereka pikir itu berguna untuk proyek rumah tangga. Mereka tidak pernah membutuhkan tangga.

Dan tidak mengherankan, anak-anak keluarga Trapp menjadi idaman dan incaran pelatih olahraga seperti bola basket atau bola voli. Pelatih bola voli Molly misalnya yang kerap kali mengatakan bahwa tinggi badan tidak dapat dilatih. Hanya ada dua hal; kau tinggi atau tidak tinggi.

Savanna direkrut oleh UCLA untuk bermain basket Divisi I, Molly bermain voli di perguruan tinggi, dan Adam adalah pemain basket bintang di sekolah menengah. Namun tidak sekedar mengandalkan keuntungan memiliki tinggi badan diatas rata-rata, mereka juga memiliki etos kerja keras yang mendorong mereka untuk menjadi sukses di bidang masing-masing.

Setiap anggota keluarga Trapp mengalami situasi unik karena tinggi badan mereka. Namun yang paling umum dan sering dialami oleh mereka adalah tidak sengaja membenturkan kepala mereka di pintu, kipas langit-langit, dan lampu. Dan juga mereka sepakat mereka kerap kesulitan untuk menemukan pakaian, terutama celana dan sepatu yang pas.

Menjadi lebih tinggi dari hampir semua orang yang mereka temui, membuat keluarga itu menarik perhatian ke mana pun mereka pergi. Keluarga Trapp sudah terbiasa dengan komentar dan tatapan yang sering mereka dapatkan di tempat umum. Mereka belajar untuk menerima karunia genetika mereka dengan bijak dan menggunakan tinggi badan mereka sebagai cara untuk terlibat dalam percakapan dan membagikan pengetahuan dengan orang lain.

Seperti Savanna yang berharap bahwa dengan gelar Guinness World Records yang keluarganya terima dapat memberikan pesan kepada banyak orang, terutama orang-orang yang memiliki keunikan atau merasa berbeda, bahwa ada sukacita dan kebebasan dalam menerima siapa Anda sebenarnya dan manfaatkan apa yang Anda punya. Bahwa setiap orang adalah unik, tidak ada orang lain seperti Anda dan itu luar biasa.

Umat Muslim di Ukraina kesulitan menjalani ibadah puasa di tengah-tengah gempuran Rusia

Umat Muslim di Ukraina kesulitan menjalani ibadah puasa di tengah-tengah gempuran Rusia

SAHMITRA – Meski mayoritas warganya memeluk agama Kristen Ortodoks, namun ada sekitar satu persen dari populasi Ukraina yang beragama Islam. Sebelum perang, Ukraina adalah rumah bagi lebih dari 20.000 warga negara Turki yang dikenal dengan kaum minoritas muslim Tatar Krimea. Kaum minoritas ini sudah lama tidak dapat menikmati keamanan dan kenyamanan dan meski sudah tidak asing dengan penindasan dan pelecehan, namun Ramadan kali ini terasa kian berat bagi mereka.

Lima minggu setelah Rusia menginvasi Ukraina, lebih dari 10 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Menurut PBB ada sekitar empat juta orang yang melarikan diri ke luar negeri. Melansir Aljazeera.com, melalui panggilan telefon dengan seorang kaum Tatar Krimea yang juga menjabat sebagai ketua Liga Muslim Ukraina, Niyara Mamutova.

“Banyak umat Muslim Ukraina mengungsi ke luar negeri dan mereka yang masih di Ukraina membutuhkan dukungan.”

Pada hari pertama bulan puasa, Mamutova menyiapkan Iftar dengan sekelompok keluarga pengungsi yang tinggal bersamanya di Islamic Central di Chernivtsi.

Bulan Ramadhan tahun ini sulit dan emosional bagi muslim yang masih berada di Ukraina karena bom berjatuhan di negara itu dan jam malam yang diberlakukan, membatasi pergerakan mereka ketika banyak keluarga hendak berkumpul untuk berbuka puasa bersama. Banyak juga umat Muslim yang jauh dari rumah, komunitas dan teman-teman,  namun mereka bertekad untuk memanfaatkan bulan suci ini dengan sebaik-baiknya.

“Kita harus siap melakukan yang terbaik untuk mendapatkan pengampunan Allah, berdoa untuk keluarga kita, jiwa kita, negara kita, Ukraina,” kata Mamutova lagi.

Mamutova juga menceritakan bahwa mereka harus mengatur ulang kebiasaan-kebiasaan beribadah dan berpuasa mereka, misalnya beribadah secara online dan memberi makan para tunawisma.

Sumber lainnya yang dihubungi oleh Aljazeera.com adalah Isa Calebi, seorang Turkish pedagang tirai yang tinggal di Ukraina sejak 2010 mengatakan bahwa banyak orang yang terpaksa harus meninggalkan rumah mereka. Bahkan banyak yang tinggal di dalam mobil mereka. Calebi mengatakan bahwa rumahnya selalu terbuka bagi siapapun yang membutuhkan dan ia akan berbagi makanan yang ia miliki untuk mereka. Meskipun dampak perang yang berlangsung membuat kenaikan harga bahan pokok.

Pada awal perang, Calebi telah membantu mengevakuasi 400 orang-orang Turki, umat muslim dan orang Ukraina dari kota tempatnya tinggal, Vinnitsya, bagian barat Ukraina keluar dari negara itu. Sekarang ia membantu 1,000 yatim piatu yang tinggal di dekat Chernivtsi’s Holy Ascension Monastery Banchenskyy. Tidak lupa Calebi juga mengajak orang-orang di dunia untuk membantu meringankan beban dan penderitaan warga Ukraina dibawah gencatan invasi Rusia.

“Anak-anak ini penuh dengan air mata. Saya ingin memberi mereka semua zakat kita tahun ini. Saya menyerukan kepada yang lain, tolong bantu tempat ini di mana anak-anak menangis, ”

“Orang Ukraina adalah orang baik. Kita harus membantu mengangkat beban mereka – saya meminta semua orang untuk mendukung Ukraina.”

Turis asal Rusia terancam jadi gembel karena tidak bisa tarik uang

Turis asal Rusia terancam jadi gembel karena tidak bisa tarik uang

SAHMITRA – Pulau Dewata, Bali adalah destinasi liburan paling populer bagi turis internasional, termasuk Rusia. Menurut data dari biro statistik, ada sekitar 1.150 orang Rusia yang masuk ke Indonesia pada Januari 2022. Seminggu belakangan, para turis asal Rusia ini mengalami masalah akibat imbas dari invasi militer ke negara Ukrania yang dimulai oleh presiden mereka, Vladimir Putin.

Pada dini hari Kamis, 24 Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan “operasi militer khusus” terhadap Ukraina. Sedikitnya 136 warga sipil tewas, termasuk 13 anak-anak, dan 400 lainnya terluka menurut badan PBB pada Selasa, 1 Maret. Seluruh dunia bereaksi dan menentang keras keputusan yang diyakini sebagai serangan terbesar di negara Eropa sejak Perang Dunia II ini.

Sanksi melumpuhkan yang dijatuhkan oleh AS, UE, dan negara lainnya terhadap Rusia tampaknya berdampak tidak hanya pada warga yang tengah berada di negara itu, tetapi juga pada warganya yang saat ini tengah berada di luar negeri.

Melansir dari reuters.com, seorang turis asal Rusia, Konstantin Ivanov mencoba menarik uang dari rekeningnya di salah satu mesin ATM di Bali, transaksi tersebut gagal karena diblokir. Hal yang sama juga dialami oeh turis-turis Rusia lainnya yang tidak dapat melakukan pembayaran di hotel, restoran dan lain-lain dengan menggunakan kartu mereka hingga mereka terpaksa membayar dengan uang tunai. Masalahnya menurut mereka, mereka tidak akan mungkin bertahan dengan uang tunai yang tersisa yang mereka miliki saat ini.

Dan ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Setidaknya ada lebih dari 7.000 orang Rusia yang saat ini terdampar di destinasi  pantai populer di Thailand karena pembatalan penerbangan, mata uang yang terjun bebas dan masalah pemblokiran pembayaran.

Di Kerala dan Goa, India yang merupakan tujuan paling dicari turis Rusia, banyak turis yang dilaporkan kehabisan uang karena mereka tidak dapat mengakses rekening bank mereka.

Perawat hamili pasien lumpuh hingga lahirkan anak laki-laki

Perawat hamili pasien lumpuh hingga lahirkan anak laki-laki

SAHMITRA – Nathan Sutherland, seorang mantan perawat ditangkap oleh pihak kepolisian Phoenix, Amerika Serikat pada Januari 2019 dengan tuduhan pemerkosaan dan menghamili seorang pasien perempuan dalam kondisi lumpuh vegetatif yang merupakan salah satu pasien yang berada dibawah pengawasannya di sebuah faskes bernama Hacienda HealthCare. Sutherland akhirnya terbukti bersalah di pengadilan yang digelar pada Desember 2021 dan diganjar hukuman 10 tahun penjara.

Hacienda HealthCare adalah fasilitas nirlaba milik swasta yang menampung pasien yang perawatannya dibayar melalui program Medicaid. Program Medicaid sendiri adalah program kolaborasi antara federal dan negara bagian di AS yang menyediakan kesehatan gratis atau murah untuk warga AS yang berpenghasilan rendah, keluarga dan anak-anak, wanita hamil, orang tua, dan orang cacat.

Sutherland mulai bekerja di Hacienda HealthCare sejak Januari 2012. Dalam form isian latar belakang yang dia tulis, dirinya menyakatan bahwa tidak pernah memiliki catatan kriminal dan tidak pernah menerima tindakan disipliner apapun sebelumnya. Dan setelah dilakukan pemeriksaan latar belakang yang ekstensif oleh pejabat di Hacienda HealthCare sendiri, akhirnya Sutherland ditugaskan ke “Fasilitas Perawatan Menengah – Cacat Intelektual sejak 2014.

Bermula ketika pada akhir tahun 2018, seorang staff di faskes Hacienda HealthCare menelepon 911 dan melaporkan bahwa terdapat seorang pasien lumpuh yang melahirkan, dimana selama itu tidak ada satu pun pihak faskes yang mengetahui mengenai kehamilan tersebut.

Korban adalah seorang perempuan berusia 29 tahun. Berada dalam kondisi lumpuh vegetatif selama 14 tahun karena nyaris tenggelam ketika masih berusia 3 tahun. Dia menderita cacat intelektual akibat kejang yang dia alami di masa kanak-kanak. Dia dapat mengerakan bagian tubuh, leher dan kepalanya, tetapi tidak dapat berbicara. Ketika itu korban didapati tengah dalam kondisi proses melahirkan ketika salah satu pegawai faskes ingin mengganti pakaiannya.

Comatose pregnancy atau kehamilan koma yang diakibatkan oleh kekerasan seksual saat korban tidak sadarkan diri untuk sementara atau permanen, atau mati otak, sangat jarang terjadi namun pernah terjadi sebelumnya di tahun 2015 dengan kasus serupa, yakni pasien koma yang diperkosa dan hamil. Namun kasus ini tidak pernah diproses secara hukum karena keputusan keluarga pasien yang bersangkutan. Kehamilan koma secara medis memiliki risiko yang cukup tinggi dan mengakibatkan permasalah etika yang kompleks bagi keluarga korban.

Menanggapi laporan tersebut, kepolisian Phoenix yang sudah mengantongi surat izin, pada 8 Januari 2019 meminta pihak Hacienda HealthCare untuk menyerahkan sampel tes DNA semua pegawai laki-laki yang bekerja disana. Dengan tujuan untuk menemukan pelaku yang bertanggung jawab telah memperkosa dan menghamili pasien yang dalam keadaan lumpuh total dan tidak berdaya sama sekali.

Sampel DNA bayi laki-laki yang telah lahir dari korban lalu digunakan pihak kepolisian untuk dicocokkan dengan sampel DNA para staff laki-laki di Hacienda HealthCare. Hasilnya test sampel DNA Nathan Sutherland lah yang ternyata cocok dengan bayi tersebut. Sutherland pun segera ditangkap.

Meskipun diawal membantah dan pengacaranya sempat berargumen bahwa tidak ada bukti yang dapat ditunjukkan dimana Sutherland tengah memperkosa korban, namun akhirnya Sutherland mengakui bahwa dia telah memperkosa korban berulang kali selama dia bertugas merawat korban tersebut hingga hamil dan akhirnya melahirkan. Akibat perbuatannya, dia tidak hanya harus mendekam di penjara selama 10 tahun, namun juga dilarang bekerja sebagai perawat seumur hidup, namanya terdaftar sebagai pelaku kejahatan seksual dan berada dalam program pengawasan seumur hidup.

Selain menuntut keadilan pada Sutherland, pihak keluarga korban pun menuntut negara bagian Arizona dengan tuduhan “sangat lalai” dalam memantau, mengawasi, dan menilai pengoperasian Hacienda HealthCare. Dimana pada akhirnya pihak keluarga meraih kesepakatan penyelesaian senilai $ 7,5juta.

Keluarga korban juga melayangkan gugatan hukum terhadap dua orang dokter Hacienda HealthCare yang ditugaskan untuk merawat korban, yakni Dr. Phillip Gear Jr. dan Dr. Thanh Nguyen. Keduanya terbukti gagal dalam melaksanakan kewajiban mereka secara memadai sebagai Primary Care Physician (PCP) atau dokter perawat primer, apakah itu disebabkan oleh rasa bosan, kelemahan fisik, kelelahan atau alasan lain.

Dr. Thanh Nguyen telah mencapai perjanjian kesepakatan dengan keluarga korban yang nilai atau bentuknya dirahasiakan. Sementara Dr. Phillip Gear Jr. secara sukarela telah menyerahkan lisensi kedokterannya dan meraih perjanjian kesepakatan senilai $ 15juta dengan pihak keluarga korban

Tak cukup hanya itu saja dampak kasus ini, beberapa anggota senior Hacienda HealthCare menyatakan pengunduran diri mereka tidak lama setelah beritanya menjadi konsumsi dan perbincangan publik. Termasuk diantaranya adalah CEO Hacienda HealthCare, Bill Timmons, Direktur spesialis terapi, Kerri Masengale, Ketua Dewan yang telah menjabat selama 4 dekade, Tom Pomeroy dan beberapa anggota senior lainnya.

Saat ini bayi laki-laki yang dilahirkan oleh korban telah berusia 3 tahun dan tinggal bersama orangtua korban. Korban juga tidak lagi dirawat di Hacienda HealthCare.

Kelewat pamer aurat, pedagang kaki lima di Thailand ini sampai ditegur polisi

Kelewat pamer aurat, pedagang kaki lima di Thailand ini sampai ditegur polisi

SAHMITRA – Dikenal dengan nama Olive, adalah seorang pedagang kudapan ringan pinggir jalan yang dikenal oleh penduduk lokal Chiang Mai, Thailand dengan nama khanom Tokyo. Di tanah air kita menyebutnya dengan kue semprong, kudapan yang teksturnya garing, renyah dan rasanya manis.

Kalau di Indonesia biasanya kudapan ini dijual sudah dalam kemasan toples atau plastik. Namun ternyata berbeda cara apabila di negara yang sering dijuluki negara gajah putih ini karena mereka membuatnya ditempat sesuai dengan pesanan alias made by order. Dan di lapak milik Olive khususnya, khanom Tokyo miliknya terasa lebih istimewa, setidaknya bagi pelanggan pria terutama, karena penampakan atau pakaian yang dikenakan Olive selagi menjajakan dagangannya ini bisa dibilang diluar dari kebiasaan atau out of the box.

Perempuan 24 tahun asal Chiang Mai yang memilik nama asli Aranya Apaiso ini punya ide kreatifnya sendiri dalam menghadapi kompetisi berjualan. Yakni dengan memasak hanya mengenakan sehelai kardigan yang menutupi tubuh bagian atasnya.  Dia tidak mengenakan apa-apa lagi dibalik kardigan tersebut yang hanya diamankan oleh sebuah peniti kecil ditengah-tengah yang bahkan tidak bisa menyatukan bagian kiri dengan yang kanan.

Sebelum viral di jalanan dan internet, pedagang kaki lima seksi ini berjualan pakaian secara online. Namun karena bisnisnya itu terkena dampak buruk pandemi COVID-19, dia lalu beralih profesi menjadi penjual khanom Tokyo, yang dia improvisasi dengan mengenakan atasan kontroversial yang pastinya mengundang perhatian.

Dan usahanya tersebut tidak sia-sia. Penjualannya langsung melonjak dari yang sehari hanya beberapa lusin hingga kini dia bisa menjual sampai 200 setiap harinya. Tentunya pelanggan yang datang dan membeli kebanyakan adalah laki-laki, bahkan Olive sendiri mengatakan kepada para media yang berbondong-bondong ingin meliput dan mengangkat kisahnya, bahwa pernah ada laki-laki yang menabrakkan motornya karena konsentrasinya terganggu karena melihat Olive berjualan.

Akibat banyaknya laki-laki yang mengerubuni lapak Olive, polisi setempat akhirnya turun tangan. Mereka memperingati Olive untuk tetap menjaga salah satu protokol kesehatan, yakni social distancing untuk para pembeli yang datang kelapaknya dan juga perihal pakaian nya yang dianggap tidak pantas dan menimbulkan keramaian. Olive ditegur dan disarankan untuk setidaknya mengenakan bra.

Dokter dan perawat ini dijuluki pasangan pencabut nyawa pasien di Italia

Dokter dan perawat ini dijuluki pasangan pencabut nyawa pasien di Italia

SAHMITRA – Para dokter dan perawat merupakan tenaga ahi atau profesional yang paling terpercaya dan diandalkan dari tenaga ahli lainnya seperti penata rambut atau guru. Dan berdasarkan jejak pendapat yang dilakukan di Inggris awal tahun ini, pekerja bidang kesehatan ini mengalahkan politisi, agen properti dan jurnalis. Mereka bahkan adalah pihak yang dipercaya dan diberikan wewenang, di beberapa negara yang melegalkan, untuk melakukan tindakan euthanasia, yakni praktik pencabutan kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara memberikan suntikan yang mematikan. Yang tentunya atas permintaan dan persetujuan pasien sendiri, keluarga dan pihak berkaitan lainnya.

Namun citra baik dan terpuji para dokter dan perawat tersebut tercoreng oleh kasus yang terjadi di Italia. Dimana seorang dokter ahli anestesi dan seorang perawat, yang juga adalah pasangan berselingkuh ditangkap atas kematian setidaknya delapan pasien dan mungkin puluhan lainnya antara tahun 2011 dan 2014.

Dokter tersebut bernama Leonardo Cazzaniga, berusia 65 tahun adalah mantan dokter di bangsal darurat rumah sakit Soronno yang letaknya tidak jauh dari kota Milan. Sementara sang perawat adalah perempuan berusia 44 tahun bernama Laura Taroni. Pasangan yang diberi sebutan “pasangan setan” oleh pers Italia ini terbukti telah memberikan analgesik dengan dosis mematikan dan anestesi pada pasien yang mereka tangani.

Awalnya Laura yang lebih dulu ditangkap dan pada bulan Februari tahun 2016 dijatuhi hukuman 30 tahun penjara atas pembunuhan Massimo Guerra, suami resminya dan ibunya, Maria Rita Clerici. Massimo Guerra meninggal pada bulan Juni tahun 2013 akibat overdosis insulin yang diberikan Laura dalam jangka waktu yang lama, karena Laura berhasil meyakinkan bahwa suaminya tersebut menderita diabetes.

Dua bulan setelah Laura dijatuhi hukuman 30 tahun penjara, menyusul Leonardo Cazzaniga yang dijatuhi hukuman seumur hidup oleh pengadilan Italia karena telah merenggut 10 nyawa, delapan diantaranya adalah pasiennya. Dan juga pembunuhan terhadap ayah mertua Laura, Luciano Guerra.

Di pengadilan, pengacara yang membela Leonardo berargumen bahwa praktik yang dilakukan kliennya telah sesuai dan konsisten dengan perawatan paliatif standar, yakni perawatan pada seorang pasien dan keluarganya yang memiliki penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan cara memaksimalkan kualitas hidup pasien serta mengurangi gejala yang mengganggu, mengurangi nyeri dengan memperhatikan aspek psikologis dan spiritual.

Namun pengacara penuntut melawan argument tersebut dengan menunjukkan bukti bahwa salah satu korban, seorang wanita muda, meninggal setelah dirawat di Rumah Sakit Saronno hanya karena bahu yang terkilir.

Selama penyelidikan, carabinieri, angkatan bersenjata Italia yang juga ditugaskan sebagai kepolisian sipil juga menemukan catatan sekitar 40 kematian yang terjadi di bangsal darurat antara 2011 dan 2014 saat Leonardo bertugas. “Daftar hitam” ini juga mencantumkan nama ayah kandungnya sendiri, yang meninggal pada Oktober 2013 karena penyakit mematikan.

Dipersidangan juga diputar kutipan rekaman percakapan telepon Leonardo dan Laura yang disadap Polisi yang terdengar begitu mengerikan, dimana Laura memberi tahu Leonardo bahwa dia ingin membunuh putranya dan putrinya yang berusia delapan tahun. Menurut salah satu rekannya, Leonardo sering menyebut dirinya sebagai “malaikat maut”. Leonardo juga diduga menggunakan kokain.

Pembunuh mayat dalam koper di Bali yang dideportasi kembali ke AS langsung ditangkap FBI

Pembunuh mayat dalam koper di Bali yang dideportasi kembali ke AS langsung ditangkap FBI

SAHMITRA – Heather Mack berumur 19 tahun dan tengah hamil beberapa minggu ketika dia dan kekasihnya waktu itu, Tommy Schaefer, membunuh ibunya, Sheila von Wiese-Mack di sebuah hotel di Bali ketika mereka tengah berlibur dan memasukkan mayatnya ke dalam sebuah koper. Heather dinyatakan bersalah pada 12 Agustus 2014 dan divonis hukuman 10 tahun penjara di LPP Kelas II A Kerobokan, Bali dengan dakwaan membantu pembunuhan. Sementara Tommy yang dinyatakan bersalah sebagai pelaku pembunuhan divonis 18 tahun di penjara yang sama.

29 Oktober 2021 lalu, setelah menjalani hukuman penjara selama lebih dari tujuh tahun akhirnya Heather bebas. Setelah bebas dia lalu diserahkan ke pihak imigrasi untuk dideportasi. Dan akhirnya untuk pertama kalinya sejak 2014, Heather menginjakkan kakinya kembali ke negara asalnya, Amerika Serikat. Namun begitu mendarat di Bandara Internasional O’Hare Chicago pada hari Rabu (3/11/2021), Heather langsung ditangkap Biro Investigasi Federal (FBI).

Putri Heather, Stella Schaefer yang telah berusia 6 tahun ikut dideportasi ke AS. Setelah permohonanya pada Divisi Keimigrasian Kemenkum HAM Bali agar puterinya itu tetap diizinkan tinggal di Indonesia ditolak. Ketika Heather dibawa oleh FBI, hak asuh darurat Stella diberikan kepada pengacara Heather di AS.

Heather dan Tommy kini menghadapi tuduhan federal dalam konspirasi melakukan pembunuhan dan menghalangi keadilan. Dalam dakwaan federal pada hari Rabu, jaksa menuduh Heather dan Tommy merencanakan pembunuhan saat masih di AS sebelum melaksanakan eksekusinya di Bali. Atas alasan itulah mengapa meski sudah menjalani hukuman penjara di Indonesia, sekembalinya ke AS Heather langsung dicokot penegak keadilan disana.

Pada tahun 20017 di bulan Januari, Heather sempat memposting 3 buah video di YouTube yang diberi judul “Video Pengakuan”. Heather merekam video itu ketika tengah menjalani hukuman didalam penjara. Dalam video tersebut Heather memulainya dengan membahas pepatah yang berbunyi: “The truth will set you free” yang artinya kebenaran akan membebaskanmu. Kemudian dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa dia ingin membebaskan dirinya dari segala kebohongan.

Heather menyatakan bahwa dia tidak menyesal telah membunuh ibunya, Sheila. Karena dia meyakini bahwa Sheila telah membunuh ayahnya, James L. Mack di sebuah hotel saat mereka berlibur di Yunani pada tahun 2006. Padahal menurut keterangan resmi kematian James L. Mack adalah akibat emboli paru-paru. Jadi Sheila Menyusun rencana untuk membunuh Sheila di sebuah hotel sebagai balas dendam.

Heather juga mengakui bahwa dia juga yang telah dengan sedemikian rupa menjebak Tommy untuk melakukan pembunuhan terhadap Sheila dengan ancaman dan memanipulasi ponsel Tommy. Alasannya adalah apabila dia yang membunuh Sheila, dia akan kehilangan hak atas semua harta warisan Sheila sebesar US$ 1juta atau sekitar Rp. 130miliar.

Pengakuan Heather tersebut bertolak belakang dengan pernyataan yang diberikan Heather dan Tommy di persidangan. Karena ketika di pengadilan keduanya mengaku bersama-sama memukul Sheila dengan mangkuk wadah buah besar yang terbuat dari logam di Hotel St. Regis di Nusa Dua, Bali. Selain karena hubungan mereka tidak direstui oleh Sheila, Tommy mengatakan bahwa dia juga kesal karena Sheila kerap kali melontarkan sindiran-sindiran berbau rasis terhadap dirinya. Dan ketika Sheila mengetahui tentang kehamilan Heather, Sheila pun marah besar dan memojokkan Tommy hingga akhirnya Tommy nekad memukul Sheila sampai meninggal dunia. Mayat ibunya yang dipukuli habis-habisan itu lalu dimasukkan oleh Heather dan Tommy kedalam koper. Pembunuhan ini menarik perhatian nasional dan internasional selama bertahun-tahun, sebagian karena foto-foto koper yang tampak terlalu kecil untuk menampung tubuh wanita dewasa.

Keluarga dari Sheila Von Weise-Mack berterima kasih kepada FBI atas penangkapan Heather Rabu kemarin untuk menegakkan keadilan. Sementara ibu dari Tommy Schaefer yang hingga kini masih mendekam di penjara Kerobokan, yakni Kia Walker harus menelan pil pahit setelah gagal bertemu dengan cucunya, Stella Schaefer. Kia mengatakan bahwa dia secara rutin dua kali dalam seminggu menelepon Tommy dan anaknya itu mendukung penuh upayanya untuk mendapatkan hak asuh atas Stella, anak Heather dan Tommy. Dalam sebuah wawancara dengan salah satu stasiun berita di AS, Kia mengatakan bahwa dia selalu menjaga hubungan dengan Stella, dia mencintai Stella dan siap berjuang untuk mendapatkan hak asuh dan memberikan ruang aman untuk Stella.

Namun pengacara Heather bersumpah untuk melawan segala upaya dari pihak manapun yang mencoba untuk mengambil alih hak asuh darurat atas Stella Schaefer yang telah diberikan oleh Heather padanya. Jika terbukti bersalah, Heather bakal menghadapi hukuman penjara seumur hidup. Dan pertanyaan selanjutnya, apakah perlakuan yang sama akan belaku pada Tommy Schaefer ketika dia bebas dari hukuman di Indonesia nanti?